Cinta Tapi Menyakitkan, adalah kisah sebuah rumah tangga Anindita Putri dan Elnino Karisma.
El menikahi Anin karena ingin melupakan istrinya yang meninggalkan dirinya begitu saja. Sementara Anin karena sudah jatuh cinta pada El, akhirnya mau dinikahi.
Saling menyakiti bermula ketika Anin tahu bahwa El sudah pernah menikah, dan belum menceraikan istri pertamanya. Pernikahan untuk El adalah sebuah cara untuk melupakan istri pertamanya, dan belum memiliki perasaan cinta pada sosok Anin yang membuat Anin sangat tersakiti.
Anin berusaha untuk bangkit sendiri, dalam sakit hatinya, tiba-tiba banyak sosok pria dengan tulus mencintai Anin dan membuat Anin merasa di cintai, tapi dalam kondisi Anin tidak bisa bercerai dengan El.
Penasarankan bagaimana akhirnya kisah cinta Anin dan El? Akankah El kembali pada istri pertamanya, atau akan tetap bertahan dengan Anin, dan mencintainya?
Yuuuk baca Novel ini sampai akhir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felicialetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kembali
Anin minta diturunkan di sebuah tempat kesukaannya, yaitu sebuah cafe dengan nuansa alam terbuka, dengan rumah-rumah pohon dan juga pemandangan hutan pinus yang begitu asri dan sejuk.
Pak Hendra mengerti, anaknya butuh ketenangan. Dengan setuju, Pak Hendra mengantar Anin ke tempat itu. Lalu membiarkannya sendirian. Pak Hendra kembali melajukan motornya, hendak ke pasar untuk kembali ke rutinitasnya berjualan.
Anin memesan secangkir kopi hangat, dengan cemilan kentang goreng di sampingnya. Anin memegang cangkir kopi itu, merasakan hangatnya dalam lamunan tak ada habisnya.
Tak lama ada seseorang yang datang menghampiri Anin.
"Anin.." ucapnya dengan gembira
Anin menoleh ke arah sumber suara yang menyapa namanya itu.
"Eh Rais.." ucap Anin balik menyapa pria yang datang itu
"Lagi apa kamu disini? Sendirian aja?" tanya Rais bertubi-tubi
"Iya sendiri, aku lagi nenangin diri aja.." jawab Anin dengan lesunya
Rais memandang dalam ke wajah Anin, jelas terlihat Anin memang sangat sedih.
"Boleh aku duduk disini?" tanya Rais, karena sedari tadi ia belum juga duduk
Anin hanya tersenyum, lalu memberikan tempat untuk Rais duduk disampingnya.
Rais duduk di samping Anin, wajah Anin terlihat jelas bahwa ia sangat sedih.
"Kita selalu bertemu pas kamu sedih ya, Nin.." ucap Rais dengan senyum tipisnya
"Iya.." jawab Anin singkat sembari memaksakan senyum tipis di wajahnya
"Kamu kenapa Nin? Kok ada di Bandung juga?" tanya Rais semakin penasaran
Anin menatap dalam kearah Rais, ia tak menyangka bahwa setiap kali ia sedih Rais yang selalu bertemu dengannya.
Lagi-lagi air mata itu menetes secara perlahan dan Lagi Rais memberikan sapu tangannya untuk air mata Anin.
"Kamu nangis kayak gini, aku yang sakit hati, Nin.." ucap Rais sembari memperhatikan Anin yang lagi menyeka air matanya
"Makasih ya Is.." ucap Anin sembari berusaha mengatur dirinya untuk lebih tenang.
Rais tersenyum manis ke arah Anin. Banyak sekali tanya yang ingin ia ketahui, untuk kali ini apa alasan Anin untuk nangis, tapi rasanya Rais tak mampu karena takut ia jauh lebih dalam ikut campur.
"Nin, aku gak tahu apapun masalah kamu.. Yang aku tahu kamu nangis, dan sedih.." ucap Rais dengan senyum tulusnya
"Mau ikut sama aku gak? Aku janji balikin mood kamu.." lanjut ucap Rais dengan senyum mengembangnya
Anin merasa tertarik, lalu ikut dengan Rais.
"Maaf ya naik motor.." ucap Rais sembari memakaikan Anin helm
"Gak apa-apa kali, aku terbiasa naik motor" jawab Anin dengan senyum tipisnya
Rias lalu menaiki motornya, motor yang cukup gagah dan biasa untuk trail. Anin naik dibelakang Rais.
Rais mengendarai motornya dengan sangat hati-hati, karena ia sadar membonceng perempuan yang selalu dihatinya itu.
"Kita mau kemana Is?" tanya Anin pada Rais
"Ikut aja, nanti kamu tahu.." jawab Rais dengan senyumnya
Lampu merah telah menyala, membuat Rais dan Anin harus berhenti di persimpangan jalan itu. Rais yang menggunakan motor dengan santai menyalip hingga barisan paling depan tepat di depan sebuah mobil putih, yang ternyata adalah mobil El.
"Anin?" ucap El tak percaya ketika melihat Anin di bonceng oleh seorang pria selain Pak Hendra
"Sama siapa kamu?" tanya El dengan penasaran
Lampu merah berganti hijau, tak pikir panjang, El langsung mengikuti motor yang membawa istrinya itu dari belakang, tanpa Anin menyadarinya.
Tak lama sampailah Anin dan Rais di sebuah bangunan luas, besar dan bersih itu. Bangunan yang berdominan putih, berdindingkan kaca membuat dapat terlihat dari luar.
"Ini tempat apa Is?" tanya Anin setelah turun dari motor Rais
"Ini gudang produk tempat aku kerja, Nin.." jawab Rais sembari turun dari motornya lalu melepaskan helmnya
Anin terlihat kesulitan membuka clip helm yang mengunci di dagunya itu.
"Sini biar aku bantu.." ucap Rais dengan cepat mengambil alih itu dari tangan Anin membuat Anin dan ia beradu pandang
El melihat pemandangan itu, hatinya semakin geram. Rasa cemburu itu muncul dan menggebu-gebu melihat istrinya sedekat itu dengan pria lain.
Anin langsung masuk mengikuti langkah kaki Rais, yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.
El penasaran dengan apa yang di lakukan oleh istrinya di dalam sana, El turun dari mobilnya yang diparkir di luar bangunan itu. El sedikit berlari karena tak ingin terlewatkan untuk melihat istrinya itu.
El diam-diam melihat ke dalam dari kaca-kaca itu.
Anin diajak Rais kesebuah gudang penyimpanan Ice Cream Jepang, yang bekerjasama dengan kantor perusahaan tempat ia bekerja. Rais tahu Anin sangat menyukai ice cream sedari dulu. Udara yang sangat dingin, karena memang ruangan itu disulap menjadi freezer besar untuk tempat menyimpan ice cream - ice cream itu. Anin sangat terkejut, rasanya seperti surga ice cream, rasa apapun banyak tersedia disana.
"Waaaaw.. Surga ice cream.." ucap Anin ketika melihat seisi ruangan itu adalah ice cream
"Hehe iya, ambilah sesuka mu.." ucap Rais dengan tawanya
Anin sangat senang, ia langsung melihat-lihat semua ice cream itu. Anin merasa bingung karena maunya sangat banyak.
"Kata kamu paling enak rasa apa?" tanya Anin pada Rais.
"Kalau aku sih suka rasa ini.." ucap Rais sembari mengambil ice cream rasa strawbery.
Anin langsung mengambil alih dari tangan Rais, lalu membukanya dan melahapnya dengan sangat gembira. Rais melihat Anin sangat gembira, ia jadi ikut gembira juga.
El memperhatikan semua itu dari luar ruangan, sungguh ia tak menyangka bahwa Anin akan tersenyum kembali gara-gara pria itu.
"Sial! Siapa sebenarnya pria itu? Ada hubungan apa dia dengan Anin?" ucap El dalam batinnya dengan geram
Tak lama saat Rais dan Anin sedang menikmati ice cream itu bersama, datang seorang wanita yang juga bekerja disitu.
"Eh Pak Rais.." ucapnya terkejut melihat Rais ada disana bersama seorang wanita
Rais langsung menghampiri karyawannya itu, tanpa mengganggu Anin yang sedang asik menikmati ice cream.
"Iya.. Saya datang untu mengecek. Ada beberapa ice cream yang saya ambil, nanti di potong di stok, dan saya yang bayar.." ucap Rais dengan cepat pada karyawatinya itu
"Baik Pak.. Cie Bapak sama pacar yaaa" jawab Karyawati itu sedikit meledek Rais karena memang selama ini Rais jomblo
"Bukan ih!" ucap Rais sedikit marah
"Akhirnya ya Bapak.." ucapnya lagi meledek Rais
"Ihhh.. sudah sudah sana, mana laporan mu?" ucap Rais mengalihkan pembicaraan
Anin menoleh ke arah Rais, karena memang baru mWzqenyadari bahwa Rais tak ada disampingnya itu. Anin berjalan mendekat ke arah Rais.
"Sebentar ya Nin, aku nunggu dulu laporan.." ucap Rais dengan lembut pada Anin
Anin hanya mengangguk, mengiyakan ucapan Rais.
Tak lama karyawati itu membawa map berwarna biru, menyerahkannya pada Rais.
Karyawati itu memandang lekat ke arah Anin, dengan senyum mersemnya.
"Apa sih kamu.." ucap Rais pada karyawatinya itu, karena memergoki terus memperhatikan Anin
"Teteh.. Teteh adalah perempuan beruntung bisa dekat sama Pak Rais.." ucap Karyawati itu pada Anin yang masih menikmati ice creamnya
"Oh ya? Emang gimana?" tanya Anin penasaran
Rais sudah menatap tajam ke arah karyawatinya itu agar tidak bicara macam-macam lagi.
"Pak Rais itu jomblo terus, jomblo akut gak pernah dekat sama perempuan mana pun, paribasa (katanya) kalau ditanya teh, selalu menunggu wae.." ucap Karyawati itu meledek Rais
Anin tertawa terbahak-bahak, Rais terlihat malu di hadapan Anin, salah tingkah, Rais menggaruk yang padahal tidak gatal.
"Seneng banget kamu, Nin dengernya.." ucap Rais dengan malu
"Hehe maaf maaf.." jawab Anin masih dalam tawanya
Rais semakin salah tingkah dihadapan Anin.
"Asal kamu tahu Nin, perempuan yang aku tunggu itu kamu, selalu kamu Nin.." ucap Rais dalam hatinya
Anin terlihat lebih nyaman kali ini, perasaannya sudah jauh lebih tenang. Moodnya juga sudah kembali biasa, walau memang hati dan pikirannya masih saja sedih.
"Udah ketawainnya?" ucap Rais pada Anin yang jadi akrab dengan karyawatinya itu
"Jangan marah dong.." ucap Anin menggoda pada Rais
"Kita makan yuuu, aku laper.." ucap Rais mengalihkan pembicaraannya
"Oh sekarang kamu suka makan? Pantes aja badan kamu sekarang lebih berisi yaaa.." ucap Anin lagi-lagi membercandai Rais yang memang kini memiliki tubuh lebih berisi dari pada dulu
"Kan kan mulai lagi.." ucap Rais dengan wajah datarnya
Anin tertawa kembali bersama karyawati itu.
"Awas yaaa laporannya disalahin nih.." ucap Rais mengancam pada karyawatinya dengan ikut tertawa juga
"Jangan gitu dong Pak.." jawab Karyawati itu merengek memohon pada Rais
Rais lalu mengajak Anin ke kantin yang tidak jauh dari bangunan gudang ice cream itu. Kantin yang memang jauh dari kesan mewah, tapi itu adalah tempat favorit Rais.
"Disini makanannya enak-enak kok, Kamu mau pesan apa?" ucap Rais pada Anin sesampainya di kantin sederhana itu sembari duduk berhadapan dengan Anin
"Kalau kamu mau pesan apa?" ucap Anin balik bertanya
"Aku mau pesen pecel ayam, sambelnya enak banget deh.. Kamu coba yaaa?" ucap Rais merekomendasikan makanan kesukaannya
"Boleh.." jawab Anin singkat
El masih saja terus mengikuti Anin dan Rais, tanpa sepengetahuan Anin. El sangat penasaran dengan Rais, karena ia belum pernah mengenal Rais sebelumnya.
Anin dan Rais terlihat menikmati makanan mereka, terselip canda tawa di sela-sela makan siang mereka. Hati El begitu terasa panas yang membara melihat ke akraban mereka itu.