" Ken, maaf kan aku ! " ucap Jonathan
Kendra tersenyum mencibir.
" Selama aku belum menikah, jangan mimpi kau mendapatkan maafku, dan asal kau tahu, aku tidak gampang menyukai seseorang dan selama aku belum memaafkanmu, kebahagiaan yang kau punya akan kosong dan rapuh seperti cangkang, camkan itu ! " pada kata terakhir, Kendra menunjuk dada Jonathan dengan ujung telunjuknya.
Ig.rii.ena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23.Asal jangan keterusan
Sudah menjadi jam biologis Kendra, jika setiap jam empat subuh dia akan terbangun, lengan kiri nya terasa kram karena sepanjang malam menjadi bantal bagi kepala Niken, ada senyum disudut bibirnya.
Tidak buruk juga menikah walaupun belum ada cinta, tanpa embel embel pernah disakiti, dibohongi, apa lagi diselingkuhi, amit amit.... semuanya dimulai dari nol, seperti pom bensin.
Ken tersenyum sendiri dengan obrolan hatinya.
Dengan gerakan pelan, ia meletakkan kepala Niken diatas bantal, dan ia baru menyadari jika tubuh keduanya masih dalam keadaan polos.
Ada yang menggelitik di pikiran kotornya.
Sebelum mandi alangkah baiknya jika....hemm biar sekalian .
Bisik otak Ken mesum.
Niken sendiri, menyadari ada pergerakan yang mengusik tidur nyenyaknya, terutama tangan Ken yang sudah bergerak kemana mana tanpa hambatan, membuat Niken membuka mata dengan sempurna.
" Mas...kau ....?
" Mengulang yang tadi malam, kau tidak keberatan bukan ? " Ken sudah berada diatas tubuhnya.
Kalau sudah seperti itu memangnya Niken bisa menolak ? melihat Ken yang baru bangun tidur dan semua bayangan indah yang pernah dihayalkan sebelum menikah jauh lebih membuat tubuhnya memberikan respon yang dia sendiri sangat malu mengakuinya.
Ken lebih bersemangat dari pada malam tadi karena tubuhnya benar benar lebih segar dan bertenaga dikarenakan sudah cukup beristirahat malam tadi.
Setelah menyelesaikan permainannya, Ken langsung ke kamar mandi, Niken hanya bisa diam, badannya berasa remuk semua, ia hanya bisa menatap lemah ke kamar mandi.
Ingin rasanya ia tidur kembali, tetapi waktu subuh sudah datang.
Tidur sebentar lah, menjelang ia siap mandi
Niat Niken dalam hati, tetapi belum juga kelopak matanya tertutup, Ken sudah berdiri disebelahnya.
" Mandilah, setelah sholat subuh, kau bisa tidur kembali, asal jangan keterusan saja sampai tidak bangun lagi " Ken terkekeh, melenggang menuju lemari pakaian.
" Habis manis sepah dibuang, setelah kau hisab maduku, kau berharap aku cepat mati ya, mas ? " Niken melemparkan bantal dengan gemas ke arah Ken yang sedang memakai pakaian, tangan kirinya menangkap bantal yang dilemparkan ke arahnya.
Ken melemparkan kembali bantal itu ketempat tidur, suasana hatinya sangat baik, jadi dia cukup malas membalas kekesalan Niken, ia tahu jika Niken sedang jengkel karena ketika melakukannya, Ken sedikit kasar, tidak selembut malam tadi, mungkin karena Ken terlalu bersemangat dan tenaganya masih full.
" Kau mau aku memandikan mu ? " Ken duduk mendekat di tepi kasur.
" Tidak perlu, aku bukan bayi " sambil bersungut-sungut Niken masuk ke kamar mandi.
Melihat Niken yang sedikit meringis ketika berjalan dan agak aneh langkah kakinya, ada sesal di sudut hati Ken, tetapi ketika sedang berada di puncak kesenangan, siapa juga yang tidak akan hilang kendali.
Tanpa menunggu Niken yang masih berada d! dalam kamar mandi, Ken sholat duluan.
Seperti yang disarankan Ken tadi, sehabis Sholat Subuh, Niken tidur kembali, ia tidak akan perduli bagaimana tanggapan dengan ibu mertua, Abang ipar dan Raisa, biar itu menjadi urusan suaminya, terserah mau memakai alasan apa.
Mata dan badannya sangat tidak bisa diajak kompromi buat dibuka dan berjalan walaupun hanya sekedar sarapan pagi.
Ken keluar dari kamar tanpa Niken ketika semua sudah berkumpul di meja makan.
Tetapi tidak ada yang bertanya kenapa Niken tidak ikut sarapan bersama, melihat wajah Ken yang lebih bersinar dari uang seribuan baru, semua juga sudah tahu apa yang menyebabkan anggota baru di keluarga ibu Lastri tidak ikut berkumpul.
Jo terus menatap Ken dengan senyum di kulum, Ken sebal melihat lengkung godaan yang tercetak di bibir Jo.
" Jo, mulut mu tidak merasa kram dari tadi senyum terus ? " sembur Ken ketus.
Meledak tawa Jonathan.
Raisa menatap tidak mengerti, sementara ibu Lastri hanya bisa menggelengkan kepalanya, hatinya merasa lega melihat kedua putranya kembali akur tanpa perang dingin kembali.
*
*
*
🌹🌹🌹🌹🌹
baru awal bab aja udah terasa bedanya... 👍👍👍
terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️
setelah baca mengejar cinta suamiku & menikah dengan sahabat