Lima orang tewas dalam malam yang sama.
Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.
Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.
Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.
Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SONY FEBRIE
Sesampainya di rumah sakit, Viana dan Aura langsung berlari menyusuri lorong menuju ruang rawat inap.
Beberapa pasien, keluarga pasien, hingga perawat sempat menoleh ke arah mereka. Namun, tak ada yang benar-benar menghiraukan kedua gadis yang tampak terburu-buru itu.
BRAK!
Pintu salah satu ruang rawat terbuka lebar.
"ALETA!" teriak Viana lantang.
Suasana ruangan seketika hening. Beberapa pasien dan keluarga mereka menoleh bersamaan ke arah Viana. Namun, tak satu pun wajah yang dikenalnya berada di sana.
"Ehm..." Viana mengedip beberapa kali.
Seorang pria paruh baya mengangkat tangan pelan.
"Maaf... cari siapa, ya?"
"Itu..." Viana tersenyum canggung.
"Viana! Di sini!" panggil Aura dari luar ruangan sambil menunjuk pintu di sebelahnya. "Kau kelewatan satu kamar!"
"Oh..." Viana menepuk dahinya pelan.
"Hehe... maaf, Tuan-tuan, Nyonya-nyonya. Sepertinya saya salah kamar. Permisi..."
Tanpa menunggu balasan, ia buru-buru menutup pintu lalu berlari menyusul Aura.
Di dalam ruangan yang tadi, suasana masih hening beberapa detik.
"Anak muda sekarang memang penuh semangat," gumam salah seorang pasien, membuat beberapa orang di ruangan itu terkekeh pelan.
Sementara itu...
Ceklek.
Aura dan Viana akhirnya memasuki ruangan yang benar. Begitu pandangan Viana jatuh pada sosok Aleta yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, langkahnya langsung terhenti. Wajah cerianya seketika memucat.
"Aleta..."
Tanpa memedulikan siapa pun yang berada di ruangan itu, Viana berlari menghampiri sahabatnya lalu memeluknya dengan hati-hati.
"Aleta... kenapa bisa begini?" lirihnya dengan suara bergetar. Air mata mulai membasahi pipinya. Ia menggenggam tangan Aleta erat, seolah takut gadis itu akan menghilang jika dilepaskan.
Sementara itu, Aura tidak langsung bergerak. Tatapannya menyapu seluruh isi ruangan sebelum berhenti pada orang-orang yang berada di sana. Tatapan itu dingin, tajam, dan begitu menekan hingga suasana mendadak terasa lebih sunyi.
"Apa yang terjadi pada sahabatku?" tanyanya dingin.
Tak ada nada tinggi dan bentakan. Namun, justru suara yang tenang itu terasa jauh lebih mencekam daripada teriakan. Bahkan udara di dalam ruangan seolah ikut membeku, membuat siapa pun yang mendengarnya tanpa sadar menahan napas.
Melihat Aura yang berdiri dengan tatapan tajam, Gavin segera melangkah maju.
"Tenang dulu. Duduk saja," ucapnya sembari menarik sebuah kursi.
Ezra ikut mengangguk. Ia mengambil sebuah apel dari keranjang buah di samping ranjang, lalu menyodorkannya kepada Aura.
"Makan dulu. Kau kelihatan tegang."
Bukannya menerima, Aura justru menepis tangan Ezra hingga apel itu terlempar dan menggelinding di lantai. Tanpa ragu, ia berjalan menghampiri Adrian.
"Dengar." Tatapan Aura begitu dingin. "Aku tidak peduli kau siapa. Mau kau ketua Black Demon atau mafia sekalipun, aku tidak akan segan menghancurkanmu jika Aleta sampai kenapa-kenapa."
"Hei!" Ariana langsung berdiri. "Adrian tidak melakukan apa-apa! Dia hanya menemukan Aleta dalam keadaan tak sadarkan diri saat sedang mengemudi. Dia membawanya ke rumah sakit karena khawatir. Jangan menuduhnya sembarangan!"
Ruangan mendadak hening. Aura menatap Ariana beberapa detik, lalu mengalihkan pandangannya kepada Adrian.
"Benarkah?"
Adrian mengangguk singkat.
"Aleta harus dirawat inap semalam untuk observasi," jelas Ezra sambil memungut apel yang tadi terjatuh. "Besok dokter akan menjelaskan hasil pemeriksaannya."
Aura terdiam. Beberapa detik kemudian, seluruh amarah yang tadi memenuhi wajahnya perlahan menghilang, berganti rasa bersalah.
"Owh... Sorry, Adrian," lirihnya sambil menundukkan kepala.
Adrian hanya mengembuskan napas pelan. "It's okay."
"Lain kali, cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi sebelum menuduh seseorang." Ezra mengelap apelnya dengan tisu.
Aura mengangguk lalu mengambil apel dari tangan Ezra, apel yang tadi ia buang.
"Eugh..." Lenguhan pelan seseorang, membuat seluruh kepala di ruangan serentak menoleh ke arah ranjang.
Kelopak mata Aleta bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka. Tatapannya masih kosong beberapa detik, seolah berusaha mengenali keadaan di sekitarnya.
"Aleta!" pekik Viana. Wajahnya langsung berubah sumringah meski pipinya masih basah oleh air mata.
Bibir Aleta bergerak pelan.
"A-air..." lirihnya dengan suara serak.
Gavin dengan sigap mengambil segelas air mineral dari meja samping ranjang dan menyerahkannya kepada Viana.
"Nih."
Viana segera menerima gelas itu, sementara Adrian dengan hati-hati menyelipkan satu tangan di belakang punggung Aleta untuk membantu gadis itu duduk bersandar.
"Pelan-pelan," ucap Adrian.
Viana kemudian menyodorkan gelas ke bibir Aleta. Aleta meneguk beberapa teguk air sebelum mengembuskannya pelan.
Warna wajahnya memang masih pucat, tetapi setidaknya kesadarannya telah kembali. Hal itu membuat semua orang di ruangan mengembuskan napas lega.
"Vin, panggil dokter," titah Adrian.
"Okayy."
Viana mengembuskan napas lega melihat Aleta sudah bisa membuka mata.
"Ta... sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanyanya pelan.
Aleta terdiam, enggan menjawab.
"Kenapa pakaianmu penuh darah?" tanya Adrian.
Deg.
Jantung Aleta seolah berhenti berdetak.
Baru saat itulah ia baru ingat jika sebelumnya ia masih mengenakan pakaian yang sama.
'Sial.'
Biasanya ia selalu menyempatkan diri berganti pakaian setelah menyelesaikan urusan. Namun entah karena terlalu lelah atau terlalu malas, kali ini ia langsung pulang tanpa sempat berganti.
Dan sekarang kesalahan kecil itu justru menjadi petaka. Aleta menggigit bibir bawahnya pelan. Otaknya bekerja keras mencari alasan yang terdengar masuk akal. Namun sebelum satu kata pun keluar dari bibirnya—
"Pemirsa!"
Suara televisi di sudut ruangan mendadak menarik perhatian semua orang. Seluruh kepala serempak menoleh.
"Koruptor Sony yang sebelumnya dinyatakan menghilang kini menjadi perbincangan hangat setelah beredar sebuah video pengakuan yang diduga direkam sesaat sebelum ia menghilang. Hingga saat ini, keberadaan Sony masih belum diketahui...."
Ruangan seketika dipenuhi keheningan.
"Jelas saja. Queen Moon pasti sudah membuang mayatnya ke laut," ucap Zion.
"Tidak ada yang selamat jika sudah berada di hadapannya," timpal Ezra.
"Namanya baru muncul, tapi sudah mengguncang dunia bawah," sahut Gavin. "Seolah-olah dia pernah menjadi pembunuh kelas atas sejak lama."
"Siapa sangka seorang Queen Moon juga bisa menunjukkan sisi lemahnya," ucap Adrian.
Semua mata beralih kepada Adrian. Pria itu justru sedang menatap lurus ke arah Aleta.
"Kenapa melihatku?" tanya Aleta, berusaha terdengar setenang mungkin.
"Aku hanya ingin kau jujur."
Adrian mendekat hingga wajahnya dan wajah Aleta hanya berjarak beberapa senti. Ia mendekat perlahan ke arah telinga Aleta.
"Queen Moon," Bisiknya, nyaris tak terdengar.
Deg!
Pupil mata Aleta membesar sesaat. Namun sedetik kemudian, ia kembali memasang wajah datarnya seolah tak terjadi apa pun.
"Katakan! Apakah pak tua itu menyakiti mu?" tanya Adrian.
"Sudah tahu?" tanya Aleta heran.
"Aku meretas data mu kembali," jawab Adrian, membuat Aleta menghembuskan napas kasar.
"Oke... Aku cerita."
...FLASHBACK ON...
Malam telah berganti pagi. Suara kicauan burung terdengar merdu pagi itu.
Sebuah vila mewah di puncak bukit mulai dipenuhi cahaya. Di dalam ruang kerja, seorang pria paruh baya tengah menghitung lembar demi lembar uang yang baru saja diterimanya. Senyumnya begitu lebar. Baginya, selama uang terus mengalir, tak ada yang perlu ditakutkan.
CLAK!
Lampu ruangan tiba-tiba padam. Hanya menyisakan cahaya pagi yang menerobos jendela. Cahaya itu tidak seberapa untuk menerangi ruangan yang besar itu. Membuat pria yang awalnya bahagia, kini emosi.
"Hah?" Pria itu spontan berdiri.
"Aku hampir saja selesai menghitung uangnya!" geramnya.
Tak. Tak. Tak.
Tiba-tiba terdengar bunyi hak sepatu beradu dengan lantai.
"Siapa di sana?!" teriaknya, masih dengan nada emosi.
Tak ada jawaban.
Hanya suara langkah kaki yang perlahan mendekat dari balik kegelapan. Sosok wanita berambut panjang dengan pakaian serba hitam perlahan mendekat.
Tak...
Tak...
Pria itu mundur selangkah tanpa sadar, membuatnya menabrak kursi kerjanya. Tangannya gemetar saat meraih laci meja.
Kosong.
Senjata yang biasa ia simpan telah menghilang.
"Lagi nyari ini?" Sebuah suara perempuan terdengar tenang dari sudut ruangan.
Lampu kembali menyala. Sesosok gadis berdiri dengan wajah yang tertutup topeng. Di tangan kanannya, benda yang tadi dicari oleh pria itu berputar pelan.
Pria tersebut langsung memucat, saat mengetahui siapa sosok yang saat ini satu ruangan dengannya.
"Q-Queen Moon..." gugupnya.
Aleta melempar benda itu ke lantai hingga bergeser tepat di depan kaki pria tersebut.
"Tak kusangka, kau juga mengenali ku, Sony Febrie."
"A-aku orang yang akan menyewa mu," ucap Sony. "Eh, tapi tunggu. Darimana kau tahu nama ku?"
"Karena kau lah yang akan menjadi korban ku hari ini," ucap Aleta dingin.
"A-apa ma-maksud mu, Queen?" tanya Sony, yang menjadi semakin gugup.
"Aku memberimu satu kesempatan. Jelaskan!Dana bantuan yang seharusnya sampai ke masyarakat... ke mana perginya?" tanya Aleta, aura intimidasinya sangat kuat sehingga pria tersebut ketakutan namun masih berusaha tersenyum.
"A-aku tidak mengerti maksudmu."
Aleta tersenyum tipis mendengar itu. Ia lalu melemparkan beberapa lembar foto ke meja pria itu. Di sana terdapat daftar transaksi, rekening rahasia, hingga foto-foto pertemuan gelap yang selama ini disembunyikan.
"Masih ingin berbohong?"
Wajah Sony berubah pucat pasi. "K-kamu dapat semua ini dari mana...?"
"Tidak penting." Aleta melangkah mendekat. "Yang penting... malam ini, semua dosamu telah menemukan penagihnya."
Sony mundur hingga punggungnya membentur dinding. Napasnya memburu. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Ia begitu ketakutan hingga tak menyadari Aleta baru saja menyemprotkan obat bius ke arahnya, membuatnya pingsan.
Beberapa menit kemudian, pria itu terbangun saat merasa kedinginan. Ternyata Aleta baru saja menyiramkan seember air dingin ke tubuhnya, membuatnya menggigil.
"Apa maksudmu melakukan ini padaku?!" marahnya setelah menyadari kedua tangannya terikat, membentuk huruf Y.
"Aku ingin kau jujur," jawab Aleta santai.
"Jika aku tidak mau?"
"Aku akan memaksamu," ucap Aleta.
"Aku tidak akan mengatakan apapun, bahkan jika nyawa ku berada di ambang kematian."
"Tangguh ya?" tanya Aleta, diakhiri kekehan yang terdengar mengerikan.
"Aku ingin lihat... Apakah seorang Sony Febrie benar-benar setangguh itu," ucap Aleta dingin. Tangannya bergerak melepas ikat pinggang Sony.
"Kau mau apa?" tanya Sony heran.
Bukannya menjawab, Aleta malah berjalan ke belakang Sony sambil membawa ikat pinggang itu.
Ctaassss!
"ARGHH!" teriakan kesakitan Sony menggema di seluruh ruangan ketika Aleta tiba-tiba mencambuknya dengan ikat pinggang.
Ctaaass!
Ctasss!
Ctaasss!
Aleta terus mencambuknya selama beberapa menit. Dia mungkin sudah mencambuknya sebanyak puluhan kali. Tidak peduli seberapa keras Sony berteriak, ia tetap melanjutkan olahraganya. Seolah-olah jeritan kesakitan Sony adalah instrumen penyemangat baginya.
Ctaasss!
"ARGGGHH!"
"Kumohon hentikan!"
"Sakiitt..."
Aleta akhirnya berhenti. Ia membuang ikat pinggang itu ke sembarangan arah, lalu kembali berjongkok di depan Sony.
"Berubah pikiran?" tanya Aleta.
Sony mengangkat wajahnya, "Tidak."
Plak!
Plak!
Aleta menampar kedua pipi Sony dengan keras, membuat sudut bibirnya pecah hingga mengeluarkan darah. Ia lalu mencengkeram dagu Sony kasar.
"Aku akan menjahit mulutmu!"
Aleta kembali berdiri. Tangannya merogoh ke dalam tas, lalu ia mendekati Sony sambil menggenggam sebatang jarum dan gulungan benang.
"Queen... Kumohon jangan lakukan itu," ucap Sony sambil menggelengkan kepalanya.
mana dipanggil honey lagi /Doge/