Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dorongan yang mematahkan
Tiga bulan berlalu tanpa kepastian, dan kesabaran Reyhan akhirnya mencapai titik nadir. Usahanya yang selalu bertepuk sebelah tangan mulai memicu rasa frustrasi. Karena tak kunjung mendapat kemajuan, Reyhan mengepung dua orang yang ia anggap sebagai "kunci": Sari dan Althaf.
Kepada Sari, Reyhan meminta dengan sangat agar sahabat Diantha itu bergerak lebih gencar. Sementara kepada Althaf, Reyhan secara terang-terangan mempertanyakan kesetiaannya sebagai teman. Bagi Reyhan, Althaf yang dekat dengan Diantha seharusnya bisa menjadi jembatan paling ampuh, bukan cuma diam menonton.
Tekanan itu menghantam Althaf tepat di dada. Ia benar-benar gusar dan berada di posisi yang amat serba salah. Di satu sisi, membayangkan Diantha bersanding dengan laki-laki lain, terutama Reyhan, membuat hatinya terbakar cemburu setengah mati.
Namun di sisi lain, bayang-bayang ikatan tetangga dan persahabatannya dengan Reyhan sejak kecil mengikat tangannya rapat-rapat. Ia merasa egois jika melangkah mendahului Reyhan, sementara ia tahu betapa mati-matian kakak kelasnya itu berjuang..
Sore itu, suasana di markas teras rumah Sari terasa jauh lebih berat dari biasanya. Tidak ada canda tawa seputar rujak mangga atau mi instan.
Sari mulai membuka suara, menjalankan amanat Reyhan sekaligus berusaha menjadi penengah.
"Tha... coba pikirin lagi deh," ujar Sari pelan, menatap Diantha ragu-ragu. "Aku tahu kamu risih. Tapi Kak Reyhan itu beneran niat banget. Gimana kalau kamu coba kenal dia lebih dekat dulu? Coba kasih kesempatan sekali aja... kalau nanti kamu tetep nggak sreg, setidaknya kamu punya alasan yang jelas buat nolak dia."
Diantha menghela napas panjang, siap melayangkan penolakan tegas seperti biasa. "Sar, kan aku udah..."
"Kamu coba aja dulu, Tha."
Kata-kata itu memotong ucapan Diantha begitu saja.
Suasana teras rumah Sari seketika hening mencekam. Semua mata langsung tertuju pada Althaf, yang baru saja melontarkan kalimat tersebut dengan suara pelan namun terdengar sangat jelas..
Diantha membeku..
Tatapan matanya yang tadinya siap memprotes Sari, kini beralih sepenuhnya ke arah Althaf dengan raut tak percaya..
Rian yang duduk di sebelah Althaf mendadak menegakkan punggungnya, menatap sahabatnya itu dengan mata meloto, ia tahu betul betapa Althaf menyukai Diantha, dan keputusan Althaf ini terasa gila. Bahkan Sari sendiri sampai tertahan napasnya, tak menyangka Althaf akan benar-benar menyuarakan hal itu..
"Kamu coba aja dulu, Tha," ulang Althaf lagi. Kali ini ia memaksakan matanya menatap Diantha, meski dadanya terasa seperti dihantam benda tumpul.
"Kalau memang kamu nggak nyaman, setidaknya kamu udah kasih kesempatan sama Kak Reyhan."
Diantha menatap Althaf dalam-dalam, mencari kebohongan, candaan, atau sekadar ironi di wajah cowok itu. Namun yang ia temukan hanyalah ekspresi datar yang terlalu dipaksakan..
Bagi Diantha, kalimat Althaf bukan sekadar saran. Itu terasa seperti dorongan... seolah Althaf secara tidak langsung merelakannya begitu saja untuk laki-laki lain.
Rasa kecewa yang amat sangat mendadak merayapi dada Diantha. Bibirnya sedikit gemetar, namun ia menahannya dengan rapat. Ia tersenyum sangat tipis—senyuman paling pahit yang pernah Althaf lihat dari wajah gadis itu.
"Oh... gitu ya, Thaf?" suara Diantha terdengar begitu tenang, namun dingin mematikan.
Ia mengangguk-angguk pelan, lalu berdiri dari duduknya, membereskan tasnya tanpa memandang Althaf lagi.
"Oke. Kalau emang itu menurut kamu jalan yang terbaik, aku bakal coba.."