NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 23

Hari itu, cuaca lebih cerah dari biasanya. Matahari mulai meninggi, cahayanya memantul di permukaan kaca mobil yang tengah dikemudikan Erlan.

Alyra yang duduk di kursi penumpang tampak kurang nyaman. Telapak tangannya terangkat menutupi kening, berusaha menghalau paparan sinar matahari yang terasa menyengat di wajahnya.

Erlan melirik sekilas ke arahnya. Tanpa berkata apa-apa, jemarinya menekan sebuah tombol. Sedetik kemudian, atap mobil sport itu menutup perlahan, meredam cahaya surya yang sebelumnya langsung menerpa wajah mereka.

Kabinnya pun berubah lebih teduh.

“Apa Lo bisu?” tanya Erlan, sedikitpun tak menoleh ke arah istrinya. “Tinggal bilang kalau kepanasan, kenapa diem aja.”

“Aku pikir kamu emang suka panas-panasan,” sahut Alyra.

“Gue pikir Lo pengen menikmati udara di luar ….” Erlan kini menoleh pelan, tatapannya lembut, namun penuh akan rasa bersalah. “Gue baru sadar, Lo lebih banyak diem di rumah setelah menikah. Jarang keluar, jarang menghirup udara segar.”

“Udara segar apanya?” sergah si wanita. “Siang bolong begini, panas-panas begini … yang ada cuma polusi.”

Erlan tersenyum samar, tatapannya tetap fokus ke depan. “Lain kali bilang aja kalau pengen keluar, atau cari hiburan. Ingat kata dokter tadi, ‘kan?” Ia menoleh sekilas dengan alis terangkat sebelah. “Kata dokter, ibu hamil nggak boleh stres.”

“Nggak usah khawatir. Aku bisa urus diriku sendiri,” sahut Alyra dengan nada sedikit menggerutu.

“Lo tuh kenapa, sih?” Erlan menghela napas pelan. “Sedetik bersikap lembut, sedetik kemudian marah-marah, mulutnya lancip udah bisa dikuncir itu.”

Alyra menyentuh pelan bibirnya yang mengerucut, kemudian melempar lirikan sinis ke arah sang suami.

‘Lalu bagaimana denganmu? Sikapmu pun selalu berubah-ubah. Sedetik bersikap dingin, lalu perhatian, tatapanmu juga sering membuatku salah paham.’

Lagi-lagi, Alyra hanya bisa mengutarakan isi hati dalam batin.

.

.

.

Sementara di tempat lain, tampak seorang wanita dengan raut wajah memerah, melempar tatapan penuh amarah.

“Seharusnya Lo mencegahnya dan nggak ngebiarin Erlan menikahi perempuan murahan itu!”

Stefani berdiri berkacak pinggang, menatap nyalang sang sepupu yang duduk menyilangkan kaki di depan meja rias. Sikap wanita itu sangatlah angkuh.

Velisa menarik napas panjang, menatap tim MUA, wardrobe, dan sang manager. Memberi isyarat untuk segera keluar dari ruangan.

Langsung saja semua orang keluar, menyisakan dua wanita yang kini saling beradu tatapan tajam.

“Ya bukan salah gue dia mau menikahi siapa aja. Emangnya gue emaknya bisa ngelarang-larang?” sahut Velisa, mencoba mengendalikan diri untuk tetap tenang.

Sebentar lagi gilirannya menjalani syuting iklan. Ia tak ingin merusak citra baiknya di depan para kru yang berlalu-lalang di luar ruangan.

“Sa. Kalau bukan gara-gara kelakuan bejat suami Lo itu … Erlan nggak mungkin terjebak di dalam pernikahan konyol ini.” Stefani menyeringai, tatapannya masih menghujam.

“Fan, udah deh,” ucap Velisa, menatap jengah ke arah sepupunya. “Relain aja si Erlan. Move on. Lo tuh penulis handal, terkenal, diakui di beberapa negara. Masih bisa nyari laki-laki lain yang lebih oke.”

“Enak, ya, Lo. Ngomong begitu?” Stefani mengangkat sudut bibirnya, dadanya masih naik turun, hatinya masih merasa dongkol. “Coba kalau keadaannya dibalik, Lo bisa relain Ervin? Hah?”

“Kenapa jadi muter balik gitu, sih? Lagian semuanya udah terjadi, mau gimana lagi?” Velisa mengedikkan bahu, lalu memutar bola matanya.

"Gue nggak mau tau, ya. Kembalikan keadaan seperti semula. Bilang ke Ervin buat urus si jalang itu, lalu bebaskan Erlan!" pintanya dengan lantang.

“Ya nggak bisa dong! Enak aja!” sergah Velisa. “Kalau Ervin ngurusin jalang itu, terus ... Nasib gue gimana? Hah?”

“Ya bukan urusan gue, terserah Lo mau gimana. Gue cuma minta bebasin Erlan, gara-gara Lo berdua dia yang jadi korban.”

Velisa menarik napas dalam. “Lo … beneran masih suka sama Erlan?” tanyanya, keningnya mengerut, menunggu jawaban.

Stefani menurunkan tangannya, tak lagi bertopang di pinggang. Perempuan yang belum lama kembali ke tanah air itu menarik napas dalam. “Iya, gue masih suka sama Erlan. Dan belum rela dia nikah sama orang lain,” sahutnya.

Velisa diam sejenak. Menyilangkan tangan di depan dada, matanya memicing, seolah tengah menyusun rencana di kepala. “Gimana kalau Lo rebut aja si Erlan?”

“Maksud, Lo?”

“Kita singkirin aja si benalu itu, terus Lo rebut suaminya.” Velisa tersenyum culas, sorot matanya berbinar licik seolah sudah membayangkan kemenangan di depan mata.

“Gue juga udah muak banget setiap hari harus ketemu sama si Jalang itu di rumah. Wajahnya, sikapnya, semua yang ada pada dirinya bener-bener bikin gue jijik,” lanjutnya sambil mengepalkan tangan. Ia semakin geram tatkala mengingat kejadian memalukan semalam.

“Lo punya rencana?” Stefani menatap penuh tanya.

“Kita kerja sama aja buat singkirin dia. Kalau berhasil … gue bisa aman hidup damai bersama Ervin tanpa gangguan benalu itu, dan Lo … bisa dapetin Erlan juga.”

“Caranya?” Sorot matanya berbinar penuh akan rasa penasaran, tak sabar mendengar rencana untuk menyingkirkan sosok yang ia anggap telah merebut lelakinya.

Padahal, Erlan sama sekali tak pernah menganggap dirinya istimewa. Sekadar teman setanah air yang sama-sama menjalani studi dan meniti karir di luar negeri.

Velisa kembali tersenyum miring. “Biar gue yang atur.”

.

.

.

Pasangan muda itu terlihat berjalan berdampingan memasuki sebuah resto lokal.

Erlan tampak lebih bersemangat dari biasanya, setelah berhasil menandatangani kontrak dengan penulis baru, yang tentunya atas bantuan analisis seorang Alyra.

Perempuan itu begitu teliti, memeriksa naskah dan juga andil dalam menginterview sang penulis. Padahal, ini di luar tanggung jawabnya, namun karena sang suami yang meminta bantuan, ia pun menanganinya dengan sangat profesional.

“Sebagai ucapan terima kasih … gue yang traktir hari ini,” Setelah memasuki ruang VIP, Erlan menarik salah satu kursi, mempersilakan sang istri untuk duduk.

“Silakan duduk, Nyonya Alyra,” ucapnya dengan senyuman sehangat mentari pagi.

Alyra menarik ujung bibirnya. “Baik sekali … bila ada maunya,” ketusnya, lalu menghempaskan bokong di atas kursi.

“Berkat bantuan Lo hari ini, gue ngerasa telah menemukan berlian tersembunyi. Padahal … awalnya gue nggak yakin sama penulis web novel itu,” kata Erlan, dirinya sudah ikut duduk berhadapan dengan sang istri.

“Itulah kenapa seseorang harus mengenal lebih dalam sebelum menghakimi dengan penilaian yang tak mendasar.” Alyra menatap tegas suaminya, menekankan tiap bait kata yang keluar dari bibirnya. “Sama halnya seperti sebuah novel. Kalau baru membaca satu atau dua bagian, jangan langsung menyimpulkan baik atau buruk. Bacalah sampai tamat, baru berikan umpan balik.”

Ia kemudian beralih pada lembaran menu, mulai memilih santapan yang hendak dipesan.

Erlan terdiam sejenak, lalu menatap sedikit tajam. “Kenapa rasanya … ucapan Lo barusan kayak nyindir seseorang?”

“Itu bukan sindiran,” jawab Alyra. Tatapannya tak beralih, masih fokus pada lembar menu di tangannya.

“Kebanyakan atasan memang begitu, ‘kan? Mereka cuma peduli pada nama besar penulis, bukan isi naskahnya.” Ia menghela napas pelan sebelum kembali melanjutkan. “Penulis kecil seperti Imoo tadi emang bisa apa? Kamu bahkan baru membaca premisnya, tapi sudah menyimpulkan ada beberapa poin yang kurang, padahal belum membacanya sampai tamat.”

Alyra akhirnya mengangkat pandangan, menatap lurus ke arah suaminya. “Kejam, bukan? Tapi memang seperti itulah kenyataan yang terjadi di lapangan. Lagipula ... Kamu sudah memutuskan untuk merekrut penulis amatiran, aku harap kamu nggak lepas tanggung jawab, bimbinglah dia sampai sukses.”

Ucapan Alyra bagaikan batu besar yang menghantam dada, tepat sasaran, Erlan kembali terdiam, menatap penuh kagum istrinya.

Sudut bibirnya terangkat, sorot matanya sarat akan penuh makna. “Penulis Alyra yang terhormat … apakah Anda tidak tertarik bekerja sama dengan saya?”

“Uhuk!” Mineral yang baru saja diteguknya seketika muncrat ke arah suaminya. “Apa?”

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!