NovelToon NovelToon
HUSH, LITTLE BIRD

HUSH, LITTLE BIRD

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."

Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.

Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.

Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.

"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23. Di ambang kehancuran

Kemarahan Bima pada Revan tadi seolah menjadi bahan bakar yang melipatgandakan gairahnya. Di dalam ruang tamu yang tertutup rapat, suasana menjadi begitu panas hingga oksigen seolah menghilang. Bima tidak peduli jika saat ini matahari masih bersinar terik di luar sana. Baginya, setiap inci kulit Alea yang nyaris disentuh oleh jemari pria lain harus segera disucikan kembali dengan klaim mutlaknya.

"Kau milikku, Alea. Jangan pernah biarkan tangan kotor mana pun menyentuh milikku lagi," bisik Bima parau, suaranya lebih menyerupai perintah yang gelap daripada sebuah bisikan kasih sayang.

Punggung Alea terhimpit keras pada daun pintu kayu yang dingin, namun ia tidak merasakan sakit. Yang ia rasakan hanyalah panas dari tubuh Bima yang menekan seluruh eksistensinya. Tangan Bima sudah bergerak liar di balik kardigan Alea, sementara bibirnya melumat bibir Alea dengan suara yang memenuhi ruangan sunyi itu—suara yang penuh dengan rasa lapar yang tak terpuaskan. Alea hanya bisa merintih pelan, jemarinya mencengkeram kemeja Bima hingga kancing atas pria itu nyaris lepas dari jahitannya. Di tengah rasa takut yang mencekam akan kemungkinan tertangkap basah, Alea justru merasakan adrenalin yang memuncak, sebuah euforia terlarang yang membuatnya semakin haus akan kehadiran Bima.

Namun, tepat saat Bima hendak mengangkat tubuh Alea kembali menuju sofa untuk menuntaskan hasratnya, sebuah suara yang sangat mereka kenali memecah keheningan di luar rumah. Suara deru mesin mobil yang sangat familiar terdengar memasuki halaman depan yang dilapisi kerikil tajam. Disusul oleh suara pintu mobil yang dibanting dengan keras.

Baskara pulang.

Alea tersentak hebat seolah tersengat aliran listrik ribuan volt. Matanya membelalak lebar, menatap mata hitam Bima yang masih berkilat penuh nafsu. "Daddy..." bisiknya dengan nada panik yang luar biasa, seluruh tubuhnya mendadak gemetar.

Bima membeku di tempatnya. Rahangnya mengeras, dan selama satu detik, ia tampak seperti serigala yang terganggu saat sedang mengklaim mangsanya. Namun, instingnya sebagai pemangsa yang licik dan berpengalaman langsung bekerja. Ia melepaskan Alea dalam sepersekian detik, menciptakan jarak yang dipaksakan. Mereka berdua terengah-engah, saling menatap dengan mata yang masih dipenuhi gairah yang belum tuntas, namun kini dengan cepat bercampur dengan rasa waswas yang dingin dan mencekam.

"Benahi bajumu. Cepat!" perintah Bima dengan suara rendah yang tajam, hampir seperti desisan.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Alea merapikan syal sutranya yang melilit berantakan di leher, menutupi tanda kemerahan yang baru saja ditambah oleh Bima. Ia mengancingkan kembali kardigannya dengan gerakan kikuk, lalu mengusap bibirnya yang sedikit bengkak dan basah dengan punggung tangan, berusaha menghilangkan jejak ciuman brutal pria itu.

Di sisi lain, Bima dengan sangat tenang—terlalu tenang—merapikan rambutnya dan memasang kembali kancing kemejanya yang sempat terlepas. Ia meraih sebuah dokumen yang tadi ia lemparkan dengan sengaja ke atas meja, memegangnya dengan posisi seolah-olah ia baru saja menemukannya di tumpukan berkas.

Klik.

Pintu depan terbuka. Baskara melangkah masuk dengan wajah yang tampak lelah, membawa tas kerja dan jas yang sudah tersampir di lengan. Ia tersenyum lebar saat melihat kedua orang yang paling ia sayangi berada di ruang tamu.

"Lho, Bima? Kau masih di sini? Daddy pikir kau sudah berangkat ke kantor dari tadi," ujar Baskara sembari melangkah masuk, sama sekali tidak menyadari atmosfer berat yang masih menggantung di udara.

Bima menoleh dengan ekspresi yang sangat santai, sebuah akting yang begitu sempurna hingga Alea sendiri merasa merinding melihat betapa mudahnya pria itu berbohong. "Tadi ada berkas kontrak penting yang tertinggal di ruang kerja, Baskara. Aku baru saja mau berangkat setelah menemukannya, tapi Alea turun dan mengeluh kepalanya masih pening. Aku menemaninya sebentar untuk memastikan dia sudah minum obatnya."

Baskara berjalan mendekat, menatap putrinya dengan tatapan cemas. "Masih pening, Sayang? Wajahmu memerah sekali, apa kau demam?"

Baskara meletakkan punggung tangannya di dahi Alea secara spontan. Alea menahan napasnya, merasa jantungnya ingin melompat keluar dari tulang rusuknya. Ia takut ayahnya bisa mencium aroma parfum cedarwood dan tembakau mahal milik Bima yang begitu pekat menempel di pakaiannya. Ia takut ayahnya bisa melihat binar liar di matanya yang belum sempat padam.

"I-iya, Dad. Sedikit panas. Mungkin aku butuh tidur lagi. Aku baru saja mau naik ke kamar saat Daddy datang," jawab Alea dengan suara yang diusahakan selembut mungkin, meski suaranya sedikit bergetar di ujung kalimat.

"Istirahatlah, Sayang. Untung ada Bima di sini," Baskara menepuk bahu Bima dengan akrab, sebuah gestur persahabatan yang tulus yang membuat Alea merasa sangat berdosa. "Terima kasih banyak sudah menjaga Alea saat aku tidak ada, Bima. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana mengurus rumah ini tanpa bantuanmu akhir-akhir ini."

Bima tersenyum tipis—sebuah senyum misterius yang membuat Alea merasa ingin berteriak karena makna gelap di baliknya. "Sama-sama, Baskara. Menjaga Alea adalah... prioritas utamaku. Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya."

Bima memberikan satu lirikan terakhir yang sangat tajam pada Alea sebelum berpamitan. "Aku berangkat sekarang. Ingat pesan Paman, Alea. Istirahat yang cukup. Jangan biarkan siapa pun mengganggumu lagi, terutama orang asing yang datang tanpa janji."

Alea hanya bisa mengangguk kaku, tidak berani bersuara. Saat Bima melangkah melewati ayahnya menuju pintu luar, pria itu sempat menyentuh punggung tangan Alea sekilas—sebuah sentuhan rahasia yang sangat cepat namun terasa seperti janji yang membakar bahwa 'hukuman' mereka belum benar-benar berakhir.

Alea segera berbalik dan berlari menaiki tangga kayu menuju kamarnya tanpa menoleh lagi ke arah ayahnya. Ia menutup pintu kamar, menguncinya dengan bunyi klik yang keras, dan langsung menjatuhkan tubuhnya di balik pintu. Ia menyentuh bibirnya dengan jari, merasakan denyut panas yang masih tertinggal di sana.

Mereka baru saja berada di ambang kehancuran. Satu menit saja terlambat, atau jika Baskara memutuskan untuk masuk lebih cepat, dunianya pasti sudah runtuh menjadi abu. Kebohongan ini mulai terasa seperti jurang yang dalam, namun anehnya, Alea merasa terjebak dalam pesona gelap tersebut. Ketegangan karena melakukan hal terlarang tepat di bawah hidung ayahnya sendiri justru memberinya sensasi gila yang membuatnya semakin terikat pada Bima.

Di kamarnya yang sunyi, Alea menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak hanya mencintai Bima, ia telah menjadi pecandu bagi bahaya yang dibawa pria itu ke dalam hidupnya.

1
Niaja
anjr serius baskara bilang cinta ke cowo? /Sweat/
Senja_Puan: Kalau ga baca lanjutannya, aku yang buat juga geli kak🤣but, yang dicintai Baskara kan kepintarannya 🤭
total 1 replies
Niaja
sukaa sama ceritanya
Senja_Puan: jangan lupa di like kakak😍
total 1 replies
Anom
Tumpengan Bima
Anom
akhirnya pecah telor 🤭
Anom
kaya ABG anjir🤣
Anom
Good Alea
Yasa
Kak, aku jujur aja ya. kayanya kamu lebih cocok garap novel yang hot/dark gini deh😄 lebih ngena dari pada yang komedi🤣
Yasa
Bima, U bener2 ya. Ini masih hari pertama kah???
Yasa
Gila kak, baru episode pertama udah sat set.
Senja_Puan: thanks kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!