NovelToon NovelToon
RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tanya Balik

masih up, cuma jarang!


Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.


Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09. Penggelapan dana

Masalah Arten juga masalah Morline.

....

Karena duduk di kursi selama lebih dari tiga jam, saat bangun pagi bahu Morline terasa nyeri. Dia mengurut pelan bahunya dan meringis karena nyeri yang menjalar. "Ahk, rasanya mau patah."

Kaki kecil berlemak seperti bayi, telanjang di atas karpet beludru, melangkah kecil menghampiri jendela yang terbuka.

Morline melihat setitik embun pada daun dengan suasana sedikit berkabut di luar. Dia berdiri sejenak di sana untuk memperhatikan daun bergoyang pelan karena hembusan angin.

Cahaya hangat yang melewati kaca menerpa tubuhnya, membuat bayangan besar di bawah kakinya. Tangan gemuknya terangkat ke atas kepala untuk menghalau cahaya yang menyilaukan mata.

Dulu ketika dia masih hidup sebagai jiwa modern, Morline sering menikmati waktu minum kopi sambil memandang ke luar jendela. Memeprhatikan orang-orang yang sudah beraktivitas pagi, entah olahraga, membeli sarapan atau pergi ke sekolah.

Saat itu, Morline selalu mengulang pertanyaan ini dalam kepalanya. 'kapan aku bisa liburan!? Aku lelah! Ingin liburan!"

Morline ingin ke pantai, menikmati sejuknya air laut lalu ke gunung menikmati segarnya udara dan jalan-jalan santai di taman. Namun statusnya sebagai staff administrasi pada saat itu menjadi belenggu. Morline bahkan sampai masuk rumah sakit karena tipes dan sakit selama beberapa bulan, lalu kemudian....

Ah, jika mengingat masa-masa itu, Morline jadi sedih. Bagaimanapun kala itu adalah masa terburuknya.

Namun entah bagaimana, jiwa Morline justru terjebak di tubuh ini. Tubuh yang namanya sama dengannya.

Pintu di ketuk, di susul suara Nina dari luar.

Morline tersadar dari lamunannya, menoleh ke pintu. "Masuk."

"Saya membawakan anda obat herbal dari dokter Arten, menurut beliau obat ini ampuh menghilangkan nyeri otot." Nina melangkah dengan nampan dikedua tangan, semangkuk kecil cairan berwarna cokelat gelap dan air putih dalam gelas, bergerak pelan.

Morline mengernyit menatap cairan gelap seperti racun itu. "Obat herbal?"

"Ya, yang mulia. Dokter Arten mengatakan ramuan ini campuran dari air rebusan jahe, kunyit, kayu manis, dan rebusan daun jelatang."

Morline: "?"

"Apa itu pahit?"

Nina tersenyum di bibir. "Bukankah rasa pahit itu adalah tanda jika obatnya memiliki khasiat?"

"Kalau begitu tidak perlu, aku sudah biasa nyeri otot begini. Akan sembuh dalam beberapa hari."

"Yang mulia, dokter Arten sudah meracik ini khusus untuk anda. Apa anda tidak ingin menghargai kerja kerasnya?"

Morline tidak menjawab untuk beberapa saat, dia menatap mangkuk kecil di atas nampan yang tampak tenang. "Baiklah! Aku akan minum." Morline meraih obat itu. Teguk saja langsung dan abaikan rasa pahitnya, toh dulu dia juga pernah minum obat pahit. Kalimat itu terus Morline putar dalam kepalanya sebagai penguat mental, sebelum menenggak obat itu dengan cepat lalu gegas meraih gelas, minum beberapa teguk untuk menetralisir rasa pahit yang tertinggal di lidah. "Ah! Benar-benar menyebalkan."

Nina berkedip dua kali, dalam diam dia membatin berbagai hal tentang Morline.

"Aku akan membasuh wajah dulu, hari ini aku mau menikmati kopi susu dan roti di taman. Siapkan semuanya."

"Baik yang mulia."

Udara pagi terasa menyegarkan di hidung Morline yang biasa menghirup polusi kota metropolitan, paru-parunya yang biasanya sesak kini plong. Tak ada lagi rasa mengganjal di dadanya.

Di meja bundar dengan hiasan bunga tulip yang segar, aroma kopi susu yang lembut bercampur dengan udara hijau di taman samping paviliun, Morline menyesap perlahan kopinya. Cairan itu mengalir di lidahnya, rasa dari perpaduan kopi dan susu menari di dalam mulutnya, menjalar ke hati meningkatkan dopamin dan serotonin yang mempengaruhi perasaannya pagi ini.

Morline tersenyum lebar sembari menatap bunga dan tanaman yang sangat segar, tetes embun masih menempel di sana. Sesekali angin mengusik menjatuhkan mereka, lalu kupu-kupu, kumbang dan beberapa serangga lain berterbangan di atas bunga-bunga itu, terlihat seperti berebut makanan.

Inilah kehidupan yang selalu Morline inginkan dari dulu, tenang dan nyaman.

Memandang alam dan sekitarnya terasa seperti Morline menjadi bagian dari dunia mereka.

"Yang mulia." Panggil Chasi, dia yang bertugas menemani Morline saat ini.

"Mm? Kenapa?" Morline tak menoleh, sibuk memperhatikan kupu-kupu indah yang terbang di depannya, lalu hinggap di kelopak merah muda bunga tulip.

"Tuan Arten meminta bertemu dengan anda siang nanti."

"Apa dia mengatakan alasannya?"

"Beliau bilang, ada hal yang harus beliau bicarakan dengan anda. Anda tahu apa itu, katanya seperti itu."

"Aku mengerti, pergilah." Kursi besi itu berdorong mundur saat Morline berdiri dan melangkah keluar.

Morline memperhatikan kupu-kupu yang terbang ke arahnya lalu hinggap di kelopak merah muda bunga tulip. Sayapnya yang berwarna biru perpaduan hitam dengan titik merah itu indah dan terasa lembut. Morline memeprhatikan cukup lama sebelum beranjak dari sana.

Di ruang tunggu.

"Dokter Arten, ada apa memanggil aku?" Morline sudah duduk di atas sofa beludru merah tepat di depan Arten. Wajah pria itu masih sama seperti terlahir mereka bertemu. Terlihat lesu dan kelelahan. "Anda tampaknya tak sehat, Dokter."

"Ah, ini bukan apa-apa. Saya ingin meminta bantuan anda lagi."

"Soal apa?"

"Tolong bujuk raja agar memberi waktu bagi saya membuat obat."

Morline menghela nafas. Obat itu sebenarnya tak pernah ada. Luka di wajah Cedric bisa sembuh jika di dunia ini sudah ada transparansi kulit. "Sebenarnya seberapa sulit obat itu dokter. Jika dokter terus memaksakan diri begini, bisa-bisa, Dokter kehabisan nyawa karena membuat obat itu, bukan karena raja."

Arten seakan tersentak. Matanya yang hitam melebar. "Ah, saya masih berusaha."

"Kalau begitu katakan apa yang sebenarnya terjadi?"

"Saya tak berhak mengatakan itu, raja sendirilah yang seharusnya mengatakannya." Arten menjawab cepat.

"Baik aku mengerti."

Setelah basa-basi sedikit dengan Arten dan menyuruh pria itu untuk pergi istirahat. Morline pergi ke dapur untuk membuat kukis yang akan dia bagi pada Cedric.

Nina dan Chasi menemani, saat sampai di sana para pelayan yang bekerja segera membungkus dan mengerumuninya seperti semut. Mengatakan pada Morline agar mereka saja yang memasak. Namun Morline menolak. Dia ingin memasak kukis sendiri tanpa bantuan orang lain.

Setelah bahan-bahan kue tercampur, Morline mengaduknya sebentar. Membentuknya menjadi bola-bola kecil lalu letakkan sejajar di atas nampan sebelum dimasak dalam oven manual.

Para pelayan menunggu di luar, membiarkan Morline menikmati waktu sendiri di sana. Morline sesekali memeriksa apakah kukisnya sudah matang lalu kembali menunggu.

Setelah kukisnya matang, Morline memberikan mereka beberapa potong dan sebagian dia bawa pergi untuk Cedric.

Tok. Tok Tok

Morline mengetuk pintu kamar Cedric. Entah mengapa, hal seperti ini menjadi rutinitas rutinnya.

"Yang mulia, tebak saya bawa apa?" orline menunggu jawaban.

Tidak ada balasan.

Alis Morline menekuk, mulai kesal dengan sikap dingin Cedric. Pria itu seperti artis bintang lima yang enggan meladeni managernya hanya karena malas.

Morline mengetuk lagi, kali ini lebih keras dan suaranya meninggi. "Yang mulia raja, apa anda sedang tidur? Atau hanya mengabaikan saya? Yang mulia? Apa anda ada di sana? Kalau anda tidak menjawab, saya buka pintunya, ya?"

Menunggu selama 30 detik, Morline meraih handle pintu dan menariknya. Mendorong pintu perlahan.

Saat pintu akan terbuka, suara gaduh di susul dorongan keras membuat Morline terkejut. Dia sampai terdorong menjauh dari pintu yang kini tertutup rapat.

"Yang mulia?"

"Siapa yang menyuruhmu masuk sembarangan?!" Suara berat dan sedikit serak itu terdengar lebih jelas dan kencang. Morline dapat menebak kalau pria itu marah.

"Yang mulia sendiri. Kenapa diam saja tadi? Saya kira anda setuju."

"...."

"Ada apa? Kalau tidak penting, lebih baik pergi."

"Saya bawakan kukis untuk anda, tidak hanya itu saya juga ingin membicarakan sesuatu."

"Katakan saja di sana."

"Tidak, saya mau masuk, saya ingin memberikan ini."

"Aku tak makan kue."

"Saya tetap akan memberikannya." Morline mendorong pintu itu, Cedric menahannya dari dalam. Morline tetap mendorong sekuat tenaga hingga pintu itu tertutup dan terbuka beberapa kali karena keduanya saling mendorong.

Kesal, Morline menjauh lima langkah dari pintu. Lalu berlari dan mendorong pintu hingga pintu itu terbuka, menghempaskan Cedric. Pria itu jatuh dengan suara keras.

Morline tak menyangka jika kekuatannya membuat pria itu jatuh. Dia segera membungkuk ingin menolong. Namun Cedric menghempaskan tangannya. "Tidak perlu!" Dia memalingkan wajah dan segera bangkit lalu berlari ke jendela dan menyembunyikan dirinya dibalik gorden tebal. Kedua kaki yang telanjang terlihat jelas karena cahaya dari luar.

Morline terdiam, menatap tanpa berkedip selama beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum dan berdiri. Mengambil bungkusan kukis di lantai yang mungkin sudah patah atau remuk untuk diletakkan di atas meja.

"Yang mulia kenapa anda bersemnuyi di sana? Seperti anak kecil saja?" Morline tersenyum mencoba menahan tawa. Dia sebenarnya tahu kondisi Cedric dan tahu alasan Cedric bersembunyi, tapi lucu rasanya melihat tindakan pria itu seperti anak kecil. Bersembunyi di balik gorden? Dia seorang pria dewasa 30 tahun.

"Kau." Suara Cedric terdengar menahan kesal. "Lebih baik keluar dari kamarku. Lancang sekali kau masuk tanpa izin."

Morline melangkah mendekat. Di balik gorden, Cedric bergerak gelisah. Nafasnya memberat hingga terdengar olehnya.

"Saya hanya mengantar kukis buatan saya, tadi kukisnya jatuh mungkin sudah remuk atau patah, tapi rasanya tak berubah kok. Mohon yang mulia makan, ya."

"Aku tak makan kue! Berapa kali aku bilang!?"

"Apa yang mulia memiliki alergi?"

"...."

"Tidak? Berarti yang mulia tidak alergi kan, kalau begitu anda bisa makan." Morline melangkah lebih dekat hingga Cedric dapat merasakan keberadaannya. Pria itu bergerak mundur meski kaca jendela menghalangi tubuhnya.

"Menjauh dariku!"

Bukannya menjauh, Morline justru semakin mendekat hingga tubuhnya menempel dengan tubuh Cedric di balik gorden tebal. Dia berbisik. "Aduh yang mulia, sebenarnya anda ini kenapa sih? Kalau anda terus seperti ini, anda tak akan bisa maju. Cobalah untuk berani dan abaikan hal yang mengusik pikiran anda, itu hanya membuat anda tak bergerak dari lingkaran yang anda buat. Saya harap anda mengerti apa maksud saya." Morline menjauhkan tubuhnya, dia menatap gorden abu-abu yang mungkin saja dibaliknya ada wajah Cedric. "Kalau begitu saya pergi, tolong anda makan kukisnya, ya."

Morline berbalik dan melangkah lebar, tak lupa menutup pintu kamar.

☆☆☆☆☆☆

Cedric menyibak pelan gorden wol yang sudah lama tak di cuci karena Cedric melarang siapapun masuk ke kamarnya.

Terkecuali gadis itu, dengan berani dan tanpa rasa takut dia menerobos masuk wilayah teritori-nya. Wilayah yang selama ini dia jaga ketat agar tidak sembarangan orang bisa masuk. Namun beberapa saat lalu, dengan tubuhnya yang gemuk dia mendorong pintu hingga dirinya terjatuh memalukan di depan gadis itu.

Lebih-lebih dia berlari bersembunyi di balik gorden. Gadis itu juga sempat mengejeknya, Cedric yakin gadis itu sedang menahan tawa tadi.

Cedric kesal juga marah, selama ini kehidupannya tenang tanpa ada gangguan. Namun ketika suara yang seperti burung bernyanyi itu berbisik di dekatnya, jantung berdebar. Bukan karena suka atau rangsangan akan sesuatu, tapi karena kata-kata itu justru menusuk dalam tepat di dadanya.

Benar, memang ada benarnya. Jika Cedric terus seperti ini. Terus menghindar seperti orang pengecut, maka dia tak akan pernah bisa maju. Tak akan pernah bisa meraih apa yang dia ingin raih.

Cedric menunduk, melihat siluet tangannya kanannya. Di sana terdapat luka bakar memanjang, membentuk keloid yang terasa aneh dan mengerikan.

Dulu, Cedric sangat membanggakan fisiknya yang tampan. Dia bahkan percaya diri datang ke kerajaan Thalva hanya untuk mengejar putri Annellise, berpikir bahwa gadis itu akan menerimanya. Tak disangka raja Aleron ikut campur dalam urusannya dan mereka terlibat duel hingga membuatnya seperti sekarang.

Wajahnya hancur dan reputasinya memburuk. Dia telah kehilangan kebanggaannya, rasa percaya dirinya.

Kehancuran itu membuat keadaan di istana semakin sulit, Cedric tak bisa bergerak bebas mengurus istana apalagi kerajaan hingga tanggung jawabnya terabaikan.

Namun entah bagaimana, Morline justru muncul diwaktu yang tepat. Menyelamatkannya dari jurang bahaya.

"Mungkin benar, aku memang harus maju." Cedric bergumam.

Kemudian melangkah ke meja, melihat sesuatu yang berkilau karena pantulan cahaya bulan. Setelah di raba, ternyata berubah bungkusan. Cedric ingat Morline membawa kue untuknya. Dia meraih dan membukanya, kue-kue itu patah dan hancur, dia menggigit potongan yang sudah patah. "Enak."

Lalu kemudian menggigit lagi potongan lain, untuk kedua, ketiga hingga bungkusan itu hanya tersisa remahan.

**✿❀ ❀✿**

Pagi hari Morline mendapatkan notifikasi baru dari sistem.

Dia kira misi tentang Arten sudah berhasil, ternyata statusnya masih berlanjut. Justru dia mendapati misi lain, yaitu misi sampingan yang menyuruhnya untuk menyelesaikan permasalah di kerajaan ini.

Seperti melakukan audit keuangan kerajaan, menghapus pejabat korup dan mengalihkan anggaran berlebihan ke sektor pertanian dan irigasi.

Melihat misi itu, Morline menghela nafas. "Ini sih bukan misi sampingan tapi misi utama. Tugasnya berat seperti ini disebut misi sampingan?" Morline mengajukan protes pada sistem, tapi sistem menolak protes itu.

Tidak ada pilihan lain, dia menerima misi itu. Toh setiap misi mendapatkan poin yang cukup memuaskan. Masing-masing mendapatkan 50 poin jika berhasil. Dan Morline sangat yakin ini akan berhasil karena dia akan melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Misi pertama. Melakukan audit keuangan istana.

Setelah mandi dan sarapan, Morline segera pergi ke ruang kerjanya. Meminta Joseph mengeluarkan dokumen-dokumen keuangan istana. Dia memeriksa apakah ada ketidakcocokan atau sebaliknya. Meski Morline yakin dia akan menemukan sesuatu yang janggal dari proses audit ini, tapi dia tetap melakukan prosedur dengan baik bahkan mengulang beberapa kali untuk membuktikan keakuratannya.

Setelah mencatat ketidakwajaran di dokumen yang dia baca, Morline memanggil Joseph untuk proses pengujian.

Pria pengurus istana datang dengan langkah lebar, berdiri dengan tangan di dada, sedikit menunduk untuk memberi hormat. "Salam yang mulia."

"Silahkan duduk." Pria itu duduk. Morline segera menunjuk angka yang sudah dia catat dan dokumen keuangan. "Di sini tertulis bahwa kau membeli kain wol 100 meter dengan harga 200 koin emas. Di mana bukti pembayarannya? Di sini aku cari tak ada?"

Alis yang sudah memutih itu menukik, kerutan di dahinya bertambah tiga. "Saya? Membeli kain wol 100 meter? Saya merasa tak melakukan itu.  Atau.... mungkin saya lupa? Saya tidak merasa membeli."

"Siapa yang biasanya mengurus hal pembelian seperti ini?"

"Biasanya pelayan Erma, dia satu angkatan dengan Marnin."

"Nina." Nina yang memang sejak awal sudah ada di ruangan, mendekat. "Panggil Erma kesini, oh juga Marnin. Panggil mereka."

Tak lama Emra dan Marnin datang. Karena mereka berdua lebih tua darinya, demi menghormati mereka. Morline menyiapkan kursi untuk keduanya. Joseph berada di tengah, terhimpit oleh Marnin dan Erma.

"Dimana kwitansi pembelian kain wol 100 yang kau beli?" Morline tak mau banyak basa-basi, dia ingin langsung ke intinya. Jika dia tahu maka akan menjawab jika tidak maka urusannya mungkin akan semakin panjang.

"Saya...." Erma melirik ke sebelah kiri, pada Joseph dan Marnin. "Saya kehilangan kwitansinya."

"Kalau begitu dimana kamu simpan kain wol itu? Nanti kita selidiki. Dimana kamu membelinya dan siapa yang menjualnya. Maka akan ketahuan harganya berapa."

Bola mata Erma bergetar halus, Morline menatap setiap gerak tubuh dan ekspresinya. "Itu, itu tak bisa yang mulia."

"Kenapa?" Morline mengangkat satu alisnya.

"Karena penjualannya merupakan pedagang tak tetap, dia hanya hampir ke beberapa wilayah saja lalu pergi. Mungkin dia sudah pergi jauh," jelas Erma. Namun Morline melihat wanita itu terus meremas jari.

"Kalau begitu katakan namanya siapa. Dan siapa saja yang membeli barang darinya. Tak mungkin bukan kau membeli sendirii tanpa mendapatkan informasi dari orang lain?"

"Ah!" Entah kenapa, tapi Erma seakan tersengat sesuatu. Tubuh tersentak.

Joseph dan Marnin menatapnya. Memicingkan mata menatap Erma yang tampak tak biasa di mata mereka.

"Kalau boleh saya tahu, pembeliannya dilakukan kapan yang mulia?" Marnin bertanya.

Morline menunjuk deretan laporan dengan ujung jari gempalnya. "Di laporan ini tertulis bulan empat tanggal 8, tapi aku tak bisa menemukan bukti pembeliannya. Hanya ada laporan saja."

"Saya ingat di bulan empat tanggal 8, saya dan Erma pergi ke pemasok buah untuk melihat kualitas buah di sana." Marnin memicingkan matanya sambil melirik Emra yang tampak gelisah. "Saya tak ingat jika Erma pergi membeli kain wol."

"Erma katakan padaku, kapan kau membeli kain itu. Padahal aku ingat kita pergi ke pemasok buah saat itu." Marnin bertanya yang membuat Erma semakin terlihat tak nyaman.

"Itu malam hari, itulah kenapa kau tidak tahu." Erma membalas dengan suara gemetar.

"Benarkah. Malam hari membeli kain wol 100 meter. Itu terdengar tak masuk akal." Kata Marnin. Lebih terasa mendesaknya.

"Ituuu...."

"Katakan saja siapa penjualnya, dan siapa yang membeli di sana. Aku akan menyelidikinya secara langsung." Morline semakin mendesak Erma.

Keringat timbul di dahi wanita itu. Erma menunduk, kedua tangannya tak bisa diam, terus bergerak entah membenarkan kancing atau meraih rambut berulang kali. Tatapan matanya tak terlihat tenang, bola mata itu terus menatap keberbagai arah. Membuat mereka menaruh curiga padanya.

"Erma, katakan sekarang. Kalau kau tidak mengatakannya, kau berpotensi menjadi tersangka atas ketidakwajaran di laporan keuangan ini."

Erma tak bisa menjawab, dia semakin tak terlihat tenang.

Morline menghembuskan nafas kasar lalu menatap Joseph. "Joseph tolong sedikit masalah ini, aku percaya padamu."

"Saya mengerti yang mulia."

"Jangan!" Erma berteriak. Jelas membuat kecurigaan mereka semakin besar. "Maksud saya, hal seperti itu rasanya merepotkan bukan. Toh hanya 200 koin emas."

"Em, kau ingat pernah membelinya? Kau menyebutkan harganya dengan tepat. Itu berarti kau ingat kwitansinya kan?" Tanya Morline seakan mempermainkannya.

Erma tak menjawab dia semakin terlihat gelisah dan gemetar. Air mukanya seperti menahan teriakan karena ada kotoran di wajahnya.

"Jadi jawab aku, siapa yang jual?"

"Saya tidak tahu."

"Kau baru saja menyebutkan harga wolnya dengan tepat, kenapa kau tak tahu?"

Erma menggeleng lagi.

1
Uthie
Wahhh... ternyata Edy baik juga 😍👍👍
Uthie
Selalu setiap menanti kelanjutannya kembali 👍👍👍👍😍
Uthie
ditunggu Lagii 👍👍👍
kiu kiu
lanjut thor..jgn terlalu lama updatenya...
kiu kiu
kpn upnya thor
Tanya Balik
guys aku nulis tiap bab-nya minimal 2000 kata, banyak lho itu. Jadi maklum aja ya lama up-nya. 🙏🙏😄
kiu kiu
morline sangat baik terhadap karel.suatu saat karel akan tumbuh besar dan akan menjadi pelindung utk morlin...cerita ini mengisahkan kasih sayang ibu dan anak.tp berbeda dg apa yg di alami morline.yg sudah menganggapnya keluarga.
Uthie
lagiiii 🤩🔥🔥
kiu kiu
jgn terlalu lama updatenya thor...ak penasaran dg gadis gemuk ini.apa yg akan dia lakukan di daerah targus itu. apa lagi eddy selalu mengawasi.
Uthie
Ditunggu lagiiii 🔥🔥🔥
Uthie
Lanjutttt lagiii...
setia menunggu up berikut nya 😁👍
kiu kiu
lanjut thor...updatenya jgn jarang jarang.
Uthie
Di tunggu lagiii aksi nyata dari Ratu Morline 😍👍

lanjuuttttt lagiiii 💪💞
kiu kiu
masih update nggk thor...
Tanya Balik: masih, tapi up-nya memang jarang2 di tunggu aja ya😄🙏
total 1 replies
Uthie
Wahhhh.... lagi seru-serunya baca soal Morline... malah udahan aja 🤩🤩

Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
Uthie
Morline ratu yg baik 👍👍😇
Uthie
Sukkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍
Uthie
Sukkkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍👍
lanjut lagiiii 👍👍👍😍
Uthie
Wahhh... ada yg kesengsem sama Morline 😂👍
Uthie
seruuu 👍😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!