NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan di Dalam

​Gedung pusat Neovault tampak seperti benteng yang sedang terkepung dari segala arah. Di luar, sisa-sisa gas air mata dari demonstrasi skandal limbah masih terasa menyesakkan paru-paru, sementara di dalam, ketegangan merayap di setiap lorong sunyi berlapis marmer. V duduk di dalam mobil hitamnya yang terparkir beberapa blok dari menara tersebut, menatap tablet yang menampilkan profil para eksekutif Arlan.

​"Semua orang punya harga, Paman. Bahkan mereka yang bersumpah setia pada Arlan sekalipun," bisik V sambil menggeser layar monitornya.

​Nelayan tua di sampingnya memeriksa alat komunikasi terenkripsi yang mereka gunakan untuk menjangkau target di dalam gedung. "Pria ini, sekretaris pribadi Arlan, dia adalah pemegang kunci semua akses vital di kantor pusat. Kau yakin dia akan berkhianat?"

​V tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang memancarkan kedinginan murni dari wajah hasil rekonstruksinya. "Dia punya kecanduan judi yang sudah mencapai batas maksimal, dan Arlan baru saja memotong bonusnya karena krisis ini. Dia tidak butuh kesetiaan, dia butuh penyelamatan finansial."

​V menekan tombol panggil pada perangkatnya, menghubungkan dirinya langsung ke saluran pribadi pria yang menjadi target utamanya malam ini. Suara detak jantung pria itu seolah terdengar melalui sensitivitas mikrofon yang V gunakan. Aroma kulit interior mobil yang baru beradu dengan aroma adrenalin yang mulai memuncak di dalam dada V.

​"Halo? Siapa ini? Bagaimana kau bisa mendapatkan jalur khusus ini?" tanya suara di seberang telepon dengan nada yang sangat gemetar.

​"Aku adalah orang yang baru saja melunasi seluruh utangmu di kasino bawah tanah distrik Rust, Pak Sekretaris," jawab V dengan nada rendah.

​Pria di seberang sana terdiam seribu bahasa, hanya menyisakan suara napas yang terputus-putus akibat rasa terkejut yang luar biasa. V bisa membayangkan keringat dingin mulai membasahi kening pria itu di tengah kemewahan kantor pusat Neovault yang mulai retak. Kesunyian itu adalah tanda bahwa umpan yang V tebar telah ditelan dengan sempurna.

​"Apa maumu? Jika Arlan tahu aku berbicara dengan orang asing di tengah krisis ini, dia akan menghancurkanku," rintih pria itu ketakutan.

​V memutar-mutar pena perak di tangannya, matanya menatap tajam ke arah puncak Menara Neovault yang menjulang angkuh. "Arlan sudah hampir hancur, dan jika kau tetap bersamanya, kau akan ikut tertimbun di bawah reruntuhan itu. Aku hanya ingin kau menjadi mata-mataku di sana."

​"Menjadi mata-mata? Kau memintaku mengkhianati pria yang telah memberiku pekerjaan selama sepuluh tahun?" tanya sang sekretaris dengan nada sangsi.

​"Pekerjaan yang memberimu utang menumpuk dan bonus yang dipotong?" balas V dengan nada mengejek yang sangat tajam. "Aku butuh akses ke sistem penjadwalan pribadinya, data keuangan rahasia yang tidak muncul di audit, dan setiap kata yang dia ucapkan di ruang kerjanya."

​Pria itu menghela napas panjang, sebuah desahan pasrah dari seseorang yang sudah tidak memiliki pilihan lain untuk bertahan hidup. "Jika aku melakukannya, apa jaminannya aku tetap aman setelah Neovault benar-benar jatuh ke tanganmu?"

​V menyandarkan punggungnya pada jok mobil, merasakan kemenangan kecil yang mulai bersemi di dalam hatinya yang beku. "Kau akan mendapatkan identitas baru dan cukup uang untuk memulai hidup di luar kota ini tanpa rasa takut dikejar penagih utang. Pilihan ada di tanganmu, Pak Sekretaris."

​"Baiklah. Aku akan mengirimkan salinan log rapat dewan direksi sore ini sebagai tanda awal kerja sama kita," ujar pria itu akhirnya mengalah.

​Sambungan terputus, dan V melihat sebuah file besar mulai masuk ke dalam kotak masuknya yang telah dienkripsi berlapis-lapis. Ia membukanya dengan cepat, matanya memindai setiap baris data yang berisi kepanikan para direksi terhadap kepemimpinan Arlan yang mulai goyah. Aroma kemenangan kini terasa lebih nyata daripada bau karat sungai Rust yang selalu menghantuinya.

​"Dia sudah menyerah, Paman. Kita sekarang punya mata di dalam jantung pertahanan musuh," kata V kepada nelayan tua itu.

​Nelayan itu mengangguk, namun raut wajahnya tetap menunjukkan kewaspadaan yang tinggi terhadap situasi yang dinamis ini. "Ingat, orang yang bisa berkhianat demi uang juga bisa mengkhianatimu jika ada tawaran yang lebih besar dari pihak lawan."

​V menatap lurus ke depan, ke arah jendela kaca kantor Arlan di lantai teratas yang masih menyalakan lampu benderang di tengah malam. "Itulah sebabnya aku tidak memberinya uang muka, melainkan pembersihan utang. Aku memegang lehernya, bukan sekadar dompetnya."

​Di dalam gedung Neovault, Arlan sedang mondar-mandir di ruang kerjanya dengan wajah yang tampak sangat kusut dan mata yang merah. Ia tidak menyadari bahwa sekretaris kepercayaannya baru saja keluar dari ruangan dengan membawa perangkat penyadap yang tersembunyi di balik jasnya. Bau cerutu yang kuat memenuhi ruangan itu, mencoba menenangkan saraf Arlan yang hampir putus.

​"Arlan, kita harus melakukan sesuatu sebelum audit dimulai besok pagi!" seru Elena yang tampak frustrasi di sofa pojok.

​Arlan berbalik dengan gerakan cepat, menatap Elena dengan kemarahan yang sudah tidak bisa ia bendung lagi sejak masalah properti palsu itu terungkap. "Jika kau tidak mencuri uang perusahaan untuk tanah rawa itu, kita tidak akan berada dalam posisi selemah ini, Elena!"

​"Aku melakukannya untuk masa depan kita! Mana aku tahu kalau agen itu adalah penipu?" bela Elena dengan suara melengking yang memekakkan telinga.

​"Masa depan kita sudah hancur karena kebodohanmu!" Arlan membentak, membuat vas bunga di dekatnya bergetar akibat kerasnya suara tersebut.

​Pembicaraan itu terdengar dengan sangat jelas melalui speaker di mobil V, setiap kata kemarahan Arlan adalah melodi yang indah bagi telinganya. V memejamkan mata, membayangkan wajah Asha yang dulu selalu diperlakukan kasar oleh Arlan kini terbalas dengan pertengkaran mereka. Kehancuran hubungan mereka adalah bonus yang sangat manis dalam rencana besar ini.

​"Kau dengar itu, Paman? Mereka mulai saling menyalahkan, persis seperti yang aku perkirakan sebelumnya," ujar V dengan nada tenang.

​"Keretakan di dalam akan mempercepat keruntuhan di luar. Arlan tidak punya sandaran lagi sekarang," sahut nelayan tua itu pendek.

​V kembali melihat tabletnya, memantau pergerakan data yang mulai mengalir secara real-time dari meja kerja Arlan melalui mata-matanya. Ia melihat jadwal pertemuan rahasia Arlan dengan beberapa pimpinan bank yang dijadwalkan untuk esok hari guna mencari pinjaman darurat. V segera menghubungi peretasnya untuk mulai menutup akses perbankan tersebut secara diam-diam.

​"Tutup semua celah pinjamannya. Biarkan dia merasa bahwa seluruh pintu di kota ini telah dikunci untuknya," perintah V pada mikrofonnya.

​Mata-mata V di dalam gedung baru saja mengirimkan sebuah foto dokumen yang sangat sensitif, sebuah rencana Arlan untuk melarikan diri jika audit terbukti gagal. V menatap foto itu dengan tatapan predator yang telah mengunci mangsanya di dalam sebuah kotak kaca yang sempit. Ia tidak akan membiarkan Arlan pergi dengan membawa sisa kekayaan yang ia curi.

​"Dia ingin lari ke luar negeri minggu depan. Dia sudah menyiapkan paspor palsu untuk dirinya dan Elena," lapor V pada nelayan tua.

​"Apakah kita akan mencegatnya di bandara?" tanya nelayan itu dengan tangan yang sudah bersiap di atas kemudi mobil.

​V menggelengkan kepala, senyumnya kali ini terlihat lebih menyeramkan karena dipenuhi dengan perhitungan yang sangat presisi dan dingin. "Tidak. Aku ingin dia tetap di sini sampai aku sendiri yang berdiri di hadapannya dan merobek semua harapannya di depan matanya sendiri."

​Ia kemudian mengirimkan pesan singkat kembali ke sekretaris Arlan, memberikan instruksi untuk menyabotase dokumen paspor tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan. V ingin Arlan merasa aman dalam rencananya, padahal setiap langkah yang Arlan ambil adalah menuju ke dalam perangkap yang sudah V siapkan. Pengkhianatan di dalam gedung itu benar-benar menjadi senjata paling ampuh saat ini.

​"Mata-matamu melaporkan bahwa Arlan baru saja memanggil tim hukumnya untuk menghapus jejak transaksi Elena," ujar nelayan tua itu.

​"Biarkan dia mencoba. Peretas kita sudah menyalin semua data aslinya sebelum mereka sempat menyentuh tombol hapus," sahut V dengan tenang.

​V merasakan denyut di bahunya, bekas luka bakar yang selalu ia bawa sebagai pengingat akan pengkhianatan Arlan padanya di masa lalu. Kini, ia membalas pengkhianatan itu dengan cara yang jauh lebih elegan dan menyakitkan, yaitu dengan memutarbalikkan orang-orang terdekat Arlan. Rasa sakit di bahunya seolah menjadi bahan bakar yang tak pernah habis bagi ambisinya.

​"Arlan akan segera menyadari bahwa dia sendirian di puncak menara itu, dikelilingi oleh ular yang telah aku jinakkan," bisik V pelan.

​Malam semakin larut, dan lampu-lampu di Menara Neovault mulai padam satu per satu, kecuali lantai teratas tempat sang raja yang sedang dilanda ketakutan. V mematikan tabletnya dan memberikan isyarat kepada nelayan tua itu untuk mulai menjalankan mobil mereka menjauhi area tersebut. Tugas mereka malam ini telah selesai dengan kesuksesan besar di pihak mereka.

​"Besok adalah awal dari krisis likuiditas yang sesungguhnya. Arlan akan memohon pada siapa pun untuk menyelamatkannya," kata V.

​"Dan saat itulah kau akan muncul sebagai penyelamat gadungan dengan tawaran yang mematikan," sambung nelayan tua itu sambil mengemudi.

​V menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung tinggi Neovault yang tampak seperti nisan raksasa bagi mereka yang gagal dalam permainan kekuasaan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa dibuang begitu saja ke dalam sungai yang dingin dan kotor. Ia adalah V, sang predator yang telah berhasil menyusup ke dalam sarang musuhnya melalui pengkhianatan yang rapi.

​"Nikmatilah malam terakhirmu dengan kebohongan yang manis, Arlan. Karena besok, kenyataan akan menghantammu lebih keras dari air sungai Rust," batin V.

​Mobil hitam itu pun menghilang di balik tikungan jalan, meninggalkan Menara Neovault yang megah namun sebenarnya sudah keropos di dalam. Di dalam kantor pusat itu, sang sekretaris kembali ke mejanya dengan tangan gemetar, menyadari bahwa ia baru saja menjual jiwa dan atasannya. Namun bagi V, itu hanyalah bisnis biasa dalam perjalanan panjang menuju pembalasan dendam yang sempurna.

​"Pengkhianatan adalah bahasa yang paling kau pahami, Arlan. Jadi aku memberikannya padamu dalam dosis yang sangat besar," gumam V.

​Ia menarik napas panjang, menghirup udara malam yang bebas dari aroma gas air mata, merasa siap untuk menghadapi babak baru esok hari. Tidak ada jalan kembali sekarang, semua bidak catur telah berada di posisinya masing-masing, menunggu instruksi terakhir dari sang ratu kegelapan. Dan Arlan Valeska sama sekali tidak punya kesempatan untuk menang dalam permainan yang ia sendiri tidak sadari sedang berjalan.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!