Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Sorakan kemenangan masih menggema di lapangan.
Para pemain saling merangkul, tertawa, dan berteriak lega. Raka masih berada di tengah kerumunan timnya, namun sesekali matanya kembali mencari ke arah bangku penonton. Kayla. Beberapa menit kemudian, penonton mulai bubar. Kayla dan Salsa turun dari tribun, berjalan menuju pinggir lapangan.
"Rakaaa!" panggil Salsa lagi.
Raka menoleh dan langsung berlari kecil menghampiri mereka. Wajahnya masih berkeringat, napasnya belum sepenuhnya stabil, tapi senyumnya lebar sekali.
"Gimana? Keren gak?" tanyanya setengah bercanda.
Salsa langsung menepuk bahunya.
"Keren banget! Tadi yang terakhir itu… gila sih!" jawab Salsa dengan bangga
Kayla tersenyum.
"Iya… itu keren banget."
Raka menatap Kayla sebentar lebih lama dari biasanya.
"Serius?" tanya Raka
Kayla mengangguk.
"Serius." balas Kayla
Suasana terasa hangat. Namun di tengah momen itu Kayla melihat sesuatu. Di kejauhan, berdiri seseorang yang tidak asing.
Maya.
Ia berdiri tidak jauh dari lapangan, bersandar di pagar, memperhatikan ke arah mereka. Tatapannya tenang. Tapi entah kenapa terasa menusuk. Kayla langsung mengalihkan pandangan. Perasaan tidak nyaman itu kembali.
"Eh, kalian tunggu bentar ya, aku ambil minum dulu," kata Raka lalu berlari ke arah timnya.
Sekarang hanya tersisa Kayla dan Salsa. Salsa menyadari perubahan ekspresi Kayla.
"Kamu lihat dia lagi ya?" bisiknya.
Kayla tidak menjawab, tapi matanya sedikit menunduk. Belum sempat mereka bicara lebih jauh langkah kaki terdengar mendekat.
"Seru ya nontonnya?"
Suara itu…
Maya.
Kayla dan Salsa menoleh bersamaan. Maya berdiri di depan mereka. Kali ini dengan senyum tipis.
"Iya, Kak," jawab Salsa cepat, mencoba tetap santai.
Maya menatap Kayla.
"Lumayan ya… sekarang kamu gak cuma di drumband, tapi juga di pinggir lapangan basket."
Nada suaranya terdengar ringan. Tapi maknanya tidak. Kayla menarik napas pelan.
"Aku cuma datang dukung teman, Kak."
Maya mengangguk kecil.
"Tentu… teman." katanya
Beberapa detik hening.
"Kamu cepat banget ya… jadi dekat sama banyak orang," lanjut Maya.
Salsa mulai terlihat kesal.
"Kak, maksudnya apa sih?" Salsa mencoba membela Kayla
Maya tersenyum.
"Gak ada. Aku cuma ngomong."
Kayla akhirnya bicara.
"Kak… kalau ada yang mau disampaikan, bilang saja langsung."
Ini pertama kalinya Kayla berbicara setegas itu. Maya sedikit terkejut. Namun ekspresinya segera kembali datar.
"Kamu berani juga sekarang ya," katanya.
Kayla menatapnya.
"Aku cuma gak mau salah paham terus," jawab Kayla pelan tapi tegas.
Maya melipat tangannya.
"Kamu pikir aku salah paham?"
Kayla menggeleng.
"Aku cuma gak mau hidup aku diatur sama omongan orang." jawab Kayla dengan tegas
Suasana menjadi sangat sunyi. Angin sore berhembus pelan. Maya menatap Kayla beberapa detik. Seolah mencoba membaca pikirannya. Lalu ia tersenyum kecil.
"Menarik."
Ia mendekat sedikit.
"Semoga kamu bisa tetap kayak gitu."
Setelah itu, ia berbalik dan pergi. Kayla berdiri diam. Salsa langsung memegang lengannya.
"Kay… kamu keren banget tadi."
Kayla menghela napas panjang.
"Aku juga deg-degan banget sebenarnya…"
Namun di dalam hatinya ada sesuatu yang berubah. Ia tidak lagi hanya diam. Tidak lagi hanya menahan. Ia mulai berani berdiri untuk dirinya sendiri. Tak lama, Raka kembali.
"Bentar banget ya—eh, kalian kenapa?" tanya Raka kebingungan
Salsa langsung menjawab,
"Gak apa-apa."
Kayla tersenyum kecil.
"Iya, gak apa-apa."
Namun kali ini, itu bukan sekadar jawaban. Itu adalah tanda bahwa Kayla mulai benar-benar kuat. Langit mulai berubah jingga. Hari perlahan sore. Mereka bertiga berjalan keluar dari lapangan bersama. Tertawa kecil, membicarakan pertandingan. Namun di dalam hati Kayla ia tahu. Ini belum selesai. Masih akan ada konflik. Masih akan ada ujian. Tapi sekarang ia tidak lagi takut menghadapinya. Karena ia sudah belajar satu hal penting menjadi kuat, bukan berarti tidak terluka tapi tetap berdiri, meskipun pernah disakiti.
Beberapa hari setelah pertandingan basket, kehidupan Kayla kembali berjalan seperti biasa. Sekolah, latihan drumband, belajar. Namun di dalam hatinya, masih ada sisa-sisa perasaan yang belum selesai. Tentang Maya, tentang Arga. Suatu sore, Kayla sedang di rumah. Ia duduk di ruang tamu sambil membuka buku, meskipun pikirannya tidak sepenuhnya fokus. Tiba-tiba pintu terbuka.
"CACAAAA!" teriak Kayla spontan.
Sepupunya, Caca, datang berkunjung. Seperti biasa, suasana langsung berubah lebih ramai.
"Eh, kamu makin sibuk ya sekarang," kata Caca sambil duduk santai.
Kayla tertawa kecil.
"Biasa… SMP kan."
Namun Caca menatap Kayla sedikit berbeda. Lebih serius.
"Kay… aku mau ngomong sesuatu," katanya.
Nada suaranya membuat Kayla berhenti tersenyum.
"Iya?"
Caca menarik napas pelan.
"Kamu dekat sama Arga ya?"
Kayla langsung terdiam.
"Kenapa?" tanyanya pelan.
Caca menatapnya.
"Aku satu kelas sama dia, Kay."
Jantung Kayla langsung berdegup lebih cepat.
"Dan… aku tahu dia kayak gimana."
Suasana tiba-tiba terasa berat.
"Maksudnya?" tanya Kayla.
Caca sedikit ragu tapi akhirnya tetap bicara.
"Dia bukan orang yang serius."
Kayla menatap Caca.
"Dia pernah dekat sama beberapa cewek… termasuk Maya."
Kayla terdiam.
"Dan biasanya… gak lama," lanjut Caca.
Kalimat itu terasa seperti jatuh tepat di hati Kayla.
"Aku gak mau kamu jadi salah satu dari itu," kata Caca.
Ruangan menjadi sunyi. Kayla menunduk. Semua yang ia dengar dari Maya seakan kembali terulang.
"Perhatian itu bukan berarti serius…" Kayla berbicara dalam hati nya
"Kay… aku cuma gak mau kamu sakit hati," kata Caca lebih lembut.
Kayla menggenggam tangannya sendiri. Di satu sisi ia ingin percaya pada Arga. Di sisi lain orang yang ia percaya juga, Caca mengatakan hal yang berbeda.
"Aku harus gimana…?" bisiknya pelan.
Caca mendekat.
"Kamu gak harus langsung menjauh…" kata Caca
"Tapi kamu harus jaga diri." lanjutnya
Kayla menatap Caca.
"Jangan terlalu berharap."
Kalimat itu sederhana tapi berat. Malam itu, Kayla duduk di kamarnya. Lampu redup. Buku terbuka tapi tidak dibaca. Pikirannya penuh. Tentang Arga, tentang Maya, tentang Caca…
"Mana yang benar…?" pikir Kayla
Ia mengingat semua momen dengan Arga. Cara dia membantu saat latihan, cara dia jujur tentang masa lalunya, cara dia tidak memaksa. Namun apakah itu cukup?
Kayla menarik napas panjang. Lalu mengambil bukunya. Dan menulis:
"Aku gak boleh kehilangan diriku lagi… hanya karena orang lain."
Ia menutup buku itu pelan. Untuk pertama kalinya Kayla tidak langsung memilih. Ia memutuskan untuk mengamati. Tidak menjauh sepenuhnya. Tapi juga tidak terlalu dekat. Karena kali ini ia ingin lebih bijak. Keesokan harinya di sekolah, saat Arga menyapanya,
"Kayla, latihan nanti ya?" tanya Arga
Kayla tersenyum.
"Iya, Kak." jawab Kayla
Namun ada yang berbeda. Ia tidak lagi terlalu terbawa perasaan. Ia lebih tenang. Lebih menjaga jarak. Dan Arga mulai menyadari itu. Cerita mereka masuk ke fase yang baru. Fase di mana kepercayaan diuji.