Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria yang Muncul Sebelum Ia Lahir
📖 BAB 17: Pria yang Muncul Sebelum Ia Lahir
Api di perapian menyala tenang.
Namun dada Lin Qingyan justru terasa seperti dilempar ke dalam bara.
Ia menatap foto lama di tangannya sekali lagi.
Elena Qin tersenyum sambil menggendong bayi. Di sudut belakang, seorang pria berdiri setengah tertutup bayangan.
Wajahnya memang tidak jelas.
Tetapi postur tubuh tinggi tegak itu...
garis bahu itu...
cara berdirinya yang dingin dan seolah menjaga jarak dari dunia...
terlalu mirip Gu Beichen.
“Tidak mungkin...” bisiknya.
Madam Qin memutar gelas anggur perlahan.
“Menarik. Jadi kau juga melihat kemiripannya.”
Qingyan mengangkat kepala.
“Ini jebakan.”
“Bisa jadi.”
“Foto bisa dimanipulasi.”
“Bisa jadi.”
“Kenapa Anda menunjukkannya padaku?”
Madam Qin tersenyum tipis.
“Karena kebenaran yang setengah biasanya lebih berbahaya daripada kebohongan penuh.”
Wanita itu benar-benar menakutkan.
Armand bersandar di rak buku.
“Jangan terlalu tegang, sepupu.”
“Aku bukan sepupumu.”
“Teknis.”
“Menyebalkan.”
“Terima kasih.”
Qingyan kembali menatap foto itu.
“Ini diambil dua puluh lima tahun lalu.”
“Benar,” jawab Madam Qin.
“Gu Beichen bahkan belum lahir.”
“Benar lagi.”
Ia menegang.
Lalu perlahan menyadari maksudnya.
“Jadi itu bukan Beichen.”
“Tidak.”
Madam Qin menyesap anggur.
“Itu ayahnya.”
Ruangan seketika terasa lebih dingin.
Gu Zhengyuan.
Pria yang video rekamannya semalam membuat seluruh aula meledak.
Ayah Beichen.
Pria yang diduga terlibat dengan Elena Qin.
Pria yang mungkin mengetahui kelahirannya.
Qingyan menurunkan foto perlahan.
“Kenapa Anda baru bilang sekarang?”
“Karena reaksi wajahmu lebih jujur sebelum tahu jawabannya.”
Ia membenci wanita ini dengan cepat dan efisien.
“Kenapa aku harus peduli pada pria yang sudah mati?” tanya Qingyan.
Madam Qin menatap api.
“Karena pria itu menyimpan sesuatu yang seluruh keluarga kami cari selama dua puluh lima tahun.”
“Aku?”
“Bukan.”
“Lalu?”
Madam Qin menoleh.
“Data asli proyek.”
Armand menambahkan santai,
“Cetak biru. Formula. Catatan eksperimen. Nilainya tak terhitung.”
Qingyan mendecak.
“Jadi lagi-lagi soal uang.”
“Bukan hanya uang,” kata Madam Qin. “Kekuasaan. Medis. Militer. Politik. Masa depan.”
“Dan saya?”
“Pintu masuk.”
Ia tertawa pendek.
“Tentu saja.”
Madam Qin melangkah mendekat.
“Elena mempercayai Gu Zhengyuan. Ia menyerahkan sebagian data kepadanya malam sebelum kebakaran.”
“Bukti?”
“Insting.”
“Jadi tidak ada.”
“Instingku jarang salah.”
Qingyan menatap foto itu sekali lagi.
Kalau benar Gu Zhengyuan membawa data, lalu mewariskannya ke Beichen...
maka pria menyebalkan itu mungkin tahu jauh lebih banyak dari yang ia akui.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Karena itu berarti satu hal:
Beichen masih menyembunyikan sesuatu.
Lagi.
Saat Qingyan kembali ke kamar, pikirannya penuh.
Ia meletakkan foto di meja lalu menatap ponselnya.
Haruskah ia menelepon?
Tidak.
Haruskah ia marah?
Sudah.
Haruskah ia menunggu?
Lebih buruk.
Akhirnya ia menekan nama itu.
Beichen menjawab di dering kedua.
“Ada apa.”
“Kau tahu ayahmu kenal Elena Qin?”
“Ya.”
Jawaban cepat.
Ia langsung berdiri.
“Dan kau tak bilang?”
“Kau tak tanya.”
“Kau—”
“Kau bertanya soal dirimu. Bukan soal ayahku.”
Ia menutup mata.
Pria ini punya bakat alami membuat orang ingin melempar benda.
“Apa lagi yang kau sembunyikan?”
“Hari ini atau secara umum?”
“Beichen.”
Ia diam sejenak.
Lalu berkata lebih rendah.
“Banyak.”
Qingyan berjalan mondar-mandir di kamar.
“Madam Qin bilang ayahmu membawa data proyek.”
“Mungkin.”
“Kau punya itu?”
“Hm.”
“Hm itu ya atau tidak?”
“Itu artinya aku sedang memikirkan berapa banyak yang harus kujawab.”
“Kau menjengkelkan.”
“Masih berlaku.”
Ia menahan napas.
“Jawab serius.”
Suara Beichen berubah lebih tenang.
“Ayahku menyimpan beberapa dokumen. Sebagian rusak. Sebagian terenkripsi. Aku belum membuka semuanya.”
“Kenapa tak bilang sejak awal?”
“Karena saat itu kau masih lari dari identitasmu. Menambahkan tiga ratus halaman trauma tidak membantu.”
Ia benci bahwa itu terdengar masuk akal.
“Aku ingin melihat dokumen itu.”
“Tidak.”
“Apa?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kau sedang di rumah musuh.”
“Jadi?”
“Jadi ponselmu mungkin disadap, kamarmu diawasi, dan setiap kata kita bisa menjadi senjata.”
Qingyan menoleh ke lampu gantung.
Sial.
Ia menurunkan suara.
“Kau yakin?”
“Ya.”
“Kenapa tak bilang dari awal?”
“Aku sedang menikmati apakah kau cukup pintar menyadarinya sendiri.”
Ia menatap kosong ke udara.
“Semoga suatu hari seseorang memukulmu dengan kursi.”
“Kalau itu kau, aku izinkan.”
Wajahnya panas.
Menyebalkan.
Tiba-tiba listrik kamar padam.
Seluruh ruangan gelap.
Qingyan membeku.
“Beichen?”
“Aku masih di sini.”
Dari koridor terdengar langkah kaki cepat. Suara pintu lain terbuka. Beberapa staf berteriak pelan.
Lalu suara alarm singkat berbunyi dari lantai bawah.
“Apa itu?”
“Masuk ke kamar mandi sekarang,” kata Beichen datar.
“Apa?”
“Sekarang.”
Nada suaranya membuat ia langsung bergerak.
Ia masuk ke kamar mandi marmer luas dan mengunci pintu.
“Kenapa?”
“Ada orang masuk ke sayap timur.”
Jantungnya melonjak.
“Pencuri?”
“Kalau beruntung.”
Dari luar terdengar suara benda jatuh.
Langkah kaki.
Lalu keheningan.
Qingyan menahan napas.
“Aku benci hidup seperti ini,” bisiknya.
Di telepon, suara Beichen lebih rendah dari biasa.
“Pegang sesuatu yang bisa dipakai memukul.”
Ia melihat sekitar.
“Handuk?”
“Benda keras.”
“Sabun batu?”
“Lumayan.”
“Aku serius panik!”
“Aku juga serius.”
Ia menatap pintu.
“Kalau mereka masuk?”
“Aku datang.”
“Kau satu jam dari sini.”
“Hm.”
“Itu bukan jawaban menenangkan!”
“Itu janji.”
Dadanya mengencang aneh.
Suara ketukan terdengar di pintu kamar.
Tiga kali.
Pelan.
Lalu suara perempuan.
“Qingyan?”
Serin.
Qingyan ragu.
“Buka,” kata Beichen.
“Bagaimana kalau itu jebakan?”
“Kalau Serin mau membunuhmu, dia tak akan mengetuk.”
Masuk akal. Menyeramkan, tapi masuk akal.
Ia membuka pintu kamar mandi.
Serin berdiri di kamar dengan senter kecil dan ekspresi kesal.
“Kau bersembunyi di toilet?”
“Strategis.”
“Rumah ini disusupi. Seseorang mencari kamarmu.”
“Apa?”
Serin melihat ponsel di tangannya.
“Masih bicara dengan pacarmu?”
Dari speaker terdengar suara dingin.
“Aku mendengar itu.”
Serin tersenyum lebar.
“Oh, jadi benar.”
Qingyan mematikan speaker secepat kilat.
Mereka turun ke lantai bawah.
Beberapa pengawal berlari. Kepala pelayan pucat. Madam Qin marah besar. Armand terlihat terlalu tenang.
Di ruang kerja pribadi, sebuah brankas terbuka paksa.
Kosong.
Madam Qin menatap semua orang.
“Ada yang mengambil isi brankas saya.”
Qingyan menyilangkan tangan.
“Dan kenapa saya dibangunkan?”
Karena semua mata beralih padanya.
Madam Qin berkata pelan,
“Karena isi brankas itu adalah berkas kelahiranmu.”
Ruangan membeku.
“Apa?”
“Dokumen asli. Sampel darah. Catatan transfer malam kebakaran.”
Armand menatap Qingyan.
“Seseorang ingin masa lalumu tetap terkubur.”
Serin menambahkan,
“Atau seseorang ingin menemukannya lebih dulu.”
Madam Qin menatap tajam ke Qingyan.
“Atau... seseorang dari luar rumah ini meminta bantuan.”
Qingyan langsung mengerti tuduhan itu.
Ia tertawa pendek.
“Kalau saya mau mencuri sesuatu, saya pilih perhiasan.”
Ponselnya bergetar.
Pesan baru dari nomor tak dikenal.
Mereka terlambat. Aku sudah ambil duluan. Jika ingin tahu siapa dirimu, datang sendiri.
Di bawahnya ada alamat.
Sebuah gereja tua di pinggir kota.
Dan satu kalimat terakhir:
Jangan bawa Gu Beichen. Dia sudah terlalu dekat dengan kebenaran.
Qingyan menatap layar.
Dingin merayap di punggungnya.
Karena untuk pertama kali...
seseorang di luar rumah ini tampak benar-benar tahu semuanya.
BERSAMBUNG