NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Suasana pagi di kelas 3-A mulai berdenyut dengan aktivitas ringan para siswa yang datang lebih awal. Namun, bagi Sandi, rutinitas pagi ini terasa jauh lebih berat karena keberadaan "bayang-bayang" yang menempel ketat di belakangnya. Begitu menginjakkan kaki di ambang pintu kelas, Sandi tidak langsung duduk. Dengan sigap, ia menahan pundak Saskia agar tidak langsung menempati kursinya.

Sandi melangkah menuju meja guru, membuka laci kayu yang sedikit berderit, dan mengeluarkan sehelai kain lap yang sudah agak kusam. Dengan telaten, ia mulai menggosok permukaan meja dan kursi miliknya, lalu berpindah ke meja Saskia, memastikan tidak ada debu yang menempel di sana.

Saskia yang berdiri di sampingnya tampak terharu, matanya berbinar menatap punggung tegap Sandi. "Makasih ya, calon imamku yang rajin," bisiknya dengan nada yang sangat manis namun cukup untuk membuat bulu kuduk Sandi meremang.

Sandi seketika berhenti mengelap. Ia meremas kain lap itu dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih, lalu menoleh dengan tatapan maut. "Satu kali lagi lo ulangin ucapan itu, kain kotor penuh debu ini mendarat mulus di muka lo yang kinclong itu, Sas. Gue nggak main-main!" ancam Sandi dengan suara rendah yang tertahan.

Saskia bukannya takut, malah terkekeh kecil sambil menjulurkan lidahnya dengan jenaka. Ia tahu persis bahwa di balik gertakan itu, Sandi adalah sosok yang paling tidak tega menyakitinya. Sandi hanya bisa menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak emosinya, lalu berjalan kembali ke meja guru untuk mengembalikan kain lap tersebut ke tempat asalnya.

Baru saja Sandi berbalik dan melangkah di lorong antar meja, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berlari kencang dari arah pintu. Sebelum Sandi sempat menghindar—hup!—sebuah beban hangat tiba-tiba hinggap di punggungnya. Anggita, sang ketua kelas yang tomboi, baru saja melompat dan bergelayutan di punggung Sandi layaknya seekor koala yang menemukan pohon favoritnya.

"Pagi, San! Segar bener muka lo hari ini!" seru Anggita tanpa beban.

Saskia yang melihat pemandangan itu seketika meradang. Wajahnya yang tadi berseri langsung berubah cemberut maksimal. "Ihh, Anggita! Turun nggak! Jangan panjat-panjat Sandi begitu, nanti dia keberatan!" protes Saskia sambil berkacak pinggang.

Anggita melompat turun dengan lincah sambil tertawa renyah. "Lah, kenapa, Sas? Biasanya juga gue begini sama Sandi. Cemburu ya? Kalau lo iri, mending lo lakuin itu sama Nanda sana. Kan dia pacar lo."

Saskia mendengus keras, emosinya terpancing. "Aku sudah putus sama Nanda! Aku sekarang sudah..." Saskia hampir saja keceplosan menyebutkan status barunya sebagai calon tunangan Sandi.

Sandi langsung melempar tatapan tajam yang seolah-olah menjadi kode "Batalkan Perjodohan" jika Saskia berani melanjutkan kalimatnya. Ancaman bisu itu bekerja secara instan. Saskia terdiam seribu bahasa, menelan kembali kata-katanya.

Anggita mengernyitkan dahi, bingung dengan perubahan ekspresi kedua sahabatnya itu. "Sudah apa, Sas? Kok jadi gagap gitu?"

Saskia memutar otak dengan cepat, mencoba mencari alasan yang masuk akal. "Aku... aku juga mau kayak kamu, Nggi, bisa bergelayutan manja ke Sandi begitu tanpa dilarang-larang."

Tawa Anggita pecah mendengar kepolosan Saskia. "Hahaha! Ya kalau lo mau mah, lakuin saja. Apalagi lo bilang sudah putus sama Nanda, kan? Eh, tapi serius, Sas? Kenapa lo mutusin cowok 'anak sultan' kayak Nanda itu?"

Sandi duduk di kursinya dengan gerakan malas, menyandarkan punggungnya sambil menghela napas panjang. "Mana ada laki-laki yang betah pacaran lama-lama sama si 'Oneng' ini, Nggi. Pasti Nanda-nya juga sudah angkat tangan," sindir Sandi sambil menyeringai.

Saskia yang tidak terima langsung melancarkan serangan cubitan bertubi-tubi ke lengan Sandi, yang disambut tawa geli oleh Anggita. "Enak saja! Aku yang mutusin dia ya, San! Aku telepon dia tadi malam dan bilang kalau kami sudah selesai."

"Kok bisa mendadak gitu? Padahal kemarin-kemarin lo kayak yang terpaksa bertahan banget," tanya Anggita penasaran.

Saskia berhenti mencubit Sandi dan menghela napas panjang, raut wajahnya berubah menjadi serius. "Sebenarnya aku sudah lama mau putus, Nggi. Tapi aku selalu nggak enak hati karena Papanya Nanda. Om Tino, itu rekan bisnis Papa yang paling dekat. Aku bertahan demi hubungan baik orang tua. Tapi lama-lama aku capek. Nanda itu terlalu banyak menuntut dan egoisnya nggak ketulungan."

Anggita mengangguk-angguk, menyimak dengan saksama. "Terus, gimana reaksi dia pas lo telepon semalam?"

"Dia awalnya nggak terima, sempat marah-marah juga," cerita Saskia dengan nada menggebu-gebu. "Tapi aku jelaskan ke dia kalau aku nggak bisa terus-terusan ditekan. Dia mau aku berubah jadi orang lain. Masa aku disuruh nggak boleh manja, nggak boleh pelupa, nggak boleh teledor, apalagi panikan. Dia bilang sifat-sifat itu bikin dia malu kalau lagi jalan bareng. Padahal kan itu memang sudah bawaan lahirku dari bayi."

Sandi tiba-tiba menyela dengan nada datar namun menusuk, "Betul itu, Nggi. Sifat 'Oneng' itu adalah fondasi dasar yang membentuk seorang Saskia Fiana Putri. Tanpa sifat itu, dia bukan lagi Saskia yang kita kenal."

Kembali sebuah cubitan mendarat di pinggang Sandi, sementara Anggita hanya bisa tertawa melihat interaksi unik mereka. "Terus, apa lagi yang lo bilang ke dia, Sas?"

Saskia tampak bersemangat melanjutkan ceritanya. "Aku bilang begini, 'Aku juga nggak suka kamu atur-atur terus. Kamu itu egois banget! Masa aku minta jemput sekali-sekali ke SMP Pejuang Bangsa saja alasannya macam-macam? Bilang motornya takut lecetlah lewat jalan perkampungan, atau mobilnya takut kejebak macetlah'. Dia banyak menuntut aku harus sempurna, tapi dia sendiri nggak mau berkorban sedikit pun buat aku. Akhirnya dia diam seribu bahasa, Nggi. Terus aku tembak saja, 'Pokoknya kita putus! Biar motor dan mobil kamu aman nggak lecet-lecet lagi! Lagian itu kan semua pemberian Papa kamu, jangan sombong deh!'"

Sandi dan Anggita saling berpandangan dengan mata terbelalak. "Wah, lo beneran ngomong pedas begitu, Sas?" tanya Anggita tak percaya.

Saskia mengangguk mantap dengan wajah bangga. "Iya dong! Habisnya kesal banget. Emangnya dia bisa cari uang sendiri apa? Pamer harta orang tua saja bangga."

Anggita tertawa renyah hingga bahunya berguncang. "Gila ya, ternyata di balik sifat lo yang 'Oneng' dan manja, lo bisa jadi judes dan sadis juga kalau lagi emosi, Sas. Nanda pasti kena mental tuh."

Saskia tersenyum sombong, merasa mendapat dukungan. "Iya dong. Aku kan belajar banyak dari cara bicaranya Sandi yang super ceplas-ceplos itu."

Sandi yang tadi sedang asyik mendengarkan langsung tersentak kaget. "Eh, Pe'a! Kapan gue pernah ngajarin lo buat ngomong pedas ke orang lain begitu? Jangan bawa-bawa nama gue dalam kelakuan sadis lo ya!"

Saskia terkekeh kecil, mendekatkan wajahnya ke arah Sandi. "Kan kamu kalau ngomong suka langsung ke inti masalah, San. Nggak pakai saringan. Jadi aku pikir, cara itu memang paling ampuh buat bikin orang diam."

Anggita menepuk pundak Sandi dengan keras sambil tertawa geli. "Mampus lo, San! Makanya, kalau ngomong itu direm sedikit, jangan ceplas-ceplos terus. Akhirnya ada yang meniru dan menjadikannya senjata maut, kan?"

Sandi menghela napas panjang, merasa sedikit bersalah sekaligus takjub. "Tapi gue kan ceplas-ceplos nggak sampai menghina privasi orang, Nggi! Si Oneng ini mah tingkatannya sudah berbeda. Itu Nanda pasti kena 'Fatality' atau 'Ultimate'-nya Mortal Kombat dari ucapan maut Saskia. Gue yakin dia nggak bakal berani muncul di depan kita dalam waktu dekat."

Tawa Anggita dan Saskia kembali pecah memenuhi ruangan. Sementara itu, satu per satu siswa kelas 3-A mulai masuk ke dalam kelas, membuat suasana yang tadinya tenang berubah menjadi riuh rendah. Suara gesekan meja, tawa, dan obrolan pagi mulai mendominasi.

"Wah, udah mulai ramai nih. Nanti kita lanjut lagi ya diskusinya," kata Anggita sambil berdiri. "Gue harus ke ruang guru sebentar. Tadi Ibu Wulan manggil, katanya ada wejangan soal persiapan ujian atau apa gitu."

"Cie, ketua kelas pagi-pagi sudah dapet bimbingan rohani dari wali kelas," goda Sandi sambil melambaikan tangan. Anggita hanya membalas dengan tawa renyah dan lambaian tangan sebelum melangkah keluar meninggalkan kelas 3-A yang semakin bising. Di kursi mereka, Sandi melirik Saskia yang masih tersenyum bahagia, menyadari bahwa kehidupan sekolahnya ke depan akan jauh lebih berwarna sekaligus lebih berbahaya.

Bel istirahat berdentang nyaring, memecah keheningan koridor SMP Pejuang Bangsa yang sejak pagi tadi hanya diisi oleh suara kapur yang beradu dengan papan tulis dan dengung kantuk para siswa. Namun, formasi "Kelompok Sableng" hari ini tampak pincang. Kursi di pojok belakang yang biasanya diisi oleh tawa renyah Andra terlihat kosong melompong; sang empunya absen karena demam tinggi yang menyerangnya sejak semalam.

Anggita, dengan gaya kepemimpinannya yang santai, menyampirkan tas di bahu dan menghampiri meja Sandi. Di belakangnya, Vino mengekor sembari mengunyah permen karet. "San, Sas, hari ini formasi kita kurang satu nih. Sepulang sekolah ada agenda penting nggak?" tanya Anggita, matanya bergantian menatap Sandi dan Saskia.

Sandi yang sedang merapikan buku paket Fisikanya menoleh. "Ngapa? Mau gerebek rumah Andra?"

Anggita mengangguk mantap. "Iya, mumpung gue balik bareng Vino. Kita jenguk si Andra dulu sebentar. Dari rumah dia, gue tinggal jalan kaki sedikit sampai ke rumah gue, kan cuma beda blok doang. Biar solid lah kita, masa anggota sakit didiemin."

"Gue sih set-set saja. Lagian kasihan itu anak kalau nggak dijenguk, bisa-bisa dia makin sakit gara-gara kangen denger hinaan kita," sahut Sandi enteng.

Saskia yang sejak tadi sibuk merapikan alat tulisnya yang berwarna serba pink langsung menyambar penuh semangat. "Aku juga mau ikut! Lagian sekarang aku sudah nggak dijemput lagi sama Mama. Sandi yang anterin aku terus mulai sekarang!"

Seketika, suasana di sekitar meja itu membeku. Sandi langsung menghentikan gerakannya, menoleh dengan gerakan lambat namun tajam ke arah Saskia. Saskia yang baru sadar akan "ranjau" yang baru saja ia lepaskan dari mulutnya, langsung tersentak kaget. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan, matanya membelalak ketakutan seolah baru saja membocorkan rahasia negara.

Vino, yang biasanya cuek, kini menghentikan kunyahan permen karetnya. Dahinya berkerut dalam. "Bentar, bentar... Maksudnya apa nih, San? 'Anterin terus'? Jangan bilang kunjungan nyokap lo ke rumah Saskia kemarin beneran ada agenda terselubung yang bikin lo naik pangkat jadi ojek eksklusif?"

Sandi menghela napas panjang, sangat panjang, hingga bahunya merosot. Di dalam otaknya, ia bekerja keras menyusun narasi agar kenyataan "perjodohan" tidak terendus oleh hidung tajam dua sahabatnya ini.

"Gini ya, biar nggak jadi fitnah," Sandi memulai dengan nada setenang mungkin. "Kemarin itu nyokap gue memang diundang buat kenalan. Ternyata, Mamanya Saskia lagi butuh tenaga tambahan di rumah. Beliau nawarin nyokap gue kerja jadi pengelola rumah tangga di sana. Dan kalau nyokap gue ambil tawaran itu—yang mana kelihatannya beliau tertarik—otomatis gue harus ikut pindah. Mereka sudah nyiapin paviliun terpisah di belakang buat tempat tinggal kami. Jadi, secara teknis, gue bakal jadi 'ojek' buat si Oneng ini karena arah sekolahnya sama."

Anggita dan Vino saling berpandangan, lalu mengangguk-angguk mantap seolah sedang mencerna logika yang masuk akal tersebut. "Wah, gila! Berarti kalau lo tinggal di sana, lo nggak perlu pusing bayar kontrakan tiap bulan lagi dong, San? Hemat banyak itu!" seru Anggita takjub.

Vino menimpali dengan senyum penuh arti. "Dan itu artinya... setiap hari, pagi dan siang, lo bakal selalu berduaan bareng Saskia? Berangkat bareng, pulang bareng, makan bareng?"

Sandi mendengus, berusaha menutupi rasa canggungnya dengan ketengilan khasnya. "Iya, mau nggak mau gue ikutin alur demi kenyamanan nyokap. Walaupun sejujurnya, gue males banget harus ngadepin sifat manja si Oneng ini dari matahari terbit sampai tenggelam. Bisa rontok saraf gue."

Mendengar sebutan "Oneng", Saskia refleks melayangkan cubitan gemas ke lengan Sandi, memicu tawa renyah dari Anggita dan Vino. "Selamat ya, San! Semoga nyokap lo betah dan rezekinya makin lancar di sana," ucap Anggita tulus.

Vino menepuk pundak Sandi dengan keras. "Ya, siapa tahu saja kan... di balik kontrak kerja nyokap lo, ternyata kalian berdua juga kontrak jodoh. Amin!"

Anggita dan Vino tertawa terbahak-bahak sembari berbalik menuju pintu kelas. Sementara itu, Sandi hanya bisa meratapi nasib di dalam hatinya. Gila! Gara-gara omongan lo berdua kemarin sama Andra, sekarang malaikat beneran ngasih stempel ACC! Ini mah bukan 'siapa tahu', tapi emang sudah kejadian, setan! batin Sandi kesal.

"Yaudah, yuk ke kantin. Cacing di perut gue sudah demo nih. Nanti pulang sekolah fix kita ke rumah Andra," ajak Anggita sembari melangkah di keluar kelas.

Sandi berdiri, namun sebelum ia melangkah mengikuti dua temannya, ia memutar tubuh ke arah Saskia. Dengan gerakan kilat, sebuah sentilan mendarat di kening Saskia.

Tak!

"Awas kalau sampai keceplosan lagi tentang kata 'jodoh'! Gue nggak main-main, detik itu juga perjodohan kita gue batalkan secara sepihak! Inget baik-baik dalam otak Oneng lo itu!" ancam Sandi dengan bisikan tajam namun penuh penekanan.

Saskia mengusap keningnya yang kemerahan, bibirnya mengerucut bersalah namun ia mengangguk patuh. "Iya, maaf Sandi... aku tadi terlalu bersemangat," bisiknya pelan.

Sandi mendengus lalu melangkah menyusul Anggita dan Vino. Saskia yang tak mau tertinggal, segera berlari kecil dan secara otomatis menarik ujung seragam belakang Sandi, membuntutinya menuju kantin dengan perasaan yang meski habis ditegur, tetap saja terasa melayang-layang bahagia.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!