Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Tameng Tak Kasatmata
Pekerjaan konstruksi di belakang Kedai Kala Senja kini memasuki fase yang paling brutal. Alat-alat berat beroperasi nyaris berdampingan dengan dinding bata kedaiku, hanya dibatasi oleh pagar seng proyek berwarna biru dan jaring pengaman berdebu. Suara bising mesin diesel dan getaran paku bumi sudah menjadi makanan sehari-hariku.
Sore itu, kedai lumayan sepi. Hanya ada dua pelanggan di meja sudut yang masing-masing memakai earphone noise-canceling, sibuk dengan laptop mereka.
Arka belum datang. Belakangan ini, jadwal pria itu makin gila. Ia harus menghadapi meeting maraton dengan para investor dan ayahnya yang terus mempertanyakan revisi desain mal yang memakan biaya teramat besar itu.
Aku sedang berjinjit menyusun stok paper cup di rak gantung pantry ketika tiba-tiba
SKREEEET!
Terdengar decitan logam beradu logam yang memekakkan telinga dari arah proyek, disusul oleh suara dentuman yang membuat lantai kayu kedai bergetar hebat.
BRAKKK!!
Dinding belakang kedai berguncang keras. Aku terjerembap ke depan, berpegangan pada pinggiran meja bar.
Rentetan bingkai foto polaroid peninggalan Nenek yang menempel di dinding bata berjatuhan ke lantai. Suara pecahan kaca berderai nyaring. Detik berikutnya, debu putih tebal campuran semen dan tanah kering langsung merembes masuk dengan ganas dari celah ventilasi atap belakang, memenuhi udara di dalam kedai hanya dalam hitungan detik.
Kedua pelangganku menjerit kaget. Mereka buru-buru menutupi wajah, mengemasi laptop mereka asal-asalan, dan berlari keluar menuju jalan raya sambil terbatuk-batuk.
Aku terpaku di posisiku. Kakiku serasa dipaku ke lantai. Aku menutupi hidung dan mulutku dengan lengan celemek karena debu yang tiba-tiba menyesakkan napas. Mataku perih bukan main. Aku terbatuk-batuk hebat hingga dadaku sakit.
Dari luar pagar, terdengar suara kepanikan. Para pekerja bangunan berteriak-teriak bersahutan. Samar-samar aku bisa mendengar seseorang memaki. Rupanya, lengan sebuah ekskavator secara tidak sengaja menyenggol tumpukan scaffolding (perancah besi) di dekat pagar seng, membuatnya ambruk dan menghantam keras bagian belakang atap kedai.
Ya Tuhan, atapku!
Kepanikan akhirnya mengambil alih otakku. Aku bergegas berlari keluar dari area bar menuju pintu belakang untuk mengecek kerusakan. Namun, belum sempat tanganku menyentuh kenop pintu, seseorang menerobos masuk dari pintu depan kedai dengan napas terengah-engah dan langkah serabutan.
"Senja!!"
Aku menoleh menembus kepulan debu. Itu Arka.
Pria itu tampak luar biasa berantakan. Ia tidak memakai jas, dasinya entah ke mana, dan kemeja putih mahalnya sudah kotor oleh bercak tanah dan debu. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya pucat pasi, menyiratkan kepanikan brutal yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Begitu mata kelamnya menemukanku berdiri gemetar di dekat reruntuhan kaca polaroid, Arka langsung menerjang maju. Ia menarikku dengan paksa ke dalam pelukannya. Tangannya mendekapku begitu erat hingga aku nyaris kehilangan napas tapi anehnya, pelukan itu terasa seperti tempat paling aman di dunia.
"Lo nggak apa-apa?! Ada yang luka? Kena serpihan kaca?!" cecar Arka panik. Napasnya memburu di atas kepalaku. Tangannya meraba bahu, punggung, dan lenganku, memeriksa setiap inci tubuhku dengan tatapan liar dan putus asa.
"Gue... uhuk... gue nggak apa-apa, Ka. Cuma kaget doang," jawabku parau sambil memegangi dada bidangnya, berusaha menenangkan detak jantungku sendiri yang masih berpacu gila-gilaan. "Belakang atap kayaknya kena hantam besi. Debunya masuk semua."
Begitu Arka memastikan aku benar-benar aman dan tidak berdarah sedikit pun, kurasakan tubuh tegapnya menegang hebat. Otot rahangnya mengerat. Sorot matanya yang tadi dipenuhi ketakutan, kini berubah menjadi sangat gelap, buas, dan menakutkan.
Arka melepaskan pelukannya dariku secara perlahan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik badan dan berjalan menuju pintu belakang.
BAMMM! Arka menendang pintu kayu itu hingga terbuka lebar, menghantam dinding dengan suara keras.
Aku menyusulnya dengan langkah ragu, berdiri di ambang pintu. Di luar sana, di area proyek yang dibatasi pagar seng robek, beberapa pekerja dan mandor sedang berusaha membereskan perancah besi yang menimpa atap kedaiku. Melihat Arka muncul dari balik pintu dengan amarah yang meledak-ledak, mereka semua langsung mematung. Wajah para pekerja itu pucat pasi ketakutan.
"SIAPA OPERATOR EKSKAVATORNYA?!" bentak Arka.
Volume suaranya menggelegar dahsyat, mengalahkan suara mesin diesel yang masih menyala di sekitar mereka. Urat di leher dan pelipisnya menonjol keluar.
Astaga. Aku menelan ludah. Ini adalah kali pertama aku melihat sosok Arka Danadyaksa yang sesungguhnya. Singa korporat yang sedang mengamuk karena daerah teritorialnya dihancurkan.
Sang mandor proyek maju dengan kaki gemetar. "M-maaf, Pak Arka. T-tadi ada miskalkulasi jarak ayunan. Operatornya baru saja diganti"
"Gue nggak peduli soal miskalkulasi bangsat itu!" potong Arka murka. Umpatan kasar meluncur begitu saja dari bibirnya. Ia melangkah maju mendekati si mandor, mengintimidasi pria paruh baya itu dengan postur tubuhnya yang menjulang.
"Kalian semua udah gue kasih SOP jelas! Radius lima meter dari dinding kedai ini adalah zona merah! Kalau tadi besi itu nembus atap dan kena orang di dalam... kalau sampai ada yang lecet seujung kuku pun... kalian semua bakal gue seret ke penjara, ngerti?!"
"B-baik, Pak. Maafkan kami, Pak. S-segera kami perbaiki atapnya dan kami berhentikan alat beratnya sekarang juga."
"Ganti operatornya sekarang juga! Dan panggil vendor kontraktor ke ruangan gue besok pagi jam tujuh teng! Kalau sampai kejadian tolol kayak gini keulang lagi, bukan cuma kontrak vendor kalian yang gue putus, tapi perusahaan kalian bakal gue blacklist seumur hidup di seluruh proyek di Jakarta!" ancam Arka mematikan. Tidak ada ampun dalam nada suaranya.
Ia membalikkan badan dengan kasar, kembali melangkah masuk ke dalam kedai dan membanting pintu di belakangnya hingga tertutup rapat.
Sisa debu masih beterbangan di udara ruanganku yang kini sunyi. Aku mematung menatap punggung lebar pria itu. Napas Arka masih memburu hebat karena emosi yang menguasai dadanya. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menyandarkan tubuhnya yang sedikit gemetar ke meja bar, mencoba mencari ketenangan.
Aku melangkah perlahan menghampirinya, mataku menelusuri tubuhnya. Dan saat itulah aku melihatnya.
"Ka... tangan lo berdarah," tunjukku pelan, suaraku sedikit gemetar.
Ada sayatan yang lumayan panjang dan dalam di lengan kanan Arka, tepat di bawah sikunya yang kemejanya tergulung. Darah segar menetes perlahan, menodai kain kemeja putih mahalnya dengan warna merah yang kontras. Sepertinya ia tergores ujung perancah besi tajam saat buru-buru menerobos masuk ke area belakang kedai tadi sebelum menemukan pintu depan.
Arka menoleh ke arah lengannya dengan tatapan kosong, seolah ia benar-benar baru menyadari ada rasa perih di sana. "Cuma kegores dikit. Nggak masalah."
"Duduk," perintahku tegas. Kali ini aku tidak menerima bantahan atau dalih 'cowok kuat' darinya.
Aku bergegas mengambil kotak P3K dari laci pantry, lalu menarik kursi stool dan menekan bahunya pelan agar ia duduk di sana.
Tangan Arka pasrah saat aku menarik lengannya. Dengan telaten, aku membersihkan luka sayatan itu menggunakan kapas dan cairan antiseptik. Arka hanya diam. Ia meringis pelan sesekali saat alkohol menyentuh lukanya, namun matanya tidak pernah lepas menatap wajahku yang berjarak sangat dekat dengannya.
Melalui sudut pandanganku, aku bisa melihat sisa-sisa ketakutan yang mendalam di manik matanya. Pria ini sangat ketakutan.
"Maaf," ucap Arka pelan, memecah keheningan yang menyesakkan di antara kami. "Maaf gue gagal tepat-in janji gue buat bikin proyek ini aman buat lo. Gue... gue hampir nye-laka-in lo hari ini, Nja."
Aku menghentikan gerakanku yang sedang membalutkan perban. Aku mendongak, menatap mata pria yang baru saja mengamuk layaknya monster demi melindungiku itu.
"Ini bukan salah lo, Ka. Jangan gila. Namanya juga kecelakaan kerja proyek, lo nggak mungkin ngawasin tuas ekskavator itu 24 jam," bisikku lembut, mencoba menenangkannya. "Lo tadi... lo tadi marah banget. Gue sampai kaget lihat lo maki-maki mandor."
Tangan kiri Arka yang bebas perlahan terangkat. Jari-jarinya yang besar dan hangat menyelipkan anak rambutku yang kotor terkena debu ke belakang telingaku. Sentuhan jemarinya luar biasa lembut dan berhati-hati, sangat kontras dengan teriakannya yang menggelegar di luar tadi. Ibu jarinya mengusap pelan tulang pipiku.
"Gue bisa kehilangan proyek triliunan ini, Senja. Gue bisa terima kalau jabatan gue dicabut dengan hina sama bokap gue," bisik Arka. Suaranya terdengar sangat rapuh, seolah ia sedang menyerahkan seluruh sisa jiwanya padaku.
Tatapannya mengunci mataku, membuat duniaku berhenti berputar.
"Tapi kalau sampai terjadi apa-apa sama lo gara-gara ambisi gue... kalau sampai lo terluka... gue nggak bakal pernah bisa maafin diri gue sendiri seumur hidup."
Kata-kata itu meluncur dengan kepastian mutlak yang menyayat hati.
Di tengah kedaiku yang berantakan, diapit oleh debu proyek yang mencekik dan pecahan kaca polaroid di lantai, aku akhirnya menyadari satu kebenaran yang tak terbantahkan. Arka Danadyaksa telah menjelma menjadi tameng tak kasatmataku. Pria ini bukan sekadar melindungi bangunan heritage demi pencitraan perusahaannya.
Arka melindungi kedai ini... karena di sinilah aku berada.
Dan fakta itu meresap jauh ke dalam pembuluh darahku, menghangatkan bagian-bagian hatiku yang selama ini beku karena ketakutan akan kehilangan. Di balik puing-puing dan debu ini, aku tahu, selama ada Arka, aku tidak akan pernah dibiarkan hancur sendirian.
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍