Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konsekuensi Tak Terduga
Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah tirai otomatis di klinik pribadi yang serba putih itu, menusuk langsung ke kelopak mata Briella yang bengkak. Ia mengerang, sebuah suara parau yang nyaris tidak terdengar di tengah sunyinya ruangan yang hanya diisi oleh suara bip statis dari monitor jantung. Rasa sakit yang luar biasa segera menyapa kesadarannya. Rasanya seolah-olah setiap inci tubuhnya telah dihancurkan lalu direkatkan kembali dengan lem yang kasar. Tulang rusuknya terasa kaku, terbungkus perban medis yang sangat erat, membuatnya sulit untuk sekadar menghirup oksigen Etheria yang steril.
"Akhirnya kau bangun juga, Gadis Tangguh," sebuah suara bariton menyambar kesadarannya.
Briella tersentak, rasa nyeri di dadanya memuncak saat ia mencoba bangkit untuk duduk. Di sudut ruangan, duduk seorang pria dengan keanggunan yang mengintimidasi. Geovani sedang menyesap kopi hitamnya, masih mengenakan kemeja yang sama dengan semalam, namun kini sudah tampak rapi kembali seolah-olah pergulatan panas di atas meja bedah itu tidak pernah terjadi.
"Di mana... aku? Kenapa tubuhku... sesakit ini?" tanya Briella dengan bibir gemetar.
Geovani meletakkan cangkirnya, lalu berdiri dan berjalan mendekat. Ia menekan sebuah tombol yang membuat sandaran tempat tidur Briella naik secara otomatis. "Kau berada di tempat yang paling aman di seluruh Etheria. Setidaknya untuk saat ini. Mengenai rasa sakitmu, itu adalah konsekuensi dari hampir mati dihantam linggis dan bertahan hidup melalui malam yang sangat melelahkan bersamaku."
Ingatan itu menghantam Briella seperti gada besi. Malam itu. Salju. Darah. Dan sentuhan tangan Geovani yang dingin namun membakar. Ia menatap selimut yang menutupi tubuhnya, menyadari bahwa di balik kain itu, ia tidak mengenakan apa pun kecuali perban yang membalut luka-lukanya. Wajahnya memanas, bukan karena malu, melainkan karena amarah yang mulai mendidih.
"Kau... kau memanfaatkan kondisiku semalam," bisik Briella dengan tatapan tajam.
Geovani terkekeh pelan, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya yang dingin. "Memanfaatkan? Aku menyelamatkan nyawamu, Little One. Obat yang aku berikan semalam menyelamatkan organ-organmu dari kegagalan total, meski efek sampingnya membangkitkan insting yang kau nikmati sendiri. Jangan berpura-pura menjadi korban dalam hal ini."
Briella memalingkan wajahnya, matanya terpaku pada sebuah bingkai foto kecil yang terletak di atas meja kerja di sudut ruangan. Ia menyipitkan mata, berusaha memperjelas penglihatannya yang masih sedikit kabur. Di sana, di dalam foto itu, Geovani berdiri berdampingan dengan seorang wanita yang sangat ia kenal. Wanita dengan senyum palsu yang paling ia benci di dunia ini.
"Itu... Prilly?" suara Briella tercekat.
Geovani mengikuti arah pandang Briella. "Ya. Tunanganku. Pewaris tunggal keluarga Adijaya yang sangat dihormati di Upper-Chrome. Mengapa? Kau mengenalnya?"
Dunia seakan berhenti berputar bagi Briella. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga monitor medis di sampingnya berbunyi peringatan. Tunangan. Pria yang baru saja menidurinya dengan begitu brutal, pria yang memiliki aroma antiseptik yang kini menghantui pikirannya, adalah calon suami dari wanita yang beberapa jam lalu mencoba membunuhnya di gudang bawah tanah.
"Jadi kau... tunangannya?" Briella tertawa sumbang, sebuah tawa yang berakhir dengan rintihan kesakitan karena paru-parunya tertekan. "Takdir benar-benar sedang meludah ke arahku."
Geovani menyipitkan mata, langkahnya maju satu tindak hingga ia berada tepat di sisi tempat tidur. Ia mencengkeram dagu Briella, memaksa gadis itu menatapnya. "Ada apa dengan ekspresi itu? Kau terlihat seolah-olah baru saja melihat hantu."
"Prilly Adijaya adalah alasan aku berakhir di pinggir jalan dengan tulang rusuk hancur, Dokter," desis Briella, tidak lagi menyembunyikan kebenciannya. "Dia adalah saudari tiriku. Dan dia ingin aku mati agar noda sepertiku tidak merusak pesta pertunangannya yang agung denganmu."
Geovani terdiam sejenak. Informasi itu tampaknya sedikit mengejutkannya, namun hanya sesaat. Ia melepaskan cengkeramannya dan kembali berdiri tegak, merapikan lengan kemejanya dengan santai. "Menarik. Jadi aku menyelamatkan musuh terbesar tunanganku sendiri? Ini jauh lebih menghibur daripada yang aku duga."
"Kau menganggap ini hiburan?" Briella berteriak, meski suaranya masih lemah. "Dia ingin aku lenyap! Dan sekarang kau... kau adalah orang yang akan dia nikahi!"
"Pernikahan adalah urusan bisnis di Etheria, Briella. Aku membutuhkan pengaruh ayahnya, dan dia membutuhkan reputasiku," jawab Geovani dengan nada dingin yang seolah menganggap perasaan adalah sampah. "Namun, fakta bahwa kau masih hidup dan berada di bawah pengawasanku... itu mengubah banyak hal."
Briella mengepalkan tangannya di balik selimut. Rasa sakit di tubuhnya seolah menjadi bahan bakar bagi rencana yang tiba-tiba terbentuk di kepalanya. Jika Prilly menginginkan kehidupan yang sempurna, maka Briella akan memastikan surga itu berubah menjadi neraka. Dan kunci menuju neraka itu ada di depannya sekarang. Geovani.
"Dokter," panggil Briella, suaranya kini terdengar lebih tenang namun penuh dengan racun yang tersembunyi.
"Ya?"
"Berapa lama lagi kau akan menikahinya?" tanya Briella sambil menatap langsung ke iris mata Geovani yang gelap.
"Dua bulan lagi. Persiapannya sudah hampir selesai," jawab Geovani datar.
Briella menarik napas panjang, menahan nyeri yang menusuk rusuknya. "Cukup waktu bagiku untuk menghancurkan segalanya. Prilly ingin aku mati karena aku adalah noda. Bagaimana jika noda ini merayap masuk ke dalam tempat tidur calon suaminya setiap malam?"
Geovani tertegun. Ia menatap Briella seolah-olah gadis itu baru saja menumbuhkan taring. "Kau ingin menggunakan aku untuk membalas dendam padanya?"
"Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau menyukai eksperimen? Jadikan aku eksperimen terbesarmu, Dokter. Bantu aku pulih, berikan aku tempat untuk bersembunyi, dan aku akan memberikanmu apa pun yang kau inginkan. Termasuk tubuh ini," Briella menurunkan sedikit selimutnya, memperlihatkan bahunya yang penuh lebam namun memiliki daya tarik yang berbahaya. "Prilly tidak boleh mendapatkan kebahagiaan itu. Aku akan menghancurkan pernikahannya, martabatnya, dan seluruh hidupnya melalui dirimu."
Geovani terdiam cukup lama. Ia mengamati setiap inci wajah Briella, mencari keraguan, namun yang ia temukan hanyalah kegelapan yang sama dengan miliknya. Ia berjalan mendekat, mencondongkan tubuhnya hingga napasnya yang beraroma kopi menyentuh bibir Briella.
"Kau adalah gadis yang sangat berbahaya, Briella. Kau tahu itu?" bisik Geovani.
"Aku belajar dari yang terbaik, Dokter," sahut Briella berani.
Geovani tersenyum, kali ini sebuah senyuman yang benar-benar memperlihatkan sisi predatornya. Ia membelai pipi Briella dengan punggung jarinya. "Baiklah. Aku setuju. Aku akan mengobati tubuhmu, merawat lukamu hingga tidak ada bekas yang tersisa. Aku akan memberikanmu semua yang kau butuhkan untuk tetap hidup di bayang-bayang."
"Dan sebagai imbalannya?" tanya Briella.
"Sebagai imbalannya, kau akan tetap menjadi Little One milikku. Kau akan mematuhiku tanpa bantahan. Dan saat saatnya tiba, aku sendiri yang akan menentukan kapan kau boleh menyerang Prilly," Geovani berdiri tegak kembali. "Mulai hari ini, kau bukan lagi noda keluarga Adijaya. Kau adalah rahasia gelapku."
Briella memejamkan mata sejenak, merasakan kemenangannya yang pertama. Nyawanya masih utuh, dan kini ia memiliki pelindung yang paling tidak terduga di seluruh kota ini. Ia tidak peduli jika ia harus menjual jiwanya pada iblis berjas putih ini, selama ia bisa melihat wajah hancur Prilly di hari pernikahannya nanti.
"Aku akan patuh, Dokter," ucap Briella mantap.
Geovani berbalik menuju pintu. "Bagus. Aku akan mengirimkan perawat pribadi yang bisu untuk mengganti perbanmu. Jangan mencoba keluar dari kamar ini tanpa izin dariku. Etheria masih sangat berbahaya bagi orang mati sepertimu."
Pintu klinik tertutup dengan suara desisan mekanis yang berat. Briella kembali sendirian dalam keheningan. Ia menatap langit-langit, merencanakan setiap langkah balas dendamnya. Ia akan menjadi mahasiswi yang patuh, ia akan menjadi donor yang rela, dan ia akan menjadi duri dalam daging bagi kehidupan Prilly yang berkilauan.
Konsekuensi dari malam itu ternyata jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Ia bukan hanya selamat, ia telah bangkit. Dan di bawah asuhan tangan dingin Geovani, Briella akan berubah menjadi monster yang akan melahap siapa pun yang pernah membuangnya ke salju kotor Etheria.
"Tunggu aku, Prilly," gumam Briella dengan senyum tipis yang mematikan. "Pernikahanmu tidak akan pernah terjadi."
Di luar sana, salju masih turun, menutupi jejak-jejak darah semalam, namun di dalam hati Briella, api dendam baru saja berkobar dengan sangat hebat, siap menghanguskan apa pun yang menghalangi jalannya. Permainan catur ini baru saja dimulai, dan Briella baru saja memindahkan bidaknya yang paling kuat tepat ke jantung pertahanan lawan.