NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23: Kenangan yang Kembali dan Tanda-tanda Baru

Keesokan paginya, Leonard dan Alexandria segera berangkat menuju desa Oakhaven bersama dengan beberapa pengawal dan pelayan yang dipercaya. Perjalanan yang biasanya memakan waktu dua hari terasa jauh lebih cepat karena kegembiraan mereka yang tidak bisa disembunyikan. Alexandria tidak bisa berhenti tersenyum setiap kali membayangkan akan melihat rumah kecil itu lagi, sementara Leonard senang melihat wajah kekasihnya yang penuh keceriaan.

Ketika gerbang desa Oakhaven muncul di kejauhan, Alexandria merasakan mata nya sedikit berkaca-kaca. Udara desa yang segar dengan aroma hutan dan bunga membuatnya merasa seperti kembali pulang setelah lama pergi. Penduduk desa yang sudah menunggu di gerbang segera bersorak kegembiraan saat melihat kedatangan raja dan ratunya mereka.

"Yang Mulia Leonard! Yang Mulia Alexandria!" seru Pak Mentari dengan senyum lebar, kemudian melakukan salam hormat yang Leonard segera tolak dengan ramah.

"Tidak perlu itu, Pak Mentari. Di sini kita bukan raja dan ratu—kita hanya Leonard dan Alexandria yang merindukan desa ini," ucap Leonard dengan suara hangat, lalu menambahkan dengan nada yang lebih pribadi.

"Kita ingin kembali ke rumah kecil itu seperti dulu, Pak Mentari. Seperti saat kita masih biasa saja tanpa gelar apapun."

Pak Mentari tersenyum dengan pengertian.

"Tentu saja, Yang Mulia. Rumah kecil itu sudah kami bersihkan dan dirawat dengan baik. Semua yang ada di sana sama seperti dulu—bahkan seprai putih yang Anda gunakan berdua di sana pun kami simpan dengan baik."

Alexandria merasa wajahnya sedikit memerah mendengar kata-kata itu. Ia melihat Leonard dengan tatapan penuh cinta, dan pria itu hanya tersenyum lembut padanya.

Setelah menyapa beberapa penduduk desa dan menikmati makanan pagi yang disediakan dengan penuh cinta, Leonard dan Alexandria menuju rumah kecil yang terletak di pinggir hutan. Rumah kayu kecil itu masih berdiri kokoh dengan pekarangan yang penuh dengan bunga-bunga yang mereka tanam bersama dulu. Pohon apel yang mereka tanam bersama sudah tumbuh besar dan mulai menghasilkan buah.

"Ini benar-benar sama seperti dulu ya, Leo," bisik Alexandria dengan suara penuh emosi, menyentuh dinding rumah yang sudah begitu akrab baginya.

"Aku masih ingat bagaimana kamu membantu aku memperbaiki atap rumah ini ketika hujan turun deras dulu..."

Leonard mengangguk dengan mata yang penuh kenangan. "Dan aku masih ingat bagaimana kamu memasak makanan lezat dari sayuran yang kamu tanam sendiri di pekarangan ini, Alex. Rasanya selalu jadi yang terbaik bagiku."

Mereka memasuki rumah kecil itu. Semua perabotan di dalamnya sama seperti dulu—meja kayu kecil yang mereka gunakan untuk makan bersama, sofa kecil yang selalu menjadi tempat mereka berbincang larut malam, dan tempat tidur yang pernah menjadi tempat mereka menghabiskan malam pertama bersama sebagai pasangan yang saling mencintai.

"Semua masih sama seperti dulu," ucap Alexandria dengan lembut, menyentuh bantal di tempat tidur yang masih berbau aroma kayu dan bunga yang ia kenal baik.

Leonard mendekat dari belakangnya, membungkus lengannya di sekitar pinggangnya dengan erat. "Karena kita ingin semua kenangan indah itu tetap ada di sini, Alex. Tempat di mana cinta kita benar-benar mulai berkembang dengan kuat."

Mereka berdiri begitu lama, menikmati keheningan rumah kecil yang penuh dengan kenangan indah. Setelah itu, Alexandria pergi ke dapur kecil untuk menyiapkan makanan malam seperti dulu, sementara Leonard membantu dengan mengambil kayu bakar dan membersihkan halaman rumah. Ketika malam mulai menjelma, mereka makan bersama di meja kayu kecil itu—hidangan sederhana namun penuh dengan rasa cinta dan kenangan.

Setelah makan malam, mereka duduk di depan rumah sambil melihat langit malam Eldoria dengan dua bulan yang bersinar terang. Udara malam yang segar dan suara nyamuk kecil yang bersuara merdu membuat suasana semakin romantis.

"Alex..." bisik Leonard dengan suara penuh hasrat, kemudian menariknya ke dalam pelukan hangatnya.

"Ingatkah kamu malam pertama kita di sini? Ketika kita akhirnya bisa bersama tanpa harus takut akan apa pun?"

Alexandria mengangguk dengan lembut, wajahnya bersandar di dadanya yang kuat.

"Aku tidak akan pernah melupakannya, Leo. Malam itu aku merasa seperti orang yang paling bahagia di dunia."

Mereka masuk ke dalam rumah dan menyalakan lilin-lilin kecil yang ada di sana, membuat suasana semakin hangat dan romantis. Leonard mulai memutar badan Alexandria dengan lembut, menatap wajahnya yang cantik dengan tatapan penuh cinta.

"Kita bisa mengulang momen itu lagi kan, Alex?" bisiknya dengan suara yang dalam dan menggairahkan, mulai mencium lehernya yang sensitif.

Alexandria mengangguk dengan lembut, tangannya sudah mulai membuka kancing baju Leonard yang ketat. "Ya, Leo... aku sangat menginginkannya..."

Mereka saling mencium dengan lembut namun penuh hasrat, seperti ingin mengabadikan setiap detik bersama di tempat yang telah menyaksikan awal mula cinta mereka. Leonard dengan hati-hati melepaskan pakaian mereka satu per satu, menghargai setiap inci tubuh satu sama lain seperti halnya malam pertama mereka bertemu di sini.

Mereka berbaring bersandar di tempat tidur yang sudah begitu akrab, tubuh mereka saling bersandar erat. Leonard menunjukkan kasih sayangnya dengan penuh perhatian, setiap sentuhan penuh dengan rasa syukur dan cinta yang telah tumbuh lebih dalam selama ini. Mereka bergoyang bersama dalam irama yang lambat dan penuh makna, seperti ingin mengulang setiap detik indah yang pernah mereka alami di tempat ini.

Setelah mereka meraih klimaks bersama dan tetap berpelukan erat, Alexandria tiba-tiba merasa tubuhnya sedikit pusing dan lemah. Ia mengerang lembut, menyendiri ke dalam pelukan Leonard.

"Alex? Ada apa?" tanya Leonard dengan khawatir, merasakan tubuhnya yang sedikit menggigil. "Kamu tidak enak badan ya?"

"Aku tidak tahu, Leo..." bisik Alexandria dengan suara yang lemah. "Aku merasa sedikit pusing dan tubuhku terasa sangat aneh..."

Leonard segera membangkitkan dirinya, kemudian mengambil selimut tebal untuk menutupi tubuhnya yang lembut. Ia meraba dahinya dengan lembut dan merasa bahwa suhu tubuhnya sedikit tinggi.

"Kamu demam ya, sayangku," ucap Leonard dengan suara penuh khawatir. "Aku akan segera memanggil dokter desa untuk memeriksa kamu."

Namun Alexandria menghentikannya dengan lembut, menggenggam tangannya dengan kuat. "Tidak usah, Leo. Aku rasa ini hanya kelelahan saja. Setelah kita kembali ke istana besok, aku akan segera baik-baik saja."

Leonard tidak bisa tinggal diam. Ia segera keluar untuk memanggil Pak Mentari yang juga ahli pengobatan tradisional desa. Setelah diperiksa, Pak Mentari hanya mengangguk perlahan dengan ekspresi yang misterius.

"Yang Mulia Alexandria hanya mengalami kelelahan dan sedikit gangguan tubuh, Yang Mulia," ucap Pak Mentari dengan senyum lembut.

"Tetapi saya sarankan agar dia segera istirahat dan kembali ke istana untuk diperiksa dengan lebih cermat oleh dokter istana."

Leonard mengangguk dengan khawatir, kemudian membantu Alexandria untuk istirahat dengan nyaman di tempat tidur. Ia tidak bisa tidur sepanjang malam, selalu memeriksa kondisi kekasihnya dan membersihkan dahinya yang berkeringat dengan kain basah.

Keesokan paginya, mereka segera memutuskan untuk kembali ke istana Eldoria meskipun Alexandria merasa sudah lebih baik. Perjalanan pulang terasa lebih panjang karena kekhawatiran Leonard yang terus memantau kondisi kekasihnya. Saat mereka tiba di istana, dokter istana segera memeriksa Alexandria dengan cermat.

Setelah pemeriksaan selesai, dokter itu keluar dari kamar dengan wajah yang serius namun penuh dengan senyum tersembunyi. Leonard segera mendekatinya dengan hati yang penuh khawatir.

"Bagaimana kondisinya, Dokter?" tanya Leonard dengan suara yang sedikit gemetar.

Dokter itu mengangguk perlahan, kemudian memberikan kabar yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya.

"Yang Mulia tidak perlu khawatir, Yang Mulia Raja. Yang Mulia Alexandria dalam kondisi baik-baik saja. Hanya saja... dia sedang mengalami sesuatu yang sangat spesial yang akan membawa kebahagiaan baru bagi kerajaan Eldoria..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!