Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Di dalam mobil sebelah, lantainya penuh tulang-belulang bersih dan kain-kain robek berlumur darah kering. Beberapa tengkorak putih berguling-guling karena benturan tadi, bikin suasana kayak neraka hidup. Air netes dari atap, campur bau pesing menyengat yang bikin mual. Seekor tikus lompat masuk ke mobil mereka lewat lubang jebol, langsung jalan ke arah dashboard.
Penumpang depan langsung mundur ke belakang, saling dorong. Beberapa cewek berteriak, cowok-cowok telan ludah sambil saling pandang. Mereka nggak berani gerak. Tapi tikus itu nggak langsung nyerang, malah ngeluarin suara “kriik-kriik” pelan, kayak lagi panggil temen.
“Pukul! Dia lagi nelpon temen-temennya!” bapak tua berkacamata berteriak.
Semua orang tambah panik. Cowok yang kelihatan garang berdiri, teriak, “Ambil senjata! Gue nggak percaya kita nggak bisa ngalahin mereka!” Dia lari ke depan, ambil kapak pemadam kebakaran dari dinding. Yang lain ikut-ikutan cari barang: kunci inggris, palu, batang besi dari bawah kursi.
Tikus itu merayap masuk lewat jeruji rusak, naik ke dashboard. Beberapa cewek teriak histeris. Cowok garang itu maju, kapak di tangan, matanya merah. “Ayo lawan! Kita nggak punya pilihan lagi. Kalau nggak, mati semua!”
“Setuju! Ayo!”
“Kalau mati, gue bawa mereka bareng!”
Mereka coba bangkitin semangat. Cowok garang teriak keras, maju ke tikus itu. Tikusnya mendadak jerit, lalu kabur balik ke bus sebelah, hilang dari pandangan.
Semua orang tepuk tangan, lega sebentar. Tapi kemenangan cuma bertahan 30 detik. Tikus-tikus lain mulai masuk banyak, kabin gelap gulita lagi. Budi langsung ngerasa bahaya, keluarin pisau besarnya, berdiri tegak. Dia tarik Rina pelan, bisik, “Ikut aku.”
“Tas aku ketinggalan,” Rina bilang gemetar.
“Biarkan. Pegang tanganku sekarang, ini bahaya banget!” Budi mendesak.
“Baiklah…” Rina udah kehilangan akal sehat, cuma bisa nurut.
“Percaya sama aku! Aku bakal lindungin kamu. Ingat aku pernah bilang dulu latihan bela diri?” Budi coba tenangin. Dia gandeng tangan Rina, jalan ke arah pintu depan. Di ruang sempit ini, kalau tikus-tikus masuk rame, skillnya bakal susah dipake. Orang-orang di sekitar malah jadi beban. Budi tekan tombol buka pintu.
“Pshhhhh!”
Pintu pelan-pelan terbuka.
“Lo mau ngapain?!” seorang cowok teriak gila. “Mau mati sendiri? Tutup pintunya! Cepet!”
Semua orang panik, marah-marah ke Budi.
Budi nggak ekspresi apa-apa, cuma muter-muter pisau di tangan, lalu bilang dingin, “Pisau ini nggak punya mata. Aku nggak mau lukain kalian, jadi jangan bikin aku terpaksa. Minggir, kami harus pergi sekarang.” Beberapa orang mau maju nahan, tapi mundur lagi setelah lihat mata Budi. “Ayo!” Budi tarik Rina cepet keluar pintu. Pintu langsung ditutup rapat begitu mereka keluar.
Budi lirik sekitar sekilas. Lebih bagus dari bayangannya. Cuma ada lima tikus di depan jalan, yang lain ilang. Rupanya semuanya lagi di dalam bus yang mereka tinggalin. Dia lega sebentar, lalu lari bareng Rina. Tak lama, tikus-tikus sadar, langsung ngejar.
“Budi!” Rina teriak.
“Jangan takut! Terus lari!” Budi bilang tenang sambil lirik tikus yang makin deket.
Tiba-tiba tikus-tikus berhenti ngejar. Mereka kayak ketakutan. Budi maju pelan, tikus-tikus mundur perlahan. “Kenapa?” Budi bingung. Lalu dia sadar: jaket kulit ular antipeluru yang dia pakai punya efek mengintimidasi hewan biasa, termasuk tikus dan katak. Tapi buat yang bermutasi, efeknya lemah. Setelah beberapa detik, tikus-tikus atasi rasa takutnya, lalu ngejar lagi. Makin deket! 10 meter, 5 meter, 3 meter!
Tiba-tiba Budi lepas tangan Rina. Dia jongkok, tingkatin kecepatan. Pisau panjangnya berkilau kena matahari sore. Dua kepala tikus mutan langsung terbang, darah muncrat ke tanah. Budi muter pisau, potong tikus lain yang lompat ke arahnya. Dia menghindar darah yang nyembur, tarik pisau lagi perut tikus terbelah. Gerakannya lincah, tikus-tikus mati sebelum sempat deket.
Rina terpaku, nggak percaya. Meski tahu Budi pernah latihan bela diri, tapi ini di luar bayangannya.
Tikus mati bertebaran di tanah. Dari belakang, terdengar teriakan keras dari mobil, mobil goyang-goyang hebat. Kadang darah muncrat ke kaca. Budi lihat sebentar, lalu bilang, “Kita harus cepet pergi. Kalau tikus-tikus itu kuasai mobil, mereka bakal ngejar kita!”
Rina balik badan, nutup mulut dengan ekspresi kasihan. “Mereka… bakal mati ya?”
“Jangan dipikirin. Udah terlambat buat balik. Ayo!” Budi menghela napas. Kalau sendirian, mungkin dia bakal coba bantu. Tapi sekarang ada Rina, keselamatannya nomor satu.
Rina mengangguk, gandeng tangan Budi erat. Mereka lari terus ke depan. Untungnya, setelah itu nggak ketemu gerombolan tikus besar. Mungkin semuanya lagi pesta di mobil, atau mati kena bom tadi.
Sepanjang jalan, beberapa hewan liar yang muncul, Budi bunuh dengan mudah. Jarak bukit cuma sekitar 4 km, tapi mereka udah di tengah-tengah. Butuh setengah jam lari kenceng buat keluar dari “jalan neraka” itu. Jalan raya sepi banget, nggak ada orang atau mobil lewat. Pohon-pohon di pinggir ditebang habis, sawah-sawah deket situ juga hangus terbakar.
Matahari mulai terbenam. Budi berhenti, balik badan tanya Rina, “Kita cari tempat nginep dulu yuk? Langit udah gelap, malam nanti lebih bahaya.”
Rina mengangguk cemas sambil pegang lengan Budi erat.
“Ada hotel deket sini nggak?” Budi tanya.
“Aku nggak tahu, udah lama nggak pulang,” Rina jawab, coba ingat-ingat.
“Yaudah, kita ke desa depan itu aja,” Budi nunjuk ke arah asap tipis keluar dari sana.
“Itu Desa Muara, tapi aku nggak kenal siapa-siapa di sana,” kata Rina.
“Cek dulu aja,” jawab Budi.
Tiba-tiba HP Rina berdering. Dia angkat. “Halo, Bu? Iya, Bu… Kayaknya malam ini nggak bisa pulang, ban mobil bocor tadi. Kami harus nginep dulu, besok pagi baru balik.” Pipi Rina tiba-tiba merah, dia balik badan biar nggak ketemu mata Budi. “Iya, Bu… Dia nginep di kamar lain, jauh kok. Ya, Bu, aku ngerti. Aku bukan anak kecil lagi. Makasih, Bu. Besok ketemu ya.”
Rina coba tenangin diri, lalu jalan ke Budi. Kali ini dia nggak pegang lengan lagi, malah jaga jarak. Budi pasti tahu isi telepon tadi. Orang tua mana yang nggak khawatir sama anak ceweknya.
Desa Muara nggak terlalu besar, sekitar 500 kepala keluarga. Tapi deket kawasan tambang dan perkebunan, jadi penduduknya lumayan ramai dan lumayan makmur. Jalan utama desa jadi jalan raya komersial, dua sisi penuh toko. Seharusnya desa ini bakal maju pesat. Tapi sekarang sepi, hampir semua toko tutup.
Budi dan Rina jalan-jalan lama, nggak nemu hotel sama sekali. Langit makin gelap, mereka sepakat ketuk pintu rumah dua lantai yang kelihatan ada orang. Setelah beberapa menit, pintu dibuka sedikit.
Di balik pintu ada pria kurus umur sekitar 50-an. Dia cuma buka pintu secukupnya, badannya nempel di pintu, siap nutup kapan aja. “Mau ngapain?” tanyanya pake logat setempat.
Budi kasih isyarat ke Rina pake mata dan alis, pura-pura nggak ngerti bahasa lokal. Rina langsung jawab pake dialek Banjar, “Selamat malam, Pak. Kami dari Desa pinggir. Seharusnya udah sampe rumah, tapi ban mobil bocor tadi. Boleh nggak nginep semalam aja di sini? Besok pagi kami langsung pergi.”
“Nggak bisa! Cari tempat lain. Kami nggak ada ruang!” Pria itu agak lega tahu mereka dari desa deket, tapi tetep curiga. Akhir-akhir ini banyak kejahatan di desa ini, dia nggak mau ambil risiko.
Rina mau lanjut bicara, tapi Budi hentikan. Dia keluarin dompet, ambil tiga lembar Rp100.000, bilang, “Gimana kalau Rp300.000 semalam, termasuk makan malam? Kami bukan orang jahat, Pak.”
Pria kurus lihat Budi dan Rina. Ceweknya kelihatan sopan dan lembut meski lagi takut. Cowoknya pendiam tapi matanya jernih, kelihatan orang baik. Dia lihat uang di tangan Budi, tertarik. Akhirnya dia ganti bahasa Indonesia, “Rp500.000 semalam. Masuk kalau setuju. Kalau nggak, pergi aja!”
Budi senang, langsung keluarin dua lembar lagi Rp100.000. “Deal!” Pria itu hitung uang, lega, lalu buka pintu lebar-lebar. “Masuk!”