Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang dipisahkan kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai.
Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
PS: Mengandung Catatan Horor Yang Tinggi & Dapat Mempengaruhi Sisi Psikologis..!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Cahaya lampu gantung dengan bentuk bulat yang unik menerangi setiap sudut kedai kopi bernama “Warna Rindu” yang terletak di pinggir jalan utama kota Bogor. Kedai dengan dekorasi bergaya gubuk modern namun hangat ini menjadi tempat favorit Laura dan teman-temannya semenjak masa kuliah. Dinding bagian dalam dipenuhi dengan karya seni rupa lokal, sementara lantai kayu yang sedikit kusam menyimpan jejak langkah banyak orang yang telah datang dan berbagi cerita di sini. Pada hari sabtu sore itu, Laura, Ariana, dan Amelia duduk di sudut kedai yang paling nyaman, di dekat jendela yang menghadap ke taman kecil.
Meja bundar di depan mereka penuh dengan gelas kopi dan teh hangat, serta beberapa buku desain dan lembaran kertas yang penuh dengan sketsa. Laura duduk dengan tubuh sedikit membungkuk, tangan kanannya menggenggam pulpen sambil menjelaskan konsep desain yang ia pikirkan untuk proyek fotografi bersama Roni.
“Kita perlu menggunakan palet warna yang bisa menyampaikan nuansa alam namun tetap terlihat modern dan menarik,” ujar Laura dengan mata yang bersinar penuh semangat. Ia menggeser satu lembar kertas yang berisi sketsa tata letak majalah ke arah Ariana dan Amelia. “Lihat saja, jika kita menggunakan warna hijau tua sebagai dasar, dipadukan dengan sentuhan warna coklat muda dan putih krem, itu akan memberikan kesan hangat dan alami yang sesuai dengan tema kita.”
Ariana mengambil lembar kertas itu dengan hati-hati, melihat setiap garis dan catatan yang dibuat Laura dengan cermat. “Konsep warnanya bagus sekali, Lau. Tapi bagaimana dengan jenis huruf yang akan kita gunakan? Kita perlu memilih jenis huruf yang mudah dibaca namun tetap memiliki karakter yang sesuai dengan tema alam.”
“Benar sekali!” sambung Laura dengan semangat yang semakin meningkat. “Aku sudah berpikir untuk menggunakan kombinasi antara jenis huruf sans-serif untuk teks utama agar mudah dibaca, dan jenis huruf serif dengan gaya yang sedikit klasik untuk judul dan caption foto. Ini akan menciptakan keseimbangan antara modernitas dan kehangatan yang kita inginkan.”
Amelia yang selama ini mendengarkan dengan seksama kemudian mengangkat tangannya. “Saya tidak terlalu paham tentang desain, tapi apa kalian berpikir tentang menambahkan elemen seni tradisional dari daerah-daerah yang kita kunjungi? Itu bisa membuat proyek ini lebih kaya secara budaya.”
Alis mata Laura sedikit naik penuh kagum. “Itu ide yang luar biasa, Amelia! Aku tidak pernah berpikir tentang itu sebelumnya. Kita bisa menyisipkan elemen-elemen tradisional itu sebagai dekorasi kecil di bagian tepi halaman atau sebagai latar belakang pada beberapa halaman khusus. Ini akan membuat setiap cerita yang kita sampaikan lebih terhubung dengan akar budaya daerahnya.”
Ia segera mengambil buku catatan kecilnya dan mulai menuliskan berbagai ide yang muncul di bilik benaknya. Kata-kata dan sketsa keluar dengan cepat dari tangannya, seolah semua ide itu sudah lama menunggu untuk segera menghambur keluar. “Kita juga bisa membuat bagian khusus yang memperkenalkan bahan-bahan alami yang digunakan dalam seni tradisional itu; seperti kapas, rotan atau kayu untuk ukiran. Ini akan memperkuat tema kita tentang hubungan yang saling berharmonisasi.
Ariana tersenyum melihat semangat Laura yang kembali muncul seperti dulu. “Kamu tahu tidak, Lau? Ini adalah kamu yang aku kenal dulu, siapa yang bisa berbicara tentang desain selama berjam-jam tanpa merasa lelah,” ujarnya dengan nada meluapkan kebahagiaan. “Aku merindukan sisi kamu yang satu ini.”
Laura menghentikan tulisannya sejenak, melihat wajah Ariana dengan senyum hangat. “Aku juga merindukannya, Ariana. Kadang aku merasa bahwa bagian diriku ini hilang bersama Doni. Tapi sekarang aku menyadari bahwa dia tidak pernah ingin aku berhenti mengejar hal-hal yang kuimpikan”
Ia mengambil gelas teh hangatnya dan mengambil tegukan kecil. “Doni pernah bilang bahwa desain bukan hanya tentang bentuk dan warna yang indah, melainkan tentang bagaimana menyampaikan pesan dengan cara yang jelas dan penuh makna. Dia selalu mendukung setiap ide yang aku punya, bahkan yang paling konyol sekalipun.”
Amelia mengangguk menyetujui. “Itu terlihat dari semua ide yang kamu kemukakan hari ini, Lau. Setiap konsep yang kamu buat tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga penuh dengan makna yang dalam.”
Mereka berlanjut berbicara tentang berbagai aspek desain proyek tersebut; mulai dari pemilihan gambar yang akan digunakan, tata letak setiap halaman, hingga cara menyusun naskah agar sesuai dengan gaya visual yang mereka inginkan. Laura bahkan mulai menggambar sketsa kasar tentang bagaimana sampul majalah akan terlihat, dengan kombinasi antara foto kebun teh yang diambil Roni dan elemen dekoratif motif batik yang diusulkan Amelia.
“Sampulnya harus bisa menarik perhatian pembaca sekaligus memberikan gambaran jelas tentang isi majalah,” ujar Laura sambil menunjukkan sketsanya. “Kita bisa menempatkan foto dengan sudut pandang yang sedikit memiringkan ke atas, sehingga memperlihatkan keindahan kebun teh yang membentang hingga ke kaki gunung. Kemudian kita tambahkan elemen motif daun tanaman itu di bagian bawah dengan transparansi yang tinggi, sehingga tidak mengganggu tampilan utama foto.”
Ariana mengangguk menyetujui. “Itu akan terlihat sangat menarik. Aku bisa mulai membuat mockup digital dari desainmu besok jika kamu mau. Kita bisa menggunakan software desain yang biasa kita gunakan dulu di kampus.”
“Aku bisa membantu mencari referensi tentang motif seni tradisional dari berbagai daerah,” tambah Amelia. “Aku punya beberapa buku tentang seni yang bisa kita gunakan sebagai referensi. Selain itu, aku juga bisa menghubungi beberapa temanku di berbagai daerah untuk mendapatkan informasi lebih mendalam tentang makna di balik setiap seni, gambar dan motifnya.”
Laura merasakan hatinya penuh dengan rasa syukur. Melihat teman-temannya yang bersedia membantu dan mendukungnya membuatnya merasa semakin kuat dan yakin bahwa proyek ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Ia mengambil buku catatannya dan menuliskan beberapa kata terakhir sebelum mereka membayar dan pulang: “Hari ke-7. Berbincang tentang desain dengan Ariana dan Amelia di kedai kesayangan kami. Setelah sekian lama tidak bisa berbicara tentang beberapa hal yang kubenci, hari ini, di sore yang tenang, melanjutkan pagi yang menyenangkan bersama Roni, aku merasa bahwa bagian diriku yang satu ini kembali hidup. Setiap warna, setiap bentuk, setiap ide yang kami bahas adalah bukti bahwa cinta dan semangat tidak pernah benar-benar hilang, hanya saja terkadang kita perlu waktu untuk menemukannya kembali.”
Saat mereka melangkah keluar dari kedai kopi yang sudah mulai mematikan sebagian lampu neon di atas papan nama, malam menjelang dengan cepat menutupi langit yang masih sedikit bernuansa jingga kemerahan di ufuk barat. Deretan lampu jalan berwarna kuning keemasan menyala satu demi satu, memancarkan cahaya yang sedikit bergoyang karena hembusan angin, menerangi trotoar yang berdebu akibat panas dan laju kendaraan yang sibuk. Udara malam yang datang merubah suhu menjadi lebih sejuk, suasana yang seharusnya membuat hati menjadi tenang, namun justru entah mengapa ada satu perasaan yang tiba-tiba mengusik dalam batin Laura, suatu perasaan tanpa alasan, tetapi sangat kuat memaksanya berpikir peka.
Ia menghentakkan langkah perlahan, kemudian mendongkak wajah mempaku ke arah langit yang mulai mengeluarkan titik-titik bintang kecil seperti serpihan pasir perak. Saat Laura baru saja menghembuskan napas perlahan, seolah ingin menangkap keindahan malam itu, sisi kiri pendengarannya tiba-tiba terasa seperti tertutup oleh lapisan tanah liat. Semua suara; deru kendaraan di jalan raya, tawa anak-anak yang sedang bermain di taman, bahkan bisikan angin yang menyentuh daun pepohonan, lenyap tanpa jejak dari telinga kirinya. Beberapa detik kemudian, ketenangan itu menyebar dengan cepat ke telinga sebelah kanannya, membuat dunia sekelilingnya tiba-tiba jatuh ke dalam kedalaman hening yang menusuk tulang belakang.
"Aaaaaaah haaaaah haaaaaaaaah!"
Teriakan itu spontan keluar dari mulutnya, tetapi hanya hening yang didapatinya, sementara tangannya secara refleks meraba kedua daun telinganya. Wajah Laura yang tadinya riang dengan senyum tipis kini berubah total, alis terangkat tinggi, mata menegang dengan pupil yang membesar. Ariana dan Amelia yang baru saja tersenyum karena baru saja membicarakan sesuatu yang lucu, tiba-tiba membeku dengan wajah penuh keheranan. Kedua sahabatnya berusaha mengatakan sesuatu, bibir mereka bergerak dengan cepat, namun yang sampai pada Laura hanya bentuk kalimat yang kabur dan terputus-putus: "H a e y L a u raaa aaahh Laau aaau." Tidak ada satu nada pun yang bisa ia tangkap dengan benar, semuanya hanya bayangan suara yang ia baca dari gerakan bibir mereka.
Amelia mendekat dengan langkah tergesa-gesa, tangannya ingin menyentuh bahu Laura namun kemudian terhenti. "Apa yang terjadi denganmu Laura? Hey? Laura!" Ia mengulang pertanyaan berkali-kali, bibirnya bergerak semakin cepat, wajahnya meluapkan kecemasan. Ariana yang berada di sisi lain juga mengerutkan dahi, tangannya perlahan menyentuh bahu Laura.
Setelah satu menit berlalu, dengan tiba-tiba, suara kembali mengalir masuk seperti air yang menyembur dari saluran yang tersumbat. Deru kendaraan, suara tawa anak kecil di kejauhan, bahkan nada nyaring dari musik yang dimainkan oleh pedagang kaki lima, semuanya kembali dengan begitu jelas hingga membuat telinganya sedikit bergema. Laura merasa seperti baru saja kembali ke dunia nyata setelah terjebak di tempat yang sunyi dan kosong.
"Apa kamu mendengar apa yang kami ucapkan? Jawab kami dong, Laura!" Ariana mendesak penuh kegelisahan, ia lalu merangkul bahu Laura yang menggigil.
"Lupakan saja... aku hanya sedang kelelahan." Laura menjawab dengan suara yang sedikit serak, kemudian segera mengangkat wajahnya sambil mencoba membuat senyum yang dipaksakan. "Udara sudah mulai terasa dingin, lebih baik kita segera pergi dari sini." Ia mencari alasan dengan tergesa-gesa, tubuhnya masih sedikit gemetar karena ketakutan yang belum hilang sepenuhnya. Laura tidak ingin sahabatnya khawatir berlebihan, apalagi membuat kejadian ini berkembang lebih besar.
Namun di dalam hatinya, pikiran itu berputar tanpa henti seperti badai yang menerjang. Apa sebenarnya yang baru saja terjadi? Apakah ini tanda dari sesuatu yang mengerikan? Ataukah hanya masalah kesehatan yang tiba-tiba muncul sebagaimana kejadian semalam? Rasa takut yang menusuk bercampur dengan kebimbangan yang mendalam, spekulasi yang tidak jelas bercampur dengan kekhawatiran yang semakin membesar. Kesenangan yang Laura rasakan sepanjang hari, mulai dari sarapan pagi dan kegiatan di kebun teh yang penuh candaan bersama Roni, berbelanja di pasar seni, hingga berbincang santai bersama dua sahabatnya di kedai kopi, seakan runtuh dalam sekejap, digantikan oleh satu tanda tanya besar yang menggelayuti setiap bagian pikirannya. Satu menit penuh misteri itu, telah berhasil mengalahkan belasan jam kegembiraan yang sebelumnya ia rasakan.