Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏
Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.
Happy Reading Dear 🤗🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Aroma aspal basah dan mesin mobil mewah yang menderu pelan menandai kedatangan tamu yang paling ditakuti sekaligus dirindukan oleh Zavier. Dua buah sedan hitam mengkilap berhenti tepat di depan gerbang utama ndalem. Dari dalamnya, turunlah sepasang suami istri dengan setelan busana yang memancarkan kasta sosial tinggi: Ayah dan Mommy Sarah.
Sarah melangkah masuk ke ruang tamu utama dengan raut wajah yang tidak bisa dikatakan ramah. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan yang dipenuhi buku-batuan dan kaligrafi, kontras dengan kehidupan glamor yang ia tinggalkan di Kota A.
Di sana, Kyai Luqman dan Umi Hannah sudah menunggu, didampingi oleh Gus Azlan yang berdiri tegak seperti pengawal dan Syafi'iyah yang menunduk takzim.
"Assalamualaikum," sapa Sarah dingin.
"Waalaikumsalam, Sarah. Silakan duduk," jawab Kyai Luqman tenang, meski ia bisa merasakan hawa panas yang dibawa adik Iparnya itu.
Belum sempat teh hangat disajikan, Sarah sudah membuka suara dengan nada tinggi. "Kyai Luqman, Mbak Hannah. Saya datang ke sini setelah mendengar kabar 'bahagia' itu. Tapi saya tidak setuju! Setelah akad nikah selesai, biarkan Zavier kembali ke Kota A bersamaku. Dia punya masa depan di sana, bisnis ayahnya membutuhkannya!"
"Sarah, tenanglah," tegur suaminya pelan, mencoba meredam emosi sang istri.
"Tidak bisa!" Sarah menoleh pada suaminya, lalu kembali menatap tajam ke arah Kyai Luqman.
"Zavier sudah cukup tinggal di desa ini selama beberapa minggu. Dia tidak cocok di sini. Biarkan dia membawa istrinya nanti ke Kota A, biar saya yang mengurus kehidupan mereka."
Kyai Luqman menghela napas, wajahnya tetap teduh namun tak tergoyahkan. "Sarah, Zavier baru saja mulai menemukan kembali ketenangan di sini. Biarkan dia belajar lagi, mendalami agama agar dia bisa menjadi imam yang sesungguhnya. Menikah bukan alasan untuk melarikan diri dari tanggung jawab spiritual."
"Tanggung jawab spiritual apa?!" Sarah berdiri, suaranya melengking. "Dia butuh dunia nyata, bukan hanya tumpukan kitab!"
Debat hebat pun pecah. Umi Hannah mencoba menenangkan, namun Sarah tetap bergeming. Gus Azlan hanya memperhatikan dengan rahang mengeras; ia benci melihat kedamaian ndalem terusik oleh ambisi duniawi tantenya.
Setelah perdebatan yang melelahkan itu mereda tanpa titik temu, Sarah meminta izin untuk menemui putranya secara pribadi. Zavier sudah menunggunya di dalam kamarnya yang memiliki peredam suara.
Pintu tertutup rapat. Bunyi klik pengunci terasa seperti vonis bagi Zavier.
"Sayang... Mommy merindukanmu, Nak," ujar Sarah. Ia berdiri di depan Zavier, menatap putranya dengan pandangan menilai. Tidak ada pelukan hangat; bagi Sarah, kasih sayang sering kali ditunjukkan dengan kontrol dan proteksi.
Sarah menghela napas panjang, mengira Zavier sedang dalam tekanan perjodohan yang dipaksakan. "Zavi, yang sabar ya Sayang. Mommy tahu ini berat. Kamu harus menikah dengan pilihan mereka, tinggal di tempat seperti ini... Tapi mungkin ini waktunya kamu fokus beribadah sebentar. Lupakan Zaheera ya Nak, lupakan gadis itu dan—"
"Aku akan menikahi Zaheera, Mom," potong Zavier dengan suara bariton yang mantap.
Deg.
Sarah mematung. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka karena syok. "Zaheera-mu? Zaheera Bareeka?"
Zavier mengangguk pelan, menatap lurus ke mata ibunya tanpa keraguan. "Iya, Mom. Gadis yang akan kunikahi seminggu lagi adalah Zaheera."
"Oh tidak, Sayang! Apa kamu gila?!" Sarah mencengkeram lengan Zavier dengan kuat. Wajahnya pucat pasi. "Apa... apa Zaheera hamil? Apa itu alasannya kamu memaksakan pernikahan kilat ini di depan Abi-mu?"
"Tidak, Mom. Dia tidak hamil. Aku menjaganya—maksudku, kami menjaga batas itu agar tidak sampai ke sana," jawab Zavier bohong, sebuah kebohongan kecil untuk menutupi gunung es kebohongan yang lebih besar. "Kami sudah di tahap ini, Mom. Dengan segala kebohongan yang masih ditutup rapat dari Abi, Mas Azlan, dan Pak Narendra."
Sarah melepaskan cengkeramannya, lalu terduduk lemas di tepi ranjang. "Kamu tahu apa yang kamu lakukan, Zavier? Kamu membawa bom waktu ke dalam jantung pesantren ini. Jika Abi-mu tahu siapa Zaheera sebenarnya, jika mereka tahu gaya hidup kalian... kalian akan hancur."
"Justru itu, Mom," Zavier berlutut di depan ibunya. "Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menghentikan kebohongan itu. Aku ingin menikahinya agar kami bisa bertaubat dengan benar. Aku lelah berpura-pura, tapi aku lebih takut kehilangannya."
Sarah menatap putranya dengan nanar. Ia teringat bagaimana ia sering menutupi jejak mereka di kota A, bagaimana ia membiarkan mereka menghabiskan waktu di penthouse asalkan Zavier tetap terlihat "bersih" di mata keluarga besarnya di sini. Kini, dosa yang ia biarkan tumbuh itu telah menjelma menjadi ikatan yang permanen.
"Kamu benar-benar ingin hidup dalam kepura-puraan selamanya di sini?" tanya Sarah lirih.
"Tidak selamanya, Mom. Suatu saat nanti, setelah kami cukup kuat, aku akan membawa Zaheera pergi. Tapi untuk sekarang, biarkan aku menjadikannya halal agar setidaknya di mata Tuhan, kami tidak lagi menambah tumpukan dosa setiap harinya."
Zavier menundukkan kepala di pangkuan Sarah. Di balik pintu kamar itu, Gus Azlan lewat dan sempat berhenti sejenak. Ia tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan, tapi ia bisa merasakan aura kegelapan yang pekat dari balik dinding kedap suara itu.
Kekecewaannya pada Zavier semakin menebal; ia merasa adiknya tidak hanya sekadar menikahi gadis "salah", tapi sedang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar.