"Umur Ruby tuh udah 25 tahun, Masko. Kalau Ruby sampai gak dapet-dapet jodoh…” ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Miko, “masko aja deh yang jadi suami Ruby!” Miko yang sedang menyeruput iced americano langsung tersedak dan tanpa sengaja menyemburkannya ke wajah Ruby. “MASKOOO!!!” teriak Ruby murka seketika, lalu memukul-mukul tubuh Miko bertubi-tubi. Miko justru terbahak sambil berusaha menangkis pukulannya. “Sorry! Sorry! Sengaja!” Iya, Ruby tahu! Ruby bukan tipe masko!” sungut Ruby kesal. Miko hanya terkekeh, lalu meraih tisu dan mengelap wajah Ruby dengan santai, seolah tak terjadi apa-apa. Ruby tidak tahu saja kalau, Miko itu justru telah menyukai Ruby sejak mereka masih kecil. Ruby selalu ada, menjadi saksi paling setia atas keterpurukan Miko, terutama di masa-masa setelah ia mengetahui bahwa perempuan yang selama ini ia panggil Mama ternyata bukan ibu kandungnya. Sejak itu, Miko seperti kehilangan pijakan. Ada amarah di dalam dirinya, tapi ia tak tahu harus menujukannya ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenaya_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Ongkel Rendy Aditya adalah kakak dari Tante Renata, maminya Ruby. Ia tinggal di Belanda dan nyaris tak pernah pulang ke Indonesia. Selama hidup gue, ini baru kali keempat gue bertemu dengannya.
Pertemuan pertama waktu gue kayaknya masih kelas satu SMP. Momen Lebaran di rumah Ruby. Ada Ongkel di sana. Gue nggak ingat ada interaksi khusus antara Mama dan Ongkel. Mereka cuma saling sapa singkat, sopan, khas kerabat yang kebetulan ketemu.
Pertemuan kedua hanya berselang beberapa tahun setelah itu. Katanya, Ongkel memang sengaja liburan ke Jakarta. Dan kali ini dia stay cukup lama. Hampir setengah tahun. Gue waktu itu mikir, liburan macam apa sampai setengah tahun begitu.
Di pertemuan kedua itu, gue lumayan sering hang out bareng Ongkel. Bareng Mas Pandu juga. Kita sering main basket, sunmori, nongkrong santai. Jujur aja, masa itu cukup seru. Mas Pandu dan Ongkel banyak bantu kondisi mental gue yang ikut down karena mikirin kesehatan Mama.
Sebentar.
Tunggu.
Astaga.
Kalau dipikir-pikir lagi… Ongkel Rendy memang datang ke Jakarta nggak lama setelah Mama masuk rumah sakit karena kankernya relapse, setelah bertahun-tahun dinyatakan sembuh.
Shit.
Iya. Gue baru ngeh sekarang. Waktu itu, di ruang rawat Mama selalu ada bunga calla lily segar di dalam vas. Setiap hari. Nggak pernah absen.
Damn. Jangan-jangan… itu dari Ongkel?
Tapi anehnya, gue nggak ingat Ongkel sering menjenguk Mama. Bahkan untuk bertanya detail soal kondisi Mama pun rasanya nggak ada. Dia cuma nanya sekedarnya. Basa-basi. Lebih sering malah nyemangatin gue, nyuruh gue tetap percaya kalau Mama bakal sembuh.
Pertemuan ketiga terjadi di hari pemakaman Mama. Nggak ada interaksi apa pun antara gue dan Ongkel. Gue cuma lihat dia berdiri di antara kerumunan teman dan kerabat, wajahnya datar, tenang, nyaris tak menonjol seperti orang yang datang sekadar memberi penghormatan terakhir.
Pertemuan keempat… tentu saja hari ini. Tepat di depan makam Mama.
Sumpah ini aneh banget sih dan bikin gue bertanya-tanya.
Bagaimana mungkin Ongkel Rendy datang berziarah ke makam Mama setiap tahun, sementara yang gue tahu tak pernah ada interaksi atau keakraban khusus di antara mereka?
Dan yang lebih aneh lagi, setiap kali datang, ia selalu membawa buket bunga favorit Mama.
Calla lilly putih.
Bunga yang bahkan Ayah tidak pernah tahu sebagai bunga kesukaan Mama.
Bunga yang selama ini gue kira hanya gue seorang yang tahu dan mengingatnya.
Pertanyaan itu berputar-putar di kepala gue, menimbulkan rasa ganjil yang sulit gue jelaskan.
Bentar.
Jangan-jangan… Ongkel diam-diam suka sama Mama?
Atau jangan-jangan perempuan yang sering disebut-sebut sebagai cinta sejatinya Ongkel itu… Mama?
Ruby pernah cerita ke gue kalau Tante Rena sampai pusing mikirin Ongkel yang ogah nikah. Tante Rena bahkan sempat menjodoh-jodohkan Ongkel dengan teman dan kenalannya. Tapi anehnya, nggak ada satu pun yang nyantol. Selalu mentok. Selalu gagal.
Kata Ruby, Ongkel pernah bilang kalau cintanya sudah habis di satu perempuan. Dan sialnya, perempuan itu sudah jadi milik orang lain.
Dan dasar Ruby memang nggak ada obat—dia sempat nyeletuk ke gue,
“Jangan-jangan Ongkel gay lagi. Secara dia kan tinggal di Belanda. Di sana banyak pasangan gay!”
Sinting.
Ruby memang sinting.
Anyway, gue harus cari tahu tentang ini!
Buat apa?
Gue juga gak tau!
*
Miko kini tengah duduk di salah satu sudut coffee shop. Pandangannya terus mengikuti Ongkel Rendy yang masih berdiri di area pemesanan, menunggu minuman mereka selesai. Rasa penasaran itu belum juga mereda, justru makin menguat. Ada terlalu banyak hal yang terasa janggal, terlalu banyak pertanyaan yang berputar di kepala Miko sejak tadi.
Usia Ongkel Rendy sudah tujuh puluh tahun, tapi jika dilihat sekilas, sulit mempercayainya. Tubuhnya masih tegap, bahunya bidang, langkahnya ringan. Wajahnya nyaris tak berubah dari terakhir kali Miko mengingatnya bertahun-tahun lalu. Keriput ada, tentu saja, tapi tak menggerus pesonanya. Kalau pun ada yang berbeda, mungkin hanya rambutnya yang kini sedikit gondrong, memberi kesan santai yang justru makin menambah karisma.
Sejak tadi, Miko menangkap banyak pasang mata perempuan yang diam-diam mencuri pandang ke arah Ongkel Rendy. Ada yang pura-pura menyesap kopi sambil melirik, ada yang berpura-pura sibuk dengan ponsel, tapi refleksi di kaca memperlihatkan arah pandangan mereka yang sama.
Bahkan sekarang, satu di antaranya, perempuan yang sejak tadi duduk beberapa meja dari tempat Miko bangkit dan menghampiri Ongkel Rendy. Ia membuka percakapan dengan senyum ramah, mengulurkan tangan, memperkenalkan diri. Ongkel Rendy menyambutnya dengan senyum yang sama hangatnya, tanpa ragu, lalu menjabat tangan itu.
Tak lama, mereka sudah terlibat obrolan ringan. Ongkel Rendy tertawa kecil, mengangguk sesekali, sikapnya santai dan terbuka. Miko memperhatikan semuanya dengan perasaan campur aduk antara heran, kagum, sekaligus makin bingung.
Tak lama kemudian Ongkel Rendy terlihat berjalan mendekat ke arah Miko sambil membawa dua cup kopi. Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, ia mengangguk kecil ke arah area outdoor, memberi kode agar mereka pindah tempat duduk. Miko mengerti, ia pun berdiri dan mengikuti langkah Ongkelnya tanpa banyak tanya.
Begitu duduk di kursi luar, Rendy bersandar santai. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebungkus rokok, mengetuk-ngetukkannya ke telapak tangan sebelum membuka segelnya. Bungkus itu ia sodorkan ke arah Miko.
Miko menggeleng sambil tersenyum tipis.
Rendy terkekeh pelan. Ia mengambil sebatang rokok, menyelipkannya di bibir, lalu menyalakan api. Setelah menghembuskan asap pertamanya, ia menatap Miko lalu berkata:
“Jadi gimana, Ko?” tanyanya ringan. “Kabar kamu? Ongkel denger kamu cukup rajin nyusahin Tony beberapa tahun belakangan ini.”
Miko hanya tersenyum samar sambil meneguk kopinya.
“Dengerin ya,” lanjut Rendy, suaranya tetap santai. “Tony itu suami dari adik kesayangan Ongkel. Jadi kalau kamu nyusahin Tony, otomatis kamu juga nyusahin adik Ongkel.”
Miko terkekeh getir. “Miko nggak ngerasa nyusahin siapa-siapa sih. Mereka aja yang ribet ngurusin hidup Miko.”
Rendy tertawa pendek. “Little bastard.”
Miko langsung menatap Ongkelnya dengan sorot kesal.
“Kamu tahu nggak,” kata Rendy sambil kembali menghisap rokoknya, “terakhir kali kita ketemu itu kapan, ya? Dua belas… tiga belas tahun lalu, mungkin.” Ia terkekeh singkat, lalu kembali menatap Miko lekat-lekat. “Waktu itu kamu belum semirip ini sama Bagas.”
Tatapannya berubah. Bukan lagi santai, ada kesal yang tak sepenuhnya ia sembunyikan.
“Tapi sekarang…” lanjutnya pelan, “makin dewasa, wajah kamu malah makin ke sana. Rahang, sorot mata, bahkan garis di wajah kamu itu. Cara ngomong, sikap, attitude..persis Bagas.”
Miko terdiam, keningnya mengernyit tanpa sadar.
Rendy menghembuskan asap rokoknya perlahan ke samping, lalu menambahkan sambil terkekeh, “Jujur aja, Ko. Butuh tenaga besar buat Ongkel supaya nggak langsung nonjok kamu sekarang.”
Miko hanya menghembuskan napas lelah.
“Ongkel dari tadi belum jawab pertanyaan Miko,” ucap Miko akhirnya, nadanya datar tapi tajam. “Ongkel ngapain ke makam Mama?”
Rendy melirik sekilas, lalu mengangkat bahu santai.
“Ya kayak orang pada umumnya. Ziarah. Mau ngapain lagi?”
Miko berdecak pelan. Ia sebenarnya enggan melanjutkan, tapi rasa penasaran itu terlanjur menekan dadanya.
“Jadi… selama ini yang suka naruh bunga calla lily di makam Mama itu Ongkel?”
Untuk sesaat, Rendy terlihat sedikit terkejut. Hanya sepersekian detik, nyaris tak kentara. Ia cepat menutupinya dengan berdehem kecil, lalu kembali menghisap rokoknya tanpa menjawab.
Miko menatapnya lekat, kening berkerut.
“Kamu memangnya ada masalah dengan itu?” tanya Rendy kemudian, suaranya terdengar ringan.
“Bukan masalah,” jawab Miko jujur. “Miko malah senang. Ada yang rajin datang, doain Mama. Miko cuma penasaran. Soalnya… setahu Miko, nggak ada yang tahu kalau calla lily itu bunga kesukaan Mama. Selain Miko.”
Rendy terdiam.
Miko melanjutkan, lebih pelan, “Ongkel tahu dari mana? Setahu Miko… Ongkel nggak dekat-dekat amat sama Mama. Dan Miko kayanya juga gak pernah cerita hal itu ke ongkel”
Rendy menghisap rokoknya dalam-dalam untuk terakhir kali, lalu menghembuskannya agak kasar ke udara. Ia memajukan tubuh, kedua tangannya bertumpu di atas meja, menatap Miko lekat seolah sedang menimbang sesuatu. Wajahnya serius. Terlalu serius. Lalu tiba-tiba ia tersenyum miring.
“Bahkan posesifnya pun sama kayak Bagas,” katanya singkat.
Ia kembali menyandarkan tubuh ke kursi sambil terkekeh pelan.
Miko mendengus kesal. “Dari tadi Ongkel bilang Miko mirip ayah, mirip ayah. Nggak ada kalimat lain apa?”
Rendy melipat kedua tangan di dada, menggeleng perlahan.
“Nggak ada,” jawabnya datar. “Karena kamu sekarang memang persis Bagas.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih dingin,
“Dan Ongkel benci ayah kamu.”
“Hah?” Miko menatapnya bingung.
Rendy justru tertawa kecil. Ia berdiri, melangkah ke sisi Miko, lalu menarik lengannya agak kasar.
“Udah. Bicaranya segitu aja. Sekarang ikut Ongkel.”
Miko ikut berdiri, refleks menarik kembali tangannya.
“Ke mana?”
Rendy menaikkan satu alis. “Ke rumah Tony, lah.”
“Mau ngapain?”
“Kata Ruby,” Rendy meliriknya tajam, “kamu bahkan belum nengokin om kamu itu, kan?”
Miko terdiam. Bibirnya mengatup rapat.
Rendy menghela napas panjang, terdengar lelah. “Udah, ayo buruan. Ongkel jet lag. Dari bandara langsung ke makam, belum sempat tidur.”
Miko masih diam, tak bergerak.
Rendy melangkah lebih dekat, berdiri tepat di hadapan Miko. Suaranya turun, rendah dan mengancam.
“Miko, dari tadi Ongkel nahan diri buat nggak ngebogem kamu cuma karena kamu semakin mirip Bagas, ya. Jangan sampai sekarang Ongkel beneran bogem kamu.”
Alih-alih gentar, Miko justru memutar bola matanya. Ia menghela napas kesal, lalu melangkah melewati Rendy sambil berdecak.
Rendy tetap diam di tempat, memperhatikan punggung Miko menjauh.
Beberapa langkah kemudian, Miko tiba-tiba berhenti. Ia berbalik.
“Katanya ngantuk, pengin buru-buru ke rumah Om Tony,” katanya datar. “Sekarang kenapa malah diem?”
Rendy menoleh, lalu terkekeh pelan, tawa pendek yang lebih mirip helaan napas. Ia melangkah mendekat, merangkul bahu Miko dengan satu tangan, menariknya agar kembali berjalan.
“Kurang ajar,” gumamnya ringan.
Mereka pun melangkah berdampingan, bahu bersentuhan, ritme langkah menyatu.
Bukan karena Miko patuh atau menuruti perintah Ongkel Rendy. Bukan itu. Ia berjalan karena satu hal yang sejak tadi terus menggelitik pikirannya, menolak diam.
Rasa penasaran.
Tentang bagaimana Ongkel Rendy bisa tahu.
Tentang calla lily.