Di lorong-lorong megah Université Paris-Sorbonne, Xienna Elizabeth Mapelli Mozzi dikenal karena dua hal, kecantikannya yang ningrat dan cintanya yang mencekik terhadap Brandon Alton Everett.
Namun, ketika cinta itu hancur secara publik, Xienna justru terperangkap dalam radar pria paling berbahaya di Paris, Denzzel Lambert Riccardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Yang Tersembunyi
Kebenaran yang disembunyikan Xienna di balik bilah pisau itu jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik yang ia torehkan pada Denzzel.
Di balik dinding kastil Mapelli Mozzi yang dingin, Xienna mengurung diri di kamar yang kini terasa seperti sel isolasi. Ia menatap tangannya, tangan yang sama yang memegang pisau itu, namun juga tangan yang sama yang gemetar hebat saat melakukannya.
Faktanya, penusukan itu bukan karena kebencian murni. Itu adalah tindakan putus asa untuk menyelamatkan nyawa Denzzel.
Malam itu, sebelum penusukan terjadi, Xienna secara tidak sengaja membaca pesan di perangkat enkripsi ayahnya yang berhasil ia retas. Vittorio tidak hanya mengirim tim penjemput, ia telah memerintahkan hitman profesional untuk meledakkan seluruh vila tersebut saat mereka tidur.
Xienna tahu, jika ia hanya melarikan diri, ayahnya akan tetap menghancurkan Denzzel. Satu-satunya cara agar Denzzel selamat adalah dengan membuat Denzzel tidak berguna bagi ayahnya dan menunjukkan bahwa Xienna telah kembali ke pihak Mapelli Mozzi dengan sebuah Bukti pengabdian yang berdarah.
Ia menusuk Denzzel di titik yang ia pelajari secara medis tidak akan mematikan jika segera ditolong, namun cukup parah untuk membuat Denzzel dilarikan ke rumah sakit dan menggagalkan rencana pengeboman vila tersebut.
Xienna telah jatuh cinta pada musuhnya. Dan ia mengorbankan seluruh reputasi serta harga dirinya untuk memastikan pria itu tetap bernapas.
Sambil menatap video-video mesra yang diunggah Denzzel ke publik, Xienna menangis tersedu-sedu di lantai kamarnya. Publik menganggap video itu adalah bukti kehinaannya, namun bagi Xienna, itu adalah satu-satunya kenangan tentang saat-saat ia merasa benar-benar hidup.
"Kau bodoh, Denzzel," isaknya sambil menyentuh layar ponsel yang menampilkan wajah Denzzel. "Kau pikir aku menghancurkan mu, padahal aku sedang memberimu kesempatan untuk hidup, meski kau harus membenciku selamanya."
Xienna rela dianggap binal, dianggap pelacur, dan dianggap pengkhianat oleh seluruh dunia, asalkan Denzzel tetap ada di dunia ini bahkan jika Denzzel kini mendedikasikan hidupnya untuk membalas dendam padanya.
Di Miami, saat Denzzel melihat kembali rekaman CCTV vila sesaat sebelum penusukan, ia menyadari sesuatu yang janggal. Xienna tidak langsung lari setelah menusuknya.
Dalam rekaman yang sangat buram, terlihat Xienna sempat berlutut di samping tubuhnya, membisikkan sesuatu, dan menekan luka tersebut dengan kain untuk mencegah perdarahan yang lebih hebat sebelum ia menghilang di kegelapan.
Denzzel membaca gerak bibir Xienna dalam rekaman itu. Bukan kata-kata kebencian yang ia temukan, melainkan sebuah kalimat singkat:
"Ti amo, diavolo." (Aku mencintaimu, iblis).
Rahang Denzzel mengeras. Gelas di tangannya hancur berkeping-keping. Amarahnya yang semula adalah api dendam, kini berubah menjadi badai obsesi yang jauh lebih berbahaya.
"Kau pikir kau bisa menjadi pahlawan dengan menusukku, Xienna?" geram Denzzel dengan mata yang memerah. "Kau pikir dengan membuatku membencimu, kau bisa menyelamatkanku dari ayahmu?"
Denzzel menyadari bahwa Xienna sekarang berada dalam bahaya besar. Vittorio Mapelli Mozzi tidak akan pernah membiarkan putrinya yang sudah tercemar itu hidup bebas, apalagi jika Vittorio tahu bahwa penusukan itu adalah sebuah sandiwara cinta.
Denzzel mencabut semua infus di tangannya, mengabaikan teriakan para perawat.
"Siapkan pesawat ke Paris," perintah Denzzel pada Allen. "Xienna tidak sedang merayakan kemenangannya. Dia sedang menunggu eksekusi dari ayahnya karena mencintaiku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya, bahkan ayahnya sendiri."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading 🥰
simple tapi penuh makna