Bagi Mila, hidup adalah perencanaan. Dan dalam rencana itu, Tyas adalah pilihan yang sempurna. Rasa aman, masa depan jelas, jawaban dari segala doanya.
Namun hidup punya selera humor yang aneh.
Tepat saat ia bersiap melangkah ke arah Tyas, Arya kembali muncul. Mantan kekasihnya itu datang membawa kembali aroma masa lalu yang seharusnya Mila kubur dalam-dalam.
Untuk pecinta second-chance romance dengan drama kantor, chemistry yang explosive, dan heroine yang nggak mau kalah, ini cerita kamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrettyDucki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumbang
Selasa pagi kantor terasa lebih dingin dari biasanya, setidaknya bagi Arya. Dari balik dinding kaca ruangannya, ia memperhatikan Mila yang duduk tegak di mejanya.
Wanita itu menjalankan fungsinya dengan presisi yang menakutkan. Dia seperti robot yang baru saja diprogram ulang.
Tidak ada kerlingan mata sinis, tidak ada bantahan, bahkan tidak ada helaan napas kesal. Yang ada hanya, "Iya, Pak," dan "Baik, Pak," yang diucapkan dengan nada datar dan kosong.
Arya tau, di balik wajah tanpa ekspresi itu, Mila sedang membangun benteng setinggi langit untuk memisahkan mereka. Kalimat "Kalian menjijikkan." yang semalam diucapkannya masih bergema di telinga Arya tiap kali ia menatap punggung Mila.
Namun pengamatan Arya menangkap sesuatu yang tidak beres.
Sejak jam sepuluh pagi, Mila sudah bolak-balik ke toilet lebih dari lima kali. Setiap kali kembali, langkahnya tampak semakin gontai, tangannya sesekali bertumpu pada pinggiran meja rekan kerja untuk menjaga keseimbangan.
Arya berkali-kali memegang gagang pintu, ingin keluar dan bertanya, tapi ia urungkan. Ia takut, kehadirannya hanya akan membuat Mila semakin muak.
Pukul 13.00, Arya harus menyeret tubuhnya ke ruang rapat direksi. Empat jam itu terasa seperti neraka.
"Pak Arya, proyek ekspansi kok mandek di mana-mana? Klien mulai komplain soal timeline." suara Lukman tajam dan dingin.
Arya menghela napas. Kepalanya berdenyut hebat, akibat kurang tidur semalam mulai menagih janji.
"Kendala di perizinan, Pak. Tim hukum masih mengecek beberapa klausul kontrak."
Lukman menyilangkan tangan. "Bukannya sudah saya peringatkan dua minggu lalu? Kenapa baru sekarang geraknya?"
"Ada beberapa revisi dari klien yang--"
"Sudah lah! Saya nggak mau alasan. Saya mau solusi."
Arya mengangguk kaku. Ia berusaha memusatkan fokusnya pada meeting, namun bagaimanapun separuh pikirannya tetap tertinggal di lantai 35. Pada sosok wanita yang wajahnya sepucat kertas saat ia tinggalkan tadi.
Begitu rapat ditutup dengan ketukan palu yang memekakkan telinga, Arya langsung berjalan cepat menuju ruangannya. Namun, langkahnya terhenti di koridor utama.
Meja Mila dikerumuni banyak orang. Suasana riuh dengan nada panik.
"Angkat dulu, angkat!"
"Ada yang bawa minyak angin nggak?!"
"Langsung bawa ke klinik aja! Cepet!"
Orang-orang berteriak cemas.
Jantung Arya mencelos saat itu juga.
"Minggir!" Arya menerobos kerumunan dengan kasar.
" Pak Arya--"
Di sana ia melihat Mila tergeletak tak berdaya di lantai marmer yang dingin. Dua orang office boy sudah membungkuk, tangan mereka terjulur hendak mengangkat tubuh Mila.
Panas menjalar di dadanya. Ada rasa posesif yang datang entah dari mana membakar amarahnya saat melihat tangan-tangan asing itu hampir menyentuh Mila.
"Biar saya!" suara Arya menggelegar, dingin dan mutlak.
Arya berlutut meraih wajah Mila dengan satu tangannya. "Mila, kamu denger aku?!" suaranya pecah, lebih keras dari yang ia sadari.
Tidak ada respon.
Tanpa menunggu persetujuan siapapun, Arya menyelipkan lengannya di bawah leher serta lutut Mila dan langsung mengangkat tubuh wanita itu dengan satu gerakan cepat seolah Mila tidak memiliki bobot sama sekali.
Ia tau ada banyak tatapan bingung dan bisik-bisik karyawan mengikuti gerak-geriknya, tapi ia sudah terlalu panik untuk peduli.
"Klinik di mana? Tunjukkin jalannya!" perintah Arya entah pada siapa. Dia sudah tidak lagi bisa berpikir.
"Ayo Pak saya anter." Seorang OB membuka suara dan memecah kerumunan untuk mereka.
Kemudian Arya berjalan setengah berlari menuju klinik kantor di lantai dasar.
Di klinik, Arya duduk di kursi besi yang keras, menatap tirai putih yang tertutup. Dua puluh menit berlalu begitu lamanya sampai akhirnya dokter keluar.
"Pasiennya sudah sadar Pak kalau mau ketemu."
Arya mengangguk, lalu ia melangkah masuk tanpa minta izin.
Mila baru saja membuka matanya saat itu. Ia tampak bingung melihat langit-langit klinik, lalu matanya bertemu dengan mata Arya yang melebar karena cemas.
"Kamu di klinik," kata Arya pelan, suaranya serak. Ia menarik kursi ke samping ranjang. "Tadi kamu pingsan."
Mila mengerjap. Ia mencoba duduk, tapi kepalanya masih terasa berputar.
"Pelan-pelan," Arya buru-buru menahan bahunya. "Nggak usah dipaksa."
"Saya kenapa?" suara Mila parau.
"Dokter bilang kamu kelelahan. Tekanan darah kamu rendah sekali." Arya menghela napas. "Kamu makan siang nggak? Kamu minum obat apa? Kenapa bisa drop begini?"
Mila memijit pelipisnya. Diam sejenak seolah mencari kata
"Dua hari lalu saya minum Postinor," katanya pelan. "Sampe sekarang efeknya masih ada."
Arya terdiam.
"Dari kemarin saya nggak bisa makan." Mila melanjutkan datar. "Mual."
Hening cukup lama.
Rasa bersalah menghantam Arya lebih keras dari lemparan keramik tempo hari. Ia baru ingat bahwa ia telah meniduri Mila tanpa pengaman. Memaksa wanita itu menelan zat kimia keras untuk memperbaiki kesalahan yang ia mulai. Mila menderita karena perbuatannya. Secara mental, dan sekarang secara fisik.
"Kenapa nggak bilang dari tadi?" suara Arya serak. "Kenapa nggak izin istirahat?"
Mila tersenyum masam, "Bilang apa? 'Pak Arya, saya mual karena minum pil darurat setelah semalam tidur sama Bapak'?"
Arya membeku.
"Bapak pikir segampang itu?" Mila menatapnya lelah.
"Mila, aku--"
"Nggak usah," potong Mila. "Saya nggak butuh permintaan maaf. Saya cuma butuh pulang dan istirahat."
Ia memaksakan diri turun dari ranjang. Arya ingin melarang, tapi Mila sudah mengayunkan kaki. Namun begitu kakinya menyentuh lantai, lututnya lemas. Tubuhnya limbung.
"Aku anter kamu pulang sekarang," putus Arya.
"Nggak usah. Saya bisa naik taksi," tolak Mila, suaranya lemah tapi tetap terkesan defensif.
"Mila, jangan mulai--"
"Saya bilang nggak usah." Kakinya melangkah pelan, dan seketika lututnya lemas. Tubuhnya oleng ke kiri.
Arya sudah berdiri, tangannya meraih bahu Mila sebelum wanita itu sempat jatuh.
"Masih mau naik taksi?!" Arya tidak berusaha menyembunyikan kesalnya. "Dalam keadaan begini kepala batu kamu itu sama sekali nggak ada gunanya!"
"Lepas." Mila mendorong tubuh Arya menjauh tapi sama sekali tidak bertenaga. Terlalu lelah untuk menunjukkan amarah.
"Aku lepas kalau kamu memang bisa jalan sendiri."
Mila mencoba sekuat tenaga tapi kakinya gemetar.
"See?" Arya mendengus kesal. "Nggak ada yang bisa jamin kamu nggak pingsan lagi di perjalanan pulang nanti."
Mila menatap Arya, ingin membalas, tapi tenaganya sudah habis.
"...yaudah," bisiknya akhirnya.
Arya tidak jawab. Tapi rahangnya sedikit mengendur. Lalu Mila hanya bisa pasrah dan membiarkan Arya menuntunnya keluar.
.
.
Di sepanjang selasar menuju area parkir, Arya merasa dadanya terus-menerus diremas oleh rasa tidak berdaya. Ia berjalan satu langkah di belakang, mengawasi punggung Mila yang tampak lemah, seolah hembusan angin sedikit saja bisa merubuhkannya.
Kaki Mila yang biasanya melangkah dengan percaya diri tinggi, kini ia terlihat lemas seperti jelly, gemetar di setiap tumpuan.
Ingin sekali Arya langsung meraih tubuh Mila dan menggendongnya sampai ke jok mobil supaya wanita itu tidak perlu bersusah payah berjalan. Arya benar-benar tidak peduli jika seluruh karyawan Mandhala menganggapnya gila atau melanggar etika profesional saat ini.
Namun ia tau Mila sangat peduli.
Saat langkah Mila tiba-tiba oleng dan tubuhnya condong ke kanan, refleks Arya bergerak cepat. Tangannya sudah hampir meraih pinggang Mila untuk menyangga, namun sebelum kulit mereka bersentuhan, Mila menepisnya pelan. Tidak ada sentakan kasar. Bahkan untuk sekadar memarahi Arya pun ia tidak punya tenaga.
"Jangan," bisik Mila parau tanpa menoleh. "Nanti orang lihat."
Dan Arya hanya bisa menurut. Ia menurunkan tangannya yang menggantung di udara, mengepalkannya erat, lalu kembali mengekori Mila satu langkah di belakang.
Tepat di area resepsionis lantai dasar, langkah mereka terhenti sejenak. Nina sedang berdiri di sana, tampak baru saja selesai mengurus sesuatu. Matanya membelalak kaget saat melihat sahabatnya berjalan lunglai dengan wajah pucat.
"Mil? Lo kenapa!" Nina menghampiri, memegang lengan Mila dengan cemas. "Sakit ya? Kok pucet banget?"
Mila memaksakan senyum tipis yang tampak menyakitkan untuk dilihat. "Enggak... cuma nggak enak badan aja, Nin. Masuk angin kayaknya. Pulang dulu ya."
Nina mengernyit, jelas tidak percaya dengan jawaban standar itu. Pandangannya kemudian beralih ke arah Arya yang berdiri kaku di belakang Mila dengan wajah tegang.
"Pak." sapa Nina canggung, sedikit membungkukkan badan.
Arya mengangguk singkat. "Nina," lalu matanya kembali terkunci pada Mila.
Nina mengamati kepergian mereka berdua dengan tatapan menyelidik yang tajam. Ia memperhatikan bagaimana Arya berjalan dengan protektif di belakang Mila. Cara Arya menahan pintu kaca untuk dilewati sahabatnya. Cara tangan pria itu menggantung seolah siap menangkap jika Mila terjatuh.
Arya menyadari tatapan itu. Ia tau gosip baru akan berhembus besok pagi.
Tapi saat ini, ia benar-benar tidak peduli.
Yang ia pedulikan hanya satu. Memastikan Mila sampai di tempat tidurnya dengan selamat.
.
.
Mila menyandarkan kepalanya di kaca mobil yang dingin. Ia mulai memejamkan mata sambil merutuki isi perutnya yang terasa seperti sedang dikocok mixer dengan kecepatan maksimal.
Sepanjang perjalanan Arya hanya bicara sekali, itu pun cuma untuk meminta titik share location ke kosannya. Setelahnya, pria itu mendadak jadi bisu.
Sebenarnya, kebisuan Arya itu adalah doanya. Karena saat ini Mila tidak punya energi untuk melakukan konfrontasi dramatis ala telenovela. Kepalanya berdenyut, asam lambungnya naik sampai ke kerongkongan, dan otaknya... sial, otaknya mulai melakukan hal yang paling ia benci.
Merasa bersalah.
Gue jahat banget nggak sih kemarin nyebut ibunya pelacur?
Mila membatin, ujung jarinya meremas tali tas.
Bukannya ia ingin menolak kenyataan. Fakta tetaplah fakta. Ibu Arya memang menjual diri. Tapi mengatakannya tepat di depan wajah putra yang ditinggal mati oleh perempuan itu? Itu level kekejaman yang bahkan bisa membuat iblis pun mungkin akan bertepuk tangan.
Mila benci dirinya sendiri saat menyadari bahwa dalam kemarahan, mulutnya bisa berubah menjadi belati yang sangat efisien untuk menguliti harga diri orang lain.
Begitu mobil berhenti di depan pagar kosan, Mila berusaha turun dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya.
Namun di luar prediksinya, Arya ikut turun.
Mila menoleh cepat, menyipitkan matanya yang masih sayu. "Mau ngapain?"
"Cuma sampai depan pintu," jawab Arya datar, tapi matanya mengunci Mila seolah ia adalah pasien rawat jalan yang bisa tumbang kapan saja. "Aku cuma mau pastiin kamu sampai di kamar dengan aman."
Mila mendengus pelan, terlalu lemas untuk berdebat soal privasi, jadi ia membiarkan Arya mengikutinya.
Di depan pintu kamar kosnya, Mila merogoh tas, mencari kunci dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Sebaiknya kamu telepon orang yang kamu kenal buat jaga kamu di dalam," suara Arya tiba-tiba memecah keheningan koridor kosan yang sempit. Nadanya terdengar cemas.
Mila tidak menjawab, masih berjuang memasukkan anak kunci ke lubangnya.
"Takutnya kepala kamu pusing lagi waktu lagi sendirian. Mungkin... pacar kamu?" Arya menjeda sebentar, seolah kata pacar itu adalah duri di lidahnya. "Atau Damian? Tapi mereka semua laki-laki. Apa kamu nggak punya teman perempuan?" Ia bergumam sendiri, tampak seperti orang yang sedang mengerjakan soal matematika di kepalanya. "Oh, mungkin Nina. Iya, Nina aja."
Mila mengerling kesal.
Kenapa orang ini berlagak jadi panitia sibuk sekarang? Sejak kapan Arya diberi hak untuk se-cerewet ini soal urusan pribadinya?
Ia ingin Arya mendengar tawa masamnya, tapi takut malah muntah di atas sepatu mengkilap pria itu.
Klik.
Pintu terbuka. Tanpa menoleh, tanpa mengucapkan terima kasih, apalagi mengajak masuk, Mila langsung melangkah ke dalam kamar. Ia menutup pintu tanpa ragu dan memutar kunci dari dalam.
Masa bodoh dicap tidak tau terima kasih. Saat ini ia hanya butuh tidur.
Dari balik daun pintu yang tertutup, suara rendah Arya masih terdengar.
"Besok kamu nggak usah masuk dulu. Istirahat sampai sehat," katanya. Ada jeda panjang, sebelum suaranya kembali terdengar lebih pelan, hampir seperti bisikan yang sarat beban. "Aku pulang ya. Kalau ada apa-apa... kamu bisa telepon aku."
Mila berdiri diam di balik pintu, menahan napas.
Ia mendengarkan suara langkah sepatu kulit itu perlahan menjauh, menuruni tangga teras satu per satu, sampai akhirnya suara mesin mobil yang halus menjauh dari depan kosannya.
Mila menjatuhkan tas ke lantai, lalu ambruk di atas kasur tanpa sempat mengganti baju. Di dalam kegelapan kamarnya, ia hanya bisa menatap langit-langit sambil terus meyakinkan dirinya.
Arya dan ibunya pantas dibenci. Tidak seharusnya dia kembali seenaknya dan berharap mendapat maafnya.
...***...
lupa?? kayaknya belum yah 🤭