NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Ruang Ajaib / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:274.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

TAMAT SERI 1 - Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.

Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.

Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.

NANTIKAN SERI 2 - Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Segera.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahayu yang Dulu Sudah Mati

Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan menyesakkan seperti mendung yang menolak turun hujan.

Rahayu tidak menjawab. Bibirnya terkatup rapat, bergetar menahan isak yang siap pecah kapan saja.

Sekar menarik kursi bambu reyot di dekatnya dengan kasar, menimbulkan bunyi kriet yang menyakitkan telinga.

Dia duduk tepat di hadapan ibunya, memaksa kontak mata.

Di mata Profesor Sekar, apa yang terjadi pada ibunya adalah contoh klasik dari Traumatic Bonding.

Sebuah ikatan emosional yang terbentuk dari siklus kekerasan dan pemberian harapan palsu secara berulang.

Otak ibunya telah dikondisikan bertahun-tahun untuk merespons remah-remah perhatian dari Keluarga Adhiwijaya sebagai sebuah anugerah besar, meski harus dibayar dengan harga diri.

"Sudah puas menangisnya, Bu?" tanya Sekar datar.

Rahayu tersentak. Dia mendongak, menatap putrinya dengan mata sembab.

Biasanya Sekar akan memeluknya, menenangkannya.

Tapi kali ini, Sekar duduk tegak laksana hakim.

"Nduk... Ibu minta maaf... Ibu khilaf..." ratap Rahayu, tangannya mencoba meraih ujung celana panjang lusuh yang dikenakan Sekar.

Sekar mundur selangkah. Menolak sentuhan itu.

Tindakan itu menampar batin Rahayu lebih keras daripada pukulan fisik.

"Maaf tidak akan mengubah fakta bahwa Ibu baru saja hendak mencuri masa depan kita untuk diberikan kepada orang yang membuang kita," ucap Sekar tajam.

"Bu, dengarkan Sekar baik-baik."

Sekar mencondongkan tubuhnya. Aroma tanah dan keringat menguar dari tubuh gadis itu—aroma kerja keras yang nyata, bukan aroma parfum mahal seperti yang dipakai Mirna.

"Tadi pagi, Rendi merusak saluran air kita. Dia ingin tanaman kita mati.

Dia ingin kita kelaparan."

Rahayu terbelalak, menutup mulutnya dengan tangan.

"Ya Allah... Rendi..."

"Dan sore ini," lanjut Sekar tanpa memberi jeda, "Bibi Mirna datang membawa gule kambing sisa dan janji manis tentang Bapak.

Tujuannya sama: mengambil satu-satunya hal yang membuat kita bisa bertahan hidup."

"Mereka adalah tim, Bu. Mereka predator. Dan Ibu..."

Sekar menunjuk dada ibunya, "...Ibu dengan sukarela menyerahkan leher kita untuk digigit."

"Tapi Bapakmu..." Rahayu mencoba membela diri, suaranya lemah, "Mirna bilang Bapakmu menanyakan kabar Ibu.

Siapa tahu... siapa tahu Bapakmu sudah berubah, Nduk. Ibu ini masih istri sahnya."

Sekar tertawa getir.

Tawa yang kering dan hampa.

"Istri sah?" ulang Sekar sinis. "Istri sah macam apa yang dibiarkan tinggal di gubuk bocor selama sepuluh tahun?

Istri sah macam apa yang anaknya harus putus sekolah dan jadi bahan tertawaan satu desa?"

Sekar berdiri lagi, berjalan menuju meja tempat botol "Formula Rahasia" itu kini berdiri aman.

Dia mengambil botol itu, menggenggamnya erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Cairan di dalam botol ini, Bu... ini bukan sekadar pupuk. Ini adalah darah, keringat, dan air mata Sekar.

Ini satu-satunya harapan agar kita tidak mati kelaparan di musim kemarau ini."

Sekar berbalik, menatap ibunya dengan sorot mata yang menyala-nyala.

Saatnya memberikan terapi kejut. Logika harus dipaksa masuk menembus kabut emosi.

"Sekarang Sekar minta Ibu memilih."

Suara Sekar menggelegar di ruang sempit itu, membuat debu-debu beterbangan.

"Pilih Sekar, anak kandung Ibu yang berjuang mati-matian, mencangkul tanah keras, melawan preman, dan meracik obat demi menyelamatkan nyawa Ibu..."

Sekar menunjuk ke arah pintu depan, ke arah jalan setapak tempat Mirna menghilang tadi.

"...atau pilih mereka? Keluarga Adhiwijaya yang kaya raya, yang tidur di kasur empuk sementara kita digigit nyamuk, yang ingin menghisap darah kita sampai kering hanya demi memuaskan ego mereka?"

Rahayu membeku. Napasnya tercekat.

Pertanyaan itu begitu brutal, namun begitu nyata.

"Kalau Ibu masih memilih percaya pada janji manis Bibi Mirna dan Eyang Marsinah..." suara Sekar merendah, bergetar menahan tangis yang akhirnya mendesak keluar dari sisi manusianya,

"...silakan Ibu ambil botol ini. Antarkan ke rumah gedong itu."

Sekar meletakkan botol itu kembali ke lantai, tepat di depan lutut ibunya.

"Tapi jangan harap Sekar akan ada di sini saat Ibu pulang nanti. Sekar lelah, Bu.

Sekar lelah berjuang sendirian kalau Ibu sendiri yang melubangi perahu kita."

Hening.

Dunia seakan berhenti berputar bagi Rahayu Ningsih.

Dia menatap botol kaca kecil di depannya.

Lalu menatap wajah putrinya.

Wajah Sekar yang dulu halus dan manja, kini tirus dan terbakar matahari.

Kulitnya yang dulu kuning langsat kini sawo matang karena terpaan sinar UV setiap hari di ladang.

Tangan anaknya kini kasar dan penuh kapalan.

Semua itu demi siapa? Demi dia. Demi Rahayu.

Memori-memori pahit yang selama ini ditekan Rahayu mendadak menyeruak keluar seperti bendungan jebol.

Bayangan Eyang Marsinah yang meludah saat Rahayu menyuguhkan teh.

Bayangan Radityo yang memalingkan wajah saat berpapasan di pasar seolah tak kenal.

Bayangan Mirna yang selalu mengejek kebaya lusuhnya.

Dan barusan... Mirna memintanya mencuri dari anaknya sendiri.

"Gusti..." bisik Rahayu. Air matanya kembali tumpah, tapi kali ini bukan air mata cengeng.

Ini air mata penyesalan dan kemarahan.

Sebuah api kecil mulai menyala di dada perempuan paruh baya itu.

Api yang sudah lama padam karena disiram air tuba penghinaan.

Namun, drama sore itu belum selesai.

Dari arah jalan depan, terdengar suara teriakan cempreng.

Rupanya Mirna belum benar-benar pergi jauh.

Dia berhenti di tikungan jalan, merasa aman dari jangkauan Sekar, dan melampiaskan kekesalannya.

"HEH RAHAYU! DASAR PEREMPUAN BODOH! JANGAN MENYESAL YA KALAU NANTI MATI KELAPARAN! SUDAH MISKIN, SOMBONG!"

Teriakan Mirna menggema, terdengar oleh tetangga kanan kiri.

Rahayu melepaskan pelukannya. Dia menghapus air matanya kasar dengan punggung tangan.

Wajah yang tadi penuh air mata, kini menyala merah.

"Ibu?" panggil Sekar pelan saat melihat ibunya bangkit dengan energi yang berbeda.

Rahayu tidak menjawab.

Dia berjalan cepat ke arah pagar depan. Langkahnya menghentak tanah, menimbulkan debu.

Sekar mengikuti dengan waspada.

Dia melihat ibunya berdiri di pinggir pagar beluntas, menatap sosok Mirna di kejauhan.

Rahayu menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sakit hati yang dipendamnya selama sepuluh tahun.

"MIRNA!!!"

Teriakan Rahayu menggelegar, membuat Mirna yang sedang berjalan sontak berhenti dan menoleh kaget.

Rahayu menunjuk wajah adik iparnya itu dengan telunjuk gemetar karena emosi.

"DENGAR YA! AKU TIDAK AKAN MATI KELAPARAN! ANAKKU PINTAR! ANAKKU HEBAT!"

"MULAI HARI INI, JANGAN PERNAH INJAKKAN KAKIMU DI TANAHKU LAGI! BILANG PADA IBUMU, RAHAYU YANG DULU SUDAH MATI!"

"PERGI KAMU! PERGIII!!!"

Suara Rahayu pecah di ujung teriakan, tapi pesannya tersampaikan dengan jelas.

Burung-burung Gereja di pohon kelapa berhamburan terbang karena kaget.

Mirna di kejauhan tampak melongo.

Dia tidak pernah menyangka wanita yang biasanya membungkuk-bungkuk seperti kerbau itu bisa mengaum seperti macan.

Tanpa berani membalas lagi, Mirna berbalik dan setengah berlari, ketakutan melihat amuk "orang pendiam".

Rahayu masih berdiri di sana, dadanya naik turun memburu napas.

Perlahan, kakinya lemas. Dia hampir ambruk jika saja Sekar tidak sigap menopang tubuhnya.

"Bu..." bisik Sekar, ada nada bangga yang tulus dalam suaranya.

Rahayu menoleh, menatap putrinya dengan mata sembab namun jernih.

Senyum tipis dan lelah terukir di bibirnya.

"Sudah, Nduk. Sudah Ibu usir 'setan'nya," bisik Rahayu parau.

"Sekarang, ayo kita makan. Ibu lapar."

1
Agustina Atmadja
keren sekali sih 😘😘 couple yg serasi ❤️❤️
tuti raniati
Novel yang bagus Thor 👍🏻👍🏻👍🏻
Teh Mbak Sri
Mak Jlebbbbb...
Teh Mbak Sri
Wabah Epilepsi melanda..
Kejang-kejang berjamaah.
😭😭😭😭
Teh Mbak Sri
Efek Mulyono..😭
Teh Mbak Sri
Organik vs Plastik.
Teh Mbak Sri
Kerennnn...
Teh Mbak Sri
Part yg keren....
Tanah kapur yg gersang diutak atik dg bio organik...
👍👍👍👍👍
Hermawan Suhu
knpa ibunya sekar dak cerai aja sma Bpk ny sekar
falea sezi
ini taun brp sih katanya jaman dulu kok uda ada. instagram
watno antonio
bintang 5 buat kamu thor
falea sezi
semua novel mu kayak nya keren
sukensri hardiati
makasiiih 👍💪🙏
sukensri hardiati
berani banget nahan daharan sultan...
sukensri hardiati
terharu abiiiss.....ibu sukma hebaattt
sukensri hardiati
tak kira gulma nggak bisa hidup di ruang spasial
sukensri hardiati
rahayu ni kan istri pertama ya thor....berarti menikahnya dah lebih dari 25 th ya...
sukensri hardiati
bacanya terbalik ni aku....sekar sesi dua... baru ini....ya dahlah....nggak pa2 yg penting baca
INeeTha: kebalik Kaka, kan di awal seri 2 udah dikasih tahu🤭
total 1 replies
Yuyun Zampiet
astaga ayah kandung tega sekali dg anak kandungnya, sdh dibuang gak diakui, eh setelah sukses mau direbut lagi, orgtua laknat
Yuyun Zampiet
thor, coba villa tempat penyekapan sekar di bakar aja untuk menghilangkan bukti,sekalian bakar paman rudi dg si tua gendut itu , ini kan cuma di dunia novel tidak ada yg larang bakar org 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!