NovelToon NovelToon
Cinta Sang Ratu Bayangan

Cinta Sang Ratu Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: vier08

Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.

Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.

Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.

"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.

Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENJADI RATUKU

"Dengar, Arlon, balas dendam itu boleh, tapi jangan sampai itu bikin kamu buta, kita main cantik, kita bikin mereka malu di depan seluruh rakyat, tanpa kita harus mengotori tangan dengan darah mereka secara langsung, setidak nya untuk saat ini," ucap Elena dengan seringai kecil yang terlihat licik.

"Wah, kamu benar-benar istri yang berbahaya ya, kadang aku ngeri sendiri kalau bayangin kamu jadi musuhku," canda Arlon sambil mencolek hidung Elena.

"Makanya, bayarannya jangan lupa, Aku tidak kerja gratisan," jawab Elena sambil menepis tangan Arlon dengan wajah yang kembali datar, meski sebenarnya ada rasa hangat yang menjalar di dadanya.

Arlon kembali tertawa, lalu dia mencoba bangkit berdiri, tubuhnya sedikit oleng, tapi dia menolak bantuan Elena kali ini.

"Aku mau mandi, bau darah palsu ini beneran bikin mual, benar kata Arkan tadi," ucap Arlon sambil berjalan menuju area belakang paviliun.

Setelah Arlon sudah masuk kedalam kamar mandi sederhana mereka, kemudian Elena berjalan menuju meja kayu, mengambil belati nya, dan mulai mengasahnya lagi.

Suara gesekan logam itu memenuhi ruangan, seolah-olah menjadi pengingat bahwa di balik candaan mereka, ada badai besar yang sedang bersiap untuk menerjang dalam tiga hari ke depan.

Elena melirik ke arah jendela yang retak, menatap langit kerajaan Belmont yang tampak mendung.

Hah....

Elena menghela nafasnya panjang, dia teringat kenapa dia bisa ada di sini, berawal dari sebuah misi dari seorang pria misterius yang tidak dia ketahui identitas nya, hingga akhir dia terlibat dalam masalah istana seperti ini.

"Sampai saat ini aku belum tahu ada hubungan apa pria misterius itu dengan Arlon, entah dia musuh atau sekutu, aku masih belum bisa memastikan," batin Elena, menggeleng kan kepala nya.

"Apa mungkin setelah Arlon berhasil balas dendam, pria itu akan mengatakan siapa dirinya? Tapi bagiamana kalau ternyata dia adalah musuh? Tapi..." batin Elena, terdiam sejenak.

"Tidak mungkin kalau dia salah satu dari banyak nya orang yang ingin membunuh Arlon, buktinya dia meminta ku untuk menjaga Arlon dari Selena," batin Elena, menghela nafas nya kasar.

Elena kembali ke kegiatan nya, mengasah belati kesayangan nya, belati yang sudah menghabisi ratusan nyawa.

"Tunggu saja, Selena, kamu tidak akan pernah menyangka kalau Pangeran sampah yang kamu buang itu akan jadi api yang membakar istanamu sendiri," bisik Elena pada dirinya sendiri, matanya berkilat tajam.

Suara gemericik air dari arah kamar mandi paviliun terdengar bersahut-sahutan dengan bunyi gesekan belati Elena, gadis itu duduk dengan tenang, namun telinganya tetap waspada menangkap setiap suara dari luar.

Tak lama kemudian, Arlon keluar dengan pakaian yang lebih segar, meski wajahnya masih terlihat sedikit pucat, efek tidak bersentuhan dengan Elena.

Rambutnya yang basah dibiarkan berantakan begitu saja, membuat pria itu terlihat semakin tampan.

"El, kamu tidak lapar?" tanya Arlon sambil mengeringkan rambutnya pakai handuk kecil.

"Kita masih punya simpanan daging kering dan beberapa ubi dari hutan belakang kan?" jawab Elena, menoleh ke arah Arlon.

"Masih ada, tapi rasanya ya gitu, hambar. Sama kayak hidupku sebelum ada kamu," goda Arlon, tiba-tiba bergeser mendekat, lalu dengan ringannya merebahkan kepalanya di pangkuan Elena.

Elena tersentak, tangannya refleks terangkat seperti hendak memukul, tapi tertahan di udara.

"Heh! Apa-apaan ini? Bangun! Berat tahu!" bentak Elena, meski suaranya tidak sedingin biasanya.

"Bentar doang, El, kepalaku beneran cenat-cenut habis latihan tadi, anggap saja ini sebagai upah aku sudah muntah darah buat menyelamatkan rencana kita," rengek Arlon sambil mencari posisi nyaman di paha Elena.

"Kamu itu Pangeran atau anak kucing sih? Manja banget jadi orang," gerutu Elena.

Walaupun mulutnya mengomel, tangannya perlahan turun dan malah mendarat di rambut Arlon yang masih agak lembap, mengusap nya dengan lembut.

"Pangeran naga yang lagi butuh sandaran," jawab Arlon pelan, matanya terpejam menikmati sentuhan kasar tapi jujur dari tangan Elena.

Elena mendengus, jemarinya mulai menyisir rambut Arlon dengan sedikit tenaga, seolah-olah sedang menyisir bulu kuda yang kusut.

"Jangan manja-manja terus, kalau ada yang lihat, reputasiku sebagai pembunuh bayaran bisa hancur tahu nggak," ucap Elena sambil memalingkan wajahnya yang sedikit memerah.

"Siapa yang mau lihat? Tikus paviliun? Lagian di sini cuma ada kita berdua. El, kalau nanti aku beneran jadi Raja, aku mau kamu tetap di sampingku, tapi bukan sebagai pelindung lagi," gumam Arlon, suaranya mulai terdengar mengantuk.

"Terus jadi apa?" tanya Elena galak.

Arlon tertawa kecil, lalu dia meraih tangan Elena yang satu lagi dan menggenggamnya erat, menempelkan telapak tangan gadis itu ke pipinya.

"Jadi alasan kenapa aku harus tetap hidup setiap hari," bisik Arlon tulus.

Deg

Deg

Deg

"Jadi Ratu di istana ku nanti, yang akan duduk di singgasana bersama ku," bisik Arlon, lagi.

Elena terdiam, kata-kata Arlon biasanya selalu dia balas dengan makian, tapi kali ini tenggorokannya terasa tercekat.

Dia hanya bisa menatap dahi Arlon yang kini tampak tenang dalam pangkuannya, tangannya yang tadi mengusap rambut Arlon mendadak kaku.

Kalimat barusan terasa jauh lebih berat daripada sekadar godaan yang biasanya keluar dari mulut pria itu.

"Jangan ngomong sembarangan, Arlon, jadi Ratu itu bukan cuma duduk manis, tanggung jawabnya besar. Lagipula, tangan ini lebih cocok pegang belati daripada pegang kipas cantik di pesta istana," ucap Elena ketus, meski ia tidak menarik tangannya dari pipi Arlon.

Arlon membuka satu matanya, menatap Elena dengan tatapan yang sulit diartikan, ada senyum tipis di bibirnya.

"Siapa bilang Ratu tidak boleh pegang belati? Malah lebih bagus, kan? Tidak akan ada yang berani macam-macam kalau Ratunya bisa mematahkan leher orang dalam tiga detik," jawab Arlon santai, suaranya terdengar serak namun yakin.

"Sudah, jangan menghayal terlalu jauh. Fokus dulu bagaimana cara bertahan hidup sampai lusa. Kalau kamu pingsan di tengah lapangan festival karena tidak kuat menahan energi naga itu, mimpimu jadi Raja cuma bakal jadi sejarah singkat yang memalukan," ucap Elena, berusaha mengalihkan pembicaraan sambil sedikit menekan pipi Arlon agar pria itu menjauh.

Arlon akhirnya bangkit duduk, wajahnya terlihat sedikit lebih segar meskipun matanya masih menunjukkan rasa lelah.

"Galak sekali sih. Tapi El, aku serius. Aku tidak mau berada di puncak sendirian kalau akhirnya kamu malah menghilang setelah misi mu selesai," gumam Arlon, matanya menatap lurus ke mata Elena.

Elena memalingkan wajah, ia kembali meraih belatinya yang tergeletak di meja kayu.

"Aku ini cuma pembunuh bayaran, Arlon. Ada uang, ada nyawa yang dilindungi atau dihabisi. Kamu pikir setelah ini selesai aku bakal betah diam di istana yang isinya cuma orang-orang bermuka dua?" tanya Elena sambil mulai menggosok permukaan belati dengan kain.

1
Sribundanya Gifran
lanjut
Maghfiroh08: siap kak, stay tuned yaaa
total 1 replies
paijo londo
apa arlon masih keturunan naga terakhir dari gen ibu y🤔🤔
paijo londo
🤭🤭🤭wowww elenaa heeeebaaaat💪💪💪 taktik mu sungguh tak terkalahkan
paijo londo
masih bertanya-tanya itu raja alaric membela pangeran arlon atau ratu Selena masih abu2 🤔🤔
paijo londo
mampir thor wowwkombinasi pasangan yg sungguh unik mungkin elena punya mana yg sama dengan pangeran arlon yg satu mempunyai ledakan mana yg satu bisa menghisap mana hebaat
Maghfiroh08: terimakasih kak, stay tuned ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!