"Saya penasaran, Berapa lama lagi tuan akan mencintai saya."
Cerita ini berlatar belakang era kolonial di Hindia Belanda, mengisahkan Santi, seorang gadis pribumi muda yang awalnya bekerja sebagai buruh tembakau. Kini beralih menjadi seorang baboe (pembantu rumah tangga) di rumah seorang Belanda.
Semua berawal dari sebuah pertemuan tak terduga di dalam gerbong kereta kelas tiga yang padat. Santi, yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari kota Surabaya, tanpa sengaja menolong seorang pria misterius yang tengannya terluka, Tuan Ludwig. Pria itu terus mengeluarkan suara menahan rasa sakitnya , Hingga Santi yang duduk di kursi dekat pria misterius itu memberanikan dirinya menawarkan sapu tangan untuk mengikatkan sapu tangan miliknya ke luka pria misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PEACHESEEU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 23
“Entahlah mbak aneh aja menurut Dinda, Terus Dinda dengar kemarin mas Dani juga pergi ke Surabaya. Mbak Santi sempet ketemu sama mas Dani ga??”
“....”
Gerakan tangan Santi terhenti seketika. Nama itu seolah membawa kembali sisa-sisa ketegangan yang ia rasakan kemarin. Ia terdiam beberapa detik, menatap tumpukan kayu di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Jarinya yang kasar karena kayu bakar sedikit bergetar, namun ia segera menguasai dirinya kembali. Ia tidak ingin adiknya, Dinda, mencium aroma masalah yang ia hadapi kemarin dalam pencarian obat yang berujung tak ada hasil, terutama jika nantinya membuat Dinda dan ibunya merasa terbeban jika tahu ia bertemu dengan Dani dalam kondisi menangis di tengah kota yang besar.
Santi meletakkan kayu terakhir ke atas tumpukan dengan suara duk yang cukup keras, seolah sedang mengunci rapat-rapat topik tentang pria itu.
“Entahlah mbak juga enggak tahu, mbak Santi kan disana byar kerja. Bukan buat jalan jalan di kota,”
“Tapikan Dinda cuma nanya, Siapa tahu mbak ketemukan kemarin.”
"Sudahlah, tidak perlu bahas Dani pagi-pagi begini. Kamu masih kecil, Dari mana kamu dapat gosip itu sih." ujar Santi tanpa menoleh, suaranya terdengar tegas namun tidak membentak. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu berbalik menatap adiknya yang masih berjongkok.
"Lebih baik kita bahas yang lebih penting.”
“Hal penting apa mbak,”
“Din," panggilku pelan. "Besok kita ke pasar, ya? Kita beli baju seragam dan alat tulis yang baru. Kamu harus sekolah lagi. kamu masih maukan untuk melanjutkan sekolahmu?"
“....”
Dinda tampak sedikit terkejut dengan perubahan topik yang mendadak itu. Ia hanya tertegun, masih memegang ranting kayu di tangannya. Santi langsung meletakkan kayu di tangannya, dan ia berjongkok di depan sang adik. Dengan sentuhan lembutnya ia mengelus kepalanya.
“Mbak Santi serius?? Tapikan sekolahkan mahal. Memangnya mbak punya uang, ini kan belum waktunya mbak dapat upah.”
"Serius, Mbak tidak mau kamu berhenti bersekolah," lanjut Santi dengan nada yang lebih lembut namun penuh penekanan. "Ibu memang sedang sakit, tapi urusan biaya sekolah dan biaya rumah sekarang jadi urusan mbak. Kamu punya otak yang encer, Din. Kamu juga pintar, maaf ya sekolahmu terputus karena mbak Santi ga punya uang, Tapi sekarang mbak sudah punya uang.”
Santi mendekat, di matanya tersimpan sebuah harapan besar agar Dinda tidak berakhir seperti dirinya yang harus berurusan dengan kerasnya hidup dan orang-orang berbahaya seperti yang ia temui kemarin.
"Janji pada Kakak, kamu akan fokus belajar. Apapun yang terjadi di luar sana, atau siapapun yang datang mencari Kakak, jangan biarkan itu mengganggu pikiranmu. Masa depanmu jauh lebih berharga daripada urusan Dani atau kayu bakar ini."
Dinda menunduk, meresapi perkataan kakaknya. Ia tahu kakaknya sedang menyembunyikan sesuatu, namun ia juga tahu betapa keras kepalanya Santi jika sudah menyangkut masa depannya.
..._ _ _...
Pelabuhan Tanjung Perak tampak lebih gerah dari biasanya. Uap air laut yang asin bercampur dengan bau karat dan keringat ribuan buruh yang memeras tenaga di bawah terik matahari. Namun, di antara hiruk-pikuk bongkar muat, ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada para kuli panggul pribumi. Di sudut dermaga, seorang buruh paruh baya menurunkan karung goni besar dengan tangan gemetar. Ia segera menggaruk tangannya yang kemerahan dengan kasar. Rasa gatal itu bukan lagi sekadar gigitan serangga, kulitnya tampak meradang, dan di beberapa bagian, muncul bintik-bintik bernanah yang jika pecah meninggalkan luka kecil yang terlihat seperti berlubang hingga ke jaringan dalam.
“Ah, Sudah beberapa hari ini gatal sekali.”
"Eh, lihat tanganmu," bisik temannya yang sedang beristirahat sejenak. "Punyamu juga sama? Aku pikir ini hanya karena air laut yang kotor."
"Mungkin hanya kutu kayu dari peti-peti itu," sahut yang lain sambil meringis saat luka di bahunya tergesek tali tambang. Mereka hanya menganggapnya penyakit kulit biasa akibat kebersihan yang buruk, tanpa menyadari bahwa luka-luka kecil itu mulai menyebar ke hampir seluruh pekerja di dermaga tersebut.
Di tengah penderitaan yang mulai merayap itu, suara cambuk yang dilecutkan ke udara memecah suasana. Seorang pengawas Belanda dengan seragam putih yang kaku dan topi pith helmet berdiri tegak di atas anjungan kecil. Wajahnya memerah karena panas, namun matanya tetap dingin memandang para pekerja.
"He, kalian! Kerja! Jangan malas!" teriaknya dalam bahasa Indonesia yang kasar dan patah-patah.
Ia melangkah turun dengan sepatu bot yang mengkilap, mendekati kerumunan buruh yang sempat melambat. Tanpa peduli melihat tangan-tangan mereka yang bernanah dan berlubang, ia menghantamkan tongkat kayunya ke pundak seorang kuli yang sedang meringis menahan sakit.
"Tuan... tangan dan kaki saya sakit, gatal sekali," rintih kuli itu sambil menunjukkan luka yang mulai mengeluarkan cairan bening.
“Ihhh, Menjijikkan sekali!!”
Si pengawas Belanda itu justru mundur selangkah, wajahnya menunjukkan rasa jijik yang luar biasa, namun bukan karena simpati. "Aku tidak peduli! Kapal ini harus berangkat sebelum pasang. Angkut peti-peti itu sekarang atau kau tidak akan diberi upah sepeserpun hari ini!"
..._ _...
Sudah beberapa hari Santi berada di kampung halamannya, sebuah jeda yang ia butuhkan untuk sedikit memikirkan tentang dirinya sendiri. Namun, suasana pasar pagi itu tidak sedamai biasanya. Ia tampak Belanda beberapa bahan makanan di keranjang anyamannya, Wajahnya tampak lebih segar dari sebelumnya. ‘Dinda sudah mulai masuk sekolah dan ibu perlahan pulih, Aku harus memasakkan mereka sesuatu yang enak untuk malam ini. Aku sudah beli beras, sekarang aku harus beli ayam!!’
“Mbok, Saya mau 1 ekor ayam ya.”
“2 Gulden nduk, Sebentar saya bungkusan.”
‘Tidak terlalu mahal, Ini cukup untuk 2 hari. Toh tidak sering sering juga Dinda bisa makan ayam,' Batinnya, Santi menganggukan kepalanya, Dan merogoh dompet kain miliknya di keranjang. “Ibu mbok uangnya,”
Di sela-sela riuh rendah tawar-menawar harga sayur dan aroma rempah yang menyengat, Santi merasakan sebuah kehadiran yang tak asing. Ia segera memasukkan ayam itu ke dalam keranjangnya, saat matanya menangkap sosok pria yang berdiri di dekat pilar kayu pasar. “Itu Dani.”
“Apa yang dilakukannya di pasar?? Dia sudah pulang dari Surabaya ternyata,” Gumam Santi, ‘Aku harus menemuinya, Aku sudah selesai juga belanjanya.’ Santi berjalan pelan, tangannya menjinjing keranjang anyaman berisi beberapa ikat sayur dan keperluan dapur. Ia segera berjalan lebih cepat, Sembari memperhatikan sekitarnya yang begitu ramai. Santi menepuk pundak Dani.
"Dani?" sapa Santi ragu, namun bibirnya segera membentuk senyum. “Kapan kamu pulang dari Surabaya??”
Pria itu mendongak, matanya membelalak kaget. Ia menghentikan langkahnya seketika, seolah baru saja melihat hantu di tengah hari bolong. "Santi? Kamu... bagaimana bisa ada di sini?" tanya Dani dengan suara yang sedikit bergetar karena terkejut.
Santi terkekeh kecil melihat ekspresi sahabat lamanya itu. "Harusnya aku yang bertanya, kapan kamu pulang dari Surabaya?”
“Ah, Aku pulang tadi malam,” Dani mengusap tengkuknya, tampak masih berusaha mencerna kehadiran Santi. "Urusanku sudah selesai di disana, Jadi aku kembali lagi untuk bekerja di perkebunan. Bukankah aku yang seharusnya bertanya padamu, Kenapa kamu ada di kampung ini sekarang. Bukannya kamu bekerja,”
“Ah, Tuan mengizinkan aku untuk pulang ke rumah.”
“Mengizinkan untuk pulang??” Aku tertegun, berkas di tanganku sejenak tertahan di udara. Kata-kata Santi yang baru saja meluncur dari bibirnya terasa seperti bunyi lonceng yang sumbang. tidak pas dan tidak selaras dengan dunia yang ditinggalinya. "Pulang? Tuanmu benar-benar mengijinkan kamu pulang ke kampung?" tanyaku sekali lagi, memastikan telingaku tidak sedang dikhianati oleh desir angin ini.
“Iya, Tuanku sedang pergi ke Semarang untuk pekerjaannya. Jadi di kediaman tidak ada siapapun, Jadi aku disuruh untuk pulang saja ke rumah.” Santi mengangguk kecil, ada binar lega di matanya yang lugu.
“Oh, Ternyata begitu ya.” Ucap Dani dengan nada yang pelan. Namun, di kepalaku, lonceng peringatan mulai berdentang. Ini tidak masuk akal. Santi baru bekerja sebagai baboe di sana, belum genap juga satu bulan. Dalam dunia ini, sebulan itu bahkan belum cukup untuk menghafal semua selera tuan besar, apalagi untuk mendapatkan hak istimewa seperti pulang kampung. Dani melirik keranjang belanja Santi yang menggantung di tangannya, alisnya sedikit terangkat sedikit. “Kamu habis dari pasar ya? Belanja sebanyak ini.”
“Iya, Aku belanja dari pasar. Sudah empat hari aku berada di rumah, Tidak ada apapun lagi untuk dimasak.”
“Oh iya, Bagaimana dengan obat ibumu??” Tanya Dani, Sembari ia merogoh tas yang menggantung di bahunya, Tas yang terbuat dari goni. “Aku belum sempat ke rumahmu karena aku baru kembali, Tadinya sebelum berangkat ke perkebunan aku akan ke rumahmu dulu. Tapi tak ku sangka aku bertemu denganmu disini, Ini terimalah pemberianku.”
“Apa ini Dani??”
“ Walau tidak sama persis, Tetapi obat itu memiliki kandungan yang sama seperti yang di butuhkan ibumu. Setidaknya bisa membuatnya sedikit merasa lebih baik,”
“Obat untuk ibuku?” Wajah Santi seketika cerah. Ia menatap bungkusan itu seolah-olah Dani baru saja memberinya sebongkah emas. "Ya tuhan Dani, Terima kasih banyak," seru Santi dengan nada riang yang justru membuat Dani merasa sedikit bersalah. "Tapi sebenarnya, Dan... obat yang kemarin aku cari itu sudah aku dapatkan sekarang. Tuanku juga yang mencarikan obat itu, Kau tahu. Tuan sangat hebat, Dia bisa mendapatkan yang tak bisa aku dapatkan. Dia bisa mendapatkannya dalam sekejap mata, melalui benda yang apa itu namanya. Telepon!!”
Dani tertegun. "Ah, Sudah ada?"
"Iya! Makanya sekarang aku pergi ke pasar untuk belanja, Aku ingin membuat selamatan untuk yang ibu sudah mulai membaik sekarang. Nafasnya sudah tidak seperti sebelumnya, dan ibuku sudah bisa bangun." lanjut Santi dengan binar mata yang jujur. Namun, melihat tangan Dani yang masih menggantung di udara, Santi seolah tak enak hati. Ia tidak ingin menyinggung perasaan pria yang sudah bersusah payah membantunya itu
“....”
.