NovelToon NovelToon
A DEAL WITH COLD PROFESSOR

A DEAL WITH COLD PROFESSOR

Status: tamat
Genre:Dosen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.

Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.

Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.

Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH DUA

Aku menggeliat kecil, berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya, tapi justru genggamannya di pinggangku semakin erat.

“Mas… lepaskan, nanti…” suaraku melemah sendiri, bahkan aku tak yakin apa yang akan kukatakan setelah kata nanti.

Althaf menunduk, begitu dekat hingga aku bisa merasakan hangat napasnya menyapu pipiku. “Nanti kenapa, hmm?” gumamnya pelan, nada suaranya terdengar lebih seperti godaan daripada pertanyaan.

Aku menelan ludah, wajahku semakin panas. “Nanti… bisa… salah paham,” jawabku terbata, mencoba menyelamatkan diri dengan alasan yang bahkan terdengar konyol di telingaku sendiri.

Althaf mengeluarkan tawa pendek, rendah, yang justru membuat bulu kudukku berdiri. “Salah paham?” ia mengangkat alis, matanya menatapku dalam-dalam. “Padahal kamu sendiri yang duduk di pangkuan saya sekarang.”

Aku terperangah. “Tapi mas yang—”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, ia sudah memiringkan wajahnya. Hidungnya hampir menyentuhku, jarak kami hanya sejengkal. Aku bisa merasakan degup jantungnya—atau mungkin itu degup jantungku sendiri yang terlalu keras.

“Kalau kamu terus menatap saya dengan cara itu, Senjani,” bisiknya lirih, “saya tidak yakin bisa menahan diri.”

Aku memejamkan mata, mencoba mengatur napas yang mulai kacau. Tanganku tanpa sadar meremas kemejanya, mencari pegangan agar aku tidak jatuh—atau mungkin agar aku tidak kehilangan kendali.

Di detik itu, dunia seakan berhenti berputar. Hanya ada aku, dia, dan jarak tipis yang siap meledakkan segalanya.

Perlahan-lahan entah siapa yang memulai bibir Althaf bertemu dengan milikku, ciuman itu awalnya perlahan, mirip sebuah usapan namun perlahan-lahan menjadi lebih intens, dan tangan Althaf merayap ke sela-sela rambutku, meremasnya perlahan menimbulkan sensasi yang menyenangkan. Althaf memegang tengkukku dan menariknya lebih dekat dan semakin memperdalam ciumannya. Bibir kami beradu, lidah kami juga beradu dan kini napas kami bersatu bagai nyanyian yang mendayu.

Ketika aku tersadar, badanku sudah rebahan di sofa. Althaf berada di atasku, tangan Althaf kini menyapu tiap jengkal tubuhku, tangannya merayap pelan dan lembut hingga kini usapannya sudah sampai di lenganku, Althaf meremasnya lembut. Sementara lidah dan bibir kami masih beradu kian syahdu.

Tanpa sadar aku mengerang tak tertahan saat kini tangan Althaf sudah menyelinap ke kemeja yang aku kenakan, tangan dinginnya merayap mendikte setiap jengkal kulit tubuhku. Althaf mengusap payudaraku pelan, terlalu perlahan yang tetapi malah membuat perutku seperti terlilit, ada yang tertahan di sana.

“Ahh… mas…” erangku pelan, suara itu lolos begitu saja saat Althaf meninggalkan bibirku. Kecupannya bergerak turun, menyapu pipiku, lalu menelusuri leherku, meninggalkan sensasi panas di setiap inci kulit yang disentuhnya. Aku menggigil, tubuhku bergetar ketika bibirnya berhenti di belakang telingaku, menghembuskan napas hangat yang membuatku nyaris kehilangan kendali.

Desahan tak tertahan lolos dari bibirku. Dadaku naik-turun, hatiku berdegup tak karuan.

Tiba-tiba, Althaf menghentikan kecupannya. Ia menjauh hanya sedikit, cukup untuk menatap wajahku. Tatapan matanya berkunang, tajam, dan dalam. Ada sesuatu di sana—campuran hasrat, kuasa, dan rasa ingin tahu—yang membuatku semakin terperangkap.

“Do you like it?” tanyanya dengan suara rendah, serak, begitu dekat hingga napasnya masih terasa di kulitku.

Aku tercekat. Kata-katanya menggema di telingaku, menyalakan api yang entah harus ku padamkan atau kubiarkan berkobar.

Althaf masih menatapku dengan sorot mata yang bergetar antara amarah, hasrat, dan kepemilikan. Nafasnya panas menyapu wajahku, membuatku terperangkap tanpa ruang untuk menghindar.

Tangannya kembali merengkuh pinggangku, menarik tubuhku lebih dalam ke dekapannya. Aku bisa merasakan degup jantungnya berdetak cepat, beradu dengan detakku sendiri yang tak kalah liar.

“Mas…” bisikku lirih, entah ingin memprotes, entah ingin menyerah.

Suara rendahnya langsung memotong. “Jangan lagi pura-pura menolak, Senjani. Tubuhmu sendiri sudah lebih jujur dari kata-katamu.”

Ucapannya membuat wajahku memanas, tetapi tubuhku memang bereaksi di luar kendali. Jemari kokohnya meremas payudaraku, lalu tangan yang lain merayap berhenti di tengkuk, menahanku tetap dekat dengannya. Bibirnya kembali mencari bibirku, kali ini lebih dalam, lebih mendesak, seolah ingin menegaskan bahwa aku miliknya—sepenuhnya.

Aku tak bisa lagi berpikir jernih. Semua logika tercerabut, berganti dengan gelombang hangat yang menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubun.

Ciuman itu makin dalam, makin membara. Dunia di sekelilingku seakan lenyap, hanya ada aku dan dia, hanya ada rasa yang tak tertahan.

Tangannya menggenggamku erat, seolah takut aku akan pergi. Sementara aku, meski hatiku masih diliputi resah, tubuhku sudah lebih dulu menyerah pada keintiman yang ia tawarkan.

Dalam dekapan itu, aku tahu—malam ini, tak ada lagi jarak yang mampu memisahkan kami.

Tangan Althaf yang kokoh kini tak lagi hanya berhenti di pahaku. Ia menatapku, sorot matanya dalam, pekat, seolah ingin menelan habis seluruh keberadaanku.

“Mas…” suaraku tercekat, lirih, entah terdengar jelas atau tidak.

Althaf menunduk, menempelkan keningnya di keningku. Hembusan napasnya hangat, menggelitik wajahku. “Kamu sadar, kan… apa yang kamu minta dari saya malam ini?” bisiknya rendah, nyaris seperti godaan.

Aku menggigit bibirku, gemetar menahan perasaan yang campur aduk antara malu, takut, dan… hasrat. “Aku… aku cuma… ingin mas.”

Seulas senyum miring terbentuk di wajahnya. Tangannya mencengkeram pinggangku lebih erat, menarikku makin menempel ke tubuhnya. “Kamu benar-benar bikin saya gila, Senjani…”

Aku menutup mata, merasakan bibirnya kembali merebut bibirku dengan ciuman yang lebih dalam, lebih menuntut. Tanganku, entah sejak kapan, sudah melingkari lehernya, menyerah pada setiap desakan yang ia berikan.

Saat jemarinya kembali menyusuri pahaku, naik perlahan ke sisi pinggul, tubuhku bereaksi tanpa bisa kucegah. Panas, bergetar, seolah seluruh darahku mengalir lebih cepat dari biasanya.

Dan malam itu, aku tahu aku tak lagi bisa melawan. Aku ingin dia—sepenuhnya.

***

Pagi itu aku terbangun dengan tubuh terasa berat, seakan masih terikat oleh bayang-bayang malam tadi. Cahaya mentari menyusup lewat tirai tipis, jatuh tepat di wajahku. Hangat, tapi tak mampu menandingi panas yang masih tersisa di kulitku.

Aku baru sadar, ada lengan kokoh yang melingkupi pinggangku erat, seolah tak ingin melepaskan. Napasnya hangat membelai kulitku, kepalanya bersandar tenang di pundakku. Aroma maskulin khas Althaf masih begitu lekat, membuat jantungku berdebar lagi.

Pelan, aku menurunkan pandangan ke arah selimut abu-abu tebal yang menutupi tubuh kami. Hanya itu yang memisahkan kami dari udara pagi. Tubuhku merinding saat menyadari kenyataan: kami berdua polos, tanpa sehelai benang pun.

Pipiku memanas. Ingatan tentang malam tadi menyeruak begitu jelas. Sentuhan tangannya, ciuman yang meluluhlantakkan kewarasanku, desahanku yang tak mampu kubendung, dan tatapan matanya yang membuatku luluh tak berdaya. Malam itu… kami menyerah sepenuhnya pada satu sama lain. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali—seakan kami tak pernah cukup.

Aku perlahan bangkit dari tempat tidur, berusaha melepaskan diri dari dekapan Althaf yang masih terlelap. Selimut tebal itu melorot hingga sebatas pinggangku, membuat udara pagi yang sejuk menyapu kulitku. Dengan hati-hati aku menunduk, meraih kemeja abu-abu miliknya yang tergeletak berantakan di lantai—bekas semalam.

Kupakai kemeja itu begitu saja, lengan panjangnya menjuntai menutupi telapak tanganku, sementara potongannya yang kebesaran jatuh longgar hingga menyapu pahaku. Rambutku kusut berantakan, jadi kugulung seadanya ke atas, membiarkannya bertumpu di kepala tanpa cermin ataupun rapi.

Dengan langkah pelan agar tak membangunkannya, aku keluar kamar menuju dapur. Aroma apartemen mewah itu begitu khas—dingin, maskulin, penuh kebisuan—namun perutku tak peduli. Perut kampungku, yang sudah terbiasa sarapan nasi atau makanan berat sejak kecil, kini keroncongan minta diisi. Suara perutku nyaris seperti protes kecil yang memalukan, seolah menegaskan bahwa kopi hitam dan roti panggang bukanlah menu pagiku.

Di dapur yang luas dan modern dengan dominasi marmer abu-abu itu, aku berdiri sejenak, termenung. Kulkas tinggi mengkilap berdiri megah di sudut, sementara kitchen set tertata rapi tanpa cela. Semua terlihat terlalu sempurna, terlalu mahal… terlalu “Althaf.” Dan di tengah kemewahan itu, aku hanya seorang perempuan yang lapar, mencari sesuatu untuk sekadar mengganjal perut.

Aku membuka kulkas perlahan, berharap menemukan sesuatu yang bisa kuolah. Pandanganku langsung disambut barisan bahan makanan yang tertata rapi—sayuran segar di rak bawah, daging impor beku di laci, hingga telur-telur cokelat besar berjajar dalam wadah kaca. Rasanya seperti membuka kulkas milik restoran bintang lima, bukan milik seseorang yang katanya jarang pulang.

“Lumayan…” gumamku sambil meraih beberapa butir telur, segenggam cabai rawit, bawang merah, dan sebatang daun bawang. Tanganku juga mengambil wadah berisi nasi sisa semalam—sedikit kering, tapi justru sempurna untuk dijadikan nasi goreng.

Aku menyalakan kompor, suara klik kecil disusul api biru yang menyala stabil. Minyak panas di wajan langsung mengeluarkan bunyi khas saat bawang merah dan bawang putih cincang kuletakkan di atasnya. Aroma harum gurih dan pedas segera memenuhi dapur dingin bernuansa marmer itu, membuat perutku makin berontak.

“Hmm… ini baru sarapan,” gumamku kecil sambil menambahkan cabai rawit yang langsung memercikkan rasa pedas ke udara.

Kukocok telur cepat, lalu menuangkannya ke wajan, mengaduk hingga tercampur rata dengan bumbu tumis. Setelah itu, nasi putih kususul masuk. Dengan spatula kayu, aku menekan dan mengaduknya hingga nasi tercampur rata dengan telur dan bumbu. Sedikit kecap asin, taburan garam, lalu potongan daun bawang segar menambah warna hijau yang menyejukkan di tengah paduan cokelat keemasan nasi.

Aroma nasi goreng kampung itu kini mendominasi ruangan—sederhana, pedas, menggugah selera. Tak butuh lama, aku menatanya di atas piring putih besar, menambahkan telur mata sapi di atasnya.

Sambil menyalakan mesin kopi, aroma biji kopi premium berpadu dengan harum nasi goreng pedas kampung. Perpaduan yang aneh, pikirku sambil tersenyum miris, tapi justru itulah yang membuat apartemen mewah ini terasa sedikit lebih seperti rumah.

Aroma gurih nasi goreng yang baru saja kuaduk perlahan memenuhi udara, berpadu dengan wangi bawang putih dan cabai yang baru saja karam di minyak panas. Aku meniup pelan uap panas yang keluar dari wajan, sambil menambahkan kecap manis dan sedikit garam. Perutku makin keroncongan, tapi justru ada rasa hangat aneh yang merambat di dadaku—seperti sedang memasak di rumah sendiri.

Suara langkah berat terdengar dari arah kamar. Aku spontan menoleh. Dari lorong, tampak Althaf berjalan perlahan, masih dengan rambut acak-acakan, kaus tipis abu-abu yang sedikit kusut menempel di tubuh tegapnya, dan mata yang masih setengah sayup.

Ia berhenti di ambang dapur, mengusap wajahnya sambil mengerjap pelan.

“saya kira saya mimpi…” gumamnya serak, suaranya berat dan rendah karena baru bangun.

Tatapannya jatuh pada wajan di tanganku, lalu beralih ke meja makan yang sudah siap dengan piring kosong dan cangkir kopi yang masih mengepul.

Aku terkesiap, buru-buru meraih spatula dengan dua tangan seolah butuh pegangan. “M-maaf, mas… saya cuma lapar. Jadi… saya coba masak seadanya.”

Sudut bibirnya terangkat samar, matanya menyipit menahan kantuk sekaligus rasa heran. Ia menarik kursi, duduk santai sambil menatapku tanpa berkedip.

“Jadi, ini yang bikin saya terbangun? Wangi nasi goreng kampung?” ujarnya, kali ini disertai nada menggoda.

Pipiku memanas, tapi aku tetap berusaha fokus mengaduk nasi di wajan. “Kalau mas nggak suka, nanti saya—”

“Jangan berani-berani menghentikan itu,” potongnya cepat, senyum tipisnya makin jelas. “Sudah lama saya nggak bangun dengan aroma masakan rumah. Rasanya… beda.”

Tanganku refleks berhenti mengaduk. Dadaku bergetar aneh mendengar kalimat sederhana itu keluar dari bibirnya.

Aku mematikan kompor setelah nasi goreng kampungku selesai. Aromanya memenuhi seisi dapur, membuat ruangan marmer dingin ini terasa lebih hidup. Aku menuangkannya ke dalam piring besar, menaruh telur mata sapi di atasnya, lalu membawa piring itu ke meja makan.

Althaf masih duduk di kursinya, menatapku lekat seakan aku adalah sesuatu yang baru saja tak sengaja ia temukan—dan sulit dilepaskan. Rambutnya masih berantakan, kaus tipis abu-abunya menempel di dadanya yang bidang, dan kacamata baca yang entah sejak kapan ia kenakan membuatnya terlihat semakin matang, semakin berbahaya.

“Silakan, mas,” ucapku lirih, meletakkan piring di depannya.

Ia mengangkat alis, lalu menunduk menatap nasi goreng itu. “Nasi goreng kampung? Hmm… menarik. Saya nggak nyangka kamu bisa masak.”

Aku duduk di seberangnya, jari-jariku saling mengunci di atas meja. “Saya… terbiasa, mas. Di rumah, saya sering masak sendiri. Lidah saya juga nggak biasa sarapan roti atau salad.”

Althaf mengambil sendok, lalu menyendokkan nasi goreng itu tanpa banyak basa-basi. Suapan pertama langsung membuatnya terdiam sejenak, matanya menutup sebentar seakan sedang mencerna rasanya. Saat menatapku lagi, ada sesuatu yang berbeda di sorotnya—lebih hangat, lebih manusiawi.

“Rasanya… persis seperti yang dimasak ibu dulu.”

Aku tertegun. Ada getar tipis di dadaku mendengar kalimat itu. Suara seraknya terdengar tulus, nyaris rapuh.

“Benarkah?” tanyaku hati-hati.

Althaf hanya mengangguk kecil, lalu menyendok lagi, kali ini lebih lahap. “Enak. Sangat enak.”

Aku tersenyum tipis, menunduk malu. “Syukurlah… saya kira mas nggak suka makanan sederhana begini.”

Dia meletakkan sendoknya sejenak, lalu mencondongkan tubuh, menatapku intens. “Senjani…” suaranya rendah, nyaris berbisik. “Yang sederhana justru sering bikin saya ingat… apa artinya pulang.”

Aku tercekat. Ada keheningan singkat di antara kami, hanya diisi bunyi sendok beradu dengan piring. Tapi keheningan itu bukanlah kekosongan—melainkan sesuatu yang padat, penuh dengan perasaan yang tak terucap.

“Kalau begitu…” aku mencoba memecah sunyi, meski suaraku bergetar, “saya bisa masakkan lagi untuk mas. Kalau… mas mau.”

Senyum tipis muncul di wajahnya. Kali ini, bukan senyum dingin atau senyum penuh misteri yang biasa kutemui, melainkan senyum yang entah kenapa membuat dadaku hangat.

“Hati-hati dengan janji itu, Senjani. Saya orangnya bisa sangat… menuntut.”

Pipiku memerah seketika.

Suasana meja makan hanya dipenuhi bunyi sendok beradu dengan piring. Aku menunduk, sibuk dengan nasi goreng di depanku, sementara Althaf makan tanpa suara, tanpa ekspresi.

Tiba-tiba, suara dentingan logam terdengar. Sebuah kunci mobil berlogo mewah diletakkan tepat di depan piringku.

Aku mendongak kaget. “Mas… ini apa?”

“Mulai sekarang kamu pakai mobil ke kampus.” Nada suaranya datar, dingin. “Jangan pernah lagi pakai motor tua itu.”

Aku terdiam sejenak, lalu mencoba memberanikan diri. “Mobil? Mas… saya nggak bisa nyetir. Lagi pula, saya nggak pernah membayangkan menyetir mobil.”

Althaf berhenti mengunyah. Tatapannya menancap padaku, hitam pekat dan tanpa ampun. “Kamu tahu saya tidak suka dibantah, Senjani. Saya sudah bilang: kamu pakai mobil. Titik.”

Aku menggenggam ujung kemeja yang kukenakan, hatiku berdebar. “Tapi mas… ini terlalu mahal. Saya nggak terbiasa—”

Ia langsung memotong ucapanku. “Saya tidak peduli kamu terbiasa atau tidak. Yang jelas, kamu tidak akan naik motor lagi.” Nada suaranya dingin, tapi ada tekanan yang membuatku tercekat.

Aku mencoba mencari celah. “Tapi mas…”

Althaf bersandar ke kursinya, menyilangkan tangan di dada. Rahangnya mengeras. “Jangan ulangi kata ‘tapi’. Saya sudah memutuskan. Hari ini Raihan akan menemui kamu. Dia akan mencarikan guru mengemudi. Jadi hentikan dramamu.”

Aku menatap kunci mobil itu, jemariku gemetar, bibirku ingin berkata lagi, tapi tatapan matanya seolah menutup semua kemungkinan. Dingin. Tegas. Tak terbantahkan.

Ia kembali menunduk, melanjutkan sarapannya seolah tak ada yang terjadi, meninggalkanku dengan perasaan asing: antara terkekang… dan diam-diam merasa terlindungi.

Aku masih terpaku menatap kunci mobil itu. Logam berkilatnya seolah menusuk mataku, membuat perasaan campur aduk di dadaku. Aku ingin menolak, ingin mengatakan kalau aku tak layak menerima semua ini. Tapi… aku tahu siapa yang duduk di depanku.

Althaf meneguk kopi hitamnya perlahan, gerakannya tenang tapi dingin. “Kamu diam saja kenapa? Apa harus saya ulang dua kali?”

Aku tersentak, buru-buru menggeleng. “B-bukan begitu, mas… saya hanya… takut nggak bisa makainya. Saya nggak pernah—”

“Dan kamu pikir saya peduli soal itu?” Nada suaranya rendah, tapi tajam. Tatapannya membuat nafasku tercekat. “Kalau saya mau kamu bisa, maka kamu harus bisa. Raihan akan urus semuanya. Kamu cukup menurut.”

Hatiku terasa diremas. Aku menggigit bibir, berusaha menahan air mata yang hampir tumpah. “Mas… saya cuma takut—”

Althaf meletakkan cangkirnya dengan bunyi tuk yang terdengar tegas. “Cukup, Senjani.” Suaranya dingin, datar, tapi menusuk. “Kamu istri saya. Tugas saya memastikan kamu aman, nyaman, dan tidak kekurangan apa pun. Kalau menurut kamu itu ‘mahal’, itu urusan saya. Bukan kamu.”

Aku terdiam. Rasanya tubuhku semakin mengecil di kursi makan yang mewah ini. Kunci mobil di depanku tampak begitu asing, seakan bukan untukku.

Althaf mencondongkan tubuhnya sedikit, matanya menatapku lurus. “Mulai hari ini, saya tidak mau lihat kamu naik motor lagi. Kalau sampai saya tahu kamu melanggar…” ia berhenti sejenak, bibirnya menyungging senyum tipis yang dingin, “…jangan salahkan saya kalau kamu harus terima konsekuensinya.”

Aku tercekat, tak sanggup menatap balik. Suara detak jantungku lebih keras dari apa pun.

Tanpa menunggu jawabanku, Althaf berdiri. Ia merapikan lengan kemejanya, lalu melirikku sebentar. “Selesaikan sarapanmu. Setelah itu, bersiap. Raihan akan datang siang ini.”

Aku hanya bisa mengangguk pelan, bibirku kelu. Saat punggungnya menghilang di balik lorong menuju kamar, aku merasa tubuhku benar-benar kaku.

Kunci mobil itu masih tergeletak di depan piringku—sebuah simbol kekuasaan Althaf, dan betapa kecilnya aku di hadapan pria itu

1
🤧
lovyu.. ❤️
🤧
tidak ada pelakor disini.. 🌚
🤧
lagi 🌚
🤧
jangan ada konflik lagi 🥺
🤧
jangan ada konflik lagi ya 🥺
🤧
apdet banyak2 🦖
🤧
semoga ga ada perselingkuhan
🤧: kalo ada.. aku cabut 😑
total 1 replies
Mochimo
Lanjutttt kakkk, makin seruuu..
Ria Ismail
Nextttt kak
Ria Ismail
Wawww menikah juga akhirnya
Ria Ismail
Sepertinya seruu
Roxy-chan gacha club uwu
Thor, aku hampir kehabisan kesabaran nih, kapan update lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!