"Aku tampan dan memiliki banyak harta. Semua wanita akan sangat tertarik pada pria seperti ku. Sebaiknya kamu jangan terlalu curiga dan mengekang ku Adara. Cukup jadi wanita penurut dan tak banyak menuntut!" Ucap Arkan dengan penuh kesombongan. Ia yang tak terima dengan pertanyaan dari sang istri yang meminta kejelasan hubungannya bersama sang sekretaris sekaligus sepupu yang dulu merupakan mantan kekasihnya,mencoba berdalih agar wanita itu diam dan tak lagi bertanya. Namun satu hal yang tak ia sadari,bahwa perkataan nya itu justru menjadi sebuah motivasi bagi Adara untuk kembali bangkit menjadi wanita yang cerdas serta kembali terjun ke dunia bisnis. Adara diam-diam menyusun rencana untuk membalas dendam pada Arkan sang suami yang selama ini selalu mempermainkannya.
Karya ini sangat menarik,bagi readers yang menginginkan hiburan yang tak membosankan,silahkan simak cerita ini hingga selesai. Terima kasih and happy reading 🤗🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinly Secret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Penguntit
"Mas,gimana kalau bajunya diganti yang lain saja ? Biar terlihat lebih fresh." Saran Kelly di saat akan berangkat.
"Boleh. Tapi baju aku kotor semua key. Belum sempat di cuci." Keluh Arkan semakin tak bersemangat. Ia sebenarnya menyadari bahwa memang dirinya saat ini terlihat sangat kusut. Semenjak hubungannya semakin renggang bersama Adara,ia tak pernah lagi terlihat rapi. Ada sedikit penyesalan di dalam hati. Namun kebencian nya begitu besar ketika mengetahui sang ayah di bunuh oleh istrinya.
"Nanti kita beli saja yang baru. Bagaimana ? Biar aku yang belikan. Lagipula selama ini Mas yang sering mentraktir. Kali ini biar ku balas." Ucap Kelly sambil tersenyum manis. Hari ini ia sudah bertekad untuk menyenangkan Arkan.
"Baiklah. Aku setuju." jawab Arkan dan keduanya pun berangkat setelah berpamitan pada Ratih yang saat itu terlihat sedang sibuk dengan handponenya di ruang keluarga.
...****************...
Di suatu tempat,Adara sedang makan di sebuah restoran. Hari Minggu seperti ini ia gunakan untuk memanjakan diri. Mulai dari melakukan perawatan hingga berbelanja pakaian di mall. Setelah puas dan merasa lelah,ia memutuskan mengisi perutnya di restoran yang memang sedang berada dalam mall.
Sambil menikmati makanan kesukaannya,Adara sibuk berselancar di media sosialnya hingga tak menyadari bahwa ada yang datang mendekati dirinya.
"Nona Adara,apakah kami boleh bergabung bersama ?" Sapa suara seorang pria yang tak begitu asing ditelinga Adara. Dengan cepat ia pun mengangkat wajah dan terkejut mendapati Devan dan Jordi sedang berdiri menatapnya,menunggu ijin darinya.
"Ah,silahkan." Jawab Adara dengan cepat. Seketika dirinya merasa canggung karena masih belum terbiasa santai bersama dua orang penting tersebut.
"Maaf jika kamu merasa terganggu. Kami hanya ingin bergabung agar nona Adara tak sendirian. Tapi...."
"Ah tidak apa-apa Pak Jordi. Saya sama sekali tak keberatan. Justru saya sangat senang karena ada yang menemani." Jawab Adara dengan cepat. Ia melirik sebentar pada Devan pria cuek tersebut yang merupakan pemilik luxury. Sejak tadi hanya Asistennya Jordi yang terus berbicara.
"Jadi hanya Jordi yang diijinkan ?" Tiba-tiba saja Devan bersuara sehingga Adara tampak terkejut dan serba salah. Padahal niatnya berbicara seperti itu bukan hanya mengijinkan Jordi saja. Karena hanya Jordi yang berbicara sehingga dirinya hanya menyebutkan Jordi.
"Ti ti dak begitu Pak Devan. Maksud saya,Pak Devan dan Pak Jordi silahkan bergabung. Saya sangat senang karena di temani." Ucap Adara memperbaiki kalimatnya agar sang pemilik Luxury tempat dirinya bekerja saat ini tak tersinggung.
"Tidak keberatan,atau ....sebenarnya sangat keberatan ?" Tuduh Devan sambil menaikkan alisnya.
"Astaga.... Kamu ribet sekali." Bisik Jordi tampak kesal. Pria itu pun langsung menginjak kaki sahabatnya. Dalam hati merutuki kebodohan Devan yang menurutnya akan terlihat sangat menyebalkan di mata Adara.
"Sama sekali tak keberatan Pak Devan." Jawab Adara sambil menampilkan senyum manisnya.
"Baiklah Nona Adara. Kalau begitu sebelum kami memesan menu,apakah Nona Adara ingin pesan sesuatu juga ? Biar sekalian saya pesankan." Tawar Jordi,berharap Adara sedikit memiliki keinginan agar mereka tak merasa semakin serba salah karena telah mengganggu ketenangan seorang wanita. Sebenarnya dirinya tak ingin melakukan semua ini. Ia terpaksa melakukannya karena paksaan Devan.
Devan sangat tertarik untuk mendekati Adara setelah mendapatkan hasil dari penyelidikan yang dilakukan oleh Jordi.
"Mmm....Aku sudah sangat kenyang Pak Jordi. Silahkan kalian saja yang pesan. Lagipula makanan ku masih banyak." Tolak Adara dengan sopan.
"Cepatlah Jordi. Aku sudah lapar." Ucap Devan tak sabar. Ia takut Adara menyelesaikan makannya dan segera pergi dari sana.
"Baiklah." Jawab Jordi dan langsung memanggil seorang pelayan untuk membuat pesanan. Tak lupa diam-diam ia memberikan tip agar pesanannya dipercepat.
"Aku ingin ke toilet sebentar ya ? Mumpung makanan nya belum datang." Pamit Jordi. Ia Ingin memberikan ruang pada sang sahabat, dengan berpura-pura ke toilet.
Devan yang tanggap pun tersenyum tipis. Namun tetap saja ia merasa kaku ketika mendekati seorang wanita. Bahkan dirinya bingung harus memulai percakapan dari mana.
Sepeninggalan Jordi,Adara tampak berdua saja bersama Devan. Hal ini tak luput dari dua pasang mata yang kini menatapnya dari jauh. Seorang pria dan wanita yang baru saja selesai berbelanja dan juga ingin makan di restoran tersebut.
"Dasar wanita murahan! Ternyata begini kelakuannya. Pantas saja buru-buru pergi dari rumah dan setuju setelah aku minta cerai." Geram Arkan. Hatinya begitu cemburu saat melihat pria yang sedang duduk bersama Adara terlihat sangat tampan. Bahkan dilihat dari cara berpakaian,tampaknya pria tersebut bukanlah pria sembarangan. Arkan yang biasa bertemu dengan beberapa klien,bisa menebak bahwa barang-barang yang melekat di tubuh pria tersebut adalah barang branded.
"Aku nggak nyangka Mas. Mbak Adara seperti itu. Padahal yang aku kenal Mbak Adara sangat kalem. Ternyata di luar liar...ups.... Maaf Mas. Aku keceplosan." Kelly menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Ia benar-benar sukses membuat Arkan semakin meradang. Pria itu terlihat semakin marah karena termakan dengan perkataan Kelly. Pikirannya kini dipenuhi oleh rasa cemburu yang besar sehingga tak lagi bisa berpikir jernih. Dengan langkah lebar ia pun berjalan ingin menghampiri Adara yang sedang makan.
Untuk beberapa detik,Kelly tersenyum puas menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun otaknya dengan cepat mulai berpikir. Bagaimana jika nanti Arkan justru mengetahui bahwa pria tersebut hanya seorang teman atau bahkan saudara Adara. Apalagi Adara dan pria tersebut tampak duduk profesional. Tak ada kontak fisik yang terlihat. Dengan cepat Adara mencegat Arkan.
"Mas! Tunggu sebentar. Jangan bertindak gegabah. Jangan bikin malu. Ini tempat umum." Sekuat tenaga Kelly berusaha menahan tubuh Arkan yang tak ingin berhenti. Namun mendengar kata malu,membuat Arkan menghentikan langkahnya. Pandangannya masih terus menatap wanita yang kini masih berstatus istrinya meskipun sebentar lagi akan digugat cerai olehnya.
"Tapi key,apa aku harus membiarkan harga diri ku diinjak-injak oleh wanita itu ?" Marah Arkan dengan wajah memerah.
"Sssst ....pelan-pelan Mas bicaranya. Nanti banyak orang yang menonton kita." Ucap Kelly memperingatkan.
Menyadari bahwa apa yang dikatakan Kelly benar,Arkan melihat ke sekelilingnya. Tampak beberapa pasang mata melirik ke arah mereka sambil terus melanjutkan langkah.
"Tentu aku tak akan membiarkan Mbak Adara menginjak harga diri Mas. Lebih baik,setelah ini,kita ikuti dia tinggal di mana. Dan setelahnya kita selidiki siapa pria itu. Bukankah kata Mas Arkan,Mbak Adara sudah pindah dan tak tahu tinggal di mana ?" Jelas Kelly dengan seringai licik yang terlihat samar.
"Ya,kamu benar. Ayok kita bersembunyi sekarang. Jangan sampai Adara menyadari keberadaan kita. Tunggu sampai dia selesai dan kita ikuti dia." Saran Arkan dan langsung menarik tangan Kelly untuk segera bersembunyi.
Tanpa diketahui oleh Arkan,Kelly sebenarnya memiliki maksud sendiri. Wanita itu bukan sedang memikirkan harga dirinya. Namun Kelly memiliki tujuan lain demi kepentingan dirinya. Bukan Arkan yang ingin mengetahui di mana Adara sekarang tinggal. Kelly lah sebenarnya yang menginginkan hal itu. Demi kelancaran aksinya bersama sang ibu.
Akhirnya setelah sekian lama menunggu,Kelly dan Arkan melihat Adara yang kini keluar dari restoran bersama dua orang pria. Ketiganya menuju parkiran. Dan Arkan melihat Adara masuk ke dalam mobil bersama salah seorang pria yang paling tampan. Dan seorangnya lagi masuk dan duduk di kursi kemudi. Apa yang dilihatnya kini semakin membuat seorang Arkan marah. Kebencian perlahan-lahan mulai tumbuh dalam hatinya. Pikirnya,mungkin saja istrinya tersebut sebenarnya telah berselingkuh selama ini. Hanya dirinya saja yang tak menyadarinya.
"Ayok key. Jangan sampai kita kehilangan jejaknya." Kely mengangguk setuju dan mengikuti langkah Arkan untuk masuk ke dalam mobil. Dirinya juga diam-diam merasa iri dengan Adara yang kini diapit oleh dua pria tampan serta menumpangi mobil mewah.
Arkan dan Kelly mengikuti mobil yang ditumpangi Adara sambil menjaga jarak agar tak dicurigai. Namun mereka tak tahu jika hal itu telah diketahui oleh Devan dan Jordi.
"Dev,sepertinya kita sedang diikuti." Lapor Jordi sambil melirik kaca spion.
Adara yang mendengar hal itu langsung panik dan memandang Devan di sampingnya. Namun ia tak melihat mobil yang sedang mengikuti mereka.
"Aku sudah tahu." Jawab Devan dengan tenang. Tak ada sedikitpun rasa panik terpancar dari wajah tampannya.
"Apakah mereka itu sekelompok penjahat yang ingin mencelakai Pak Devan dan Pak Jordi ?" Tanya Adara polos.
"Lebih tepatnya ingin menjahati mu. Siapa lagi kalau bukan suami dan wanita yang saat ini bersama nya. Apakah kamu ingin aku membereskan mereka ?" Tanya Devan sambil menatap wajah Adara yang saat ini langsung berubah marah.
"Dasar bajingan! Biarkan saja Pak. Aku akan hadapi pria brengsek itu." Adara terlihat mengepal tangannya dengan kuat.
"Baiklah. Tampaknya Nona Adara sangat pemberani." Ujar Devan.
"Biarkan saja mereka mengikuti kita Pak Jordi. Aku akan menghadapi mereka."
"Mmm ....baiklah." Jawab Jordi ragu sambil melirik Devan yang hanya diam dan tampak cuek.
Akhirnya setelah lima belas menit perjalanan. Mereka pun tiba di rumah Adara. Wanita itu pun turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Dev,apa kamu yakin membiarkan Adara sendirian menghadapi suaminya yang labil itu ?"Tanya Jordi.
"Tidak. Aku sudah mengirimkan mata-mata untuk hal ini. Berikan bantuan segera jika ia membutuhkan." Ungkap Devan santai.
"Syukurlah. Ternyata kamu cerdas juga." Ucap Jordi sambil mengurut dada. Kini dirinya mulai tenang.
"Cepatlah. Aku ingin istirahat." Titah Devan dengan mode dirinya sebagai atasan. Hari sudah semakin gelap. Dirinya ingin segera beristirahat sambil menunggu laporan dari mata-mata yang sudah ia kirim untuk membantu Adara.
Kok lama tidak up Thoor, jangan berhenti, sayang ceritanya bagus, jika diputus di tengah jalan
mrk tinggal serumah Kan?