NovelToon NovelToon
CASANOVA ARROGANT

CASANOVA ARROGANT

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:56.7k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.

Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.

Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

lebih dari tiga puluh menit berlalu, panel angka di pintu berkedip singkat setiap kali jari Viona menekan tombol, lalu kembali gelap. Tak ada bunyi klik, pintu tetap bergeming, tertutup rapat.

Viona menghela napas dan menyandarkan punggung ke daun pintu. Jemarinya menggantung di udara, ragu untuk mencoba lagi.

"Kalau begini terus, aku bisa terlambat memasak. Tuan Agam pasti akan mengomel lagi," gumamnya pelan.

Viona menurunkan tubuh, berjongkok di depan pintu yang dingin. Ia meraup wajahnya, kali ini bukan lelah karena pekerjaan tapi lelah karena otaknya terus bekerja mencari angka yang sesuai, namun semuanya seakan sia-sia.

Getaran di saku celana membuyarkan lamunan. Viona tersentak, buru-buru meraih ponsel di dalam tas kecilnya, lalu mengangkat panggilan itu. Begitu suara lembut dari sebrang menyapa, bahunya yang tegang perlahan mengendur. Tanpa disadari, lengkung tipis terbit di sudut bibirnya.

***

Agam menuruni tangga dari lantai atas dengan langkah santai. Rambutnya masih sedikit berantakan, ia baru saja bangun. Setelah merasa berhasil memberi pelajaran pada Viona, Agam memang sempat membuka beberapa email sebelum akhirnya terlelap di lantai dua.

Di depan meja makan, langkahnya terhenti. Mata Agam melebar. Lima jenis lauk makan malam tertata rapi di atas meja, masih tampak hangat.

Ia mendekat perlahan. "Bagaimana bisa...?" gumamnya.

Tatapannya menyusuri setiap piring, mencoba mencari jawaban. Sekilas, ia terpikir kemungkinan makanan itu dikirim dari rumah utama. Namun kerutan di dahinya kembali muncul. Passcode pintu sudah ia ganti. Seharusnya, tak seorang pun karyawan rumah utama bisa masuk.

"Makan malam anda sudah siap. Tuan ingin makan sekarang?"

Suara tidak asing itu muncul bersamaan dengan langkah Viona yang keluar dari kamar. Gadis itu berjalan sambil menguncir rambut panjangnya.

Mata Agam melebar saat menatapnya. "Kamu... bagaimana bisa?"

Mengulum senyum, Viona melangkah ke meja makan, meraih botol air mineral, lalu menuangkannya ke dalam gelas dengan gerakan tenang.

"Tentu saja bisa." Ia melirik singkat ke arah Agam, senyumnya makin dalam. "Passcode tuan terlalu mudah ditebak."

Ujung kalimatnya ditahan bersama tawa kecil yang hampir lolos.

Agam mendecih pelan. Kali ini ia benar-benar kecolongan. "Mudah ditebak katanya. Ia bahkan hampir frustasi tadi," monolognya dalam hati.

"Siapa yang memberitahumu?" tanyanya. Ia menarik kursi dan duduk. Aroma masakan yang menguar lembut membuat emosi yang sempat timbul mendadak menguap.

"Ayah atau Bunda?" Agam kembali bertanya, sementara tangannya meraih gelas air mineral yang disodorkan Viona.

"Nyonya Bunda," jawab Viona santai.

"Bunda tidak seharusnya ikut campur," ucap Agam. Sesuai tebakannya. Bunda Alya yang sudah membocorkannya.

Passcode yang ia gunakan memang bukan sembarangan angka dan hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya, bahkan Hyun pun tidak akan bisa membuka pintu itu.

"Tuan juga tidak seharusnya mengganti passcode tiba-tiba." Viona mendengus pelan. "Tuan tahu tidak, jariku ini sampe keriting."

Meski sambil mengomel, tangan Viona tetap cekatan menyajikan nasi beserta lima jenis lauknya di atas piring Agam, lalu mendorong piring itu ke arah pria itu. Viona melirik dengan senyum kecil, namun tertangkap jelas di mata Agam.

Sebelum mengangkat sendok, Agam lebih dulu mengangkat gelas air mineral.

"Jangan lagi meminta bantuan Bunda untuk hal kecil seperti tadi," ucapnya datar.

"Saya tidak memintanya. Nyonya Bunda sendiri yang lebih dulu menghubungi saya," papar Viona.

Belum sempat Agam mencerna jawabannya, air di mulutnya menyembur keluar. Ia terbatuk keras, matanya melebar.

Buru-buru Viona menepuk punggung Agam. Namun gerakannya terlalu santai untuk benar-benar disebut menolong. "Pelan-pelan, Tuan."

Agam menegakkan tubuh, menarik napas dalam-dalam. Tatapannya mengeras, namun sudut bibir Viona justru terangkat lebih tinggi.

"Pergilah! aku ingin makan sendirian," usir Agam.

Viona mengangguk patuh, gadis itu kembali masuk ke kamarnya, meninggalkan Agam dalam kesunyian. Hanya sesekali terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring.

Di dalam kamar, Viona terkikik pelan. Kali ini, ia berhasil menang. Beruntung Bunda Alya menghubunginya di waktu yang tepat, hingga ia bisa dengan mudah membuka pintu setelah mendapat informasi akurat dari wanita berhati lembut itu.

****

Setelah kegagalan Agam menghadapi Viona, Agam justru tampak lebih tenang. Ia tidak lagi memberi tekanan seperti sebelumnya. Pria itu justru menghabiskan waktu untuk mengecek pembangunan pabrik baru alih-alih berada di kantor.

Ketenangan Agam tentu saja membuat Viona bisa bernapas lebih lega. Bahkan di apartemen pun pekerjaan Viona terasa semakin ringan, karena Agam kerap memberinya pesan untuk tidak memasak makan malam karena pria itu memilih untuk bekerja lembur hingga larut malam.

"Kau terlihat lebih ceria," ujar Hyun saat tanpa sengaja bertemu Viona di depan lift.

Viona mengangguk. Senyum tipis masih bertahan di wajahnya. "Tuan Agam bersikap lebih tenang belakangan ini."

Alis Hyun terangkat. "Tenang?"

Viona mengangguk lagi. Kali ini lebih yakin. "Beliau tidak terlalu menekanku," ucapnya santai. "Bahkan jarang pulang ke apartemen."

Jawaban santai Viona malah membuat Hyun melangkah mendekat. Berdiri terlalu dekat di sisi Viona. Suaranya merendah. "Justru itu yang seharusnya kau khawatirkan."

Viona menatap Hyun, jelas tidak mengerti. "Maksud Tuan Hyun?"

Hyun menarik diri sedikit, bahunya terangkat ringan seolah tak ingin memperpanjang.

"Aku hanya mengingatkan. Jangan terlalu percaya pada Agam yang terlihat tenang," ujarnya. "Dia itu..."

Hyun tidak melanjutkan kalimatnya saat pintu lift lebih dulu terbuka. Kata-kata itu tertelan saat sosok yang mereka bicarakan berdiri di dalamnya. Diam dengan ekspresi datar.

Meski lift itu hanya memuat tiga orang, namun udara di dalam terasa sempit. Bahkan bagi Viona dan Hyun, laju lift itu terasa melambat dari biasanya.

"Buatkan makan malam spesial untuk malam ini," ujar Agam, suaranya memecah keheningan.

Alis Hyun sempat berkerut sebelum sudut bibirnya terangkat tipis. Ia menangkap maksud Agam tanpa perlu penjelasan.

Viona mengangguk singkat. "Baik, Tuan," jawabnya pelan, tanpa menambahkan apapun.

Pintu lift terbuka. Viona menghela napas singkat, seakan udara segar baru saja mengalir masuk. Tanpa menunda, ia melangkah cepat keluar, menuju ruangan Bu Siska.

Lift kembali tertutup, menyisakan Agam dan Hyun di dalamnya. Angka lantai bergerak naik dalam diam.

"Kau juga," ucap Agam tanpa menoleh.

Hyun memiringkan kepala. "Apa?"

"Datang tepat waktu ke apartemen ku malam ini. Ada hal penting yang perlu kita bahas."

Rahang Hyun mengeras. Ia menelan ludah, lalu menunjuk dirinya sendiri. "Aku juga?"

Agam tidak menjawab. Ketika pintu lift kembali terbuka, ia melangkah keluar, melewati Hyun begitu saja.

"T-tapi Agam, malam nanti, aku..."

Tidak berniat mendengar kalimat protes, Agam tetap melangkah semakin menjauh.

Sementara Hyun tertinggal di dalam lift, mengusap wajahnya pelan. "Habislah aku."

****

Kira-kira ada apa ya malam nanti 🤔

1
Three Flowers
ciee.. Viona ikutan baper. Memang enak kalo mempunyai seorang pelindung
Three Flowers
dia lagi marah, Viona
Three Flowers
kamu terlambat, Damar
Three Flowers
mulai timbul sifat posesif nya nih
Three Flowers
apakah damar naksir viona?😅
Three Flowers
apa yang terjadi semalam?😅
Three Flowers
jadi sedih, ternyata dibikin nyaman untuk viona seorang diri, bukan bersama Agam
Three Flowers
berarti secara tidak langsung, Agam ingin rumah itu terasa nyaman saat ia mudik ke rumah mertua, ya? ciee...berasa nikah beneran, bukan sekedar kontrak 😍
Three Flowers
takut ada yang ngintip, ya Gam?
Three Flowers
perhatian banget Viona sama Agam😍
Three Flowers
Veronica masih cinta Hyun ya?
Three Flowers
ternyata viona berprestasi ya
Three Flowers
enak banget, duit segitu banyak buat pasangan beracun ini
Three Flowers
kenapa pamannya kejam sekali nyebut vio jalang?😭
Three Flowers
mereka mau kemana sih?
Three Flowers
minta ditampol mulutnya si Agam
Three Flowers
enak saja ngomongnya... nggak ikut mengandung malah mau ambil anaknya
Three Flowers
ish ish... yang dipanggil calon suaminya.. wkwk 😂
Three Flowers
daddy siapa ini maksudnya?
Teteh Lia: Daddy Rayyan, ayah angkat Agam. mantan suami bunda alya
total 1 replies
Three Flowers
jangan main jodoh2an saja, bu... Agam udah mau nikah sama cewek lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!