NovelToon NovelToon
PUSAKA TAMBUN TULANG

PUSAKA TAMBUN TULANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:39.2k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Pusaka Tambun Tulang: Bangkitnya Pendekar Terbuang
Arya Wiguna, seorang yatim piatu yang difitnah mencuri Kitab Pusaka Jurus Pedang Penggetar Langit, diusir dari padepokan oleh pamannya sendiri, Bujang Larang. Dibuang ke Bukit Tambun Tulang yang menyeramkan, Arya diselamatkan oleh Panglima Hijau, seorang pertapa sakti. Di sana, Arya ditempa untuk menguasai Pedang Pusaka Tambun Tulang yang memberinya kekuatan kebal dan tenaga dahsyat, menjadikannya pendekar tak terkalahkan.
Kembali untuk membalas dendam, Arya harus menghadapi Bujang Larang yang kini bersekutu dengan komplotan bandit Bajing Bukit Tiga Puluh. Di tengah perjuangannya, ia bertemu dan jatuh cinta pada Anggun Sari, pendekar cantik dari Bukit Sanggar Puyuh, yang menjadi sekutu setia dan kekasihnya. Namun, pesona Arya menarik banyak gadis lain, memicu intrik romansa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Strategi, Cemburu, dan Kedatangan Tangan Maut

Halaman Perguruan Mawar Putih kini diselimuti ketenangan, namun di baliknya tersimpan kelegaan yang mendalam.

Orang-orang bertopeng emas telah diikat dan dikumpulkan di sebuah sudut, Arya Wiguna berdiri di tengah-tengah pujian dan tatapan kekaguman dari murid-murid Perguruan Mawar Putih, terutama para gadis.

Nyi Delima, meskipun tubuhnya masih lemah, telah mendapatkan kembali semangatnya.

"Nak Arya," ucap Nyi Delima, suaranya dipenuhi rasa syukur yang tulus. "Kau telah menyelamatkan kami. Perguruan Mawar Putih berhutang budi padamu."

Arya tersenyum tipis, "Sudah tugasku, Nenek Guru. Aku datang untuk membantu. Sekarang, mari kita bicarakan rencana selanjutnya. Kita harus melacak sarang mereka dan menyelamatkan gadis-gadis yang diculik."

Nyi Delima mengangguk, namun raut wajahnya kembali muram.

"Ini tidak akan mudah, Nak Arya. Pemimpin utama gerombolan Topeng Emas ini adalah seorang yang sangat sakti mandraguna.

Kekuatannya sungguh luar biasa. Kami sudah banyak kehilangan pendekar hebat dari berbagai perguruan silat golongan putih yang mencoba melawannya. Banyak di antara mereka yang gugur di tangan ketua kelompok topeng emas itu, atau bahkan berbalik menjadi pengikutnya karena takluk," tutur Nyi Delima.

Anggun Sari, yang duduk di samping Nyi Delima dengan perban melilit pahanya, mengangguk setuju, "Betul, Tuan Arya. Dia punya ilmu yang sangat aneh dan mematikan. Kami belum pernah bisa melacak sarangnya dengan pasti. Mereka selalu bergerak cepat dan menghilang tanpa jejak," tambahnya.

"Itu sebabnya aku ada di sini," kata Arya tenang, "Panglima Hijau telah membekaliku dengan ilmu yang cukup untuk menghadapi mereka. Tapi, sebelum itu, mari kita obati lukamu Anggun Sari. Kau terluka cukup parah," kata Arya Wiguna menawarkan pertolongan.

Wajah Anggun Sari merona tipis mendengar perhatian Arya, "Tidak perlu, Tuan Arya. Ini hanya luka kecil," tolaknya lembut.

"Luka sekecil apa pun jika tidak diobati dengan benar bisa menjadi masalah besar, Anggun Sari. Aku memiliki sedikit pengetahuan pengobatan yang bisa mempercepat pemulihanmu," kata Arya, suaranya tetap lembut namun ada nada perintah di dalamnya.

Nyi Delima tersenyum. "Anggun, ikuti saja kata Nak Arya. Dia pasti tahu yang terbaik," katanya setuju.

Anggun Sari mengangguk kaku, ia mengikuti Arya ke sebuah aula kecil yang biasa digunakan untuk pengobatan.

Beberapa adik seperguruannya yang tadi bertarung juga ikut masuk, penasaran ingin melihat Arya dari dekat, dan sekaligus ingin membantu Anggun Sari.

Di dalam aula, Arya meminta Anggun Sari untuk duduk bersila. Arya mengamati luka di paha Anggun Sari.

"Ini bukan luka yang dalam, tapi goresannya cukup panjang dan bisa mengganggu gerakanmu," kata Arya.

"Aku akan membersihkannya dan mengoleskan ramuan khusus. Mungkin akan sedikit perih," lanjutnya.

Anggun Sari mengangguk, mencoba terlihat kuat, "Tidak apa-apa, Tuan Arya. Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit," jawabnya tegar.

Saat Arya mulai membersihkan luka Anggun Sari dengan hati-hati, beberapa adik seperguruannya yang berwajah polos dan lugu mulai mengerubungi Arya.

"Tuan Arya, namaku Melati! Tuan Arya sangat hebat sekali tadi! Aku belum pernah melihat pendekar sekuat itu!" seru seorang gadis muda dengan mata berbinar.

"Aku Mawar! Tuan Arya, apakah Tuan Arya punya ilmu kebal yang bisa menahan pedang itu?" timpal gadis lain, mencoba menyentuh lengan Arya.

"Kalian tidak apa-apa?" tanya Arya, tersenyum ramah kepada mereka.

Arya Wiguna tahu mereka masih sangat muda dan kagum akan kekuatannya.

Percakapan Arya dengan para murid perempuan itu semakin ramai. Mereka berebut ingin tahu lebih banyak tentang Arya, tentang ilmunya, tentang perjalanannya.

Anggun Sari, yang sedang diobati oleh Arya, diam-diam mengamati mereka, gadis cantik itu melihat bagaimana adik-adik seperguruannya yang biasanya penurut dan kadang galak terhadap orang asing, kini menjadi begitu genit dan antusias mendekati Arya.

Wajah Anggun Sari, yang awalnya merona karena malu, kini berubah masam. Rasa cemburu mulai menggerogoti hatinya.

"Ugh, kalian ini berisik sekali!" geram Anggun Sari, mencoba menarik perhatian Arya kembali kepadanya.

"Tuan Arya sedang mengobatiku! Jangan mengganggu!" ujarnya galak.

Para gadis terkejut dan langsung mundur, sedikit ketakutan dengan nada Anggun Sari yang tiba-tiba kembali galak. Arya melirik Anggun Sari, tersenyum tipis, ia mengerti apa yang terjadi.

"Luka ini akan segera sembuh, Anggun Sari," kata Arya, suaranya menenangkan.

Arya Wiguna selesai mengoleskan ramuan, dan kini memusatkan sedikit tenaga dalam untuk membantu proses penyembuhan.

Panas hangat mengalir dari tangan Arya ke paha Anggun Sari, memberikan rasa nyaman yang aneh.

Anggun Sari merasakan sentuhan hangat Arya. Rasa cemburunya mereda, digantikan oleh sensasi nyaman dan sedikit malu, ia menatap Arya.

"Terima kasih, Tuan Arya," ucap Anggun Sari tersipu.

"Sudah kewajibanku," jawab Arya Wiguna tulus, ia berdiri, kemudian kembali ke aula utama menemui Nyi Delima. Anggun Sari mengikutinya dengan langkah yang sudah lebih ringan.

Di aula, Nyi Delima sedang berbicara dengan seorang murid perempuan yang tampak kelelahan. "Jadi, bagaimana laporanmu, Sariyah?" tanya Nyi Delima.

"Ketua," kata Sariyah, napasnya terengah-engah, "Saya baru saja kembali dari Desa Lingkar Naga. Ada berita buruk. Tangan Kanan Ketua Topeng Emas telah muncul di sana. Dia dijuluki Tangan Maut, dan namanya adalah Barata Si Mata Dewa," jelasnya.

Nyi Delima terkesiap, "Barata Si Mata Dewa?! Dia adalah pendekar keji yang sangat disegani di dunia hitam! Aku dengar dia memiliki ilmu pukulan tangan kosong yang mematikan dan tatapan mata yang bisa membuat lawan lumpuh!"

"Betul, Ketua," sahut Sariyah, "Dia datang dengan beberapa anak buahnya, dan mereka mulai menebar teror di desa. Mereka bilang, mereka akan menculik lebih banyak gadis jika Perguruan Mawar Putih tidak menyerahkan diri," lanjutnya lagi.

Anggun Sari mengepalkan tangannya, "Berani sekali mereka! Kita harus melawannya, Ketua!" ujarnya geram.

Nyi Delima menghela napas berat, "Kita tidak bisa terburu-buru, Anggun. Barata Si Mata Dewa bukan lawan sembarangan. Kita harus menyusun rencana," ujarnya.

Arya mendengarkan semua itu dengan tenang, ia tahu ini adalah saatnya ia beraksi. "Nenek Guru," kata Arya, melangkah maju, "Biar aku yang menghadapi Barata Si Mata Dewa itu," menawarkan diri.

Nyi Delima menatap Arya, "Nak Arya, aku tahu kau sangat kuat, tapi Barata Si Mata Dewa itu..."

"Panglima Hijau mengirimku untuk menghadapi ancaman ini, Nenek Guru," potong Arya, "Aku tidak akan mundur. Ini adalah langkah pertama untuk melumpuhkan ketua kelompok Topeng Emas itu."

Anggun Sari menatap Arya, matanya memancarkan kekhawatiran, "Tuan Arya... dia sangat berbahaya. Biarkan kami membantumu," katanya.

"Tidak perlu, Anggun Sari," kata Arya, tersenyum meyakinkan.

"Aku ingin menghadapi Barata Si Mata Dewa seorang diri. Ini juga akan menjadi kesempatan bagiku untuk mengukur kekuatan mereka dan mengetahui seberapa dalam jaringan mereka di Desa Lingkar Naga," lanjut Arya Wiguna.

Nyi Delima akhirnya mengangguk, "Baiklah, Nak Arya. Kami percaya padamu. Tapi berhati-hatilah," ucap Nyi Delima mengingatkan.

"Tentu, Nenek Guru. Aku akan berhati-hati," sahut Arya Wiguna sopan penuh hormat.

Tanpa membuang waktu, Arya Wiguna berpamitan singkat, ia bergerak cepat menuju Desa Lingkar Naga. Malam mulai menjelang, dan suasana di desa itu terasa mencekam.

Saat Arya Wiguna tiba di pusat desa, ia melihat sekelompok orang berjubel, beberapa di antaranya terlihat ketakutan.

Di tengah kerumunan itu, berdiri seorang laki-laki berwajah sangar, dengan tatapan mata yang tajam dan mengerikan. Dua orang di sampingnya membawa sebuah lentera, menerangi wajahnya yang kejam. Dia adalah Brata Si Mata Dewa.

"Mana pendekar dari Perguruan Mawar Putih?!" suara Barata menggelegar.

"Jika tidak ada yang berani maju, maka kami akan menculik semua gadis di desa ini sampai habis!" bentak Barata Si Mata Dewa.

"Cukup!"

Suara itu datang dari belakang kerumunan. Semua mata menoleh. Arya Wiguna melangkah maju, jubahnya berkibar perlahan. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam.

Barata Si Mata Dewa menatap Arya dengan tatapan menyelidik, "Siapa kau, anak muda? Berani sekali mengganggu urusanku."

"Namaku Arya Wiguna," kata Arya tegas. "Aku datang untuk menghentikan kejahatanmu, Barata Si Mata Dewa. Perjalananmu menebar teror di desa ini akan berakhir malam ini."

Barata Si Mata Dewa menyeringai.

"HUA HA HA HA! Anak kemarin sore ingin menghentikanku? Kau tidak tahu siapa aku?! Aku adalah Tangan Maut! Dan tidak ada yang bisa selamat dari tatapan mataku!" bentaknya lantang, dengan suara menggema menyakiti telinga.

"Bersiaplah, Tangan Maut," kata Arya, "Malam ini, kau akan bertemu dengan orang yang berani menghentikanmu."

Bersambung...

1
Was pray
baru nyadar kalau kekuatan manusia ada batasnya Arya? selama ini kemana aja?
Was pray
dibalik kerendahan hatimu terselip percik meremehkan orang ang lain dan terlalu mengagungkan kekuatan diri, dan itu bisa menjadi akar kesombongan ,dan itu terkadang tidak kau sadari arya
Sugeng Toboali
keren
Was pray
terlalu lemot alur ceritanya...
Was pray
orang memberi nasehat bukan karena menganggap kita bodoh , tapi karena memiliki rasa peduli dan empati, menerima nasehat tidak membuat kita jadi bodoh Arya, walaupun nasehat datang dari orang yg dipandang lemah sekalipun, paling tidak diterima walau itu tidak selaras dengan hati, itu suatu penghormatan bagi orang lain
Was pray
kau terlalu bangga dengan jekuatanmy Arya. sehingga meremehkan lawan2mu, dan itulah yg jadi kelenahanmu sehingga kewaspadaan hilang. .seharusnya kamu pakai ilmu padi arya
Was pray
orang yg mengaku salah setelah kalah itu udah hal umum, terlalu mudah memaafkan pengkhianat maka akan mudah dimanfaatkan oleh orang lain dan itu suatu kelemahan fatal, orang yg lemah pendirian dan pengkhianat maka suatu saat kemungkinan mengulangi lagi dengan cara yg lebih terorganisir dan itu lebih berbahaya
Zamo: makasih bang
total 3 replies
Sugeng Toboali
💪
Rafly Rafly
lanjutkan Thor..
makin seru kisahnya
Idwan Syahdani: oke tunggu aja ya...
total 1 replies
Arsi Oke
cerita yang bagus 👍🌟
Pandeka Garang
jurus kitab pedang tanpa tanding, gajah purba dan harimau seribu jg tidak pernah muncul lg, agak aneh aja, malah yg lebih sering muncul penggetar langit yg sama sekali blm dipelajari
Idwan Syahdani: sabar gan, bakal muncul kok di pertarungan yang lain nanti sabar ya... 🤣🤣🤣
total 1 replies
Pandeka Garang
tiba2 sdh tau kalau yg datang dewi racun dan si bisu, dewi racun jg tidak kaget arya tau namanya, lucu jg alurnya
Yatin Sahmuri
hi
Slow ego
👍👌jos..,,
wan.trado
lho ada 2 ya pedang harimau putih nyaa, tapi ditancapkan di kuburan.. kapan diambilnya.. 🤣🤣
wan.trado
meninggalkan pedang pusaka harimau putih di kuburan..??? sungguh perbuatan aneh dan sia-sia juga kesombongan
wan.trado
tau darimana itu Arya wiguna? bertemu juga baru kali ini..
wan.trado
bujang larang, sebagai seorang yang menguasai ilmu tinggi, rasanya mustahil tidak mengetahui adanya penyusup yg mencari bukti disamping tempat tidurnya
wan.trado
seharusnya adalah sedikit perlawanan dari Arya mengingat lawannya adalah pendekar tua golongan putih,kalau seperti ini seperti melawan golongan pendekar rendahan🙏
wan.trado
seharusnya jangan dulu menggunakan kekebalan untuk menghadapi gerombolan ini, cukup dg menghindar saja dari serangan sehingga tidak terkesan membanggakan kekuatannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!