Catarina hamil.
Kenyataan itu adalah mimpi terburuk dari banyaknya mimpi buruk yang terjadi dalam hidupnya, Dan mimpi paling buruk dari yang terburuk adalah.. Ia mengandung benih majikannya sendiri! Sosok Leonard.
Leonard adalah sosok iblis yang bersembunyi dibalik kedok seorang 'pengusaha sukses' Bagaimana tidak? dibalik topeng menawannya, ia menyimpan sisi gelap yang mengerikan. Sementara Catarina terlalu polos dan naif untuk mengartikan siapa Leonard yang sesungguhnya.
Hingga satu kejadian terjadi, kejadian fatal dimana Leonard membuat Catarina menyerah dan memilih pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AIPARIDAH JAISAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
L-23 jebakan
Keheningan memenuhi mobil yang tengah melaju melewati jalan metropolitan itu, Leonard dengan santai memutar setirnya sembari sesekali melirik pada wanita yang terlelap disampingnya.
Hari ini entah mengapa ia ingin menyetir mobil sendiri, terasa tak menyenangkan bila ada orang lain diantara dirinya dan Catarina. Perjalanan kampus ke Mansion memang cukup memakan waktu, mengingat Mansion cukup jauh dari pemukiman.
Sekali lagi Leonard lirik gadis yang berada disampingnya itu, tanpa sadar Leonard mendengus geli.
Sampailah mobil yang mereka kendarai hingga Mansion keluarga Hunter, dari kejauhan muncul Mark yang membukakan gerbang.
Leonard lepas sabuk pengaman yang dikenakannya kemudian memiringkan kepalanya pada Catarina.
Ia singkirkan anak rambut yang menghalangi wajah polos gadis itu, Catarina terlelap dengan mata membengkak serta mulut terbuka.
Leonard usap kedua mata itu pelan, seringan bulu kapas, entah mengapa ia tak suka melihat Catarina dengan mata yang membengkak seperti ini. Ia kecupi kedua mata sembab itu kemudian beralih mengusap pipi Catarina.
Wanita itu tak sadar sama sekali, mungkin teramat melelahkan menangis berjam-jam tanpa henti.
Kegiatan Leonard terganggu begitu suara telepon terdengar nyaring, segera pria itu rogoh saku celananya lalu keluar dari mobil setelah mengecup Catarina.
Namun ternyata kegiatannya diperhatikan oleh seseorang.
______
"Gadis yang disana!"
Seorang gadis yang baru saja menyimpan nampan itu tampak mengangkat pandangannya.
"Ambil peralatan kebersihan yang berada ditaman depan!" perintah salah satu pelayan tua pada gadis itu.
Michelle mendengus, "Saya akan mengambilnya,"
Dengan setengah tak ikhlas Michelle melangkah gortai, namun kala suara gerungan mobil terdengar kian membuat gadis itu melebarkan mata sembari berlari kecil.
Tak salah lagi, selama tiga tahun ia bekerja disini, ia sangat hafal pada suara-suara koleksi mobil Leonard. Dan pasti malam ini berarti tuannya itu pulang lebih awal.
Michelle senang, ia tertawa riang sembari berniat melangkah menuju mobil hitam itu, namun suatu kejadian didalamnya membuat Mi helle membelalak mata.
Tidak, ia pasti salah lihat. Ia salah, tidak mungkin kan dihadapannya seorang Leonard mencium wanita?
Mata sipit Michelle membulat dengan tangan terkepal, sudah ia duga tak mungkin gadis tak berguna seperti Catarina bisa diterima dengan mudah di tempat ini.
"Sudah aku bilang tidak mungkin pelayan itu tidak memiliki hubungan apapun dengan tuan muda." Desis Michelle, salah satu maid yang tidak menyukai kehadiran Catarina.
Michelle menganggap kehadiran catarina tidak lebih dari benalu yang harus disingkirkan, ia berpikir dengan adanya Catarina posisinya sebagai maid termuda dan tercantik akan tergantikan.
"Wanita menjijikan, dasar sampah." Desisnya lalu kala melihat Leonard yang tampak fokus membincangkan sesuatu, tanpa basa-basi Michelle mendekati mobil itu.
Tangannya tergerak akan menampar gadis polos yang tampak tertidur itu, sebelum sebuah suara menginterupsi.
"Apa yang kau lakukan?"
Dengan cepat Michelle berbalik hingga dapat dilihatnya perawakan besar Mark yang tengah bersidekap, Michelle mengusap dada sembari tertawa kecil.
"T-tuan mark! Ohh, aku berniat membangunkan Catarina atas perintah tuan muda, dia pasti pegal serta kedinginan jika dibiarkan tidur dimobil." Alibinya sembari tertawa garing, mencoba menutupi kebohongan.
Mark menaikan alis, namun tanpa ragu ia mengangguk pelan.
"Silahkan, tolong berhati-hati saya ingin menemui tuan muda." Mark kemudian berlalu.
"Baik, tidak perlu khawatir," ucapnya sedetik kemudian ia mendengus dalam hati, 'Berhati-hati? lihatlah, bahkan mark saja hingga mengucapkan hal itu pada gundik ini."
"Ck! menyebalkan!" gerutu Michelle kemudian menarik rambut Catarina.
"Hei! heiii, bangunnn bodoh!" bisiknya, sebisa mungkin ia tak menimbulkan kecurigaan karena banyaknya cctv diarea taman. Namun untungnya mobil ini gelap dari luar hingga Michelle bisa lebih leluasa.
Catarina tampak tersentak kala merasakan rambutnya seperti akan terpisah dari kepala, dengan mendongak dapat ia lihat michelle yang tengah menatap panas kearahnya.
"Kau Catarina kan? sangat menyenangkan ya tidur dimobil milik bos di sore hari begini? kau tak lupa tugasmu kan, hari ini jadwalmu membersihkan gudang belakang." Alibi Michelle yang tentunya berbohong.
Catarina nampak membulatkan matanya percaya, segera ia benahi rambutnya yang acak-acakan dan bangun sebelum mengaduh karena lehernya yang sakit. "Aduh!" berapa lama ia tertidur?
"Aku gak tau ada jadwal beres-beres gudang juga, maaf, bisa tunjukan dimana?"
pinta Catarina terdengar sungkan.
"Tentu kau tidak tau, kau pelayan yang tak jelas dalam bekerja dan hanya berleha-leha, kemari, ikuti aku!" ucapnya kemudian berjalan lebih dulu.
Selama berjalan, Michelle tak mengatakan apapun selain berusaha menutupi wajahnya menggunakan telapak tangan.
"Disini." ketus Michelle menunjuk ruangan dekat dapur yang cukup kotor, bahkan tampak gelap karena minimnya pentilasi dan tak ada jendela dalam ruangannya.
"Kenapa diam? tidak ingim bekerja?" sarkas Michella membuat Catarina tersentak dari keterkejutannya kemudian menggeleng ribut.
"Tidak, terimakasih udah nunjukin. Ini diberesinnya gimana ya?" tanya catarina lagi.
"Ya tinggal beresin lah, ngapain nanya lagi? diujung lemari itu peralatan kebersihannya. Cepat!" Perintah Michelle sembari menunjuk sapu serta pel yang berada diujung ruangan.
Catarina meski takut dengan ragu melangkah, ia masih cukup linglung dan bingung.
Michelle tersenyum miring, kemudian tanpa ragu ia tendang pintu itu serta kunci menggunakan sebuah paku. Merasa keberuntungan berpihak padanya karena pintu gudang ini sering macet.
Brak!
Suara pintu ditutup mengagetkan Catarina yang tengah mengambil sapu, gadis itu membelalak menjatuhkan sapu yang ada digenggamannya kemudian berlari menuju pintu dengan panik.
"Tolongg! bukaaa! tolongg, hahh! tolongg!" teriak Catarina panik, ia takut sendirian ditempat gelap seperti ini tanpa adanya ventilasi dengan pintu yang dikunci, ia tak bisa.
Michelle tertawa kecil dengan langkah riangnya, beruntung semua ruangan dimansion ini kedap suara, seberapa banyak apapun Catarina berteriak, tak akan ada seorangpun yang menggubris nya, apalagi digudang yang sudah lama terbengkalai itu.
Dengan riang Michelle memasuki kamarnya sendiri, ia melepaskan seluruh baju yang dikenakannya kemudian sengaja membuang baju itu ketungku perapian, sengaja supaya menghilangkan jejak atas aksinya apabila terjadi sesuatu, mengingat cctv dan keamanan dimansion ini yang sangat amat ketat.
"Semoga kau mati kelaparan disana, catarina." Harapnya tertawa bahagia.