Di puncak gunung dengan ketinggian 2874 MDPL, seorang gadis mendongak menatap lelaki yang berdiri di depannya.
"Mari kita akhiri semuanya." ucap gadis tersebut.
Lelaki yang menjadi lawan bicaranya tersenyum, "apa yang harus diakhiri? Kita tidak pernah memulai apapun."
Mata gadis tadi berkedip dua kali, ia mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut lelaki di depannya. Tak lama kemudian kepalanya mengangguk, "terima kasih."
Jadi kedekatan yang telah mereka lewati selama setahun belakangan tidak berarti apa-apa bagi si lelaki. Sementara lain hal dirasakan oleh si gadis, ia menganggap dirinya spesial.
Namun rupanya takdir punya caranya sendiri untuk menyatukan dua manusia, tidak peduli sejauh apa usaha keduanya untuk saling menjauh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firefly99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Naya's Birthday
Setiap hari ulang tahunnya tiba, Naya selalu mengunjungi makam ibunya yang berada di dekat rumah desa. Menurut cerita papanya, sang ibu meninggal dihari ke 40 setelah melahirkan dirinya. Semuanya normal ketika itu, keadaan sang mama juga sangat stabil. Mungkin sudah takdirnya jika beliau harus pergi lebih dulu setelah menghadiahi putri kecil untuk sang suami.
Naya meletakkan setangkai bunga mawar putih yang merupakan bunga kesukaan mamanya. "Ma, hari ini Naya ulang tahun yang ke-16, itu berarti mama meninggalkan kami 16 tahun lalu. Naya baik-baik saja, ma. Ada papa, kakak dan teman-teman yang selalu sayang sama Naya, mama jangan khawatir yaa di sana. Naya rindu mama."
Selalu begini, Naya berbicara di makam mamanya, seolah sedang berbicara dengan mendiang mama secara langsung. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengurangi kepedihan yang ia rasakan. Setelah dirasa cukup, ia kemudian berdiri dan meninggalkan area makam keluarga yang berada di belakang tembok halaman rumah, tempatnya tersembunyi.
"Better?" tanya Naka kepada adiknya.
Naya mengangguk dan tersenyum, "terima kasih kak."
"Yok, kakak gendong. Papa sudah menunggu di dalam." Naka menggendong adiknya di punggung, seperti yang sering ia lakukan dulu.
Naya menaruh dagunya dipundak kanan kakaknya, tak lupa melingkarkan lengannya pada leher kakaknya. Sudah ada kue tart berukuran sedang yang dihias cream berwarna biru muda menunggunya di meja ruang keluarga.
"Perlu nyanyi gak nih?" goda pak Nadim kepada anaknya.
Naya terkekeh, ia turun dari gendongan kakaknya lalu duduk di sebelah sang papa. "Nyanyi dong, biar heboh." pinta Naya.
Naka kini memegang microphone, lalu bernyanyi. Naya tertawa terbahak-bahak, belum lagi sang papa juga ikut bernyanyi.
"Sudaaah paa, kak!" ucap Naya sambil menutup telinganya.
"Tiup dulu dong lilinnya!" seru Naka.
"Jangan lupa make a wish." pak Nadim mengingatkan.
Naya memejamkan matanya lalu berdoa, "Izinkan Naya, papa dan kakak selalu bahagia, Tuhan."
Lilin angka 16 sudah padam, bersamaan dengan tepuk tangan dari pak Nadim dan Naka. Naya langsung saja memotong kuenya.
"Selamat ulang tahun little girl nya papa. Super proud of you." Pak Nadim memeluk anaknya setelah mendapatkan kue pertama hari ini.
"Terima kasih, pa."
"Happy birthday, Nay! 16 tahun, masih bocah lah yah." Naka tertawa, mengacak pelan rambut adiknya lalu memeluknya. "Sayang terus yaa sama kakak."
Naya mengangguk, "aa buka mulutnya." ia juga tak lupa menyuapi kakaknya.
Mumpung hari libur, Naya memilih untuk me time di rumah. Tadi setelah makan siang bersama papa dan kakaknya, ia langsung ke kamar. Tak lupa membalas ucapan yang diberikan oleh teman-temannya di media sosial. As always, Kevin dan Wiwi yang paling panjang ucapannya, lengkap dengan harapan konyolnya. Misalnya, 'langgeng terus yaaa dengan brondong kaya rayanya' . Tsk, ada-ada saja memang.
Tapi ngomong-ngomong, sekarang sudah sore, tapi Ryan belum mengucapkan apapun kepadanya. Mustahil brondong yang satu itu tidak tahu, sementara di grup line saja sedang ramai karena para mantan anggota gugusnya juga turut memberikan ucapan dan doa terbaik mereka. Apakah Naya sedang menunggu? Ahh, bisa jadi iya.
Tadi Naya juga sudah berdiskusi dengan papa dan kakaknya, ia akan mengadakan syukuran kecil-kecilan di cafe nantinya, tak lupa mengundang beberapa temannya yang dirasa dekat.
✨✨✨
Menuju sore, pak Nadim yang sedang bermain catur dengan Naka dibuat terkejut karena kedatangan seorang kurir.
"Maaf mengganggu, ini ada kiriman paket atas nama Nayara." ucap si kurir.
Naka lalu berdiri, "Silahkan duduk dulu, dik." katanya. Ia lalu mengikuti prosedur penerimaan paket seperti biasanya.
"Kata yang mengirim, paketnya jangan dibanting, kak." pesan si kurir.
Naka mengangguk, "Iya, paham. Ongkirnya?"
"Tadi sudah dibayar kok, kak. Mari, permisi." si kurir lalu pamit.
"Bawa gih, sepertinya bukan paket biasa." suruh pak Nadim kepada putranya.
Naka meninggalkan teras lalu berjalan ke kamar adiknya.
"Kenapa?" tanya Naya.
"Paket." Naka memberikan kotak berwarna biru kepada adiknya, ukurannya cukup besar.
"Eh!" kaget Naya. Ia merasa tidak memesan apapun. Jikapun ada barang yang ia pesan, biasanya kurir akan memberikan informasi sebelumnya. Ia kembali menutup pintu kamarnya begitu kakaknya pergi. Perlahan tangannya membuka box di depannya, matanya seketika membulat melihat cake lucu dan juga bucket bunga asli. Ada kartu ucapan di buketnya.
"Raa, selamat ulang tahun!" - Ar.
Tanpa menunggu lama, Naya segera mendial nomor telepon Ryan. Ia tahu jika lelaki itu yang mengantarkan nya tadi.
"Hmm?!"
"Kamu dimana?" tanya Naya.
"Di jalan, Ra."
"Ihh." decak Naya.
"Kenapa hmm?"
"Makasih."
Di mobilnya, Ryan tersenyum. Ia bisa membayangkan jika Naya sedang tersenyum. "Suka?"
"Sukaa, Arr." jawab Naya cepat. "Kamu sendiri ke sininya? Kok gak masuk aja?"
"Jangan sekarang, Ra. Takutnya langsung disuruh ngelamar sama papa kamu. Gak apa-apa saya dikenalnya tukang paket saja."
Gantian Naya yang tertawa.
"Saya masih nyetir, mau nemenin sepanjang jalan?" tanya Ryan.
"Eng, jangan. Nanti kamu gak fokus. Telponnya saya matikan sekarang yaa. Kasih kabar kalau sudah sampai."
"One more, happy birthday senior galak."
"Terima kasih, junior badung. Take care."
Belum sempat Naya meletakkan ponselnya, ada sebuah video yang Ryan kirimkan. Video dalam bentuk timelapse dimana lelaki itu sibuk didapur bersama sang ibu untuk membuat cake. Cake lucu yang sama persis dengan yang berada di depannya sekarang. Rasa bahagianya kian bertambah. Ia tak lupa memotret bunga dan cake nya.
(Credit picture by Instagram)
"Paket apa tadi? Tumben pakai alamat yang di sini?" heran pak Nadim.
"Kiriman teman, pa." jawab Naya. Ia memeluk pinggang papanya yang masih bermain catur dengan kakaknya. "Yang kalah siapa?"
"Belum ada." jawab Naka. "Mau main juga?"
Naya menggelengkan kepalanya, "Orang lagi ulang tahun juga, ya kali disuruh mikir keras." katanya.
"Dasar yaa anak gadis." Pak Nadim mengecup kening anak gadisnya sekilas sebelum memindahkan pion nya.
"Sepertinya cake yang kamu makan enak, kakak juga mau dong." Naka ngiler melihat adiknya makan cake.
Naya tetap menyuapi kakaknya, meskipun cake yang ia makan istimewa menurutnya.
"Rasanya agak familiar." beo Naka. Lalu kembali fokus pada papan catur di depannya.
"Cake nya enak tahuu pa. Papa mau cobain juga?"
Pak Nadim menggelengkan kepalanya, "untuk anak papa saja. Sepertinya cake nya beneran enak, adek bahkan anteng ngunyah nya."
"Betul, enak sangat ini." Naya setuju. "Mama dulu bisa buat kue juga, pa?"
"Nggak, sayang. Tapi mama ahli dalam memasak. Nyaris semua masakan Nusantara beliau bisa masak." pak Nadim menjawab dengan begitu sabar.
"Wahh, mama hebat." Naya tersenyum. "Papa dan kakak juga hebat, terima kasih yaaa sudah sayang sama Naya."
sedih dgn kisah Naya dan Ryan