Di tengah kegaduhan mengenai rumor yang beredar bahwa putra tunggal penerus Winner Group berinisial EPW (Edwin Putratama William) ternyata seorang gay menjadi sorotan serta perbincangan hangat di kalangan pebisnis, hal itu tentu saja membuat orang tua nya murka berharap segera menemukan solusi yang tepat untuk memulihkan nama baik keluarga dan perusahaan. bagaimanakah kisah kelanjutan nya, apakah dia benar seorang gay atau sebalik nya ? nantikan kisah nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Yang Tertunda
Pagi itu pengawal Mega dikagetkan dengan kemunculan Sekretaris Jul di depan pintu kamarnya sambil membawakan sarapan untuk mereka santap bersama-sama.
Saking tidak percayanya gadis itu sampai mengusap kembali matanya memastikan bahwa orang didepannya benar-benar Sekretaris Jul.
"Aku bukan hantu"
"Kak Julian mengapa sepagi ini sudah berada disini ? Apa yang terjadi ??"
"Apa lagi kalau bukan karena Presdir"
"Kapan kalian sampai ?"
"Kami tiba dini hari"
"Bukankah katanya kalian sedang menuju perbukitan ?"
Mendengar pertanyaan polos dari Mega Sekretaris Jul hanya bisa memijat pelipisnya.
"Sudah tidak usah dipikirkan, dijelaskan pun kau belum tentu paham. Lebih baik sekarang cepat kita sarapan lalu temani aku dan Hani pergi ke suatu tempat" ucap Jul yang mulai mebuka satu per satu kotak makanannya.
Kemudian dua orang itu menyantap sarapannya bersama-sama sembari berbincang mengenai pekerjaannya.
"Bagaimana pekerjaanmu selama disini ?"
"Sejauh ini aman kak"
"Baguslah kalau begitu"
Mereka terus berbincang panjang lebar, Jul juga berulang kali mengatakan pada Mega agar gadis itu tidak lalai dalam menjalankan setiap tugasnya. Terutama jika Presdir sedang menggila dan membuatnya merasa tertekan.
Julian sudah menganggap Mega seperti adiknya sendiri, jadi lelaki itu tidak akan segan-segan untuk menceramahinya. Karena menurutnya lebih baik mendengar ceramah darinya ketimbang harus menghadapi langsung kemarahan Edwin.
Selesai dengan sarapannya Sekretaris Jul langsung mengajak Mega ke suatu tempat yang sudah ia atur jauh-jauh hari bersama Sekretaris Hani. Dalam perjalanan lelaki itu sambil menjelaskan apa saja yang akan mereka kerjakan hari ini.
.
.
.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, pagi pun kini berganti siang sementara ditempat lain dua orang yang saling melepas rindu itu belum ada tanda-tanda akan beranjak dari tempat tidurnya.
Keduanya juga tidak merasa lapar karena makanan yang di sediakan untuk mereka bahkan tidak tersentuh sama sekali. Qiana masih sangat nyaman dalam dekapan Tuan muda.
Edwin memeriksa jam di ponselnya, lelaki itu perlahan mengajak istrinya bangun dan bersiap-siap, karena rencananya ia akan mengajak Qiana keluar untuk makan dan berkeliling selama akhir pekan.
"Tidak biasanya kak Edwin ingin keluar ? Bukankah Kak Edwin tidak suka keramaian ?"
"Hmmm.., aku memang benci keramaian, tapi kali ini aku ingin melakukannya bersamamu"
"tapi aku malu"
"Apa yang membuatmu malu Nona mungil ?"
"Lihatlah, tubuhku penuh dengan stempel Tuan Presdir" ucapnya dengan wajah cemberut menggemaskan sembari menyibak selimut yang membalut tubuh mulusnya"
"Hahaha kau tidak perlu cemas soal itu Qia, jika kau malu aku bisa melindungimu"
"Cih..., solusi macam apa itu"
"Aku melakukan hal seperti itu agar semua orang tahu bahwa kau adalah milikku"
"Dasar mesum !!"
Akhirnya sepasang suami istri itu segera bangun dan membersihkan diri sebelum bersiap pergi. Siapa sangka saat di kamar mandi pun Edwin masih saja menyalurkan hasratnya.
Usai mandi lelaki itu membantu Qiana mengeringkan rambutnya. Saat melihat suaminya bertelanjang dada dari cermin tiba-tiba saja Qiana teringat sesuatu.
Sejenak wanita itu beranjak menuju lemari pakaian dan segera kembali membawa sebuah bingkisan yang ia berikan pada Edwin.
"Apa ini ?"
"Bukalah"
"Waahh ternyata sudah jadi ?"
"Hihi maaf karena aku lupa memberitahu kak Edwin"
"Terimakasih Qia sayang" Edwin mengecup lembut kening istrinya
"Sama-sama Tuan, jangan lupa bayarannya ya karena ini tidak gratis"
"Hahaha baiklah Nona, aku siap membayar berapapun"
Qiana memakaian setelan yang ia buat untuk suaminya. Sorot matanya tidak bisa berbohong, wanita itu terus tersenyum sembari memasang satu per satu kancing baju Edwin.
"Telan air liurmu Qia, aku tahu aku memang sangat sempurna"
"Cih...."
Melihat lelaki tampan itu sangat cocok mengenakan setelan yang ia buat dengan tangannya sendiri. Tidak lupa Qiana juga memakai dress dengan warna senada seperti yang dikenakan Edwin.
Meski dengan perbedaan tinggi yang lumayan jauh namun keduanya sangatlah serasi.
"Ehemmm, sebenarnya suasana ini sedikit horor bagiku"
"Ehhh....,kenapa ?"
"Aku masih teringat seseorang pernah menjerat leherku dengan alat ukur"
"Waahhhh benarkah ?? siapa dia ? Orang mana yang berani-beraninya memperlakukan suamiku seperti itu ?"
"Dia adalah seorang gadis bertubuh mungil"
"Cih...siapa gadis itu aku akan memarahinya karena sudah lancang sekali !!"
"Kau tidak perlu khawatir, lagipula aku sudah berhasil menidurinya" ucap Edwin menunduk sembari berbisik di telinga Qiana
"Kak Edwiiiin !!!"
"Hahaha...."
"Cih...dasar mesum tidak tahu malu"
Saat masih bersiap, Qiana teringat dengan pengawalnya.
"Kak Edwin"
"Hmmmm..."
"Apa kita akan pergi berdua saja ??"
"Tentu saja tidak, kita akan pergi bersama Jul dan pengawalmu, karena kau tidak ingin terjadi sesuatu padamu"
"Apa aku boleh mengajak Hani ??"
"Hmmm..."
Dengan senyum manisnya istri mungil kesayangan Presdir itu segera menghambur pelukannya dan berterimakasih pada Edwin.
"Cih..., kalau mau berterimakasih maka lakukanlah dengan baik" ucap Edwin menunjuk bibirnya mengisyaratkan Qiana agar memberikan ciumannya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar. Terlihat seorang pria dan wanita dengan pakaian serba hitam sedang menunggu mereka.
Dua orang itu juga mengenakan kacamata hitam, rupanya mereka adalah Sekretaris Jul dan Pengawal Mega yang akan mendampingin mereka.
Qiana hampir tidak bisa mengenali dua orang tersebut lantaran penampilan mereka yang tidak seperti biasanya.
Semuanya tidak lain adalah perintah dari Tuan muda yang menyuruh mereka untuk memakai kacamata gelap agar mereka tidak bisa memandang dengan jelas kecantikan istrinya yang penuh dengan stempel merah muda itu"
Tanpa banyak bicara orang-orang itu menurut saja meski sebenarnya mereka juga sempat bertanya-tanya apa alasan Edwin menyuruh mereka mengenakan benda itu.
Namun seperti yang sudah sering dikatakan Edwin, meski kujelaskan pun tidak akan menambah saldo di rekeningmu, justru yang ada hanya akan membuang-buang waktuku. Maka dari itu lebih baik diam dan lakukan saja sesuai perintahku.
"Ngomong-ngomong apakah kalian bersama Hani ?"
"Sekretaris Hani akan menyusl nanti Nona" sahut Mega
"Apa kalian habis dari pemakaman ?"
"Tidak Nona, kami hanya ingin mencoba gaya baru" jawab Jul
Tanpa bertanya lebih lanjut Qiana hanya manggut-manggut. Sepanjang perjalanan ia hanya tidur dalam pelukan Edwin.
Nampaknya wanita cantik itu masih merasa sedikit lelah dan mengantuk karena kurang tidur akibat semalaman menemani Edwin berpetualang.
"Cantik sekali" ucap Edwin sembari membelai lembut rambut Qiana
"Hmmm aku memang sangat cantik" gumam Qiana yang masih setengah sadar
"Langitnya cantik sekali" Edwin melanjutkan kalimatnya
"Cih...benarkah ? Coba kulihat ??"
"Sebaiknya jangan jika tidak ingin langitnya berubah menjadi mendung"
"Ehhh kenapa ??"
"Langitnya pasti akan cemburu karena merasa kalah cantik saat berhadapan dengan istriku"
"Waahhhh sejak kapan kak Edwin jadi pandai bicara seperti ini ? Katakan dengan jujur berapa banyak gadis yang termakan rayuanmu huh ??"
"Lihat kita sudah hampir sampai"
Tiba di restoran mereka di sambut langsung oleh para Koki dan pelayan, ternyata disana juga sudah ada sosok yang dikenali Qiana, seorang gadis yang sudah datang lebih dulu untuk menyambut Tuan dan Nona.
Qiana melihat sekeliling tempat tetapi tidak ada satupun pelanggan lain selain mereka. Nampaknya Edwin sengaja menyewa satu restoran itu hanya untuk menikmati makanan bersama istrinya.
Dan lebih anehnya lagi adalah semua orang yang berada disitu juga mengenakan kacamata hitam, kejadian itu semakin membuat Qiana curiga bahwa semuanya adalah ulah suaminya.
Sementara Qiana menikmati hidangan demi hidangan dengan lahap sambil sesekali Edwin menyuapinya dengan senang hati, membuat tiga orang yang berada tidak jauh dari mereka saling tatap.
"Apa Tuan muda bisa kenyang hanya dengan menatap Nona makan seperti itu ?" tanya Jul sedari tadi memperhatikan Edwin yang hanya tersenyum melihat istrinya makan dengan lahap.
"orang jomlo karatan seperti kita mana mungkin tahu rasanya" sahut Sekretaris Hani
Selesai menikmati hidangannya Edwin kembali mengajak Qiana untuk pergi menonton seperti yang dilakukan pasangan muda pada umumnya.
Ia merasa sesekali harus melakukan hal semacam ini untuk menyegarkan pikiran istrinya yang terlalu sering menghabiskan waktunya di Central Plaza.
Sepanjang menonton film juga lelaki itu hanya terfokus pada paras cantik Qiana tanpa memerdulikan tiga orang yang selalu memperhatikan mereka gelap-gelapan dibalik kacamata hitam yang mereka kenakan.
Puas dengan menonton kini mereka beralih ke tempat yang lebih menyegarkan lagi, Edwin mengajak Qiana pergi ke Aquarium terbesar yang ada di kota A, saking sibuknya Qiana bahkan baru menyadari di kota tempatnya tinggal ada tempat sebagus itu.
Disana Edwin bisa melihat senyum Qiana jauh lebih banyak dari biasanya. Wanita mungil itu sepertinya sangat menikmati kencannya bersama Edwin hari ini.
Sedangkan tiga orang yang mengikuti mereka dari belakang hanya bisa menikmati seluruh hari yang cerah itu dengan nuansa kelabu.
"Bukankah menurut kalian benda ini sangat menganggu ? Aku tidak bisa menikmati apapun kecuali kegelapan" ucap Hani
"sudahlah nikmati saja, kau akan tahu betapa pusakanya kacamata ini setelah acara selesai"
"Menurutmu kenapa Presdir menyuruh kita melakukan ini ?"
"Apalagi kalau bukan supaya kita tidak bisa melihat kecantikan Nona Qiana dengan terang-terangan"
"Waaahhh itu tandanya Presdir benar-benar romantis sekali" ucap Mega dengan polosnya
Melihat kepolosan Mega dua orang disampingnya hanya bisa menggeleng dan saling tatap. Kepolosan mega membuatnya sulit membedakan antara romantis dan gila.
Sebelum pulang Edwin membawa Qiana untuk singgah di tempat terakhir yaitu sebuah menara tinggi yang berdiri kokoh dengan hiasan lampu kelap-kelip yang sangat indah di malam hari.
Edwin sengaja menutup mata Qiana sebelum akhirnya sampai di atas. wanita mungil yang beruntung itu tidak bahkan kehabisan kata-kata saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Seluruh kota A dapat terlihat dari tempatnya berdiri.
Lagi-lagi Qiana hanya bisa memeluk suaminya, dengan perasaan campur aduk ia berulang kali mengucapkan terimakasih pada lelaki yang dahulu sangatlah dingin padanya.
"Qia sayang...dengarkan aku baik-baik, sebenarnya aku mengajakmu kesini untuk meminta maaf"
"Minta maaf atas apa kak ? Memang apa yang telah kak Edwin lakukan ??"
"Aku meminta maaf karena saat pertama bertemu denganmu perlakuanku tidak cukup baik untuk membuatmu merasa nyaman, maafkan suamimu yang dingin dan egois ini"
"Cih...bukankah kita sama saja ??"
"Hmmmm... maka dari itu maukah kau menjadi pasanganku di sepanjang usia ?" ucap Edwin sembari membuka genggaman tangannya yang berisi benda kecil berkilau
"Kak Edwin apa ini ? Bukankah kita sudah menikah ??"
"Ya, tapi kurasa aku belum melakukannya dengan benar"
"Bagaimana jika aku menolak ??"
"Maka aku akan melamarmu lagi dan lagi sampai kau mau menerimanya"
Tanpa bisa menahan air matanya Qiana mengangguk dan menerima cincin yang disematkan Edwin di jari manisnya. Lelaki itu mengusap air mata istrinya dan mencium keningnya dengan perasaan yang sangat lega.
"Kak Edwin...."
"Hmmmm...."
"Bagaimana kalau kita segera pulang"
"Kau sudah mengantuk ya ?"
"Bukan"
"Lalu...?"
"Aku hanya ingin berterimakasih dengan benar hihi" ucap Qiana sembari tersenyum tanpa berani menatap wajah Edwin
"Apa...? katakan sekali lagi, aku tidak mendengarnya"
"Cih....tidak mau hahaha"
Malam itu berakhir dengan penuh suka cita. Akhirnya tiga orang yang memantau dari kejauhan itu bisa melepas kacamata hitam yang mereka kenakan dan berganti dengan senyum penuh kemenangan.
Satu per satu ponsel mereka berbunyi menunjukkan notifikasi yang memberitahukan bahwa telah masuk dana dengan nominal yang sangat besar dikirim langsung oleh Edwin masing-masing ke rekening Sekretaris Jul, Hani dan juga Mega.
Kini ketiga orang itu akan sangat bersedia jika Presdir meminta mereka untuk mengenakan kostum aneh sekalipun, kacamata hitam bukanlah masalah !.
qiana ngambek ke edwin sepertinya bawaan orok, hamil yg belum disadari
lanjut kak
sabar ya ivana yg cantik.....sekertaris jul pasti akan ungkapin cintanya
tapi nanti saat acara syukuran kehamilan istri edwin/Frown//Frown/
lanjut kak
sambil membawa paperbag yg ada di depan pintu tuh
lanjut kak