Erik Wira Pranata adalah seorang CEO berusia 27 tahun dengan satu anak. Anehnya ia memiliki anak dengan statusnya yang masih perjaka alias belum pernah menikah.
Kemudian, sang anak meminta sosok Ibu kepada Daddy nya. Erik pun bingung harus bagaimana, di satu sisi ia begitu trauma akan penghianatan di masa lalunya.
Bagaimanakah kelanjutannya ?
Mari baca kisahnya di sini.. :)
Jangan lupa follow IG : maeputrisarmi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Truth Or Dare
Pukul 09.30, di ruang tengah telah ramai.
Para orang tua bercengkrama. Di sisi lain, muda-mudi duduk melingkar dan bermain Truth or Dare.
"Kok Gue sih ?!" Teriak Tian frustasi mengacak rambutnya.
Yang lain terbahak-bahak menatap Tian.
"Truth, tapi jangan yang susah-susah !" Tegas Tian.
"Siapa nih yang mau nanya ?" Tanya Alvaro.
"Gue" Jawab Erik cepat mengangkat tangan kanannya.
"Perasaan Gue gak enak nih.." Gumam Tian yang masih bisa di dengar orang di sekelilingnya.
"Saudara Tian Rendra Nantio.. Apakah anda memiliki ketertarikan kepada saudari Hana Yuri Haidar ? Ketertarikan kepada Hana sebagai seorang wanita, mohon di jawab dengan jujur !" Tanya Erik menyipitkan matanya menatap Tian yang sedang gugup.
"Buruan di jawab, Kak !" Perintah Alvaro pada Tian.
"Sekali lagi Gue ingetin, bukan sebagai sahabat, tapi sebagai wanita" tegas Erik.
"Kalian tuh apaan sih ??" Sergah Hana yang mulai salah tingkah.
Tian menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Erik.
"Kalo Gue bilang 'enggak' nanti jahat dong.. jadi Gue jawab 'iya' aja deh.. gampang kan ??" Jawab Tian yang memilih jawaban alternatif demi keluar dari jebakan sahabatnya itu.
"Sial" Batin Erik.
"Ya udah yok.. lanjut" Ucap Alvaro.
Botol kembali di putar, kali ini botol berhenti berputar menghadap ke arah Alvaro.
"Mampusssss" Umpat Alvaro menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Pilih apa, Al ?" Tanya Hana semangat.
"Truth, tapi jangan macem-macem kalian !" Peringat Alvaro.
"Gue nih ya yang tanya.." Erik mengajukan diri, menatap Alvaro dengan senyum nakal.
"Kacau nih.." keluh Alvaro.
Yang lainnya terkekeh mendengar keluhan Alvaro.
"Saudara Alvaro Deryl Nantio, sebutkan hal yang paling nakal yang pernah Lo lakuin sama pacar Lo selama Lo pacaran, jadi terhitung juga masa-masa Lo sama mantan-mantan Lo !" Ujar Erik tersenyum nakal.
"Tatapan Lo biasa aja dong, kak.. Gue colok, ****** Lo !" Gertak Alvaro pada Tian yang menatapnya tajam.
"Awas aja Lo kalo pinjem mobil Gue lagi !" Ancam Tian pada adiknya.
"Ya ampun.. bercanda kali, kak.." Elak Alvaro dengan wajah memelas nya.
"Jawab, Al !" Hana sudah tak sabar.
"Ok ok.." lalu Alvaro menghela nafasnya sejenak.
"Gue pernah pegangan tangan, udah itu aja.. kan gak boleh tuh karena belum halal" Jawab Alvaro enteng.
"Biarin lah, kalo bohong palingan cuma kena karma dikit, kuliah nya gak kelar-kelar gitu misalnya.." Sindir Erik enteng.
"Amit-amit.." Sergah Alvaro membulatkan matanya.
" Iya Gue jujur nih. Tapi jangan bocor ya ! Kalo Mami sama Papi tau, berarti di antara kalian ada yang bocorin nih.." Peringat Alvaro sebelum memulai kejujurannya.
"Udah buruan !" Ucap Hana.
"Gue pernah ciuman" Jawab Alvaro secepat kilat.
"Di mana ? pipi, dahi, atau ..." Tanya Erik yang sengaja tidak di selesaikan.
"Tangan dan seluruh wajah kecuali bibir." Jawab Alvaro secepat kilat dan memejamkan matanya karena ia malu.
"Yakin gak di lain tempat ?" Goda Erik.
Hana terkekeh melihat argumen keduanya, sedangkan Tian hanya menatap Alvaro dengan tajam.
"Suer, kak. Gue nakal ada batasannya juga kali. Gue masih punya rasa takut." Jawab Alvaro tampak yakin dengan ucapannya.
"Ciuman nya di udahin, Al. Lo itu belum jago cari duit, jangan macem-macem. Kebablasan, baru tau rasa, Lo !" Peringat Tian pada Alvaro.
"Ya udah, lanjut yuk.." Alvaro mengalihkan pembicaraan.
Botol kembali di putar, kini botol berhenti mengahadap ke arah Hana.
"Waduhhh.." Hana kaget.
"Pilih apa, kak ?" Tanya Alvaro pada Hana.
"Truth, tapi perasaan Gue gak enak nih.." terka Hana.
"Udah, gak papa.." tepis Tian santai.
"Gue yang nanya." Alvaro mengajukan diri.
Tian dan Erik mengangguk.
"Saudari Hana Yuri Haidar, apakah Anda bersedia menikah dengan saudara Tian Rendra Nantio ?" Tanya Alvaro penuh selidik.
'Blush', wajah Hana seketika memerah seperti kepiting rebus.
Erik terbahak-bahak melihat reaksi Hana yang blushing dan gugup serta reaksi Tian yang membulatkan matanya mendengar pertanyaan adiknya untuk Hana.
Tiba-tiba Cio berlari dari pangkuan Opa nya menuju ke pangkuan Erik yang sedang bermain game.
"Daddy, kok wajah Aunty jadi merah gitu, kaya kepiting yang di restoran itu loh.." Ujar Cio dengan polosnya.
"Hei.. Bocil ! Awas Lo ya ! Gue gigit baru tau rasa Lo !" Ucap Hana kesal.
"Aunty jelek, wle.." Ledek Cio menjulurkan lidahnya dan segera berbalik badan untuk mendekatkan wajahnya di dada Daddy nya.
"Awas aja ya, nanti jatah jajannya Cio dari Daddy, Aunty minta biar Cio gak bisa jajan, kapok !" Ancam Hana yang memang sering memalak Erik secara tiba-tiba dan seringkali memamerkannya pada Cio agar ia cemburu.
"Gue tampol, Lo !" Gertak Erik memelototkan matanya menatap Hana.
Hana hanya menyengir kuda seraya menyuguhkan tanda peace nya dengan tangan.
"Daddy..." Cio menampilkan wajah memelas nya dengan mata berkaca-kaca mendongakkan kepalanya menatap sang Daddy.
"Enggak.. enggak.. Aunty nya cuma bercanda" Ucap Erik menenangkan putranya.
"Aunty nya emang suka ngemis, boy.." timpal Tian terkekeh.
Hana memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Tian.
"Ayo, kak.. jawab !" Alvaro mengingatkan Hana.
Bersambung..
kira-kira, apa jawaban Hana ya ?
jangan lupa dukungannya, readers tersayang kuhhh 🙏❤️
katanya bahagia dg suami y??
nanti sakit sendiri.
menghapus kontak seseorang di hp suami percuma saja klo akhirnya terus berhubungan.
blokir aja sekalian kontak gak penting tuh
klo lg penat krn problem,obatnya adalah yang enak2 wkwk...
dasar bucin akut
jebol euy,gara2 cemburu wkwk
tisha ngasih no hp suaminya???