Kemajuan teknologi di era globalisasi tetap tidak mampu menggerus dunia perdukunan
Bahkan masih banyak yang rutin dengan segala ritual ritualnya
Yang terang terangan ataupun yang sembunyi sembunyi
Ada banyak alasan tentunya
Ada yang pengen usahanya lebih maju
Ada yang ingin kaya tanpa harus memeras keringat
Ada yang ingin kebal senjata tajam dan ilmu santet menyantet
Ada juga yang sengaja membeli batu jimat, yang dipercaya bisa memberikannya kedudukan terpandang dan disegani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si_Ro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KT 23.
Ting tong
“Assalamualaikum….” Zahra mengucapkan salam, tersenyum dan langsung melangkah masuk, saat pintu apartemen Serena terbuka.
“Sama siapa lo?” Tanya Serena
“Bang Jon”
“Terus ngapain kesini?”
“Ih mbak. Emang Zahra ngga boleh sekali kali nginep di aparteman ini?” Zahra memasang wajah kecewa, berharap kakaknya memberi izin
“HAH…Nginep?!”
“Iya. Zahra kan ngga pernah nginep disini mbak. Nanti Zahra tidur di kamar sebelah kok. Zahra ngga akan ganggu mbak, tenang aja.”
Saat Zahra sudah mulai melangkahkan kaki ke arah kamar yang ada diujung ruangan, Serena memegangi lengannnya.
“Lo tidur sama gue aja ya”
“Kenapa? Biasanya kan mbak paling ngga suka berbagi kamar”
“Ngga papa. Gue lagi pengen tidur sama lo aja” jawab Serena sekenanya. Dia tidak mungkin mengizinkan adiknya tidur di kamar khusus . Kamar itu adalah tempatnya memadu kasih dengan suami astralnya.
“Tumben.” Zahra menatap mata Serena penuh selidik.
Dari dulu Serena memang tidak pernah mau tidur bareng siapapun, bahkan ibunya sendiri. Zahra pernah kena marah besar saat tidak sengaja ketiduran di ranjang milik Serena.
Dan hari ini, Zahra dibuat bingung dengan permintaan sang kakak. Serena memperbolehkannya untuk tidur satu kamar dan satu ranjang dengannya. Perubahan besar. Bahkan sangat besar. Tapi itu malah menimbulkan rasa curiga untuk Zahra.
“Emang kamar sebelah kenapa kak?”
“Ee…emm…itu. Kamar itu kotor. Ngga pernah dibersihin. Gudang! Iya buat gudang” jawabnya tergagap
“Oooh….terus nanti Bang Jon tidur dimana dong?”
“Bang Jon?” Serena mengulangi perkataan Zahra
Zahra mengangguk dan menunggu jawaban Serena.
“Bang Jon suruh pulang aja. Gue pengen berdua aja sama lo. Ngga nyaman kalau terlalu banyak orang. Biar Bang Jon pulang, jagain ibu sama Bi Sari”
Ucapan Serena adalah mutlak. Zahra tidak pernah mampu dan tidak ingin menolak keinginan kakaknya. Bukan tidak berani, tapi itulah cara Zahra menyayangi sang kakak yang telah berjuang keras untuk keluarga, setelah sang ayah pergi dan meninggalkan banyak hutang.
Dibalik sikap galak dan ketusnya, Zahra sangat tahu kalau kakaknya itu begitu menyayanginya.
Serena pernah melarang dan menolak dengan keras keinginan Zahra, yang ingin mengikuti jejaknya masuk dunia model. Tapi Serena langsung menyetujui tanpa protes sedikitpun saat Zahra mengubah cita citanya yang ingin jadi seorang dokter.
Menanggung semua biaya sekolahnya yang sudah pasti mahal, tanpa mengeluh sedikitpun. Bekerja dengan sangat giat dan jam kerja yang tidak teratur. Terkadang Zahra merasa bersalah, karena Serena selalu menomorsatukan kebutuhannya dan juga ibunya diatas segalanya.
Zahra tiba tiba memeluk Serena erat. “Terima kasih ya mbak” ucapnya
Serena yang tidak tahu apa maksud sang adik, hanya diam mematung. Membiarkan Zahra terus memeluknya . Serena tahu kalau Zahra sedang menangis, walau tanpa suara. Kehidupan mereka memang tidak semudah yang dilihat orang lain.
Statusnya sebagai anak sulung membuatnya harus terus bertahan meski harus menghadapi kekacauan yang ditinggalkan sang ayah. Keadaan Ibunya yang sakit sakitan, juga memiliki adik yang masih perlu biaya untuk sekolah, berhasil membentuk Serena yang tahan banting.
Ditengah malam yang dingin, Zahra terbangun karena merasakan haus. Bergerak perlahan turun dari ranjang, karena tidak mau mengganggu tidur Serena yang dilihatnya sangat pulas.
Baru saja Zahra selesai menunaikan ibadah malam, tiba tiba terdengar suara erangan dari kamar sebelah. Zahra mencoba mengabaikannya. Tapi suara erangan itu terdengar nyata ditelinga Zahra. Suara itu seperti suara orang yang sedang kesakitan.
Zahra membaca Al Qur’an sebagai penutup sambil menunggu waktu subuh.
“DIAM!”
Zahra terlonjak kaget dengan suara yang begitu memekikkan telinganya
***
Siapa hayo yang bentak Zahra?