JIKA TIDAK TERTARIK, AUTHOR MOHON DENGAN SANGAT UNTUK TIDAK MEMBACANYA.
SILAHKAN SKIP SEJAK SAAT INI JUGA, KARENA AUTHOR TAK MEMAKSA KALIAN BACA.
TAPI JIKA KALIAN MENIKMATI ISI DARI CERITA INI, AUTHOR SANGAT BAHAGIA.
Pendaratan darurat membuat Daniel terpaksa menikahi seorang gadis.
Padahal niat hati masih ingin menanti cinta pertamanya, yang menghilang tanpa jejak.
Tabir misteri yang telah lama terkunci rapat, mulai terbuka perlahan, dan satu demi satu teka-teki mulai terpecahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23.
#23
Nick mematikan sambungan ponselnya, ia meninggalkan mobil untuk mencari keberadaan Carissa.
Di bawah pohon besar, Carissa tengah membacakan buku cerita untuk anak-anak, wajah gadis itu berseri-seri bahagia manakala anak-kecil tersebut merespon ceritanya dengan baik.
Perhatian Carissa pun teralih ketika melihat kedatangan Nick, ia berpamitan sebelum meninggalkan anak-anak.
“Nona, kita harus pulang sekarang.”
“Kenapa mendadak sekali?”
“Mendadak, Tuan Besar ingin saya kembali, Nona,” Jawab Nick tanpa basa-basi.
Wajah ceria Carissa mendadak sendu, jika sang Papa memanggil Nick, itu berarti sesuatu, tugas penting yang tak bisa dikerjakan orang lain. “Kalau aku tak mau?”
“Saya memaksa.”
“Terserah, kamu boleh pulang, biar Dendi yang menggantikanmu.”
“Tapi Nona …”
“Pergilah … aku tak ingin waktuku bersama anak anak jadi terganggu.” jawab Carissa.
wajah Nick terlihat semakin kelabu, dengan berat hati. ia meninggalkan Carissa, tapi sebelumnya ia mengirim pesan singkat pada Dendi, agar menggantikan posisinya saat ini.
Kendati sering menerima perlakuan tidak menyenangkan dari Profesor Hardiman, tapi Nick adalah anak buah terbaik, selalu berhasil mengerjakan semua tugas dengan baik, bahkan dipercaya menjadi pengawal pribadi Carissa, Putri tunggal Profesor Hardiman.
Seperti halnya Nick yang aura wajahnya kelabu, Carissa pun demikian, tatkala melihat punggung Nick menjauh, tak ada lagi rona ceria di wajah cantiknya, bahkan senyum pun kini terlihat di paksakan.
.
.
Daniel melambaikan tangan pada Papa Dika dan Mama Miran yang akan bertolak ke toko mereka di kabupaten.
Selepas kepergian kedua mertuanya, sekelompok ibu-ibu yang tempo hari bergosip di warung melintas, aura mereka masih kelabu, penuh dengki dan iri hati. Bagaimana tidak dengki, kemarin mereka melihat dengan mata kepala sendiri, betapa sultannya suami si Ibu Guru yang mereka gunjingkan. Terlihat dari mewahnya hidangan di pesta pernikahan, belum lagi makanan yang dibagi-bagikan, sungguh bukan makanan berharga murah, semua Daniel pilih sendiri dari menu terbaik di Hotel. Hal itulah yang membuat mereka semakin iri, kenapa bukan anak gadis mereka yang menikah dengan Daniel.
Daniel hanya tersenyum kecil melihat kerumunan para ibu yang masih sibuk berbisik tersebut, bukan tak ingin beramah tama tapi ia pun harus segera bersiap untuk memboyong Naya ke rumah baru mereka.
Karena acara pernikahan ini mendadak, maka sisa-sisa pesta kecil pernikahannya, sudah langsung dibersihkan oleh orang orang suruhannya, agar H+1 Seisi rumah bisa kembali beraktivitas normal, seakan akan tak pernah ada acara apapun.
“Tak perlu bawa barang terlalu banyak,” Cegah Daniel, ketika melihat Naya menyiapkan banyak pakaian untuk ia bawa.
“Lalu di sana?”
“Sudah kusiapkan.”
“Ukuran adik perempuanmu?”
Daniel mengangguk, “ayo … aku harus bergegas, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan di sana.” Daniel mengambil alih koper kecil milik Naya, kemudian membawanya keluar.
Sampai di halaman, nampak Jupri dengan seragam sekolahnya sedang diam mengamati mobil milik Daniel. Melihat kedatangan Daniel, remaja tanggung tersebut tersenyum jahil, terlebih melihat rambut Daniel yang masih setengah basah, fikiran kotor Jupri mulai merayap kemana-mana.
“Pagi Abang …”
Mendengar sapaan Jupri, membuat daniel mengerutkan alisnya. “Kenapa kamu cengar cengir kayak ayam makan karet?”
“Abang juga, auranya beda.” Balas Jupri.
“Beda gimana?” Tanya Daniel heran.
“Bukan aura perjaka lagi.” Bisik Jupri jahil.
“Kalo iya kenapa?”
“Gimana rasanya Bang?”
“Mau tahu?”
“Mau banget Bang,” Jawab Jupri semangat.
“Punya istri dulu, baru boleh coba rasanya.” Sembur Daniel, membuat Jupri manyun kesal. “Masih bau kencur, udah mikirin yang aneh aneh, sekolah dulu yang bener.” imbuh Daniel.
“Ya kan pengen tahu Bang.” Sungut Jupri.
“Ada waktunya, nanti juga kamu akan mengalaminya. “ Sekarang sekolah dulu yang bener, biar jadi orang pinter!”
“Iya Bang… iya…” Jawab Jupri malas, “Abang mau kemana?”
“Pulang lah?”
“Lho kok pulang? Trus Bu Mila gimana?”
“Ya aku bawa, masa ku titipin kamu?”
“Trus … nggak ngajar lagi?”
“Masih … Jupri.” Jawab Daniel mulai kesal dengan rentetan pertanyaan Jupri.
“Pulang pergi nya gimana?”
Rasanya Daniel sungguh ingin menggaruk wajah Jupri, tapi ia urungkan, kemudian ia mengeluarkan kunci motor milik sang istri.
“Nih…” Daniel melemparkan kunci tersebut pada Jupri. “Kamu boleh pakai motor Mila, dengan catatan.”
“Laksanakan, apa catatannya Bang.”
“Tiap pulang sekolah, antarkan Mila sampai di rumah dengan selamat.”
“Trus … kalau pagi, haruskah aku jemput?”
“Aku akan mengantarnya, sebelum pergi bekerja.”
“Trus aku dapat apa?” Tanya nya pura-pura lupa dengan uang jajan yang baru kemarin ia terima lagi dari Daniel.
Daniel hendak lanjut mendamprat Jupri, tapi urung karena Naya sudah selesai dengan semua persiapan nya.
“Jupri, kenapa masih di sini?” Tanya Mila dengan nada tegas seperti ketika ia sedang menegur siswanya di sekolah.
“Siap Bu, ini mau jalan, sedang menerima mandat dari atasan.” Jawab Jupri dengan nada slengekan seperti biasa.
“Ya sudah, cepat sana pergi, sebentar lagi bel sekolah berbunyi.”
Jupri meletakkan tangan di jidat, tanda memberi hormat. “Assalamu'alaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawab Naya dan Daniel bersamaan.
“Lho kok Jupri bawa motorku?”
“Gak papa, nanti Jupri yang akan mengantarmu sampai rumah.”
“Ah … tak perlu berlebihan, aku bisa pergi dan pulang sendiri.”
“Jangan membantah, apa kamu lupa kejadian kali terakhir beberapa hari yang lalu?”
Naya diam, benar juga yang dikatakan suaminya, namun kini mereka berada di sebuah Desa kecil, mana mungkin para penjahat itu bisa menemukannya.
Dan Daniel pun tak mengatakan bahwa selain di antarkan Jupri, Naya juga akan dikawal diam-diam oleh anak buahnya, bahkan dengan jumlah yang lebih banyak.
.
.
Terbiasa me-manage sebuah tim, maka dengan mudah Daniel mengkoordinir orang orang di sekitar Naya, agar keamanan Naya terjamin. Bukan pasukan keamanan biasa, melainkan pasukan keamanan tingkat tinggi, demi mengamankan sang istri, seseorang yang sejak lama ia cintai.
Daniel meminta Zaki menempatkan orang-orang kepercayaannya di sekitar Naya, bahkan ia sudah berkoordinasi dengan Danesh terkait penyelidikan kasus kebakaran di rumah orang tua Naya, puluhan tahun silam.
Jika Danesh tak bisa bergerak leluasa karena terikat dengan instansi pemerintahan, maka langkah terakhir, ia akan meminta bantuan sang Opa dan Agent AG.
Sepasang suami istri menyambut kedatangan Daniel dan Naya. Rumah baru Daniel ini dibeli dari tangan pertama, yang merupakan seorang Dokter, karena profesinya mengharuskan ia berpindah ke kota, maka rumah tersebut di jual.
“Selamat datang Tuan dan Nyonya Muda.” Sambut Bik Asih. Sementara pak Wayan suami Bik Asih, sibuk menurunkan barang barang.
“Ini Bik Asih, yang mengurus rumah, itu pak Wayan hang mengkoordinir pekerjaan di luar rumah, sekaligus sopir, jika nanti aku tak ada di rumah, minta tolong saja pada Pak Wayan.” Daniel memperkenalkan dua orang asisten di rumah nya.
“Saya Mila, Bik…” Naya memperkenalkan diri dengan sopan.
“Oh … Nyonya Mila, silahkan masuk.”
“Aku sedang di tunggu untuk rapat, gak papa kan kalau kamu keliling rumah sama Bik Asih?” Pamit Daniel, tak enak juga rasanya meninggalkan sang istri, padahal mereka masih pengantin baru, tapi karena pernikahan mereka serab mendadak, maka Daniel juga harus bisa terima resikonya.
“Pergilah, aku baik baik saja.”
Daniel mencium kening Naya sebelum berlalu pergi ke ruang kerja nya. Beberapa saat kemudian ponselnya berdering.
“Iya… 5 menit lagi aku online.” Jawab Daniel.
Sesuai mandat sang Tuan muda, Bik Asih mengajak Naya berkeliling rumah, mengenalkan beberapa pekerja yang ada di sana. Sementara Pak Wayan masih sibuk mengawasi pekerja yang sedang merapikan taman dan halaman.
Untuk ukuran rumah disebuah kota kecil, Rumah yang Daniel beli sangatlah mewah, di tambah lagi ia tak perlu banyak melakukan Renovasi, hanya perlu merapikan taman saja, agar lebih asri. Rumah tersebut sudah dilengkapi dengan CCTV di tiap sudut tersembunyi, bahkan pagarnya pun menjulang tinggi, dikelilingi kawat berduri di bagian atas. Sementata interior bagian dalam masih seperlunya saja, karena Daniel ingin kelak Naya yang akan mengisi properti bagian dalam, tentu dengan menggunakan uang Daniel pastinya.
.
.
Daniel menghembuskan nafas lelah, maraton pekerjaan yang terbengkalai selama seminggu sungguh luar biasa, terlebih kini ia tengah disibukkan dengan laporan-laporan dari berbagai divisi, untuk persiapan rapat umum pemegang saham. Dan sekarang pukul 21 tepat ia baru bisa menutup laptop, kilau cincin di jari manisnya membuat Daniel tersadar bahwa kini ia tak lagi sendiri.
Daniel bergegas meninggalkan ruang kerja nya, menghampiri sang istri yang sukses ia abaikan sepanjang hari ini.
Daniel masuk ke kamarnya, sepertinya Naya tak menyadari kedatangannya. Dengan langkah mengendap Daniel menghampiri Naya yang tubuh nya masih terbungkus bathrobe.
Daniel memeluk Pinggang Naya, istrinya tersebut tengah kebingungan memilih deretan piyama baru yang berada di sana.
“Aaahh…” Pekik Naya terkejut.
Daniel terkekeh, tapi ia sungguh menikmati momen tersebut, bahkan kini mulai menghidu aroma yang menguar dari tubuh istrinya. “Kamu wangi,” Bisikan itu membuat Naya meremang, mungkin setelah yang pertama kalinya semalam, kali ini mereka akan kembali mengulang, tapi tak apa, namanya juga mode anget pengantin baru.
“Kan aku baru selesai mandi,”
“Hmmm aku tahu,” rengkuhan itu semakin erat, seiring dengan deru nafas yang semakin berat. “Maaf hari ini aku mengabaikanmu.”
“Bik Asih sudah menjelaskannya, tak masalah.”
Daniel terus mengusak manja, pada raga yang dua hari ini resmi menjadi tulang rusuknya, bahkan kini ia sudah menbalik tubuh Naya hingga netra mereka berhadapan, “satu ciuman dulu sebelum aku mandi.” Bisiknya sebelum meraup bibir merah muda yang merekah di hadapannya.
Jika kemarin malam keduanya masih malu malu, maka kali ini sudah lebih berani, bahkan Naya tak segan mengalungkan kedua lengannya ke leher Daniel, membalas dengan intens setiap sesapan di bibirnya.
Ketika tubuhnya mulai hilang kendali, Daniel mendorong tubuh Naya ke pembaringan, hingga keduanya saling berpagut, hingga menyentuh lembut tanpa ada rasa takut.
Drrrtt
Drrrtt
Drrrtt
Ponsel Daniel bergetar di tengah situasi yang kian memanas, inginnya sih ia abaikan hingga benda malang tersebut berhenti bergetar. “Angkat dulu.” Bisik Naya ketika dengan terpaksa ia melepaskan diri.
“Abaikan saja dulu.”
“Bagaimana kalau penting?”
“Ini bukan lagi jam kerjaku, jadi abaikan saja.”
“Mungkin saja itu bukan urusan pekerjaan.”
Dengan wajah cemberut, dan bibir basah ditekuk, Daniel meraih ponselnya yang tergeletak di atas Nakas, ia bersumpah akan menghajar siapa saja yang berani mengganggu malam hangat nya bersama sang istri.
Namun Ia terperanjat seketika, manakala membaca nama yang terpampang di layar ponselnya.
“Mama.”
eehh tapi jangan² pamannya Mila /Naya itu Profesor Hardiman ya Papahnya Clarissa lagi setelah mendapatkan semua harta Ortunya Mila/Naya dia di buang waktu kecil dan Lupa semuanya.🤔