“Aku atau dia yang pelakor!” Dia berteriak dengan kerasnya di pinggiran pantai berpasir putih.
Semuanya berawal dari ...
Isyana yang sudah bersuami tidak sengaja bertemu dengan Elvano yang saat itu juga memiliki seorang istri dan putra. Saat mengerjakan proyek bersama. Keduanya menjadi sangat dekat dan perlahan tumbuhlah perasaan cinta itu. Dengan penuh rasa bersalah kepada pasangan masing-masing, mereka menjalin hubungan terlarang itu. Tapi hubungan itu kandas, saat Isyana mulai sadar bahwa mereka tidak ditakdirkan bersatu.
Akan tetapi, disaat yang sama Isyana dan Elvano tidak sadar. Kalau Ikbal suami Isyana dan Nabila istri Elvano ternyata sudah menjalin hubungan lebih dulu dari mereka berdua. Bahkan Ikbal dan Nabila sampai melakukan hubungan intim di belakang mereka.
Kemudian beberapa bulan setelah Isyana dan Elvano berpisah. Isyana mengetahui bahwa Ikbal suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain, yang ternyata adalah Nabila istri Elvano. Pria yang dia cintai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 : Untuk apa salah paham!
Setelah sampai dirumahnya. Ikbal menahan tangan Isyana saat wanita itu hendak turun dari mobil.
“Ada apa, Mas?” tanya Isyana heran.
“Malam ini aku mau ke rumah Mamah, soalnya tadi siang mamah bilang dia sakit dan mau ketemu aku,” ucap Ikbal dengan wajah di buat-buat sedih.
Isyana menghela nafas nya. Karena dia tahu kalau itu hanyalah alasan saja. Sebenarnya Ikbal ingin menghabiskan waktunya dengan Nabila.
“Mamah sakit? Kalau begitu aku juga ikut ya, Mas. Aku juga mau jenguk Mamah,” jawab Isyana dengan wajah dibuat terkejut.
“Enggak-enggak kamu nggak usah ikut, Sya. Mamah cuman sakit demam doang, besok kan kamu masih harus kerja. Biar malam ini aku saja yang duluan ke rumah Mamah.”
Ikbal mencoba mencari-cari alasan agar Isyana tidak ikut dengan nya. Isyana tersenyum menatap lekat mata Ikbal.
“Baiklah, Mas. Salam buat Mamah ya, semoga cepat sembuh,” kata Isyana sebelum dia keluar dari mobil.
Saat malam tiba. Isyana duduk dengan anggun di kursi santai yang ada di balkon kamarnya. Sambil memutar-mutar gelas berisi anggur di tangan nya. Sesekali Isyana tertawa pelan. Membayangkan apa yang sedang dilakukan Ikbal dan Nabila malam ini.
“Mereka pasti sedang bersenang-senang malam ini, hahaha. Sangat menjijikkan!” Isyana tertawa lalu menyeruput isi gelasnya.
Tapi, tiba-tiba saja ponsel Isyana yang berada diatas meja bergetar. Sebuah panggilan masuk yang tertera di layar ponselnya bertuliskan nama Elvano.
Isyana menghela nafasnya. Dia menatap panggilan tersebut sampai selesai tanpa menjawabnya. Hatinya sangat perih tiap kali mengingat bagaimana hubungan mereka berakhir.
“Aku penasaran, bagaimana jadinya kalau waktu itu kita nggak berpisah. Apakah aku akan tetap melakukan balas dendam ini setelah tahu Mas Ikbal berselingkuh dariku? Karena aku juga melakukan hal yang sama,” lirih Isyana dengan suara parau dan tatapan sendunya.
*
Keesokan hari.
Ikbal datang menemui Isyana di kantornya. Saat wanita itu sedang menyiapkan laporan untuk rapat nya bersama Elvano.
“Sya, ini kunci mobil mu,” kata Ikbal seraya menaruh kunci mobil Isyana di atas meja, dihadapan wanita itu.
“Memangnya mobil kamu sudah selesai di perbaiki, Mas?” tanya Isyana menatap Ikbal dengan heran.
“Iya, mobilku sudah baik, makasih ya, Sya.” Ikbal mendekat dan langsung mengecup kening Isyana yang sedang duduk di kursi kerjanya.
“Iya Mas sama-sama,” ucap Isyana menahan rasa jijik nya, saat Ikbal mengecup keningnya.
Ikbal pun segera pergi. Meninggalkan Isyana yang sedikit heran. Karena gelagak Ikbal semakin mencurigakan.
“Dira, tolong siapkan mobil. Pulang nanti kita singgah ke butik waktu itu!” perintah Isyana pada Dira, lewat telepon kantor.
“Baik, Bu.” Dira pun segera menyiapkan mobil Isyana.
Mobil yang dikendarai oleh Dira. Berhenti di depan butik milik Nabila. Isyana memakai kaca mata hitam nya, dan berjalan anggun memasuki butik tersebut.
Suasana di butik tersebut sedikit ramai. Karena semua pegawai terlihat sibuk melayani para pembeli.
Isyana mengedarkan pandangan nya. Dia tersenyum mendapati mangsanya ternyata sedang duduk di sebuah sofa santai. Isyana pun berjalan mendekati Nabila yang tengah sibuk menatap layar ponselnya.
“Hai, Bu Nabila,” sapa Isyana dengan ramah.
Nabila tersentak dan spontan mendongak menatap Isyana yang berdiri dihadapan nya. Nabila terlihat sedang menghela nafas dan memutar bola matanya malas, bertemu dengan Isyana.
“Hai juga, Bu Isyana.” Nabila berdiri dan memaksakan senyuman nya pada Isyana.
Isyana tersenyum tipis. “Kamu pikir hanya kamu yang bisa menyombong di depan ku, lihat dan perhatikan lah!” batin Isyana.
“Oh iya, apa yang anda lakukan disini Bu Isyana?” tanya Nabila.
“Saya mau cari gaun untuk ulang tahun temen, bisa minta tolong rekomendasinya dari Bu Nabila?” jawab Isyana.
“Boleh sekali, mau model yang seperti apa?” Nabila berjalan ke salah satu deretan gaun-gaun. Diikuti oleh Isyana di belakangnya.
Saat wanita itu sedang menawarkan beberapa gaun padanya. Isyana sempat-sempatnya melirik ke arah jari manis di tangan kiri Nabila. Ada sebuah cincin berlian yang melingkar disana.
Isyana tersenyum meremehkan seraya melirik cincin berlian yang melingkar di jari manis nya.
“Aku mau yang lebih mahal dari semua gaun ini,” tunjuk Isyana dengan tangan nya. Sengaja dia melentikkan jari-jarinya agar Nabila bisa melihat cincin berlian yang dia pakai.
Spontan Nabila langsung terbelalak melihatnya. Dia pun bertanya pada Isyana. “Wah, cincin anda sangat cantik. Apakah suami Bu Isyana yang membelikan nya?”
Isyana melirik sinis dan sedikit menyunggingkan senyuman nya. “Kena kamu!” batin nya.
“Oh ini ya, tentu saja. Suami saya sangat romantis dan sangat mencintai saya, karena itu dia memberikan kejutan untuk saya kemarin dengan cincin ini,” ucap Isyana dengan tersenyum dan cara bicara yang sedikit sombong.
Nabila mendengus kesal. Terlihat wajahnya yang memerah menahan amarah nya. “Maaf, Bu Isyana. Saya permisi ke toilet sebentar,” katanya lalu pergi.
Isyana menatap kepergian Nabila dengan senyuman lebar dan puas. “Pasti dia mau mengadu lagi seperti waktu itu, iughh manja sekali!”
Isyana pun berjalan ke arah toilet yang sama. Akan tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti. Saat melihat Nabila yang sedang berbicara dengan seorang pria di depan pintu toilet.
Isyana berdiri mematung. Karena pria yang dia lihat adalah Elvano. Seperti tersambar petir di siang bolong. Isyana tidak bisa bergerak seakan-akan kakinya membeku.
Nabila yang sadar kalau ada seseorang yang memperhatikan nya, menoleh ke arah Isyana. “Bu Isyana?”
Elvano terkejut dengan ucapan Nabil. Saat wanita itu menyebutkan nama Isyana. Sontak Elvano langsung menoleh kearah yang sama. Pandangan nya bertemu dengan Isyana.
Wanita itu menatapnya dengan wajah syok.
“Isyana? Apa yang kamu lakukan disini?” Elvano mendekat dan menyentuh pundak Isyana.
Isyana saat itu langsung tersadar. Dia memegangi dadanya yang berdebar hebat. Dia mengusap matanya yang juga berair tanpa sebab.
“Maaf, saya ada urusan mendadak. Nanti saya datangi lagi, sebelumnya terima kasih untuk waktunya, Bu Nabila,” ucap Isyana terbata-bata dan suara yang bergetar.
Tanpa menoleh ke arah Elvano, Isyana segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Elvano pun mengejar Isyana sampai ke parkiran.
“Sya?” panggil Elvano seraya meraih tangan Isyana.
Langkah wanita itu pun terhenti dan dia langsung menoleh melepaskan tangan nya yang di genggam oleh Elvano.
“Ada apa El?” tanya nya dengan sedikit memaksa senyuman.
“Sya, tadi itu... maksudku kamu jangan salah paham,” jelas Elvano dengan gugup.
Isyana diam dan menatap Elvano. Saat ini dadanya sakit seakan-akan dilempar batu yang keras oleh seseorang. Mendapati kebenaran bahwa Nabila ternyata istrinya Elvano. Pria yang dia cintai selama ini.
“Kenapa aku harus salah paham El? Dia istrimu kan, lalu kenapa kamu bilang ke aku jangan salah paham? Aku bukan siapa-siapa, untuk apa aku harus salah paham.” Isyana menahan air matanya yang hampir tumpah.
Elvano terpaku mendengar perkataan Isyana, yang memang benar adanya. Bahwa untuk apa dia berkata Isyana jangan salah paham terhadapnya dengan Nabila. Sedangkan mereka berdua tidak memiliki hubungan apa-apa.
Isyana pun berlalu pergi masuk kedalam mobil. Dia meminta Dira untuk segera pergi. Meninggalkan Elvano yang mematung menatap kepergiannya.
Di perjalanan. Dira melirik ke kursi belakang. Dia melihat Isyana yang sedang menangis terisak-isak sambil memegangi dadanya. Dira pun mengarahkan sepion tengah mobil ke arah lain. Dia tidak ingin ikut campur dengan urusan pribadi Isyana.
“Kenapa El, kenapa harus kamu yang jadi suaminya si pelakor itu? Aku benar-benar semakin membencinya setelah tahu dia itu istrimu... dia nggak pantas untukmu, El.” batin Isyana.
To be contined....