Selama bertahun-tahun kehidupan gadis kecil berusia 16 tahun itu sangat buruk. Selain dikurung di sebuah loteng sempit, dia juga dijadikan bank darah oleh keluarganya. Tidak sampai di sana, Alleta juga dijebak oleh keluarganya untuk melayani lelaki tua hanya demi keuntungan perusahaan ayahnya.
Hingga pada malam itu, dia berhasil melarikan diri dari tragedi yang akan menghancurkan hidupnya dan bertemu dengan pria dingin yang mengubah kehidupannya yang suram.
Akankah Alleta bisa hidup bahagia setelah mengikuti pria itu dan lepas dari keluarganya?
Dan apa yang terjadi jika Alleta tahu kalau orang yang selalu dia anggap keluarga ternyata bukan.
Bisakah dia menemukan keluarga aslinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selenophile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Tok… Tok… Tok…
"Masuk."
Seorang pria masuk ke dalam ruangan di tangannya terdapat sebuah berkas yang diinginkan oleh tuannya.
"Tuan, ini informasi yang Anda inginkan,"ujar sang asisten sambil menyerah dokumen di tangannya.
"Hm, kau bisa kembali."
"Baik Tuan."
Dominic membaca semua informasi yang tertera di dokumen itu dengan teliti. Ternyata selain menjadi dokter bedah dia juga terlibat dalam pekerjaan ilegal yaitu penjualan organ manusia. Organ-organ yang dia jual didapatkan dari pasien-pasien yang meninggal di meja operasi. Entah metode apa yang dia gunakan untuk mengelabui semua orang.
Namun ada satu hal yang membuatnya curiga, dari catatan transaksi dokter itu selalu menerima uang dari nomor yang sama. Tapi pada tanggal 15, bulan Juni, tahun 2xxx tepatnya 16 tahun lalu sebuah nomor asing mentransfer sejumlah uang besar kepada dokter itu.
Dominic yakin nomor asing itu adalah dalang dibalik penculikan adiknya. Tanpa menunggu lama dia segera melacak IP alamat nomor itu, setelah mendapatkannya matanya menjadi gelap dengan niat membunuh yang kental. Alamat terakhir nomor itu ada di Indonesia, sebenarnya siapa orang itu. Tidak mungkin musuhnya ataupun musuh ayah yang melakukan hal itu.
Karena orang tuanya menyembunyikan kelahiran adik bungsu dari awak media. Bahkan keluarga dekat saja tidak tahu, tapi bagaimana bisa kecolongan seperti ini. Atau bisa jadi ada pengkhianat di rumahnya yang mereka tidak tahu.
Dominic segera memanggil asistennya melalui telepon.
"Bersiap kembali ke Indonesia."
"Baik Tuan."
°°°°
Di tempat lain, di sebuah rumah mewah yang berada di tempat sepi jauh dari keramaian beberapa pengawal berjajar rapi menyambut kedatangan bos mereka. Salah satu dari mereka membukakan pintu mobil untuk tuannya.
"Tuan barang yang anda inginkan sudah ada di dalam,"ucap pengawal itu dengan hormat.
"Hm." Axel merapikan jasnya yang sedikit kusut, matanya yang tajam seperti elang memandang rumah di depannya dengan dingin. Seringai licik muncul di sudut bibirnya.
"Ayo masuk." Dibawah perintah bosnya mereka semua mengikuti dari belakang, masuk ke dalam menuju halaman belakang yang luas dan lebar.
Di ujung sana terdapat sebuah gudang yang sudah tak terpakai. Dulu tempat itu sering dijadikan sebagai tempat penyimpanan barang yang sudah tak berguna, tapi sekarang tempat itu dijadikan sebagai tempat penyiksaan bagi mereka yang berani melawan tuannya.
Di dalam ruang yang kumuh dan kotor tiga orang wanita terikat secara bersamaan, mulut mereka disumpal menggunakan lakban agar tidak membuat keributan. Ketiga wanita itu tidak lain adalah para pelayan di kediaman hunter yang sering menyiksa Alleta.
Melihat beberapa pria sangar dan kekar masuk ke dalam mereka menyusut ketakutan, sorot matanya penuh kengerian.
Axel berdiri di hadapan mereka dengan aura kuat yang menindas membuat mereka menggigil ketakutan. Pancaran matanya yang gelap penuh dengan niat membunuh dan amarah yang terpendam.
"Pergi bawakan makanan anjing yang sudah basi, biarkan mereka merasakan apa yang dialami gadis kecilku,"perintahnya dingin kepada salah satu pengawalnya.
"Baik Tuan."
Tak lama kemudian pengawal itu kembali sambil membawa makanan anjing bersama wadahnya dan menaruh di depan mereka masing-masing. Sedangkan pengawal lainnya melepas lakban di mulut mereka.
"Apa maksud kalian! Kenapa menculik kami seperti ini?!"
"Ya! Lepaskan kami kalau tidak saya akan melaporkan kalian pada polisi!"
Axel tersenyum miring mendengar omong kosong mereka, " Kalian bisa lapor ke polisi jika kalian bisa bebas dari sini."
"A-apa maksudmu!"teriak mereka ngeri.
Axel tidak mengatakan apa-apa dan dengan nada perintah dia berkata, " Makan!"
"A-apa?!"
"Bukankah kalian suka memaksa gadis kecilku makan makanan seperti ini? Maka sekarang kalian rasakan bagaimana rasanya."
"Ap-" Sebelum ucapan mereka selesai para pengawal itu sudah menekan kepala mereka ke mangkuk yang berisi makanan anjing bersamaan dengan pisau dingin yang menempel di leher mereka masing-masing.
"Makan sampai habis jangan sampai ada yang tersisa kalau tidak pisau itu yang akan membuat nyawamu menghilang."
Mendengar ancaman pria itu mereka gemetar ketakutan. Meskipun mereka ingin melawan tapi dengan kepala ditekan seperti ini mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sambil menggertakkan gigi mereka tidak punya pilihan lain selain makan makanan yang menjijikkan ini.
Melihat mereka makan layaknya seperti anjing, Axel tersenyum dingin. Sean yang berdiri di samping bergidik ngeri saat melihat senyum bosnya. Sebagai asisten sekaligus sahabat yang selalu berada disampingnya selama bertahun-tahun Sean tahu bagaimana sifat dan sikap pria itu.
Axel tidak akan membiarkan mereka yang telah menyakiti orang yang disayanginya hidup bahagia. Pria itu akan melakukan apa pun untuk membuat mereka jera, hidup segan mati pun tak mau.
"Tu-tuan kami mohon biarkan kami pergi,"ucap mereka susah payah. Mereka benar-benar tidak tahan, rasanya ingin sekali muntah tapi mereka tidak berani. Mereka takut jika memuntahkan semuanya mereka harus kembali memakan makanan anjing itu.
"Ingin pergi? Jangan harap! Kalian harus menanggung semua perbuatan kalian terhadap gadis kecilku. Apa yang dirasakan oleh gadisku kalian juga harus merasakannya."
"Kami sama sekali tidak pernah menyentuh gadis yang Tuan maksud."
"Bahkan kami sendiri tidak tahu siapa gadis itu."
"Benar. Tuan saya mohon lepaskan kami."
"Tidak tahu? Perempuan yang selama ini kalian siksa adalah gadisku,"tekan Axel.
Mendengar hal itu wajah mereka langsung pucat. Sejak kapan gadis sampah itu menjadi kekasih pria impian semua wanita. Gadis itu bahkan lebih rendah dari mereka tapi kenapa keberuntungannya sangat bagus, bisa mendapatkan pria sesempurna itu.
"Dia hanya gadis sampah! Kenapa Tuan sangat mempedulikannya dia tidak pantas menjadi kekasihmu!"
"Diam!"bentak Axel seraya menodongkan senjata panas di kening wanita itu.
"Siapa Kau sampai berani mengatur saya, dan tutup mulut sialanmu itu jika tidak ingin mulutmu robek,"ancam Axel.
"Sean."
"Ya, Tuan?"
"Kirim mereka ke kandang Leon dan jangan biarkan mereka mati agar mereka merasakan bagaimana hidup diambang kematian,"perintah Axel pada sekretarisnya.
"Baik Tuan."
"Tidak! Tolong jangan hukum kami seperti ini! Kami benar-benar minta maaf! Kami rela melakukan apa pun tapi jangan hukum kami seperti ini! Tuan!"teriak mereka ketakutan.
Axel terus berjalan keluar tanpa mempedulikan permohonan mereka.
"Pergi ke perusahaan."
"Baik Tuan." Sopir itu segera menjalankan mobilnya meninggalkan tempat ini.
°°°°
Selamat membaca semoga suka dengan ceritanya. 🥰
Jangan lupa like, komen dan votenya, ya. 💕
perasaan udh 1bln lebih gk up'lg