Karena ditolong seorang pengusaha terkenal Darmawan Bisma dari perampokan. Faza Pricilia Noor terpaska harus menikah dengan putra sang pengusaha untuk balas budi. Padahal Paris Januar Bisma putra pengusaha sudah memiliki kekasih Adelia Candra seorang model internasional.
Dengan alasan warisan dan jabatan CEO terpaksa Paris menikah secara diam-diam dengan Fa. Namun, takdir berkata lain, luka yang diderita Darmawan Bisma saat permapokan, sang pengusaha mengembuskan napas terakhir setelah dua bulan pernikahan putranya. Dan Paris bersama Adelia mengusir Fa sesaat setelah pemakaman.
Setelah enam bulan berlalu, Paris mengetahui Fa dalam keadaan hamil besar sesaat menikah dengan Adelia. Sedangkan, Adelia tidak berniat memiliki keturunan demi menunjang penampilan sebagai model. Paris berusaha menemukan Fa dan meyakinkan untuk kembali. Bagaimana perjuangan Paris untuk mendapatkan cinta Fa dan apakah Fa menerima cinta Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muda Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Tugas Pertama Paris
Paris terjengkang duduk di lantai ruang makan sambil meringis, "Papi bok*ng Paris sakit, tega banget, sih!"
"Jangan mulai bersikap seperti anak kecil, bangun dan tegakkan badan!" perintah Pak Darma.
Paris mengangguk dan berdiri menegakkan badan, "Mengapa Papi sekarang galak sekali, sih?"
"Ini harus Papi lakukan karena Papi sudah tidak punya banyak waktu," jawab Pak Darma dengan tegas.
"Apa maksud, Papi?"
"Lupakan, Pak Ban, tolong siapkan sarapan untuk Nak Fa dan berikan kepada Paris sekarang!"
"Siap, Tuan."
Pak Bandi mengambil menu sarapan bubur ayam khusus untuk Faza. Ditambah susu hangat dan obat yang harus diminum Faza hari ini. Ada juga buah melon yang sudah dipotong dadu dan ditambah dengan garpu yang diletakkan di atas buah.
"Porsinya di tambah saja, Pak Ban. Nanti kalau Paris pingin makan bubur biar dia makan berdua sama Nak Fa!" perintah Pak Darma lagi.
"Idih, ogah banget," jawab Paris dengan spontan.
"Baik, Tuan. Terutama buah melon yang Pak Ban tambah." Pak Pan tersenyum karena sangat tahu jika buah favorit Paris adalah buah melon. "Ini silakan, Tuan Paris!"
"Terima kasih, Pak Ban."
"Sama-sama, Tuan Paris."
Pak Bandi tersenyum dan mengangguk baru pertama kali tuan mudanya mengucapkan terima kasih terlihat tulus. Biasanya jarang mengucapkan kata sederhana itu. Yang paling sering langsung berlalu begitu saja tanpa berkata sedikit pun.
Saat mendengar Pris terjengkang, Faza mengintip dari balik pintu. Tertawa sendiri saat melihat laki-laki tampan yang letoy itu berusaha melakukan apa yang diperintah papinya. Bertekat melanjutkan apa yang direncanakan Pak Darma karena mendengar ucapan pengusaha itu jika waktu yang dimilikii tidak lama lagi.
Faza mengambil syal yang ada di lemari dan menyilangkan di badan untuk menopang dan menggendong tangan kanan. Pura-pura tangannya retak dan harus diistirahatkan tidak boleh untuk bekerja. Duduk meluruskan kaki di atas tempat tidur sambil bermain ponsel menggunakan tangan kiri.
Paris masuk kamar dengan mendorong pintu penggunakan kaki. Masuk kamar tanpa mengetuk pintu dan tanpa salam. Faza langsung melotot dan menatap tajam Paris.
Paris spontan menghentikan langkahnya, "Ada apa melotot begitu, terpesona melihat Paris yang tampan?"
"Masuk kamar orang itu salam dulu, sana ulang!" perintah Faza dengan tegas.
Tanpa menjawab Paris berbalik badan sampai mendekati pintu, "Assalamualaikum," ucap Paris berjalan mendekati Faza.
"Walaikum salam."
Nampan berisi sarapan diletakkan di atas meja samping tempat tidur, "Silakan sarapan dulu, Neng Fa!" perintah Faza mencoba bersikap profesional.
"Tidak, Fa tidak terbiasa makan menggunakan tangan kiri," jawab Faza dengan jutek.
"Nanti Paris dimarahi, Papi. Dibilang tidak bertanggung jawab."
"Tuan Paris saja yang sarapan, beres, 'kan?"
Paris diam dan mengerutkan keningnya sambil mengangguk Melirik bubur ayam yang terlihat rasanya sangat nikmat. Ditambah dengan buah melon kesukaan pasti sangat segar dinikmati. Apalagii perut belum terisi sarapan apapun dari pagi.
Faza melirik Paris yang seolah menelan ludah melihat menu sarapan yang terlihat lezat. Dalam hati ingin menguji selain manja, laki-laki yang ada dihadapannya itu amanah atau tidak. Akan bisa lebih mudah mengendalikan pikirannya saat dia banyak melakukan kesalahan karena tidak jujur.
Tangan Paris sudah diangkat untuk memegang sendok. Menengok melihat Faza yang pura-pura sangat menyukai menu bubur yang terlihat sangat lezat. Tangan langsung diturunkan lagi saat melihat ada obat yang berada di piring kecil.
"Apakah Paris harus minum obatnya juga?"
"Iya, dong. Kalau perlu makan siang dan malam nanti juga Tuan Paris yang makan!"
"Neng Fa nanti makan apa?"
"Paling kelaparan atau mati."
"Eeee."
di tunggu kisah yg baru kak..semangat 💪😘🥰
slmat datang baby Vienna,,,
dan maksih buat Kak Anna udah nuangin kisah yng menarik smga sehat sllu dan tetap smngat buat karya karya nya, 🙏🤲
Tetap semangat ya kak author dg cerita2 baru yg lain 😍🔥🔥🔥🔥