SINOPSIS
Agung Aksara Gumilar, akuntan manajer di Sanjaya Group, perusahaan bonafid milik Alwin Sanjaya, ayah dari Bramasta Sanjaya, CEO B Group yang juga suami dari Adisti, adiknya.
Dikenal di publik setelah menjadi korban yang tertembak tak sengaja pada saat peristiwa perebutan kekuasaan dunia hitam antara Tuan Thakur dan Rita Gunaldi di The Ritz.
Saat dirinya koma, kedua orangtua Adinda yang sudah meninggal menitipkan anaknya untuk selalu dijaga dan dilindungi olehnya. Perjanjian di alam antah berantah terkait gadis remaja belia yang mampu menjungkirbalikkan dunianya.
Adinda, remaja yang selalu tengah berada dalam kesulitan saat bertemu dengannya dan dirinya selalu menjadi penyelamatnya. Hingga Adinda menjulukinya Power Ranger Hijau.
Agung dan Gank Kuping Merah harus menghadapi kenakalan remaja yang di luar batas, kebangkitan musuh lamanya dan keculasan musuh dalam menjegal software akuntansi karyanya.
Mampukah Adinda bertahan?
Seberapa kuat Power Ranger Hijau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ough See Usi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 – PELANGI
Di dalam tenda, suasana riuh. Anton membuat video live mereka di WAG. Leon dan Layla yang menontonnya dari Changi Airport mendadak menjadi pasangan misuh-misuh.
Para pembeli lain senang melihat sosok-sosok yang hanya bisa mereka lihat di layar kaca ataupun di media online dan cetak bisa melihat mereka secara langsung.
Para pengawal membatasi pergerakan pembeli lain agar tidak mengganggu mereka saat makan. Tidak terlalu dekat berada di dekat mereka.
“Mas Agung ini, sudah lama jadi langganan saya,” Pak Gimin penjual mie ayam bercerita pada mereka semua sembari menunggu mie matang direbus.
Bramasta tersenyum melihat istrinya mengambil kerupuk dari kaleng besar.
“Bapak gak nyangka, pelanggan bapak ada yang jadi pesohor. Orang beken. Iya, Mas Agung?”
“Ah, Bapak bisa aja. Saya masih orang yang sama kok, Pak. 3 minggu yang lalu, kenapa gak jualan, Pak?” Agung membelokkan pembicaraan agar Pak Gimin tidak larut memuji-muji dirinya.
Rasanya malu mendengar dirinya dipuji oleh orang lain padahal dirinya merasa tidak berbuat sesuatu yang besar, sesuatu yang hebat.
“Loh, Mas Agung 3 minggu yang lalu ke sini, tho? Saya pulang kampung, Mas. Sekeluarga. Nyekar ke makam orangtua, soale saya mau mantu,” Pak Gimin tertawa malu sambil meracik mie untuk mereka semua.
“Anak pertama, Pak?” tanya Anton sambil mengambil kerupuk berbentuk persegi berwarna kecoklatan dengan tekstur merekah.
Pak Gimin menggeleng.
“Anak kedua saya. Alhamdulillah, dia dapat jodoh orang Korea yang sayang dan perhatian banget.”
“Kok jodohnya orang jauh, Pak?” Adisti menggigit kerupuknya.
“Kenal sewaktu anak bapak pendidikan di sana, dikirim oleh perusahaannya.”
“Korea Selatan kan, Pak?” pertanyaan Indra disambut tawa oleh semuanya.
“Ya kali, kalau di Korea Utara, anak Bapak pulang tinggal nama nantinya,” Pak Gimin dan tertawa.
“Kalau anak Bapak yang pertama?” tanya Bramasta.
“Oh, dia belum menikah. Masih meneruskan S2-nya di Jerman. Kebetulan dapat undangan beasiswa dari pemerintah sana.”
“Masyaa Allah. Keren banget, Pak,” Bramasta terkesima.
“Memangnya bekerja dimana Pak, anak pertama Bapak?” Hans memandang Pak Gimin yang cekatan bergerak.
“Begitu lulus dari Poltek ITB langsung direkrut oleh perusahaan Jerman. Mercedes.”
“Masyaa Allah,” Hans menatap kagum pada Pak Gimin.
“Poltek ITB itu sekarang jadi Polban ya? Politeknik Bandung, yang kampusnya di Ciwaruga,” tanya Raditya, “D3 kan? Meneruskan S1nya dimana, Pak?”
“Di sana, Mas Polisi. Kebetulan dibiayai oleh perusahaan tempatnya bekerja,” Pak Gimin menyajikan mie ayam dibantu asistennya.
“Monggo dinikmati mumpung masih panas. Kalau kurang apa, tinggal bilang saja ya,” Pak Gimin berbalik lagi menghadapi panci mie untuk melayani pembeli yang dibungkus.
“Om, serius Om?” Adinda melebarkan matanya melihat porsi sambalnya Agung.
Agung mengedipkan sebelah matanya lalu terkekeh.
“Teh Disti, Om Agung... sambalnya...,” Adinda menyolek lengan Adisti.
Adisti terkekeh.
“Pura-pura gak lihat saja, Din. Nanti kalau sakit perutnya, pura-pura gak lihat juga...”
“Begitu ya?”
Hana tertawa melihat ekspresi Adinda.
“Agung butuh naikin mood-nya, Din. Abaikan saja dia.”
“Sayang, tolong ambilkan kerupuk, dong,” bisik Agung.
“Yang putih atau cokelat?” pipi Adinda bersemu mendengar Agung memanggilnya ‘Sayang’.
“Putih.”
Adinda tersenyum kecil. Melirik ke Agung yang tengah menatapnya. Keduanya saling melemparkan pandangan ke sembarang arah saat tahu keduanya saling bertatapan.
Semuanya menganggukkan kepala begitu gigitan pertama mereka lakukan. Menyetujui cita rasa yang dinobatkan sebagai mie ayam rakyat yang enak versi Agung.
Hana bahkan menghidu dalam-dalam aroma mie ayam saat tersaji di hadapannya. Wangi, katanya.
Leon dan Layla hanya jadi penonton saja. WAG Kuping Merah dan Sendok Takar Merah dipenuhi dengan foto-foto mie ayam dan kebersamaan mereka.
WAG Sendok Takar Merah
Layla_Kalau gw ke Bandung lagi, ajakin gw ke sana ya_
WAG Kuping Merah
Leon_Gung, ajakin gue ke sana. Gue traktir sama kerupuk-kerupuknya_
Usai makan mie ayam, Anton mengunggah video yang dibuatnya tadi di Ige-nya beberapa saat setelah mereka meninggalkan lokasi. Tidak terbayangkan apabila Anton menayangkannya saat mereka masih berada di sana.
Seperti janji Adinda, mereka hunting cilok di dekat sekolahnya. Untung saja, penjual langganan Adinda masih mangkal di bawah pohon Angsana.
Mereka masih kenyang dengan mie ayam. Para pria masing-masing makan 2 mangkok mie ayam. Jadi cilok yang dibeli langsung dibawa masing-masing untuk dimakan di rumah.
Mereka semua pulang dengan perut kenyang dan hati bahagia. Begitu sampai basement VIP/VVIP, mereka langsung masuk ke kendaraan masing-masing.
Di dalam mobil Innova, Agung menggunakan pengawalnya untuk menjadi driver. Pengawal yang bertugas untuk mengawalnya semenjak insiden penyerangan dirinya dan Adinda oleh anak buah Tuan Thakur di depan toko peralatan dan bahan kue.
Raditya masih duduk di depan. Di bangku tengah, Agung duduk berdampingan dengan Adinda.
“Kita beli bunga dulu kan, Bang?” tanya Adinda kepada Raditya.
“Kita beli di mana?” tanya Raditya.
“Di Pasar Kembang Wastu Kancana saja, Bang. Ada banyak bunga yang Abang bisa pilih di sana. Bunga tabur juga banyak jenisnya,” saran Adinda.
Raditya mengangguk.
Agung tersenyum kecil menatap Adinda. Dia membuat jari love secara sembunyi-sembunyi untuk dilihat Adinda. Adinda melihatnya. Lalu tersenyum malu.
Gerimis kecil saat mereka tiba di pemakaman umum terbesar di Bandung, Sirnaraga. Agung menyerahkan payung lipat untuk dipakai Raditya dan payung besar untuk dipakainya berdua dengan Adinda.
Penandaan komplek pemakaman dengan blok dan penomoran yang rapi membuat mereka tidak terlalu lama mencari makam Ayumi.
Agung memegangi bahu Adinda saat berjalan di bawah payung agar Adinda terlindung dari gerimis. Raditya berjalan di depan.
Raditya berjongkok di dekat makam Ayumi. Membacakan do’a dan surah al Fatihah dan surah pendek lainnya. Beberapa kali, terlihat Raditya menyeka matanya.
Adinda memegangi lengan Agung. Air matanya ikut menetes. Karena ia tahu bagaimana rasa kehilangan oleh orang yang disayangi dan menyayanginya.
Agung mengelus pelan punggung Adinda. Ia ikut mendo’akan Ayumi.
Gerimis berhenti saat mereka usai menabur bunga. Adinda melipat payungnya. Dan menyadari ada lengkung aneka warna di langit.
Agung menghampiri Raditya yang masih berguncang bahunya, menatap nisan Ayumi sambil berdiri. Agung menyentuh punggung Raditya.
Raditya berbalik. Memeluk Agung dengan isakan yang terdengar jelas.
“Mbak Ayumi akan selalu menempati tempat yang istimewa di hati Bang Radit,” Agung memeluk Raditya, “Mulai sekarang, ikhlaskan kepergian Mbak Ayumi. Ikhlas yang sebenar-benarnya. Mempercayai kepergiannya sebagai bagian dari ketetapan Allah. Tanpa ada rasa yang membebani Bang Radit lagi.”
Raditya mengangguk dengan isakan yang keras.
“Saya yakin, Mbak Ayumi ingin Bang Radit tetap melanjutkan hidup dengan bahagia. Karena Mbak Ayumi adalah orang yang selalu ingin membuat Abang bahagia.”
Raditya menganggukkan kepalanya berkali-kali.
Agung menepuk-nepuk punggung Raditya hingga isakannya mereda.
Adinda menyodorkan tisu kepada Raditya. Raditya menerimanya dengan perasaan canggung.
“Saya... saya jadi malu karena kamu melihat saya seperti ini, Din.”
Adinda menggeleng.
“Ini manusiawi, Bang. Saya tahu rasanya kehilangan orang yang kita sayangi dan menyayangi kita. Lagipula saya sudah menganggap Bang Radit sebagai keluarga saya juga, sebagai Abang saya.”
“Terima kasih, Din. Agung lelaki beruntung yang bisa mendapatkan hati kamu yang baik.”
“Teruslah melanjutkan hidup dengan bahagia, Bang. Seperti yang tadi Om Agung bilang ke Abang,” Adinda tersenyum hingga dekik kecil di matanya terlihat.
Tangannya menunjuk ke arah lengkung warna-warni di langit. Membuat Agung dan Raditya memandang ke arah yang ditunjuk olehnya.
“Pelangi atau katumbiri dalam Basa Sunda. Bukankah ini sebagai pertanda baik? Bahkan alam sepertinya merestui Abang untuk dapat melanjutkan hidup dan melepaskan Mbak Ayumi dengan ikhlas.”
Mereka berjalan ke arah mobil sambil sesekali mendongak ke atas. Melihat pelangi yang muncul di atas pemakaman.
“Pelangi muncul setelah hujan atau pada saat gerimis. Artinya, setelah kesukaran,setelah badai, setelah kedukaan, akan ada hal yang indah, hal yang baik yang akan terjadi pada kita,” Adinda menatap Raditya dan Agung bergantian.
“Dibutuhkan air dan sinar matahari untuk memunculkan pelangi. Air bisa diartikan sebagai hujan badai, sinar matahari bisa diartikan sebagai sesuatu yang panas. Keduanya bila terpisah akan menjadi sesuatu yang membuat kita mengeluh,” Adinda terdiam sejenak karena harus menghindari kubangan air.
Agung memegangi tangannya membantu Adinda agar dapat melompatinya.
“Artinya, untuk mendapatkan sesuatu yang indah, sesuatu yang berharga, kita harus ditempa dulu dengan sesuatu yang keras, yang tidak mengenakkan kita. Suatu proses agar kita belajar mengerti arti menunggu untuk memperoleh kesabaran, mensyukuri apa yang kita miliki agar tidak dengki dan kufur.”
“Unbelievible kalimat itu muncul dari gadis abege,” Raditya melompati genangan air.
“Terkadang, saya lupa dengan usia kamu yang masih belasan tahun, Din,” Agung membantu memegangi tangan Adinda lagi agar dapat melompati genangan air.
Adinda tersenyum menatap Agung.
“Jadi, berhenti melihat saya sebagai anak kecil, Om. Hujan badai dan matahari dalam hidup saya membuat saya melampaui usia saya. Membuat saya dan Om Agung, 11 12.”
Agung mengangkat sebelah alisnya mendengar kalimat Adinda. Dia tidak melepaskan pegangan tangannya pada Adinda hingga mereka di dalam mobil.
.
*bersambung*
🌺
Untung saja Adisti gak ikut, ya Gung. Lihat kalian bergandengan tangan, bisa-bisa langsung keluar tuh tendangan taekwondonya.
Bang Radit, move on ya.
Nanti dicariin jodoh yang pas buat Bang Raditya deh oleh Author 🤭
🌺
Jangan lupa like dan minta update.
Yang belum❤➕ atau yang belum ⭐5, sok geura nyaaa 🤭.
Jangan lupa saweran buat Author ya😁
🌺
Utamakan baca Qur’an.
🌷❤🖤🤍💚🌷
thor kenapa gak dibikin novel pasti best seller.. sumpah lengakp banget nih novel..
thor kenapa gak dibikin novel pasti best seller.. sumpah lengakp banget nih novel..
Trus hasil operasi plastik om Michael di Korea nya, ada novelnya yg lain??
Saya tunggu novel2 berikutnya.
Semangat🫰🫰🫰