Cover by @Iqbald26
Nadya Rahman seorang gadis yang menikah dengan duda beranak dua yang berprofesi sebagai dokter.
Kevin Fadila seseorang yang berkepribadian introver, dingin dan bersikap semaunya tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Keputusannya menikahi Nadya adalah untuk menjadi ibu pengganti bagi anak Kevin,apakah Kevin menerima pernikahan ini sampai akhir atau dia tetap bertahan dengan keegoisannya.
jangan berharap ada pelakor dan pebinor dicerita ini, siapkan tisu dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan
Suasana di kampus nampak masih tegang, Nadya yang merasa tidak mengenali laki-laki yang sudah tua namun masih nampak gagah, begitu pun dengan wanita di sampingnya meskipun tak lagi muda dia tetap cantik.
Nadya menerima bunga dan juga ucapan selamat dari kedua orang asing itu, namun masih dengan banyak pertanyaan di kepala Nadya.
"Boleh saya berbicara dengan kamu, Nak?"ucap laki-laki tua itu
"Apa yang mau dibicarakan kakek ini dengan ku, aku bahkan tidak mengenalnya, apa orang tuaku Dulu punya hutang piutang yang belum terbayar?" batin Nadya
"Tuan siapa, apa saya mengenal anda?" tanya Nadya
"Setelah ini kamu akan mengetahui semuanya, tolong ikutlah dengan kami, kami berjanji tidak akan menyakitimu"ucap kakek itu membujuk.
Nadya melihat kearah sahabatnya seolah meminta saran dan mereka seolah mengijinkan.
"Baiklah, aku ikut dengan tuan, tapi aku tidak bisa lama, aku harus kembali kerumah sebelum sore tiba,"
"Baiklah, kami berjanji tidak akan mengambil banyak waktu mu,"
Nadya berpamitan kepada sahabat-sahabatnya dan juga kedua orangtua mereka, Nadya berada ditengah-tengah dan di apit oleh sepasang suami istri itu.
Nadya masih dengan pikiran-pikirannya, namun berbeda dengan sepasang suami istri itu yang nampak bahagia berada diantara gadis cantik ini.
Tak lama mereka sampai di parkiran mobil, pengawal sudah menanti mereka untuk membukakan pintu mobil yang akan dinaiki tuannya, para pengawal itu nampak menundukkan kepalanya kepada Nadya sebagai rasa hormat, namun nadya merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu karena dia tidak terbiasa.
"Kita mau kemana, Tuan?"
"Sabarlah, Nak. Kita akan segera sampai ke tujuan "ucap kakek
"Jangan takut, Sayang. Kami bukan orang jahat," timpal wanita paruh baya.
Duapuluh menit kemudian mereka sampai di sebuah rumah megah bak istana, dijaga oleh banyak pengawal. Nadya menatap takjub setiap ditel bangunan megah itu, sambil sesekali mengucapkan "Maa syaa Allah" tanda kekaguman melihat pemandangan indah ini.
"Nak, kita sudah sampai, turunlah"ucap sang kakek
"Tuan sebenarnya apa tujuan anda membawaku ke sini? aku tidak mengenal kalian berdua, apa aku dan keluargaku melakukan kesalahan pada kalian?"
"Tidak, sayang. Kalian tidak punya salah apapun pada kami, Kakek hanya ingin menyampaikan sebuah kebenaran" ucap Kakek
Nadya terdiam dengan pernyataan sang kakek, semakin penasaran dan ingin segera meninggalkan mereka karena khawatir pada sikembar.
"Duduk lah, Nak. Disini"ucap kake menunjuk sofa"
Nadya menuruti perintah kakek itu.
"Nak, kami akan memulai pembicaraan, apapun yang kami ucapkan adalah kenyataan, dan kebenaran yang tidak bisa kamu pungkiri"
Nadya semakin kebingungan dengan apa yang baru ia dengar.
"Apa itu, Tuan?"jawab Nadya
Kakek mulai mengeluarkan album foto yang didalamnya terdapat banyak moment, yaitu foto seorang anak laki-laki, dari usianya masih bayi, lalu anak-anak, remaja, masa kuliah di luar negeri, bahkan sampai laki-laki itu menikah dan memiliki anak.
Nadya mengenali foto tersebut, ya karena foto itu adalah ayahnya.
"Inikan foto Papa, tuan dapat dari mana?
"Kakek memilikinya sejak lama, Nak"
Nadya semakin kebingungan.
"Maksud anda apa?"
"Nak, anak laki-laki yang ada di foto ini adalah anakku, yang tak lain adalah ayahmu," ucap Kakek terus terang.
Nadya terkejut dengan apa yang baru dia dengar.
"Tuan jangan bercanda, Papa tidak pernah menceritakan bahwa dia masih punya keluarga, yang aku tau kami hanya hidup bertiga saja,"
"Memang tidak mudah menerima kenyataan ini, Nak. Ceritanya cukup panjang maukah kamu mendengarkan semuanya?"
Nadya bingung apakah dia harus setuju atau tidak, namun di sisi lain dia pun amat penasaran, bagaimana kalau kenyataan itu benar adanya. Akhirnya Nadya pun menyetujuinya.
"Baiklah, Tuan. Aku akan mendengarkan semua ceritamu, aku pun penasaran dengan apa yang terjadi dengan masa lalu orangtuaku,"
"Baiklah, Nak. dengarkan baik-baik dan jangan memotongnya sampai kakek selesai bicara,"
Nadya mengangguk.
Kakek mulai bercerita meskipun dengan berat hati.
"Nak, nama kake adalah Damar Rahman, aku adalah ayah dari papamu, dulu sebelum meninggalkan rumah ini dia adalah seorang yang patuh pada orang tuanya, dia anak yang sederhana sekalipun dia memiliki segalanya. Namun dia tak selalu menggunakan fasilitas yang kami berikan, setelah lulus kuliah di luar negeri dia kembali ke Indonesia dan mulai bekerja di kantor kakek..."
"Singkat ceritanya kake menjodohkan dia dengan anak rekan bisnis kakek, yang tak lain adalah ibumu, mereka pun menyetujui perjodohan ini. Namun di saat momen pernikahan akan berlangsung Kakek membatalkan perjodohan itu karena kake mendapat kabar kalau keluarga Yusuf mengkhianati kakek. Ayah dan ibumu menolak karena ternyata mereka jatuh cinta pada pandangan pertama.
Setelah itu Mama dan Papamu mengancam kami, mereka akan bunuh diri jika pernikahan mereka tidak direstui dan dengan berat hati kami menyetujuinya, namun dengan persyaratan bahwa mereka tidak hidup bersama keluarga Rahman maupun keluarga Yusuf. Mereka menyetujuinya, setelah pernikahan itu Papa dan Mama mu meninggalkan masing-masing keluarganya.
Sampai akhirnya kami menerima kebenaran bahwa keluarga Rahman dan keluarga Yusuf sudah di adu domba sekian lamanya, sejak saat itu kami berdamai dan mulai mencari keberadaan anak-anak kami, namun naasnya kami mendengar kabar dari orang-orang suruhan kami bahwa Dyaka dan Nabila sudah meninggal dunia karena kecelakaan.
Hancur hati kami mendengarnya, kami berusaha tegar dan menyesali semuanya namun tak ada guna, lalu setelah itu kami mencari informasi disekitar tempat kediaman mu dan kami mendapatkan informasi bahwa Dyaka dan Nabila mempunyai seorang nak perempuan yang cantik, kami pun mulai mencari keberadaan kamu, dan saat itu pak RT memberi tahu bahwa kamu sudah menikah dan tinggal bersama suami mu.
Kami memantau mu dari kejauhan, ternyata kamu menikah dengan seorang dokter, kami bersyukur, namun akhirnya kami juga mengetahui bahwa pernikahan mu hanyalah kebohongan dan kamu tidak diperlukan sebagai seorang istri, sejak saat itu kakek berniat untuk menjemput mu lalu mengakhiri pernikahan bohongan mu itu,"
Nadya terdiam penuh haru mendengar setiap cerita yang keluar dari mulut kakek itu bahwa perjalanan kedua orangtuanya tidak mudah, Nadya mulai menangis membayangkan betapa tersiksanya mereka dulu jauh dari orang tua dan menjalani hidup penuh dengan kesulitan.
"Apa tuan sungguh adalah keluarga ku?"
"Benar, Sayang. Aku adalah kakek mu, dan dia adalah adik ku"ucap kake menunjuk wanita tua yang sejak tadi bersama kakek Damar.
"Aku pikir dia adalah istrimu, lalu dimana istri tuan?"
"Panggil aku Kakek mulai saat ini. Nenekmu sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu, dia mengalami serangan jantung semenjak kepergian Papa mu,"
Lagi-lagi Nadya terkejut dan tanpa disadari air mata Nadya kembali jatuh.
"Sudahlah semua ini adalah takdir yang maha kuasa, yang terpenting Kakek sudah menemukan mu, boleh Kakek memelukmu, nak?"
Nadya pun mengangguk tanda setuju.
Mereka berpelukan melepas rindu setelah sekian lama, tak apa bukan anak dan menantu yang kakek peluk setidaknya ada Nadya sebagai obat.
**
Hadohhhh pegel banget tanganku, otak ku kaya dikuras, imajinasi ku meluas haha lebay ini sih jahat kalau kalian nggak dukung aku 😁😀, semangat banget loh aku nulis. Jangan lupa like, komen dan ajak teman-teman kalian buat baca novel amatir ini barangkali bisa menghibur terima kasih ya.
pokoknya bikin si Kevin bucin akut😏