NovelToon NovelToon
Pukat Asmara La Cosa Nostra

Pukat Asmara La Cosa Nostra

Status: tamat
Genre:Obsesi / Menikah Karena Anak / One Night Stand / Mafia / Romansa / Tamat
Popularitas:879.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: sinta amalia

Undian liburan impiannya berubah menjadi awal petaka bagi Rinjani, kesalahan satu malam yang dibuat bukan untuknya menjerat Rinjani masuk ke kehidupan seorang tuan mafia.
"Aku tidak akan menikahimu, namun lahirkan janin itu dan tinggalkan dia untuk jadi penerusku," ucapnya tajam penuh intimidasi seraya melemparkan surat perjanjian dan pulpen.
Namun bukannya takut, Rinjani malah melepaskan flatshoes kotornya, "talk to my flatshoes, sir!" ia melemparnya pada Loui, meski lemparannya seburuk lemparan balita.

Mohon dibaca dari awal sampai akhir ya guys 😉 salah satu cara untuk mendukung author dalam berkarya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 ~ Aku mencintaimu

Cameron menyerahkan segelas wine untuk Loui dan satu lainnya untuk dirinya.

Oscar menghampiri Loui dan menegurnya ketika Loui masih mengobrol santai dengan seorang pejabat negri yang telah beberapa kali memakai jasa kartel mafianya demi menyingkirkan pesaingnya.

"Lou, apa kau masih mau disini?" bisik Oscar namun masih bisa terdengar oleh Cameron.

"Hey, Os...apa-apaan kau ini, Loui masih mau disini, ya kan Lou?" Cameron masih setia bergelayut manja.

Pria pejabat itu terkekeh melihat Cameron yang manja pada Lou, meskipun tak aneh lagi melihat wanita-wanita nakal akan senantiasa agresif pada ketua kartel mafia ini, selain daripada namanya yang disegani, ia juga tampan. Patut lah wanita nakal pun mengejar-ngejarnya meski untuk sekedar jadi pemuas naf ssuu nya.

"Sebentar lagi, Os..." Loui melirik arloji di tangannya, tangannya beralih mengendurkan dasi, mendadak hawa jadi panas, gerakan manja Cameron yang menempel padanya membangkitkan sesuatu pada dirinya yang ada di dalam.

"Lou, kau baik-baik saja? Kau berkeringat sayang..." dengan sengaja ia menyeka buliran keringat yang terlihat mengkristal di dahi Loui, entah kenapa hatinya ingin sekali mengelak namun tubuhnya menikmati sentuhan manja Cameron.

"Os, sepertinya aku ingin keluar dari sini..." ucap Loui.

"Ada apa Lou?" Oscar mengangguk, "tapi baiklah. Aku segera menyiapkan mobil."

"Kau mau keluar Lou? Kalau begitu, aku ikut..." jawabnya tak mau melepaskan Loui. Setelah berpamitan pada si empunya acara, Loui bergegas keluar, hawa panas itu semakin menyerangnya.

Belum kakinya sampai di pijakan mobil dan masih berada di di pelataran rumah mewah itu, Loui langsung menangkap rahang Cameron dengan tangan besarnya, "apa yang kau berikan padaku, jaa lankkk?!" matanya mengilat diantara rasa panas menggelora dan keringat yang meski tak deras tetap saja bikin gerah.

Cameron tersentak mengaduh, "Lou, apa yang kau lakukan, ak---aku hanya ingin membantumu," jawabnya ketakutan sekaligus merasakan sakit di bagian rahangnya karena Loui benar-benar mencengkram wajahnya kencang, "awww Lou, sakit.."

"Tidak mungkin hanya minuman, aku tau rasa ini. Aku pun tau apa yang kau taruh, kau kira aku bo doh!" Loui menghempaskan cengkramannya dengan kencang membuat Cameron sampai terjatuh ke bawah.

"Lou, aku hanya ingin menghabiskan waktu di ranjang bersamamu, itu saja. Aku rindu itu....kau tak pernah memanggilku lagi untuk menjadi penghangat ranjangmu, tak apa kau tak membayarku," mohonnya. Loui di tengah kesulitannya mengontrol kewarasan berusaha memanggil Oscar, "Oscar! Cepatlah!"

Oscar yang baru saja datang ikut terheran, "Lou,"

Tatapan Lou mengilat pada anak buah kepercayaan sekaligus temannya itu, "dimana kau saat wanita jaa lankk ini menaruh sesuatu di minumanku?!"

Bughh!

Oscar menerimanya, kini ia dapat menganalisa keadaan apa yang sedang terjadi, karena ia begitu hafal dengan kondisi Loui saat ini.

"Kau!" tunjuk Oscar pada Cameron. Loui sudah benar-benar tak kuasa, entah berapa banyak dosis yang Cameron tuangkan, mungkin cukup untuk membuatnya hor nyyy sehari semalam.

"Per setan!" ia menarik lengan Cameron dan menghempaskannya ke dalam mobil, "kau harus bertanggung jawab untuk ini."

Terang saja Cameron tersenyum puas, karena memang itu tujuannya.

"Bawa aku dan ja lannkk ini ke hotel, Os.." Loui ikut masuk.

"Apa tidak sebaik---"

"Baiklah." Oscar mengurungkan niatannya memberikan saran, melihat sorot mata tajam Loui.

Dapat Oscar lihat dari rear vision sana, bahwa Cameron telah mencu mbu Loui dengan menjijikan dan Loui menerima itu, ia sampai menggelengkan kepalanya.

Loui sudah benar-benar di ambang rasanya, namun yang terbayang di pikirannya bukanlah wanita sexy manapun, melainkan Rinjani. Tak tau sejak kapan, seleranya merosot tajam bak harga hape second di pasar loak.

Senyuman manis Jani, saat dia sedang menge mutt sendok selai kacang hari itu. Leher jenjang Jani yang rambutnya ia cepol sembarang, tentu saja Rinjani memiliki aura tersendiri dengan perut buncitnya. Rinjani tak pernah memamerkan tubuhnya namun bayangan malam itu, saat ia merintih dan menthesah selalu terpatri di dalam pikiran Loui, "Rinjani...." thesah Loui bergumam.

Jani bahkan sudah hampir lupa dengan kejadian tadi di cafe, karena kini ia justru sedang sibuk bagi-bagi waffle.

Dorong sana, dorong sini, para pelayan dan anak buah Loui kini pesta waffle dan gellato di rumah, mirip orang prasmanan sunatan, siapa yang khitanan? Ya Loui, nanti Jani akan memotongnya sesampainya pria itu di rumah! Prasmanan aja dulu....

Jani sampai membeli frezzer khusus unuk gellato yang dipesannya sekalian dengan isian beberapa varian gellato.

Rinjani mendadak diam sejenak merasakan cenat cenut di bagian perut bawahnya, ia lantas duduk sebentar dan mengusapnya.

"Ada apa nona?" tanya Marriot menyadari jika Jani sedang tidak baik-baik saja.

Jani menggeleng, "mungkin cape saja. Sedikit terasa cenat cenut dan pegal....bayiku sudah mulai bergerak ibu Marrie," Jani mengambil tangan Marriot dan menempelkannya di permukaan perut yang terhalang baju.

Nut...Nut...Nut...

Marriot tersenyum lebar merasakan gerakan di dalam sana meskipun hanya pergerajan kecil dan hampir tak terasa, "iya nona. Dia bergerak...sehat selalu."

Mathew tersenyum melihat pemandangan yang begitu hangat itu, Jani duduk sambil tertawa renyah dengan Marriot seraya memegangi dan bermain-main dengan perutnya. Namun sejurus kemudian ada rasa getir ketika mengingat kontrak perjanjian Jani dan tuannya, Loui. Apakah wanita itu akan rela berpisah dengan putranya kelak?

"Apa tuan Loui sudah pernah merasakan pergerakan putranya, nona?" pertanyaan Marriot membuat senyum itu pudar dari wajah cantik Rinjani, ia menggeleng tanpa bicara apa-apa lebih memilih mengajak Marriot untuk menikmati gellato, "Jani suka rasa strawberry, ibu Marrie harus coba!" ajaknya ingin beranjak, namun Mathew sudah membawakan satu cup gellato strawberry dengan wafer dan saus strawberrynya.

"Untuk calon ibu," ucap Mathew begitu manis, membuat Jani ikut tertular senyuman Mathew, "makasih."

"Sebaiknya nona duduk saja, nona terlalu lelah..." ujarnya diangguki Mathew, Jani tersenyum lebar menyaksikan kepuasan orang-orang atas pemberiannya, setidaknya ia memiliki kesan baik sebelum pergi dari sini.

"Kenapa nona harus repot-repot memberikan ini semua untuk kami?" tanya Mathew mengambil kursi dan duduk di samping Jani, ia menunjuk para anak buah yang kekar lagi nyemil waffle begitu lahap.

"Aku ingin meninggalkan kesan baik sebelum pergi dari sini, nantinya, Mat. Agar mereka juga mau mendo'akan keselamatanku di saat nanti aku melahirkan anak Loui...mungkin Loui akan melakukan apa saja demi putranya, jika sampai kelahiranku bermasalah nantinya. Tapi aku? Tak akan ada yang memikirkan..." ujarnya getir mengaduk-ngaduk gellato lalu menyuapkannya ke dalam mulut Jani sendiri.

Tangannya memang tak tau diri, tapi naluri kelaki-lakiannya mengatakan jika ia sudah tak kuat lagi menahan perasaan pada Jani. Tangan kekarnya menyentuh tangan Jani, "aku yang akan melakukan apapun untukmu."

Jani menoleh terkejut dengan ucapan Mathew, ia sampai mengerjap tak percaya, mulutnya bergumam, Mat.

"Aku...jatuh cinta padamu, nona Rinjani."

"Hhh---" Jani menghela nafas tanpa membuangnya, menutup mulut dengan sebelah tangannya yang memegang sendok.

"Aku tak peduli jika kau sudah pernah menjadi rahim sewaan, tuanku. Karena jelas bukan perasaan cinta yang ia miliki saat melihat dan menyentuhmu." Ujar Mathew meyakinkan.

.

.

.

.

.

.

1
Be snowman
ii lucu dehhh .😍😍😍
Be snowman
🤣🤣🤣 belegug ih rinjani😭
Be snowman
🤣🤣🤣🤣🤣
juwita
dasar bule jorok🤣🤣🤣
juwita
bule di kerok kacida pisan beureum jigana🤣🤣🤣
juwita
pake jalantaj urut goreng ikan asin geura. di jamin di gulung laleur🤣🤣🤣
juwita
udh kebiasaan emak" dr jaman dl ky gitu loui
juwita
pindah aj ke sukabumi jd juragan ikan asin 🤣🤣
juwita
bagus siksa aj utun Bpk mu smpe lemes
juwita
blg Oscar meletehe🤣🤣🤣
juwita
si oon nanya sm. si Oscar paling si Oscar ngomong sugan eta di kaluar keun di jero teu🤣🤣🤣🤣
juwita
haha si mamat🤣🤣🤣🤣
juwita
idola aq itu. David Beckham🤣🤣🤣
juwita
meni Hararese nyebut ngarana 🤣🤣🤣
juwita
knpa g sedeng aj sakalian teh sin🤣🤣🤣
Kustri
wkwkkkk... oscar oscar, bego jgn dipiara
nih qu bantu sadarkan👊👊👊
Almun
oscar??
Sri Wahyuni
extra part nya kak 💕💕💕💕💕💕
novel destiny
selalu suka baca karya teh Shin. masing-masing punya aura nya masing2.. tapi yg ini kayanya agak nanggung ya teh?
berasa cepet banget bacanya 🫢🫢
novel destiny
ga pernah bosan baca cerita teh Shin..
tapi kok yg ini kayanya kurang panjang ya?? hehehhe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!