Kisah perjuangan sebuah keluarga, dimana sang ibu divonis menderita Leukimia stadium menengah.
"Aku tidak mau mendengar alasan apapun!! Aku tahu aku bisa menyelamatkan mamahku!! Aku sudah membaca banyak buku!! Lihat dokter!!! Semua yang tertulis disini semua benar kan!!"
Ucap Suni sangat emosional sambil menunjukkan kliping yang ia buat. Dokter Sam membuka lembar demi lembar, semua tentang Leukimia yang diderita Sia, ibunya.
Hancur perasaan dokter Sam. Gadis sebelia ini, begitu sangat bertekad membawa mamahnya kembali pulang. Rasa takut dan manja benar-benar tak tergambar sama sekali di wajah Suni. Sebagai seorang dokter , baru kali ini ia bertemu dengan anak yang memiliki keberanian setulus ini.
(cut dr chapter 20)
Mampukah keluarga ini bertahan sampai akhir? mampukah Suni, si gadis sulung berusia 10 tahun ini mampu menjadi pendonor untuk ibunya?
selamat membaca...😁
karya hanya berdasarkan imajinasi author.
mohon maaf jika ada banyak kesalahan.🙏🙏😁
Salam Author Yoshua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lost way---23
Samsul adalah putra pertama pernikahan Bu Samsi dan pak Samir. Samsul menikah dengan Susi, putri seorang pengusaha kaya di kotanya. Namun entah apa pemicu awalnya, Susi selalu merasa tak senang jika rumah tangga Sia terlihat harmonis.
Ada celah sedikit saja, selalu dimanfaatkan Susi untuk mengadu domba Sia dan mertuanya. Entah apa tujuan sebenarnya.
Jadi bisa dipastikan bahwa gosip murahan yang sedang panas dibahas para perempuan sambil memilih sayuran apa yang akan mereka masak, bersumber dari pikiran kotor Susi.
Seperti pagi itu, Suci mendapat aduan dari teman main semasa kecilnya, mengenai obrolan-obrolan tanpa saringan dari mulut cantik para menjaja sayur.
"Beb, dengerin ini, aku merekam langsung barusan, di tukang sayur." Ujar Surti menunjukkan bukti tak terbantahkan.
Darah Suci mendidih seketika, rasa tak percaya, amarah, kecewa, perasaan itu terus merangsek masuk menguasai aliran darahnya. Ia yakin betul siapa pelaku utama dan satu-satunya.
Suci yang saat itu masih bergulat dengan mesin cuci di dalam rumah Sia, bergegas menuju ke rumah kakak tertuanya.
Derap langkah kaki ia percepat, bahkan seandainya bisa, mungkin terbang adalah cara terbaik agar bisa segera sampai di tempat yang dikehendakinya.
"Eh, Sania!! Maen ngeloyor aja!! Dimana mamahmu!!" seru Suci saat melihat kelakuan Sania yang sangat kasar.
Namun Tuhan sepertinya berpihak pada Suci. Susi muncul.
"Nah ini biang keroknya!!" Dasar wanita tak tahu diri!" Seru Suci geram menunjuk-nunjuk wajah sang kakak ipar.
"Eh, prawan tua datang-datang langsung marah. Pantas nggk laku, para pria takut soalnya." ujar Susi membuat Suci semakin kalap.
"Hidupmu kurang apa sih sebenarnya, sampai kamu tega sejahat itu menyebarkan fitnah soal Sia!!" Teriak Suci
"Eh, bagaimana kabarnya Sia? Aku dengar kalian mulai jatuh miskin ya?"
"Ah, mulutmu ini benar-benar harus diajari bagaimana cara bersuara yang benar!!"
"Ada apa ribut-ribut disini sepagi ini?" Pak Samir muncul setelah mendengar teriakan Suci.
"Ayah, lihatlah menantumu ini. Mulutnya tak henti menyebar bisa." Suci kehabisan kesabaran.
"Apasih? Aku cuma mengatakan fakta kok. Justru kalian itu yang harus membuka mata." Susi tak mau kalah.
"Susi, tarik kembali semua kabar buruk yang kamu sebarkan mengenai keluarga Sundan." ujar pak Samir.
"Loh, kenapa malah memberikanku pekerjaan yang sulit. Aku nggak suka berbohong, aku cuma mengatakan hal-hal yang memang benar sesuai kenyataan." mulut Susi benar-benar cerdas berkilah.
"Kenyataan apa yang kamu bicarakan!!" kesabaran suci telah habis.
Suci menarik rambut Susi, hingga membuat Susi berteriak kesakitan. Pak Samir berusaha melerai perkelahian kedua perempuan itu. Yang satu adalah anaknya sendiri dan yang satu adalah menantunya.
"Akh!! Akh!!" teriak Susi kesakitan saat Suci menyeret Susi ke pinggir jalan raya, untuk membawanya pada kerumunan warga, bermaksud agar Susi mau mengklarifikasi ulang kabar tak benar yang disampaikannya.
"Mau bawa aku kemana? Sakit tahu, lepaskan!!" teriak Susi.
"Suci, lepaskan kakak ipar, aku tahu dia memang keterlaluan, tapi kita selesaikan dengan cara baik-baik." ucap Pak Samir sambil menyertai kemana Suci membawa Susi.
"Enggak pak, ini sudah yang kesekian kalinya. Kesabaranku benar-benar habis."
"Tuh, dengerin bapakmu! Auw!!" Susi yang kalah postur dan kalah tinggi bila dibandingkan dengan Suci, tak memiliki kekuatan lebih untuk menandingi Suci yang 10 cm lebih tinggi darinya.
"Dasar mantu tak punya sopan santun!"
"Berisik!! Lepaskan aku!!"
Susi meronta kesakitan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk melepaskan diri dari cengkeraman Suci. Ia melawan membabi buta, melakukan semua gerakan bebas sebisanya. Tinju, tendangan, apa saja yang bisa ia lakukan.
Tanpa sengaja tendangan kakinya mengenai tubuh bapak mertuanya, dan membuat pak Samir terhuyung. Apesnya, saat itu juga tengah melintas sebuah truk bermuatan air mineral melaju kencang. Kecelakaan maut pun tak terhindarkan.
"Bapak!!!!" teriak Suci.
...****************...
Novel yg penuh perjuangan, keikhlasan, dan pengorbanan.