NovelToon NovelToon
Kenapa Menikahiku, Gus?

Kenapa Menikahiku, Gus?

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Keluarga & Kasih Sayang / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Konflik etika
Popularitas:176k
Nilai: 4.8
Nama Author: Danie A

Ini adalah novel religi pertamaku. Banyak banget yang butuh perbaikan sana sini. jika ada yang tidak sesuai, othor terima banget masukannya.

Tiba-tiba dilamar oleh seorang Ustad, membuat Arin berpikir dan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Arin pulang ke rumah tanpa mendapatkan jawaban bagus dari Huda. Meski begitu, kedatangan Arin ke Tubansari tidak terlalu sia-sia. Arin mendapatkan kesempatan untuk melihat sosok Huda yang mampu mengetuk pintu hatinya.

Ya, perlahan Arin mulai membuka pintu hatinya untuk Huda. Meskipun belum sepenuhnya, tapi setidaknya hati Arin sudah mulai menyambut Huda.

Melihat bagaimana Huda sangat menyayangi Riski dan bagaimana Huda memperlakukan Riski yang pernah mengalami trauma, membuat pandangan Arin pada Huda pun berubah. Gadis itu pun memutuskan untuk ingin mencoba membangun hubungan dengan Huda.

"Mas Huda benar-benar laki-laki yang baik. Nggak ada salahnya juga kalau aku coba ngasih kesempatan buat Mas Huda," gumam arin.

Pikiran Arin benar-benar sudah berubah. pendapat Arin tentang Huda pun juga sudah berbeda. Gadis yang tadinya bersikeras menolak menikah dengan Huda itu akhirnya luluh juga.

"Kok kamu udah pulang? Tadi kamu ketemu sama siapa aja di Tubansari?" tanya Bu Wulan pada sang putri.

"Tadi aku ketemu sama Mas Huda. Ada Nyai Rosyidah juga," sahut Arin."Nih, dapat oleh-oleh lagi dari nyai Rosyidah." sambungnya meletakan dua kresek besar di atas meja.

"Ya ampun, calon besan ini baik sekali sih." gumam Bu Wulan membuka kresek itu dan mengeluarkan isinya. Ia pun berganti menatap anak gadisnya, "Kamu ngapain ke sana? Kamu nggak bikin ulah lagi, kan?" omel Bu Wulan sudah berburuk sangka pada putrinya sendiri.

Arin menggelengkan kepala. Arin sudah lelah mencari cara untuk menggagalkan pernikahannya. Arin sudah menyerah. Mulai saat ini, Arin akan menerima Huda sebagai calon suaminya dan tidak akan lagi menolak untuk dinikahkan dengan Huda.

"Beneran kamu nggak bikin ulah di sana? Kamu nggak bikin malu Ibu sama Bapak, kan?" tanya Bu Wulan mendelik curiga.

"Ibu kenapa sih berburuk sangka terus sama anak sendiri? Aku nggak akan bikin ulah lagi, Bu. Aku juga nggak pengen bikin diri aku sendiri malu," sahut Arin. "Aku udah kapok, Bu. Tadi juga aku ke Tubansari cuma pengen ngasih oleh-oleh aja kok ke Nyai."

Bu Wulan masih menatap Arin dengan pandangan curiga. "Kamu nggak lagi merencanakan sesuatu, kan?"

"Merencanakan apa sih, Bu? Arin nggak akan mengacau lagi. Arin udah nyerah. Kalau emang Ibu sama Bapak pengen Arin nikah sama Mas Huda, Arin akan terima," ungkap Arin.

Bu Wulan membelalakkan mata. Wanita paruh baya itu tak percaya saat mendengar kata-kata Arin. Padahal putrinya itu selalu memberontak dan menolak dengan keras rencana pernikahannya dengan Huda. Tapi kini justru Arin terang-terangan mengatakan kalau dirinya bersedia untuk menikah dengan calon yang sudah disiapkan kedua orang tuanya.

"Ibu nggak salah dengar, kan? Kamu yakin kamu beneran pengen nikah sama Huda?" tanya Bu Wulan.

"Itu yang Ibu sama Bapak mau, kan? Ibu sama Bapak pengen aku nikah sama mantu pilihan kalian, kan? Ibu sama Bapak pengen Mas Huda jadi suami aku, kan?"

Bu Wulan memicingkan mata. Rasanya aneh saja putrinya itu menyerah dengan mudah.

"Apa ada hal yang bikin kamu berubah pikiran? Kamu nggak lagi pura-pura di depan Ibu, kan?"

Arin menghela napas sejenak. Wajar saja kalau ibunya terus berprasangka buruk karena Arin, mengingat Arin sudah berbuat ulah sebelumnya hanya demi menggagalkan pernikahan.

"Aku udah beneran nyerah, Bu. Aku juga udah nyoba banyak cara buat batalin pernikahan aku sama Mas Huda. Tapi hasilnya nihil. Ibu sama bapak tetep bakal bikin aku nikah sama Mas Huda, kan?" seru Arin.

"Tapi kalau memang pernikahan ini nggak bikin kamu bahagia, Ibu nggak akan memaksa kamu. Ibu akan coba diskusikan lagi sama Bapak soal pernikahan ini kalau kamu beneran nggak mau nikah," ungkap Bu Wulan.

Arin sudah membulatkan tekad. Lagipula acara lamaran juga sudah berlangsung, dan tidak lama lagi acara pernikahan juga akan dipersiapkan.

"Nggak perlu, Bu. Arin udah yakin kok. Arin beneran mau nikah sama Mas Huda," ungkap Arin. "Ibu sama Bapak bener kok. Mas Huda itu calon suami yang baik. Aku yakin Mas Huda pasti bisa jagain aku nantinya."

Meskipun keheranan, tapi Bu Wulan cukup senang mendengar jawaban dari putrinya itu. "Baguslah kalau gitu. Ibu ikut senang dengarnya. Nggak lama lagi pernikahan kamu sama Huda juga akan segera digelar. Ibu yakin, Huda itu suami yang tepat buat kamu."

****

Hari demi hari berlalu dengan begitu cepatnya. Arin masih tetap mencoba mencari kabar mengenai Wirda, tapi gadis itu belum mendengar berita apa pun tentang temannya yang sudah menghilang itu.

Arin mulai menjalani harinya dengan banyak kegiatan baru. Gadis yang tengah sibuk mempersiapkan pernikahan itu makin sering menghadiri kajian, seminar, maupun pameran buku.

Tiap kali Arin menghadiri kajian maupun seminar, gadis itu selalu saja berjumpa dengan calon suaminya tanpa sengaja. Arin sendiri tidak tahu kalau kajian dan seminar yang ia hadiri akan diisi oleh calon suaminya.

Gadis itu selalu dibuat tercengang saat ia melihat Huda sebagai pemateri di kajian yang ia hadiri, maupun hanya sekedar menemani Ustadz Wahab di sebuah acara seminar. "Mas Huda kok ada di mana-mana, sih? Perasaan aku nggak janjian, tapi kok bisa ketemu terus?" gumam Arin.

Sesekali Huda juga menyempatkan diri untuk menyapa Arin jika secara kebetulan ia berjumpa dengan sang calon istri. "Assalamualaikum, Arin! Saya nggak nyangka bisa ketemu sama kamu di sini!" sapa Huda pada Arin di sebuah kajian.

"Aku juga nggak nyangka bisa ketemu sama Mas di sini. Aku beneran nggak tahu kalau Ustadz Wahab yang ngisi kajian," ucap Arin.

Mungkin inilah yang dinamakan jodoh. Tanpa harus membuat janji pun, Arin dapat berjumpa dengan calon suaminya dengan berbagai cara. Tanpa harus saling menghubungi pun, Arin dapat saling bertukar kabar dengan calon suaminya di tempat asing yang bahkan tak pernah ia duga.

"Kamu jadi makin sering ya ikut kajian sekarang," komentar Huda.

"Aku nggak punya banyak kegiatan juga di rumah. Akhir-akhir ini aku emang sering datang ke kajian, seminar, atau pameran buku," terang Arin.

"Saya tahu kok. Saya lihat kamu di beberapa acara seminar. Saya udah coba cari-cari kamu setelah acara selesai, tapi kamu selalu pulang duluan. Baru kali ini saya akhirnya bisa nemuin kamu sebelum terlambat," ungkap Huda.

Arin dan Huda pun makin sering menghabiskan waktu bersama di tempat kajian. Hari pernikahan mereka pun semakin dekat. Dan interaksi antara Arin dan Huda pun semakin hari juga semakin membaik.

"Habis ini kamu mau ke mana? Mau saya antar pulang?" tawar Huda.

"Nggak perlu, Mas. Aku bawa motor sendiri," timpal Arin. "Kalau gitu aku pamit dulu, Mas! Assalamualaikum!"

"Wa'alaikumsalam! Hati-hati di jalan, Arin!"

Arin langsung berbalik badan dengan pipi yang sudah memerah. Sedikit demi sedikit, pertemuannya dengan Huda yang tidak disengaja, sudah berhasil membawa getaran lain di hatinya.

Suatu hari, disaat gadis itu baru kembali pulang ke rumah, Arin mendapatkan kabar mengejutkan dari ibunya yang tiba-tiba membahas mengenai Wirda. "Kamu dari mana aja, Rin?" tanya Bu Wulan pada Arin yang baru saja membuka pintu.

"Dari rumah temen, Bu. Kenapa?"

"Tadi Wirda ke sini," ungkap Bu Wulan kemudian.

Arin membelalakkan mata. Setelah sekian lama gadis itu mencoba mencari kabar mengenai Wirda, tiba-tiba saja temannya itu muncul tanpa pemberitahuan.

"Wirda ke sini? Terus sekarang mana orangnya?" tanya Arin.

"Tadi Wirda ke sini nggak lama. Dia nitipin sesuatu buat kamu," ujar Bu Wulan sembari menyodorkan sepucuk surat yang ditinggalkan oleh Wirda untuk arin.

"Surat?"

****

1
Sur Yanti
ayo thor knpa Lama sekali up nya? semangat lah thor nulis nya 💪💪
Sur Yanti
semangat up thore 💪💪
Lukman Suyanto
welcome back...
Sur Yanti
setelah 2thn akhir nya up lagi thore
semangat up nya thor 💪💪💪
Dek Raraaa
uplagi 2th kakkk ..
Danie a: bisa ae.
total 1 replies
JandaQueen
lha....kalo gini, ga bener ni si wirda. ada gejala mo nikung sptnya...
JandaQueen
lanjut baca, penasaran
JandaQueen
lha itu...
JandaQueen
lanjut baca
JandaQueen
simpan jejak dl
Ade Hadijah
semoga Arin selamat sampai tujuan. Nekad juga
Riza Umi Nurjannah
lama up nya thot
Danie a: hahahh, iya, othor nya lagi ngk jelas nih🤭
total 1 replies
Bayu Priyadi
arin baper
Raudatul zahra
heehhh??? kupikir sudah tamat, karna novel author yg lain yg kubaca episode nya pendek².. ini udah 60 bab belum tamat.. yaa nggak pp siih.. seneng² aja aku.. tp kok lama banget nggak update lg yaa thor????
Raudatul zahra
aku ikut sakit hati mikirin perasaan nya Arin😭😭😭
Raudatul zahra
Arin mendengar isakan novi
Raudatul zahra
menyingkirkan Novi thoorr
Raudatul zahra
maafin yaa mas Huda.. nama nya istri nya baru beranjak dewasa.. masih suka tantrum² gitu dehh.. masih cemburuan..
Raudatul zahra
lanjooootttt
Raudatul zahra
ada yang ngarepin suami orang doonnggg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!