💞😍Family Putra❤😘
Second Story, Istri Istri Tuan Bryant
🥰Couple Beda Usia🥰
🍃Subscribe, Like, Comment🍃
⚔️NO BOOM LIKE! TAK SUKA, SKIP⚔️
Bagaimana rasanya mencintai pria berumur yang berstatus om sendiri?
Mencintaimu adalah do'a terbaik dalam hidupku. Bagi dunia, kamu hanyalah pria dewasa nan dingin tanpa ekspresi. Namun, bagiku, kaulah duniaku. ~Bunga Angela
Menikah? Satu ikatan yang slalu kuhindari, tapi keras kepalamu menjadi akhir cerita masa lajangku.~Alkan Putra.
Hubungan hati dengan problematika keluarga dan perbedaan usia mengubah dunia dalam keluarga Putra. Kisah pasangan yang memiliki cinta sederhana berselimut badai kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23#Ancaman, Kampus
Satu pertanyaan dari bunga membuat Al menoleh hingga pandangan terpaut membalas tatapan mata sang remaja. Terlihat jelas akan rasa penasaran dari sorot mata keponakannya itu, tapi kenapa begitu ingin tau tentang pasangan yang selama ini tak pernah ia pikirkan. Waktu yang semakin terlambat masih mengingat diri untuk tidak meneruskan perbincangan.
Tangan terangkat tuk mengusap kepala gadis itu, "Jangan menanyakan hal yang tidak harus kamu pikirkan. Ayo, kita keluar! Bukankah hari ini adalah hari pertamamu kuliah? Om juga harus bertemu dengan teman lama."
"Ish, om, benar-benar deh! Bunga kan kepo, masa tidak boleh tahu, sih," Bunga menggerutu dengan bibir yang semakin maju. Sontak membuat Al hanya menggelengkan kepala, lalu melepaskan sabuk pengaman, kemudian mendorong pintu bersiap turun. "Om!"
"Cepatlah turun atau kamu akan lebih terlambat lagi!" Al tak memperdulikan panggilan Bunga sehingga gadis remaja itu dan ikut turun dari mobil.
Akan tetapi sepertinya Bunga melupakan hadiah darinya atau memang sengaja meninggalkan paper bag di dalam mobil. Entahlah karena yang terpenting saat ini adalah hari pertama gadis itu menjalani tahun pertama sebagai mahasiswa di salah satu universitas ternama di kota Jakarta. Apalagi yang lebih besar dari merajut masa depan sebagai salah satu generasi masa kini?
Al tak menyadari bahwa penolakannya yang secara terang-terangan justru menyakiti perasaan Bunga. Suara yang terdengar tenang nan tegas hanyalah refleksi dari keinginan hati membatasi diri. Ia tak ingin mengumbar tentang masalah pribadi, apalagi menyangkut pasangan.
Sikap dewasa Al yang membuat si remaja merasa diabaikan, nyatanya justru menyadarkan hati gadis itu bahwa sang paman memang tidak memiliki wanita di luar sana. Seorang pria yang biasanya berangkat pagi buta dan pulang dini hari, bagaimana bisa memiliki waktu untuk pasangan?
Sebenarnya setiap pergerakan dari om Al akan selalu terupdate lewat kakak dari papanya sendiri. Sehingga ia tahu benar jadwal pulang dan perginya sang kekasih hati. Satu kenyataan sudah cukup memberikan jawaban yang menjadi keyakinan hati akan keputusannya. Dimana ia memilih untuk tetap bertahan memperjuangkan cinta atas nama Alkan seorang.
Seperti pagi ini, dimana dari satu pertanyaannya hati merasa yakin bahwa pria tampan itu pantas untuk mendapatkan cintanya. Hanya saja, ia sadar jika nanti akan banyak penolakan karena keinginan hatinya. Faktor utama yang menjadi alasan adalah karena perbedaan usia diantara mereka berdua.
Langkah kaki Bunga begitu pelan dengan wajah lesu tak bertenaga. Melihat itu, Al mengernyit tak memahami apa yang terjadi. Tanpa ada kata tangannya merengkuh pundak gadis itu hingga membuat langkah keduanya terhenti dan berdiri saling berhadapan. Sesaat memeriksa suhu tubuh sang keponakan tetapi masih normal.
"Apa ada masalah? Jika kamu tidak semangat hanya karena masalah tadi, sebaiknya aku kembali ke kantor dan mulai besok ...,"
"Jangan mulai ngancem deh, Om!" Bunga menghentakkan kaki dengan tatapan sinis membalas pandangan serius sang paman. "Disini yang remaja itu, aku. So, jangan bersikap melebihi kebiasaan. Aku pergi dulu!"
Belum juga menjawab, tapi gadis remaja yang merajuk berlari pergi meninggalkannya. Ia tak berniat untuk membuat gadis itu kesal di pagi hari, hanya saja harus bersikap tegas agar Bunga fokus dengan dunia pendidikan. Bukannya tidak sadar akan tatapan sayang sang keponakan padanya yang melebihi batas hubungan mereka berdua.
Sebagai pria dewasa dengan segudang pengalaman. Dirinya sudah hapal diluar kepala dengan semua model wanita yang sedang jatuh cinta. Termasuk keponakannya sendiri, "Kamu terlalu muda untuk memahami arti cinta sebenarnya. Nikmati masa mudamu tanpa harus memikirkan hati yang bisa saja melukaimu."
Di antara asa dan nestapa tanpa ujung dunia. Kisah yang sama tak selalu menjadi awal dan akhir sebagai cerita. Hatilah yang memilih dan bukan logika. Tak ada alasan tuk mencintai sang pilihan takdir karena simfoni cinta bukan tentang usia ataupun kasta.
Namun akan selalu ada alasan tuk membenci seseorang hingga tak menyadari hati kehilangan kepercayan dan sisa harapan. Dua hati milik ia dan Bunga berada di persimpangan. Baginya, gadis itu adalah anggota keluarga yang ia sayangi sebagai anak sendiri. Sementara bagi si gadis justru kebalikannya.
Ingin mengabaikan kehadiran Bunga dalam hidupnya, tapi tanggung jawab lebih utama dibandingkan niat hatinya. Lagi pula, ia dan Bima sudah seperti kakak dan adik juga. Hubungan yang mengikat satu sama lain menjadikan jalan pergi tuk menjauh terasingkan.
Pandangan matanya masih terus mengawasi langkah kaki Bunga hingga gadis remaja itu menghilang di balik tembok bangunan memasuki area dalam kampus. Sementara dirinya masih diam di tempat, lalu mengambil ponsel dari dalam saku celana. Kemudian menghubungi seseorang agar menemuinya dihalama kampus.
Rasa enggan melakukan panggilan, membuat Al hanya mengirim pesan singkat ke nomor yang sudah sejak semalam sepakat melakukan pertemuan. Kemudian pria itu mencari tempat duduk agar tidak menunggu seperti orang linglung karena sendirian. Apalagi hanya sedikit mahasiswa yang masih berkeliaran di luar gedung utama.
Suasana ini benar-benar masih sama. Arah angin yang selalu menghantarkan kesegaran menghapus rasa jenuh dari kesendirian. Aku lupa sudah berapa lama tidak duduk merenung sekedar menikmati embusan angin tanpa memikirkan masalah apapun.~ucap hati Al seraya menyandarkan punggung ke belakang dengan mata terpejam.
Keheningan yang menyelimuti sekitarnya menghadirkan kedamaian sesaat hingga sentuhan tangan yang menepuk bahu bersambut aroma parfum kasturi mengalihkan perhatiannya. "Apa kabarmu, Olivia? Ku harap kamu masih ingat dengan perjanjian kita dua tahun lalu. Aku ingin semua itu berakhir!"
Perjanjian antara ia dan Olivia hampir saja terlupakan karena kesibukannya yang mengurus perusahaan membantu sang keponakan. Semalam ketika memeriksa beberapa file lama, ia tak sengaja melihat kertas usang yang membawanya pada satu ingatan akan masa lalu. Dimana kini ia berhadapan dengan sang pemegang janji yang harus disudahi.
Olivia tersenyum simpul, lalu ikut duduk disebelah Al. Pandangan mata lurus ke depan fokus memperhatikan deretan tanaman yang tumbuh begitu subur dan juga rapi. Sejak perjanjian dibuat, tak sekalipun dirinya berusaha untuk mengkonfirmasi masalah itu karena apa yang sudah terjadi tidaklah penting lagi.
Kehidupan berjalan dengan baik, bahkan sangat sempurna dengan pekerjaan mapan, karir cemerlang dan pasangan hidup yang baik hati meski tak setampan Al. Sesaat menundukkan pandangan mengingat akan masa kelamnya yang bersambut usapan punggung mencoba menenangkan hati nan dirundung kegelisahan.
"Al, semua sudah berakhir 'kan? Aku tau, kamu merasa tertekan karena keegoisanku tapi terima kasih telah bersabar denganku. Maaf sudah merenggut kebebasanmu dan juga hak memilih pasangan yang seharusnya sudah bisa menemanimu di sisa umur kita ini.
"Bagaimana bisa aku seegois itu hanya karena satu masalah saja. Kebodohanku bahkan kamu biarkan, kenapa tidak menamparku saja sampai diri ini sadar?" suara lirih penuh penyesalan dari dalam hati menyadarkan Olivia akan waktu yang ia renggut dari kehidupan Al.
Sementara Al sendiri diam tak ingin berkomentar. Apa yang terjadi di masa lalu, biarlah menjadi pelajaran. Akan tetapi hari ini semua harus diakhiri agar tidak ada masalah di kemudian hari. Setidaknya sekarang Olivia ikhlas dengan masa yang sudah berlalu.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu