Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Akhirnya Renata menyerahkan
resep ke Bram dan dia mencari kursi kosong untuk duduk. Tapi sebelum mencapai
kursi yang akan diduduki, Renata memegangi kepalanya, badannya sempoyongan akan
jatuh. Untung Bram berdiri di belakangnya dan menangkap tubuh Renata sebelum
jatuh.
“Rennn...kenapa? Kamu gak
papa...?” Tanya Bram panik melihat kondisi Renata, sambil memeluk Renata dan mendudukkan
di kursi. Renata diam, masih memegangi kepalanya dengan mata terpejam.
“Kenapa
kepalamu...pusing..?” Tanya Bram dengan lembut.
“Kepalaku pusing mas...” Jawab
Renata dengan lemah
“Kalau begitu aku antar
kamu pulang dulu, obat biar nanti aku ambil...”
“Gak usah mas...aku tunggu
aja biar gak mondar mandir...”
“Tapi kamu...”
“Gak papa mas...aku
tunggu di sini...”
“Benar gak papa aku
tinggal sebentar...?” Tanya Bram lagi. Renata mengangguk.
“Oke, aku tinggal dulu
ya. Mudah-mudahan gak ngantri lama..”
Kira-kira menunggu 15 menit, selesai sudah
obat-obatan untuk Renata. Bram menghampiri Renata yang terlihat duduk menyelonjorkan
kakinya dengan mata terpejam.
“Renn...” Panggil Bram pelan
sambil mengusap bahu Renata. Renata membuka matanya.
“Sudah selesai mas..?”
“Sudah. Ayo kita pulang...”
Bram membantu Renata bangkit dari kursi dan menuntun berjalan ke arah parkir
mobil.
Tidak ada pembicaraan
dalam perjalanan dan mata Renata terus terpejam. Bram sesekali menoleh kearah
Renata untuk memastikan Renata baik-baik saja.
“Ren... kamu tidak apa-apa..?”
Tidak ada jawaban. Bram kemudian meminggirkan mobilnya dan berhenti. Melepas
seatbelt dan memiringkan badannya ke arah Renata.
“Rena...” Bram berbisik
sambil menggenggam tangan Renata. Renata menoleh pelan dan membuka matanya.
Tangan Renata terasa masih panas di genggaman Bram.
“Ada apa mas...?”
“Kamu baik-baik saja...?”
Tanya Bram dengan khawatir.
“Kenapa berhenti mas... aku
gak papa...” Jawab Renata pelan.
“Kamu yakin...?”
“Ayo jalan mas... aku pengen
cepet sampai rumah...”
“Oke..” Bram kemudian
menjalankan kembali mobilnya. Tak lama kemudian sudah sampai di depan rumah Renata,
Bram turun dan membuka pintu mobil di samping Renata dan memapah Renata masuk
ke rumah. Mbok Jum yang membuka pintu, kaget melihat Renata dipapah Bram.
“Jeng Rena kenapa...?” Tanya
mbok Jum khawatir
“Gak papa mbok, mungkin cuma
badannya lemes... takut jatuh...” Bram menjawab kekhawatiran mbok Jum.
Bram memapah Renata
menuju kamarnya di lantai dua. Pelan-pelan mendudukkan Renata di tempat tidur,
bersandar di ujung tempat tidur.
“Jeng Rena makan dulu ya,
dari tadi siang belum makan. Simbok sudah buatkan sup ayam.”
“Gak usah mbok. Rasanya
gak enak makan..” Renata menolak.
“Ren kamu harus paksa
makan, biar sedikit, yang penting ada yang masuk, terus diminum obatnya...” Bram
mencoba membujuk. Renata menggeleng.
“Mbok tolong ambilin makan.
Biat saya yang suapin..!” Bram memerintah mbok Jum
“Baik den...”Mbok Jum
keluar kamar untuk menyiapkan makan dan minum Renata. Bram duduk di sebelah
Renata dan satu tangannya memeluk Renata untuk menyandarkan kepalanya di bahu
Bram, sedangkan satu tangannya lagi memijit pelan kepala dan kening Renata
untuk mengurangi rasa pusingnya. Renata diam tak bisa menolak perlakuan Bram,
tapi hatinya benar-benar sedih dengan kondisi ini. Tak lama mbok Jum masuk membawa
nampan berisi nasi dengan sup ayam dan minuman
“Ini den makannya...”
“Makasih mbok. Ren ayooo...
makan sedikit saja..” Renata membuka matanya.
“Nanti saja mas....”
Renata menggelengkan kepalanya, karena kepalanya masih terasa pusing.
“ Gaakkk... sekarang, aku
suapin. Ayo buka mulutnya. Aaaa...” Bram menyodorkan sesendok nasi ke depan
mulut Renata.
“Rena....ayo..” Bram menatap
mata Renata, dan Renatapun akhirnya membuka mulut. Bram dengan telaten menyuapi
Renata, dan baru separo nasi di piring, Renata mengangkat tangannya untuk
berhenti makan. Dia kembali memejamkan matanya, menahan rasa pusing.
“Ayo lagi Ren, tinggal sedikit...”
“Cukup mas... rasanya mual...
Aku ingin tidur aja” Renata menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah..., sekarang
obatnya diminum ya... terus tidur.” Bram membuka kantong plastik yang berisi
obat-obatan Renata. Ada 4 macam, dan satu persatu diminumkan ke Renata. Selesai
minum obat, Bram membantu Renata untuk merebahkan badannya dan menyelimuti
Renata.
Mbok Jum keluar membawa
piring bekas makan Renata, dan tak lama masuk kamar kembali, duduk di sebelah
kaki Renata dan memijat kaki Renata pelan-pelan. Bram masih duduk di samping
Renata dan menggenggam tangan Renata. Wajahnya sedih melihat kondisi Renata yang
sangat tidak berdaya. Dia merasa berat untuk meninggalkan Renata dalam kondisi
sakit.
“Den Bram belum makan
malam kan, simbok siapin ya... atau mau makan di sini..?”
“Gak usah mbok. Kalau
boleh minta kopi aja.”
“Baik... simbok bikinin
dulu..” Mbok Jum keluar untuk membuat kopi.
“Mas makan dulu. Sudah
malam...” Kata Renata sambil menoleh ke arah Bram.
“Sudah gak usah Ren. Tadi
sebelum kesini aku sempat makan di kantor. Entar aja gampang. Gimana rasanya
sekarang...?”
“Gak papa mas. Aku sudah biasa
begini...”Jawab Renata pelan. Bram membuang nafasnya panjang. Tak lama mbok Jum
masuk membawa secangkir kopi dan kue kering.
“Makasih mbok..”
“Silakan diminum den..
Saya ke dapur dulu beresin piring kotor..”
Suasana kamar sepi. Mata
Renata terpejam tapi dia belum tidur, sedangkan Bram tetap duduk di kursi samping
Renata dengan terus memandangi wajah Renata. Rasanya dia tidak ingin pulang dan
akan terus di samping Renata. Hatinya sakit mengingat luka yang dialami Renata.
Rennn... rasanya aku ingin memelukmu dan tidak akan melepas lagi. Kamu
benar-benar terpuruk saat ini. Kata Bram dalam hati. Dia merasa kasihan pada
Renata. Apalagi wajahnya masih picat.
“Mas... sudah malam... pulanglah..”
Tiba-tiba Renata membuka matanya.
“Kamu mengusir aku..?”
Tanya Bram.
“Mas harus istirahat.. Aku
gak papa, biar mbok Jum yang nungguin.”
“Tapi....”
“Percayalah... aku sudah
lebih baik dan pengen tidur aja.”
Setelah berpikir sejenak,
Bram menghela nafas panjang.
“Baiklah... tapi bener
kamu tidak apa-apa aku tinggal...?’
“Ini bukan yang pertama
mas. Aku gak papa...”
Akhirnya Bram pun
menyerah. Sebelum pulang, dia meraih tangan Renata dan menciumnya
“Oke aku pulang dulu ya.
Selamat tidur, semoga cepat sehat ya...” Kata Bram lalu keluar kamar.
Jam enam pagi, terlihat
Bram sudah rapi dan siap berangkat ke kantor. Maminya yang sedang menyiapkan
sarapan di meja makan heran melihat anak laki-lakinya pagi-pagi sudah sibuk.
“Pagi mi.... Masak apa
pagi ini..?” Tanya Bram sambil menarik kursi makan.
“Kok tumben kamu pagi
sekali sudah siap. Semalem pulang jam berapa kok jam 10 mami lihat belum datang?”
Tanya maminya sambil mengolesi roti untuk sarapan.
“Renata sakit mi, nganter
periksa ke om Handoko..”
“Renata..... Renata... cewek
yang kamu taksir...?” Tanya mami sambil mengingat-ingat nama.
“Iya... calon mantu mami....
hee....” Jawab Bram dengan percaya diri.
“Sakit apa dia...?”
“Kata om Handoko ada
gangguan lambung dan gejala anemia. Tensinya sangat rendah. Kemaren dari siang
badannya panas. Bram paksa aja ke dokter, takut kalau ada apa-apa.”
“Terus sudah sejauh apa
hubunganmu dengan dia..?”
next