Nada Aruna Lya seorang perempuan dewasa terpaksa menikah dengan Fardanu Satya Aji seorang bocah SMA hanya karena kesalahan satu malam yang tak sengaja mereka perbuat, mereka terpaksa terjebak dalam suatu hubungan pernikahan yang menurut Nada sangatlah absurd karena dalam kamusnya tak ada pernikahan dengan seorang laki-laki yang umurnya berada dibawahnya.
Akankah pernikahan mereka akan terjalin selamanya? Ataukah hanya sementara waktu?
"Gue enggak nyangka gue bisa nikahin bocah ingusan kayak lo!!" sentak Nada kesal, namun Danu hanya menatap Nada tenang seakan tak terpengaruh akan perkataan Nada yang mengejeknya.
"Bocah ingusan yang kamu bilang ini bisa memberikanmu kepuasan loh, apa kamu lupa?" Danu tersenyum menatap Nada yang kini melotot.
Penasaran dengan kisah mereka? Ayo dibaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Simiftahul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Tidak Peduli
"Lo harus kuat ya? Sebentar lagi kita sampai." Nada masih melajukan mobilnya menuju rumah sakit sesekali melirik kearah Danu yang wajahnya semakin pucat.
Setelah sampai, Nada keluar dari mobilnya untuk memanggil beberapa suster. Nada membiarkan beberapa suster itu membawa Danu yang terbaring pucat dibrankar, wanita itu mengikuti dengan cemas. Dalam hati Nada berdoa semoga saja Danu bisa selamat, semoga saja lukanya tidak terlalu parah. Hampir satu jam Nada menunggu diluar, pintu terbuka dengan seorang dokter yang usianya kisaran empat puluh tahunan keluar dari sana. Sontak Nada berdiri dan langsung menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya Nada.
"Keadaan adik Ibu saat ini--..." Nada langsung memotong dengan cepat.
"Dia suami saya dok."
"Ah maaf, maksudnya keadaan suami Ibu saat ini sudah membaik. Tadi kami sudah menjahit lengan yang terkena sayatan dari benda tajam, lukanya memang cukup dalam tapi Ibu tidak usah khawatir karena beruntungnya Ibu membawanya dengan cepat kesini jadi suami Ibu tidak kehilangan banyak darah." Nada mendesah lega mendengarnya.
"Saya boleh melihatnya dok?"
"Boleh Bu, suami Ibu akan dipindahkan kekamar inap. Saat ini suami Ibu tertidur karena tadi kami memberikannya obat bius agar rasa sakitnya tidak terlalu ketika kami akan menjahit lukanya, kalau begitu saya permisi ya Bu?"
"Terimakasih dokter." Setelah dokter itu menganguk dan pergi, Nada memasuki ruangan dimana Danu berada.
Nada menatap Danu yang tertidur dengan tenangnya, wanita itu meringis ketika melihat perban dilengan Danu dan kepalanya. Ada luka disudut bibir dan rahang pria itu yang sedikit membiru, terkadang Nada berpikir apakah seorang pria memang kodratnya seperti itu? Sering mengalami luka karena perkelahian. Nada meraih tangan lemas Danu untuk ia genggam, sambil memandangi wajah suami berondongnya itu dia mengusap-usap punggung tangannya lembut. Wanita itu tidak menyangka seseorang yang ia anggap hama dalam hidupnya karena harus terjerat pernikahan kini malah menyelamatkannya, seseorang yang terbaring sakit dibrankar dengan baju biru khas rumah sakit. Nada berutang budi pada suami berondongnya ini, jika tidak ada Danu entah dia akan jadi seperti apa nantinya.
"Makasih ya, lo udah nolongin gue malam ini." Ucap Nada dengan suara lirih.
"Maaf kadang-kadang gue selalu ngeremehin lo, lo yang kayak bocah begini, suka manja-manja tapi ternyata bisa jadi super hero gue."
"Entah kenapa gue jadi bersyukur karena kehadiran lo."
"Cepatlah sembuh, gue selalu menunggu lo." Diakhir kalimatnya Nada mengecup kening suami bocahnya itu dengan sayang, pertanda rasa terimakasihnya karena Danu mengorbankan nyawanya untuk menolongnya.
"Astaga!! Gue belum bilang keadaan lo sama keluarga lo!!" Ucap Nada panik ketika ingat bahwa ia belum menghubungi siapapun, meskipun mereka tidak tinggal bersama namun kedua orangtua Danu harus tau keadaan anaknya.
Nada mengeluarkan ponselnya dari tasnya, preman tadi menjatuhkan tasnya ketika Danu menyerang mereka. Dihubunginya nomor ponsel Bundanya Danu, lama Nada menunggu hingga ketiga kalinya Nada menelfon barulah diangkat.
"Hallo Bunda..." Sapa Nada.
"Iya Nada, ada apa ya kamu telfon Bunda malam-malam begini?" Tanya suara disebrang sana.
"Danu Bun, Danu sekarang masuk rumah sakit. Tadi kami diserang preman dan Danu terluka dalam hingga harus mengalami beberapa jahitan dilengannya." Beritahu Nada.
"Ya ampun Danu, tapi maaf sekali Nada. Bisakah kamu menjaga Danu untuk Bunda? Ayah dan Bunda kini tengah ada di Singapura, kami sedang melakukan perjalanan bisnis sekarang. Paling cepat kami bisa pulang itu minggu depan." Nada terdiam mendengar ucapan Ibu mertuanya.
"Tidak bisakah Ayah dan Bunda pulang untuk menemui Danu sekarang? Dia membutuhkan kalian."
"Tidak bisa Nada, perjalanan bisnis kali ini sangat penting untuk kemajuan perusahaan. Untuk masalah Danu, sudah ada kamu yang menjaganya. Jadi tolong jaga Danu ya Nada? Kemungkinan minggu depan Ayah dan Bunda baru bisa menemui Danu setelah kami pulang nanti, sudah dulu ya Nada? Ayah dan Bunda sebentar lagi akan menemui kolega kami." Tuut, belum sempat Nada menjawab panggilannya sudah terlebih dahulu diputus secara sepihak oleh Ibu mertuanya.
Nada tersenyum miris ketika menyadari bahwa orangtua Danu memang setidakpeduli itu pada anaknya, mereka lebih memikirkan dan mementingkan pekerjaannya dibandingkan menemui anaknya yang masuk rumah sakit. Sekarang Nada tidak heran mengapa sikap Danu manja sekali padanya, itu karena dia kurang kasih sayang dari orangtuanya dan melampiaskan kemanjaannya padanya yang sudah menjadi istrinya. Wanita itu kembali meraih ponselnya untuk menghubungi Papanya, setidaknya Papa harus tau keadaan menantunya.
"Hallo Pa, ini Nada..."
"Ya Nada ada apa? Tumben sekali kamu menelfon Papa malam-malam begini, biasanya siang kamu baru telfon Papa." Jawab Papa Nada dari sebrang sana.
"Nada mau ngasih tau Papa kalau Nada dan Danu saat ini berada dirumah sakit." Beritahu Nada.
"Hah!? Yang benar kamu Nada!? Siapa yang sakit!!?" Suara Papa Nada terdengar panik.
"Danu Pa, dia diserang tiga orang preman karena menolong Nada. Lengannya tergores cukup dalam dan harus dijahit beberapa jahitan."
"Ya sudah, Papa segera kesana sekarang. Kamu jaga Danu ya?"
"Iya Pa." Tuut.
Lihatlah bahkan ketika Nada menghubungi Papanya untuk memberitahu keadaan Danu dia langsung akan pergi kemari, Nada tau kalau Papanya saat ini tengah sibuk. Terdengar tadi ada suara sedikit bising dari beberapa obrolan seseorang, Nada yakin Papanya pasti menunda pertemuan mereka untuk menemui Danu kemari. Danu sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Papanya, tak heran jika sikapnya begitu. Papanya juga sama menyenangi Danu seperti ia menyayanginya, kalau biasanya Nada kesal pada Danu yang membuat kasih sayang Papa untuknya terbagi namun kali ini ia merasa bersyukur.
"Nada, bagaimana keadaan Danu?" Papanya datang kekamar inap Danu dengan stelan kantornya, Danu memang baru saja dipindahkan kesini.
"Kata dokter kondisinya membaik Pa, beruntung tadi Nada segera membawa Danu kesini." Nada membiarkan Papanya duduk didekat brankar Danu, sedangkan ia memilih berdiri.
"Lantas mengapa matanya masih terpejam?" Tanya Papa pada Nada sambil menatap Danu khawatir.
"Tadi sebelum menjahit lukanya dia diberikan obat bius dan saat ini dia tengah tertidur karena pengaruh obat itu, kata dokter kemungkinan Danu akan bangun keesokan harinya." Jelas Nada yang dibalas anggukan kepala Papa.
"Bagaimana ceritanya Danu bisa masuk rumah sakit seperti ini? Papa dengar ditelfon kalau dia melawan preman, keadaanmu bagaimana Nak? Apakah kamu baik-baik saja?" Dengan kekhawatirannya Papa memeriksa seluruh tubuh Nada, memastikan apakah ada luka sayatan atau tidak ditubuh putrinya.
"Nada tidak apa-apa Pa, yang terluka itu Danu. Dia menyelamatkan Nada dari para preman yang hampir memperkosa Nada." Papa mendesah lega mendengarnya.
"Syukurlah kalau begitu, Papa sangat bersyukur kamu menikah dengan Danu, Nada. Meskipun mungkin dia akan suka bermanja-manja denganmu tapi ketahuilah jika dia bisa melindungimu seperti saat ini, ternyata Papa memang tidak salah memilih seorang menantu." Nada kaget mendengar ucapan Papanya, jadi Papanya tau tentang sikap Danu padanya yang suka bermanja-manja?
"Papa tau!?" Tanya Nada kaget.
"Apa yang tidak Papa tau Nada? Papa tau segalanya." Jawab Papa sambil tersenyum.