Kirana adalah seorang gadis cantik yang memiliki kehidupan sempurna, tapi dia harus kehilangan segalanya ketika keluarganya mengetahui jika Kirana hamil di luar nikah tanpa mengetahui Ayah dari bayi yang dia kandung.
Kirana di usir dari rumahnya karena telah mencoreng nama baik keluarga. Akhirnya, Kirana berjuang sendiri menjadi Single Mom yang tegar dan mandiri untuk menghidupi Anaknya.
Akankah Kirana bertemu dengan lelaki yang telah menghamilinya?
Baca kisah selengkapnya dalam "Kesucian yang ternoda"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Antika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 ( Jangan melihat buku dari sampulnya )
Hari ini Kirana mengundang semua tetangga untuk menghadiri syukuran 40 hari bayinya. Banyak suara sumbang tentang Kirana yang melahirkan tanpa sosok seorang Suami, tapi Kirana tidak pernah memperdulikan perkataan semua orang, meskipun hatinya terasa sakit.
"Nak, Putri yang sabar ya, Putri jangan pernah mendengarkan semua perkataan oranglain, yang penting kita hidup tidak merugikan mereka," ujar Bu Rima dengan memeluk tubuh Kirana.
Tangisan Kirana pun kini pecah, karena sebenarnya hati Kirana sangatlah rapuh.
"Terimakasih banyak ya Bu, Putri tidak akan mungkin bisa melalui semua ini tanpa dukungan dari Ibu. Hati Putri juga merasa sakit karena pada kenyataannya Raditya Junior harus terlahir tanpa seorang Ayah."
Bu Arum menghela nafas panjang, karena dulu juga dia mengalami nasib yang sama dengan Kirana, dan semua itu sangat menyakitkan, apalagi dia harus menjalani semuanya sendiri tanpa dukungan dari siapa pun.
"Nak, tidak semua orang mengetahui betapa beratnya hidup yang harus kita jalani karena orang hanya menilai kita dari luarnya saja tanpa mengetahui isinya, makanya kita jangan seperti itu terhadap oranglain yang hanya menilai buku dari sampulnya saja. Putri harus ingat kalau Putri masih mempunyai Ibu, tapi dulu Ibu menjalani semuanya sendiri tanpa dukungan dari siapa pun juga," ujar Bu Arum yang mencoba untuk menguatkan Kirana.
"Iya Bu, terimakasih banyak atas semuanya. Seharusnya Putri bersyukur, bukannya mengeluh seperti saat ini, karena Putri sangat beruntung mempunyai Ibu yang selalu ada untuk Putri meskipun kita berdua terlahir tanpa ikatan darah."
"Meskipun kita terlahir tanpa ikatan darah, tapi cinta dan kasih sayang lebih kental daripada darah." Mungkin jika dulu aku dan Mas Wijaya bersatu, kamu akan terlahir menjadi Anak Ibu Nak. Astagfirullah, apa yang aku pikirkan, kenapa aku masih saja mengingat masalalu. Ingat Sekar, sekarang kamu adalah Arum, dan Wijaya hanya masalalu yang harus kamu lupakan, lanjut Bu Arum dalam hati.
"Ibu kenapa melamun? maaf ya jika Putri sudah membuat Ibu menjadi mengingat masalalu Ibu yang menyakitkan."
"Tidak apa-apa Nak, masalalu hanya untuk dikenang dan dijadikan sejarah dalam hidup kita, karena kita tidak akan bisa mengulangnya kembali," ujar Bu Arum dengan menitikkan airmata.
Ustad yang di undang untuk memimpin do'a, kini membuka acara dengan bacaan Basmallah, tapi ketika Pak Ustad menanyakan nama dari Ayah Raditya Junior, Kirana hanya diam melamun tanpa menjawabnya, sehingga semua orang yang hadir di sana banyak yang bergosip tentang Raditya Junior yang terlahir tanpa seorang Ayah.
"Tuh kan Tita kamu dengar sendiri kalau Si Putri hanya diam saja ketika Pak Ustad menanyakan nama Ayah Raditya Junior, berarti benar dugaanku kalau Si Putri sudah hamil di luar nikah, dan lelaki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab," ujar Wati dengan tersenyum penuh kemenangan.
"Teh Wati teh jangan berbicara seperti itu, seharusnya kita prihatin jika memang kenyataannya Teh Putri seperti itu, bukan malah menertawakannya," ujar Tita.
"Huh dasar carmuk kamu, baru jadi kacung dia saja kamu udah cari muka, apa bagusnya dia sih," ujar Wati dengan ketus.
"Udah deh Teh Wati gak usah ngomongin oranglain, Kalau kita ngomongin oranglain, sama saja kita memakan bangkai saudara kita sendiri, nanti dosa nya berpindah lho sama Teh Wati." ujar Tita, sehingga Wati merasa ketakutan dan akhirnya menutup mulutnya rapat-rapat.
"Nak, kamu baik-baik saja kan?" tanya Bu Arum yang melihat Putri terus saja melamun.
"Eh iya Bu, silahkan Pak dilanjut baca Do'a nya," ujar Kirana, sehingga Pak Ustad mengurungkan kembali niatnya untuk bertanya kepada Kirana yang masih terlihat linglung.
Kirana merasa sedih karena teringat dengan keluarganya yang entah bagaimana kabar mereka saat ini.
Seandainya semua keluargaku berada di sini, aku pasti akan merasa sangat bahagia. Maafin Kirana Mom, Dad, karena Kirana bukan Anak yang berbakti, tapi Kirana hanya memberikan aib untuk kalian, ucap Kirana dalam hati.
Kirana masih melamun dengan membayangkan Radit menggendong Anak mereka di acara syukuran yang saat ini berlangsung, dan Radit berkeliling membawa bayi mereka supaya semua orang dapat mencukur rambut Raditya Junior sambil membacakan Shalawat.
Bu Arum merasa kasihan ketika melihat Kirana terus saja melamun dengan menitikkan airmata, karena Bu Arum tau betul jika Kirana pasti menginginkan semua Keluarganya hadir di acara tersebut.
"Ibu yakin Putri pasti kuat," bisik Bu Arum di telinga Kirana, sehingga Kirana mengelap airmatanya.
Pak Ustad kini meminta ijin kepada Kirana supaya Bayinya dibawa berkeliling untuk di cukur. Akan tetapi, Kirana bingung karena dirinya belum sehat benar pasca operasi, sehingga Bu Arum menyuruh Bilal yang menggendong Raditya Junior.
"Nak Bilal, tolong gendong Raditya Junior ya, soalnya Ibu tidak enak jika harus berkeliling di depan Bapak-bapak," ujar Bu Arum, karena hampir tiga perempat yang menghadiri acara tersebut adalah Bapak-bapak.
"Iya Bu, sini Bilal gendong," ujar Bilal dengan mengambil Raditya Junior dari gendongan Bu Arum.
Kirana yang melihatnya hanya memaksakan diri untuk tersenyum, karena tadi dia sudah membayangkan jika Radit lah yang menggendong Bayi mereka.
Ratih merasakan sesak dalam dadanya melihat kedekatan Bilal dan Kirana, karena sebenarnya Ratih dan Bilal pernah mempunyai hubungan spesial sebelum Ratih menikah dengan Asep, tapi karena keluarga Ratih tidak setuju dengan Bilal yang tidak mempunyai pekerjaan tetap serta Anak Yatim Piatu, Ratih akhirnya dinikahkan dengan Asep.
Kenapa hatiku terasa sakit melihat Kang Bilal menggendong Anaknya Neng Putri? seharusnya aku tidak begini, karena aku bukan lagi siapa-siapa Kang Bilal, dan dia hanyalah masalaluku. Sekarang aku sudah punya Rahma, jadi meskipun aku dan Kang Asep sudah resmi bercerai, tapi Kang Bilal tidak akan mungkin mau kembali kepadaku yang sudah berstatus Janda beranak satu, batin Ratih.
Wati yang selalu saja kepo dan usil kini kembali angkat suara.
"Sepertinya ada yang patah hati nih lihat mantan terindahnya dekat dengan perempuan lain, udah jadi Janda satu Anak juga masih saja kegatelan, inget sama anak dong, masa Perjaka masih mau sama Janda beranak satu," sindir Wati.
"Maksud Teh Wati siapa? Tita gak ngerti deh, emang ada ya kata mantan terindah? kalau indah kenapa atuh bisa putus," celetuk Tita.
Ratih yang merasa tersinggung dengan perkataan Wati akhirnya angkat suara juga.
"Mending Janda Anak beranak satu, tandanya pernah menikah sama laku, daripada Perawan tua, kasihan gak laku-laku, pasti penasaran tuh pengen nyobain anu," sindir Ratih dengan terkekeh sehingga membuat wajah Wati memanas.
"Tadi Janda beranak satu, sekarang Perawan tua gak laku-laku, Teh Wati sama Teh Ratih teh lagi pada ngomong apaan ya, Tita mah gak ngerti," gumam Tita yang masih bingung dengan Ratih dan Wati yang sedang saling sindir.
"Udah Tita gak perlu mengerti, yang penting Tita teh kalau ngomong jangan asal jeplak dan jangan suka menyindir oranglain, kalau di sindir balik gak mau juga kan," ujar Ratih dengan melihat ke arah Wati.