“Mel, kamu harus cepat-cepat pergi dari sini agar Jemmy dan Tianka bisa secepatnya menikah. Karena meski di mata hukum Jemmy masih resmi menjadi suami kamu, talak yang Jemmy berikan sudah lebih dari cukup untuk mengakhiri hubungan kalian. Enggak usah dipersulit apalagi sampai nuntut gana-gini. Toh saat datang ke sini, kamu cuma modal apem basi yang sudah biasa dipakai banyak laki-laki. Bahkan kamu sampai hamil di luar pernikahan, sebelum akhirnya kamu malah mandul, kan? Saya sampai hafal, ngeri, saking bobroknya kamu jadi wanita!” ucap ibu Marta sambil melirik sinis Amel.
Amel dan Jemmy saling mencintai, meski hadirnya Tianka dalam hubungan mereka langsung mengubah segalanya. Tianka selaku teman masa kecil sekaligus cinta pertama Jemmy membuat perhatian bahkan cinta Jemmy terbagi. Jemmy benar-benar bermain api, terlebih ibu Marta sang mamah yang sangat membenci Amel justru sangat mendukung hubungan Jemmy dan Tianka.
Tak mau makin terluka, Amel memilih mundur, pergi membawa rahasia besar mengenai kehamilannya. Akan tetapi ketika akhirnya takdir kembali mempertemukan mereka dalam keadaan yang berbeda, kehidupan Amel kembali tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak? Ternyata Jemmy sudah menikahi Tianka, tapi masih tetap tidak bisa melepaskan Amel, terlebih kini ada James dan juga Josh, putra kembar mereka.
Mampukah Amel lepas dari luka sekaligus lingkaran dendam yang menjeratnya, kemudian hidup bahagia bersama kedua putra kembarnya, layaknya impian terbesarnya? Lantas, benarkah Jemmy tetap tidak bisa memilih? Atau pria itu akan membiarkan Dion yang selalu tulus kepada Amel dan putra kembar mereka, menggantikan perannya sebagai laki-laki yang sepenuhnya mencintai Amel, sekaligus menjadi papah sambung terbaik untuk putra kembar mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 : Pembukaan dan Gelombang Cinta
Demi meredam kecanggungan yang seketika tercipta, Jemmy berdeham kemudian menatap asal suasana sekitar. Ia berusaha mengalihkan perhatian sekaligus obrolan. Berbeda dengan Amel yang malah menegaskan menjadi sangat bahagia setelah berpisah darinya, ia malah kebalikannya.
“Nanti aku pasti potong rambut. Selama kamu pergi kan memang enggak kepikiran buat melakukannya.” Jemmy menunduk menyesal, dan tetap menerima teguran demi teguran yang Amel berikan. Wanita yang masih ia anggap sebagai istri sah itu makin sibuk mengomel.
“Delapan bulan berlalu, kamu beneran enggak kangen aku?” tanya Jemmy kembali berusaha. Ia menatap Amel penuh keseriusan sekaligus berharap. Iya, ia sangat berharap kerinduannya memiliki Tuan dan segera terbalas. Namun lagi-lagi, Amel menepis.
“I love you!” ucap Jemmy sungguh-sungguh sekaligus memohon, tak beda dengan kebersamaan terakhir mereka yang membuat Jemmy tak beda dengan pengemis, memohon belas kasih sekaligus kesempatan cinta kepada Amel.
Pada akhirnya, tanpa direncanakan, tatapan mereka bertemu. Amel refleks menghentikan tatapannya dari Jemmy. Ia memilih menunduk dan juga menghindar meski Jemmy masih terpaku menatap setiap lekuk wajahnya yang basah karena keringat sensasi menuju pembukaan. Namun dari semua yang pria itu perhatikan, Amel sadar Jemmy menginginkan bibirnya. Kini bahkan, bibir pria itu sudah ada persis di depan bibirnya. Bibir mereka sudah sesekali menempel. Amel bisa mendengar deru napas yang juga membuat bibir dan wajahnya turut hangat tersapu napas dari kedua lubang hidung Jemmy. Ia sempat kembali menghindar, tetapi Jemmy tetap mendapatkannya, mengunci bibirnya dengan ciuman agak memaksa.
“Jem—”Amel buru-buru menghentikan ciuman Jemmy, terlebih sampai detik ini, selain ia masih tersiksa oleh sensasi pembukaan yang sakitnya makin terasa luar biasa, Amel juga tidak mau memiliki hubungan lebih dengan Jemmy. Alasan Amel sampai mendekap erat tengkuk Jemmy dan membuat kedua tangannya sibuk menjambak Jemmy hingga kunciran yang ia lakukan di sana lepas, juga masih karena proses pembukaan. Benar-benar tidak ada rasa apalagi harapan lebih.
Amel tahu, Jemmy sangat merindukannya. Jemmy sangat mengharapkannya, tetapi proses pembukaan yang tengah ia jalani sungguh jauh dari kata mudah, selain ia yang memang tidak mau memiliki hubungan lebih dengan pria itu.
Meski semua wanita yang menjadi ibu telah mengalami sensasi luar biasa dalam proses melahirkan, Amel tetap merasakan beban tersendiri terlebih biar bagaimanapun, ia harus mengeluarkan bayi kembar. Ada dua persalinan yang harus ia jalani dalam waktu berdekatan.
Tubuh Amel mulai gemetaran di tengah deru napas tak beraturan dan kadang mendadak Amel tahan. Jemmy sampai takut karena selain gemetaran hebat sekaligus berkeringat parah, Amel juga tak hentinya meracau karena rasa sakit yang tetap wanita itu tahan. Kini, Amel masih mendekap erat tengkuk Jemmy. Mereka masih ada di kamar mandi yang memang terbilang luas.
“Kita bisa coba proses persalinan yang enggak bikin kamu sesakit ini. Atau sesar saja. Sudah, ambil yang paling aman biar kamu enggak harus kesakitan begini! Kita sesar!” Jemmy berucap cepat tak ubahnya mengomel saking khawatirnya.
Berderai air mata sekaligus terengah-engah, Amel menggeleng, menolak arahan Jemmy. “Aku mau begini. Aku mau menikmati proses ini! Aku mau melahirkan secara normal!” Kini, ia meremas kedua lengan Jemmy yang hanya terbungkus kemeja lengan panjang warna hitam. Bisa ia pastikan, kedua lengan Jemmy tersebut sudah langsung lebam bahkan meninggalkan bekas semacam gosong akibat cengkeraman dan juga remasan yang ia lakukan.
Terpikir oleh Jemmy, Amel telanjur terkontaminasi anggapan cara persalinan setiap kehamilan yang bagi sebagian besar orang khususnya wanita, membuat mereka berbeda kasta. Padahal, baik melahirkan secara normal, sesar, dan juga melahirkan dengan cara lainnya, tetap membuat wanita itu menjadi mamah terbaik bagi anak-anaknya. Terlebih melahirkan saja, harus membuat seorang wanita bertaruh nyawa.
“I love, you! Ayo kamu bisa, kamu hebat. Sebentar lagi kita bertemu mereka. Semangat, ya!” bisik Jemmy sambil mendekap erat punggung Amel. Ia sengaja menyemangati, memberi dukungan penuh kepada Amel.
Detik-detik proses pembukaan mereka lewati penuh perjuangan. Jemmy yang kadang mendekap hangat tubuh Amel dan mengunci kepala wanita itu dengan ciuman dalam, menyeimbangi setiap langkah Amel yang makin lama makin tergopoh. Karenanya, ia sengaja mengelus punggung bagian pinggang Amel yang tak hentinya ditahan tangan kanan Amel, tapi wanita yang ia pastikan masih menjadi istri sahnya itu malah memarahinya.
“Jangan elus-elus di sana. Kata susternya, di sana merupakan wajah bayi. Kasihan kalau wajah bayi kita jadi merah!”
Jemmy sadar kemarahan Amel masih karena sensasi pembukaan yang membuat wanita itu merasa sangat tersiksa. Itu juga yang membuatnya tetap menjelaskan segala sesuatunya dengan sabar.
Amel sudah makin gelisah tanpa peduli pada hal lain selain rasa sakit yang begitu kuat dan itu ia rasakan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tubuhnya seperti dicabik dengan keji tanpa henti. Sementara yang di dalam perut tak hentinya berputar, menendang, memberontak berusaha keluar.
“Aku pengin pipis, aku pengin BAB, aku–” Rasanya sungguh setidak karuan itu hingga Amel kesulitan untuk sekadar menjelaskan keadaannya.
Bisa Amel pastikan, mereka yang pernah mengalami proses melahirkan paham. Meski setiap kelahiran bahkan kehamilan, tidak selalu sama. Baik itu anak pertama, dua, dan juga selanjutnya. Semuanya hadir dengan proses sekaligus sensasi yang berbeda. Tak terbayang andai Amel melalui proses kini sendiri, rasanya pasti sangat berat. Meski hadirnya Jemmy juga tak sepenuhnya membuatnya baik-baik saja. Sebab keberadaan Jemmy juga membuatnya teringat masa lalu mereka. Pengkhianatan Jemmy dan Tianka yang ia rasakan di awal kehamilannya. Juga, mulut kejam ibu Marta yang sungguh tidak manusiawi jika kepadanya.
“Ayo ....” Jemmy dengan sigap menuntun Amel ke kloset. Ia nekat membopong Amel karena wanita itu sudah kesulitan melangkah, selain Amel yang makin berderai air mata.
Padahal alasan Amel makin berderai air mata, tak lain karena ingatan masa lalu hubungannya dan Jemmy yang mengiringi awal kehamilannya. Semua itu sungguh menyakitkan, dan tetap tidak bisa ia lupakan walau ia sudah berusaha berdamai dengan kenyataan.
“Enggak, Jem. Enggak jadi. Ini sepertinya mereka mau keluar, lihat ada cairan yang mengalir campur darah. Mungkin ini ketuban? Jem, tolong cepat panggil Mamah. Eh, panggil dokternya, Jem! Ya ampun sakitnya. Aduh ....”
Panik. Amel dan Jemmy yang memang belum berpengalaman dalam proses persalinan, benar-benar panik. Apalagi keputusan Jemmy lari mencari pertolongan, dibarengi dengan Amel yang malah merunduk dan berakhir terduduk di lantai, menahan kesakitan luar biasa. Amel yang berpegangan pada ranjang rawat sembari menahan tangis, sudah kuyup keringat karena butiran bening terus bermunculan dari permukaan kulitnya. Namun ketika Jemmy menghampiri, Amel malah memarahinya, memintanya untuk segera mendatangkan dokter dan semua yang terlibat dalam persalinan.