Pernikahan yang dijalani Nafa Naufara 23 tahun dan Sakti Bimantara 30 tahun sudah memasuki usia 6 bulan, awal yang indah. Meskipun pernikahan itu harus dijalani secara jarak jauh, dengan alasan ada pekerjaan diluar kota. Nafa tidak mempermasalahkan. Namun ketika pertemuan itu semakin berkurang, Dara merasa curiga. Kini Sakti sebagai suami, hanya bisa menemui Nafa istrinya sebulan dua kali.
Kecurigaan Nafa, akhirnya terjawab. Siang itu di hunian perumahan type 36, tiba-tiba Nafa kedatangan dua orang tamu. Dua orang wanita beda usia. Yang tiba-tiba mencaci maki dengan kata-kata yang kasar.
"Dasar pelakor, tidak bisa mendapatkan pria singel malah merebut suami orang." Hardik salah satu perempuan yang kira-kira 5 tahun di atas Nafa. Nafa melongo tidak percaya dengan makian perempuan tadi.
Benarkah Nafa menikah dengan pria beristri sedangkan setahu dia Sakti adalah pria singel?
Apa yang akan Nafa lakukan setelah dia tahu bahwa Sakti adalah pria beristri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Sengaja Bertemu dengan Ibu Mertua
Akhirnya, Rafa memilih restoran yang berada di mall besar di kota itu. Alasannya supaya Rafa bisa sekalian membeli mainan di mall tersebut. Dengan hati yang riang Rafa berceloteh dalam gendongan Sakti. Sementara Aldin yang tadi diajak makan siang bersama, dia memilih pulang dan kembali ke rumahnya untuk beristirahat. Sebab dalam waktu dekat, Aldin sudah banyak tugas yang menanti yang diperintahkan Sakti. Termasuk mencari keberadaan Nafa.
Setelah makan siang selesai dan belanja mainan Rafa juga beres, Sakti kembali mengajak Rafa jalan-jalan. Bu Sukma memberi usul supaya bermain dulu di Taman Kota, taman yang hanya berjarak 2 kilometer dari kediaman Sakti maupun Bu Sukma.
"Sakti, kita ke taman kota dulu. Biar Mama dan Rafa bisa melepas lelah dulu disana. Lagipula Mama sudah jarang ke taman sejak Rafa dititip di Mama," usul Bu Sukma.
"Ok, Ma. Hari ini Sakti ada untuk kalian. Kita habiskan hari ini di Taman Cinta," sahut Sakti setuju dengan usul Bu Sukma.
"Taman Cinta, Mama jadi ingat pernikahan Mama sama Papa diawali pertemuan tidak sengaja di taman itu. Lalu kami pendekatan dan saling mengenal cuma tiga bulan, kami menikah dan akhirnya memiliki kamu. Hingga... Papa kembali dipanggil Yang Maha Kuasa," ucap Bu Sukma lirih dan berubah muram mengingat kembali moment kebersamaan dirinya bersama mendiang suami.
"Mama ingat Papa ya? Kita doakan Papa supaya selalu diberi tempat terindah di Surga sana," ucap Sakti yang diaminin Bu Sukma. Tidak berapa lama, mobil yang dikendarai Sakti sampai di Taman Cinta.
POV Author End
......................
Sore ini, aku mengajak Wa Rasih jalan-jalan. Hampir 3 minggu tinggal di Mess rasanya bosan dan ingin pergi keluar supaya pikiran refresh.
"Nafa dengar... ke arah Selatan sana ada Taman. Jaraknya dari sini hanya sekitar 3 kilometer. Kita bisa naik angkot kesana. Kebetulan ada angkot yang jurusannya kesana. Kita cuci mata disana yuk, Wa!" ajakku pada Wa Rasih.
"Uwa mah ikut saja Neng, tapi... apakah tidak kenapa-kenapa kita pergi kesana sementara Neng Nafa dalam keadaan hamil muda, bahkan tadi perut Neng Nafa terasa keram, kan?" ujar Wa Rasih mengingatkan.
"Itu cuma keram biasa Wa, lagian Nafa bosan di Mess terus. Sekali-sekali pikiran Nafa dibawa jalan, supaya tidak melulu butik dan Mess. Nafa tidak mau stress Wa karena pekerjaan," ujarku keukeuh. Wa Rasih akhirnya mau dan dengan bersemangat dia membawa perlengkapan obat-obatanku, seperti Minyak Kayu Kencana, dan air mineral.
Perjalanan dengan angkot rupanya hanya membutuhkan waktu 10 menit. Aku turun lalu membayar ongkos angkot untuk dua orang. Dari jalan besar, sudah terlihat nama tamannya yaitu Taman Cinta. Nama yang sangat bagus, pikirku.
"Ayo Wa... sebelah sana lumayan sepi," aku memilih tempat yang tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang yang ada disana.
"Hati-hati Neng, didalam perut kan ada janin," peringat Wa Rasih risih yang melihatku berlari kecil. Aku hanya tersenyum dengan peringatan Wa Rasih, kemudian aku berjalan menuju kursi taman yang berada di sana. Kursi taman yang bentuknya memanjang dengan sandaran besi ukir.
"Disini Wa, ini lumayan teduh karena terhalang pohon besar itu," ucapku seraya mendudukkan pantatku di kursi.
"Wah... pemandangan taman yang indah ya Neng, di tengah-tengah kota masih ada fasilitas umum yang bagus buat warganya buat menghirup udara bersih. Pohon-pohonnya rindang walau tidak tinggi-tinggi banget," ujar Wa Rasih kagum melihat keadaan taman dan pemandangannya.
Benar kata Wa Rasih, pemandangannya bagus. Pohon-pohon rindang dan mampu menaungi dari panas sinar Mentari sore ini.
Saat tengah asik duduk dan menikmati sejuknya angin yang menerpa sepoi, aku sekelebat seakan melihat bayangan Mas Sakti yang selama ini aku hindari. Jantungku seakan berhenti berdetak dan merasa was-was.
Namun beberapa detik kemudian jantungku kembali berdetak normal, seketika aku malah merasakan begitu rindu akan kehadiran Mas Sakti.
"Mas Sakti, apa kabarnya? Nafa rindu Mas," panggilku seraya mengusap perut rataku. Perlahan bulir bening dari sudut mataku mulai mengalir.
"Neng, kok menangis?" Wa Rasih menghampiri dan terlihat panik.
"Tidak apa-apa Wa, Nafa... hanya merindukan Mas Sakti," ucapku jujur. Wa Rasih membawaku dalam pelukannya seraya mencoba menenangkanku. Saat aku mulai tenang, aku tiba-tiba ingat Nara. Aku sangat merindukan Nara sahabatku. Lalu aku mencoba menelpon Nara. Telpon itu aktif, namun lama belum diangkat.
"Ayolah Nar, angkat! Aku kangen nih," gerutuku kesal karena telponku belum juga diangkat. Akhirnya telponku diangkat Nara. Pastinya sahabatku yang satu ini akan kaget siapa gerangan yang nelpon, sebab baru kali ini aku menghubungi lagi Nara sejak aku pergi dari kota *Kaktus*.
Kembali ke POV Author
Sakti merasa hatinya begitu dekat dengan Nafa, firasatnya mengatakan bahwa Nafa berada di kota ini. Namun akal sehatnya menampik. "Tidak mungkin Nafa disini, dia pastinya akan pergi jauh setelah kejadian dilabrak Meta di butik waktu itu."
Sakti mengajak Rafa bermain bola, bola yang tadi dia beli di Mall. Anak lucu dan menggemaskan itu sangat lincah berlari sana berlari sini mengambil bola yang menggelinding agak jauh. Tiba-tiba HP Sakti berbunyi, terpaksa dia angkat HP dulu. "Sebentar ya sayang, Papa angkat telpon dulu," ucap Sakti seraya sedikit menjauh dan menerima telpon.
Sakti bergegas menghampiri Rafa dan Bu Sukma lalu berkata, "Ma, Sakti ada perlu sebentar. Kalian ditinggal dulu ya, paling cuma setengah jam. Titip Rafa ya Ma, kalian tetap disini dan setengah jam kemudian Sakti datang." Sakti bergegas seraya memeluk Rafa sebentar. Bu Sukma mengangguk lalu mengajak Rafa bermain lempar bola.
Saat bola menggelinding jauh, Rafa berlari kecil mengejar bola itu yang tepat berhenti di kaki seorang perempuan muda yang tengah duduk memainkan HPnya, sepertinya perempuan muda itu baru mengakhiri sambungan telpon dari seseorang.
"Tante... itu bola aku....!" seru Rafa melengking. Perempuan muda itu meraih bola dan memberikan pada Rafa.
"Anak manis, ini bolanya," ujar perempuan muda sambil memberikan bola itu. Tiba-tiba saat Rafa menerima bola dari perempuan muda itu, Bu Sukma tiba-tiba datang menyusul.
"Sayang... makanya jangan jauh-jauh lempar bolanya, kan kena orang." Tegur Bu Sukma menghampiri Rafa. "Maaf ya Mbak, tadi bolanya kena ya?" tanya Bu Sukma khawatir.
"Tidak apa-apa Bu, lagipula kenanya hanya sedikit dan tidak sakit," ujar perempuan muda itu ramah.
"Neng Nada, ini cemilannya. Rujak kayaknya segar buat Eneng yang lagi hamil muda," celoteh wanita paruh baya yang tiba-tiba datang menghampiri. Rupanya perempuan muda itu adalah Nafa dan wanita paruh baya adalah Wa Rasih.
"Makasih Wa," ucap Nafa sembari meraih rujak yang dikemas dalam stereofoam.
"Bu, gabung saja disini bersama kami, lagipula kami cuma berdua," Nafa beramah tamah seraya memberi ruang duduk di sampingnya. Bu Sukma tersenyum menyambut ajakan Nafa, lalu ikut duduk di samping Nafa.
"Adik... siapa namanya? Pintar ya main bolanya? Sini dulu dong, mau rujak, tidak? Ini kebetulan Wa Rasih beli banyak, dan pedasnya masih terpisah," panggil Nafa pada Rafa yang masih melemparkan bola. Bocah imut itu membalas ajakan Nafa dengan senyuman manis.
"Nyeppp...." seketika senyuman manis bocah kecil itu menelusup masuk ke dalam hati Nafa. Nafa merasa kenal dengan senyuman itu. Senyuman yang selalu diberikan Sakti ketika Nafa masih bersama. Namun Nafa langsung menepisnya dan berusaha membuang jauh-jauh senyuman yang mirip Sakti itu.
Bu Sukma duduk sambil mengawasi Rafa yang sedang melempar bola. Namun tidak lama dari itu Rafa menghampiri dan meminta minum.
"Ne, haus. Minuman Rafa mana?" Bu Sukma langsung memberikan minuman mineral pada cucunya itu. Bocah lucu dan tampan itu langsung meminum air mineral ukuran kecil sampai hampir tandas.
"Ne, Rafa mau rujak tante itu," tunjuknya ke arah rujak yang diletakkan Nafa di kursi itu.
"Ohhh... Adik mau rujak? Tadi kan Tante udah nawarin. Kalau mau ambil saja." Nafa mempersilahkan dengan senyum ramah dan memberikan sebungkus rujak.
"Terimakasih Nak, itu kan rujak kamu." Bu Sukma mencoba menolak karena merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa kok Bu, saya masih banyak," seloroh Nafa sambil memberikan satu wadah rujak ke tangan Rafa.
"Terimakasih Tante," ucapnya berterimakasih. Nafa tersenyum sambil mengunyah rujaknya. Masih ada dua bungkus rujak tersisa di kursi, lalu Nafa memberikannya pada Bu Sukma. Bu Sukma menolak namun Nafa memaksa.
"Makasih Nak, padahal itu rujak kamu. Kamu lagi hamil muda, kan?" Bu Sukma menerima rujak itu dengan sungkan.
"Tidak apa-apa kok Bu, saya satu bungkus juga cukup," balas Nafa sembari menatap Rafa yang memakan rujaknya dengan lahap.
"Kamu mau lagi? Ehhh... ngomong-ngomong nama kamu siapa, kita belum kenalan lho," ujar Nafa mengajak kenalan. "Namaku Rafa, Rafa Bimantara tante," jawabnya dengan lengkap. Sejenak Nafa tercenung, dalam pikirannya ada yang menyelinap. Nama suaminya hampir mirip dengan nama anak itu. "*Bimantara*," gumannya dalam hati.
"Tante kok bengong, sekarang giliran tante memperkenalkan namanya," Rafa mengejutkan Nafa yang tadi tercenung.
"Tante namanya Nafa, nama panjangnya Nafa Naufara," sahut Nafa lengkap. Rafa tersenyum lalu melanjutkan makan rujaknya.
"Aduh....!" tiba-tiba Nafa mengaduh dan meringis seraya meraba perut sebelah kirinya. Wa Rasih sigap dan menghampiri Nafa.
"Pasti Neng Nafa keram lagi."
Bu Sukma ikut panik dan berusaha menenangkan Nafa. "Tarik nafas Nak, tarikkk... lalu lepaskan!" Bu Sukma memberi aba-aba.
Beberapa menit kemudian keram yang dialami Nafa berangsur hilang, dan Nafa bisa duduk dengan nyaman lagi.
"Apakah ini sering terjadi Bu, pada Nak Nafa?" Bu Sukma bertanya pada Wa Rasih.
"Iya, Bu. Akhir-akhir ini sering. Tapi sebentar dan hilang lagi," jawab Wa Rasih.
"Coba periksa ke dokter kandungan Nak, saya takut terjadi apa-apa dengan kandungannya," Bu Sukma memberikan saran.
"Iya, Bu. Kebetulan besok jadwal periksanya," ucap Nafa.
Nafa melihat jam tangannya, nampaknya hari mulai sore, jam di tangan menunjukkan pukul 5 sore. Nafa berinisiatif mengajak Wa Rasih pulang, walaupun hatinya masih betah dan merasa senang bisa berjumpa dengan Rafa dan Neneknya.
"Adik kecil... kayaknya Tante dan Wa Rasih harus pulang, ini sudah sore, kapan-kapan kita bertemu lagi ya," ucap Nafa berpamitan.
"Bu, saya pamit ya. Lain kali Insya Allah ketemu lagi." Nafa pamit juga pada Bu Sukma.
"Padahal kita baru berjumpa dan baru kenal. Itu keram di perutnya sudah baikan?" Bu Sukma nampak masih khawatir, namun Nafa mengangguk meyakinkan. Lalu setelah berpamitan dan sejenak mencium pipi chuby Rafa, Nafa dan Wa Rasih beranjak dan pergi.
Tidak lama dari itu, Sakti tiba-tiba muncul. "Kalian rupanya disini, tadi Papa nyari lho disana," ucap Sakti seraya menatap kepergian Nafa dan Wa Rasih yang masih kelihatan punggungnya.
"Tadi siapa Ma, mereka dari sini?" Sakti bertanya penasaran sambil masih menatap kepergian Nafa. Bu Sukma sama menatap ke arah perginya Nafa.
"Itu tadi pengunjung taman ini, dia baik dan ramah sama kita terutama sama Rafa anakmu. Namun dia harus segera pulang, karena bilangnya sudah sore dan lagi tadi perutnya mengalami keram karena hamil muda," jelas Bu Sukma.
Sakti merasa terenyuh dan khawatir, apa yang dialami perempuan tadi takut juga terjadi pada Nafa yang saat ini sedang hamil muda.
"Sayang... dimanapun kamu berada, Mas harap kamu dan bayi kita dalam keadaan baik-baik saja. Semoga kita secepatnya akan bertemu." Sakti berharap, bersamaan dengan itu matanya berkaca-kaca.
"Ayok sayang... kita pulang, ini sudah sore," ajak Sakti mengajak pulang Rafa dan Bu Sukma. Merekapun bergegas meninggalkan Taman Cinta.
Iyan kan Thor...😬😬😬
ah mau gimanapun terserah author aja lah.....hanya author yg tau 🤭🤭🤭