Dia lahir dan tumbuh di wilayah konflik. Pertempuran yang seolah tak berkesudahan, membuatnya berpikir masih adakah rasa kemanusiaan terhadap sesama?
Satu persatu keluarga, saudara dan teman pergi meninggalkannya. Semuanya terampas oleh perang yang tak kunjung usai.
Akhirnya dia kembali menemukan teman yang selalu berjuang bersama hingga titik akhir. Dipaksa untuk menikah dengan seseorang yang baru saja dikenalnya oleh kakak lelakinya, menimbulkan konflik baru untuk dirinya. Seekor leopard dan seekor burung robot yang merupakan penemuan mutakhir seorang profesor pun bersedia menemani perjalanannya untuk mewujudkan impian kecilnya, yaitu perdamaian di tanah kelahirannya. Akankah itu bisa terwujud?
Ikuti kisah Aleena yang ingin melihat kedamaian di kota kecilnya. Berpetualang bersama Leopard sang macan tutul dan para sahabatnya 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie isty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tantangan tingkat golden
Kapten Joy menekan sebuah tombol yang tertempel pada dinding, yang lebih terlihat seperti interkom. Pria besar itu mulai berbicara.
"Anak-anak ada tontonan. Pengawal baru dengan level Diamond."
Joy menyudahi ucapannya dan kembali berjalan. Sementara tangan Jimmy dan Nadeen terkepal kuat, keduanya berusaha menahan amarahnya. Aleena menepuk pelan bahu ke dua rekannya tersebut. Sementara Rocky hanya mengumpat pelan.
"Dasar kapten tua."
"Tenanglah. Aku akan berusaha untuk tidak membuat tuan muda kecewa."
Jimmy seolah menjawab umpatan pria tersebut.
"Aku tahu kalian pasti bisa. Bahkan akan sangat mudah dengan kemampuan nyonya muda. Pria tua itu ingin mempermalukan kalian. Aku akan membuat kapten tua itu berlutut di hadapan anda, nyonya."
Rocky berucap panjang lebar. Aleena pun segera menimpali semua ucapan pria yang berjalan di belakangnya.
"Berhenti memanggilku seperti itu. Kau bisa membuatnya mendengar semua ocehan mu."
Rocky benar-benar menutup rapat mulutnya seketika. Terdengar suara Joy yang sudah lebih dulu masuk ke dalam sebuah ruangan terbuka yang terdapat beberapa sasaran tembak.
"Tantangan pertama adalah menembak. Bidik lawan kalian dengan baik."
Joy memperlihatkan beberapa senjata yang sudah tertata rapi pada sebuah meja dan beberapa lemari. Beberapa orang berseragam sama, sudah terlihat berdiri tidak jauh dari tempat tersebut. Mereka ingin melihat aksi seseorang yang berada di tingkat Diamond.
Suara geraman perlahan serta gonggongan kecil, mengalihkan perhatian semua orang. Termasuk Aleena dan yang lainnya. Terlihat seorang pria yang begitu kewalahan, saat memegang rantai besi yang terikat pada leher Oby dan juga shadow. Namun keberadaan Green sedikit banyak bisa membantu mereka untuk lebih mengerti keinginan ke dua hewan tersebut. Green mengatakan kepada para pria yang setia memegang rantai pengikat tersebut, bahwa ke dua hewan itu hanya ingin bersama dengan tuannya. Hingga tibalah mereka di tempat ini.
"Zero one dan sang petarung tangguh kembali."
Beberapa bisikan mulai terdengar dari kerumunan orang yang ingin melihat aksi seseorang yang dikatakan berada di level Diamond.
"Tenanglah Oby."
Aleena mengusap lembut kepala kucing besarnya. Semua mata seolah membulat, saat melihat adegan tersebut. Kemudian Oby dan Shadow hanya duduk diam di tempat yang lebih tinggi untuk melihat aksi nona mudanya. Begitupun dengan Green, yang mereka panggil dengan sebutan Zero one.
Jimmy mengambil sebuah senapan kecil, kemudian merekatkan sebuah tas pinggang pada dirinya. Kemudian memasukkan beberapa butir peluru ke dalam tas kecil tersebut. Jimmy memilih peluru yang berwarna merah. Karena saat latihan seperti ini, mereka tidak menggunakan peluru timah. Melainkan butiran peluru yang berwarna warni.
Sementara Nadeen juga melakukan hal yang sama. Namun gadis itu memilih senjata yang sedikit lebih panjang, serta mengambil peluru berwarna hijau. Lain lagi dengan Aleena, gadis itu memilih senapan busur dan beberapa pisau kecil. Semua mata sedikit heran dengan senjata yang digunakan oleh ke tiga orang tersebut.
"Ini adalah tantangan bagi petarung di tingkat golden. Masih ada tantangan selanjutnya. Jadi, bersiaplah."
Joy memberikan ketiganya masing-masing sebuah penutup mata yang terhubung dengan sebuah komputer otomatis. Kapten tua tersebut kembali memberikan arahan.
"Kalian akan berada di dalam sebuah diagram transparan. Situasi serta tempat yang ditampilkan akan di acak oleh komputer. Namun sistem akan membuat kalian masih dalam satu area. Karena ini adalah latihan kerja tim. Silahkan tekan tombol di sebelah kanan dari alat yang kalian gunakan, jika sudah bersiap untuk memulainya."
Rocky benar-benar geram. Pria tua itu benar-benar ingin mempermainkan ketiga rekan barunya. Ingin rasanya pria itu mengadu kepada Beni atau tuan mudanya sekalian. Namun Aleena selalu saja memberikan peringatan kepada dirinya. Dalam kebimbangannya, Rocky memilih untuk menghubungi Beni terlebih dahulu. Dia sedikit mundur ke belakang dan mulai mencari kontak dalam telepon genggamnya. Rocky segera berucap, setelah telepon tersambung.
"Ben. Kapten tua itu sudah memberikan yang tuan muda perintahkan. Namun saat ini dia ingin menguji ketiganya dengan latihan kerja tim di tingkat golden dan masih akan berlanjut ke tingkat Diamond. Sementara nyonya muda tidak mengijinkan aku berucap sepatah katapun pada kapten tua tersebut."
"Perhatikan saja keselamatan nyonya muda. Aku akan mengirimkan email kepada Green untuk mematikan sistem tersebut, jika berbahaya bagi nyonya muda."
Rocky mematikan panggilan tersebut, kemudian menatap tajam ke arah Green yang masih bertengger di antara dua hewan buas tersebut. Tak berselang lama, Green menatap Rocky yang ada jauh di belakangnya seraya mengangguk perlahan. Rocky hanya menunjukkan ibu jarinya.
Lapangan terbuka di hadapan mereka kini berubah menjadi diagram transparan, yang memperlihatkan Aleena, Jimmy dan juga Nadeen yang masih berjalan perlahan di sebuah koridor bangunan.
Ketiganya mendapatkan misi penyelamatan seseorang yang menjadi sandera di salah satu ruangan yang ada dalam gedung tersebut. Ketiganya mulai terdengar saling berkomunikasi. Semua yang ada di tempat tersebut bisa menyaksikan dan bahkan mendengar semua suara ataupun percakapan ketiganya.
Jimmy terlihat berjalan di depan, disusul Nadeen. Yang terakhir adalah adalah Aleena.
"Kanan aman."
Jimmy memeriksa sebuah ruangan yang berada di sisi sebelah kirinya. Sementara Nadeen hanya menunjukkan ibu jarinya, setelah ia memeriksa ruangan di sebelah kanan.
"Stop."
Aleena berucap singkat. Ketiganya berhenti melangkah. Beberapa sinar merah terlihat menghalangi jalan mereka. Kali ini Aleena yang memimpin jalan. Gadis itu terlihat berguling, melompat dan bahkan bersalto, seolah gerakan itu begitu biasa bagi dirinya.
Memang sebelum semua itu dimulai, Aleena sudah mengganti gaun mahalnya dengan celana yang berbahan dasar kuat dan tentu saja tidak begitu lebar. Sehingga pas untuk tubuhnya. Ujung jilbab yang ia kenakan sudah masuk dengan rapi ke dalam sebuah jaket kulit yang ia kenakan. Sebuah setelan baju dan jaket berwarna hitam legam menambah kesan elegan pada dirinya.
Semua gerakan menawan dari Aleena, membuat semua mata terpana. Dan serentak ada berapa orang yang bertepuk tangan ataupun bersiul. Nadeen dan Jimmy pun melakukan hal yang sama. Mereka menghindari sinar laser yang menghalangi jalan mereka dengan gerakan yang begitu menawan.
Sementara Rocky yang melihat hal itu, sudah berkeringat dingin. Walaupun cuma diagram dan juga hanya sebuah latihan. Namun jika ada salah satu dari mereka yang gagal dalam hal ini. Maka mereka akan dinyatakan gugur.
Beberapa suara tembakan mulai terdengar, saat mereka mulai bertemu dengan beberapa penjaga.
"Tiga merah dan tiga hijau. Mati dalam satu kali tembakan. Mereka bisa diperhitungkan. Keduanya masih seri."
Joy menghitung berapa penjaga yang sudah tewas dan juga menghitung peluru yang masuk ke tubuh lawan. Tak berselang lama terdengar bunyi benda yang melesat cepat.
Slaaazz...
Jika mereka tidak memperhatikan dengan benar. Maka dipastikan, mereka akan mengira komputer salah dalam menghitung. Tapi tidak, kali ini terlihat tiga sosok sniper jatuh dari ketinggian. Serta satu orang lainnya terlihat tewas dari balik sebuah kursi sudut.
Ting.
Terdengar kembali suara penambahan nilai dari penghitungan komputer. Kali ini warna perak menunjukkan nilai empat. Semua penonton begitu terpana. Jika bukan karena efek suara dari komputer, mustahil mereka akan mendengar suara dari tembakan panah yang kini terlihat menancap tepat pada leher setiap bidikannya.
Jika Aleena tidak menyadari keberadaan para sniper tersebut, mungkin misi mereka kali ini akan gagal sebelum sampai pada titik akhir. Ketiganya kembali berjalan. Seperti kesepakatan ketiganya, Jimmy di bagian kiri dan Nadeen di bagian kanan. Sementara sisanya adalah bagian Aleena.
berharap ada double up 😁