"Aku gak bisa cinta sama kamu, karena di hatiku masih ada orang lain. Aku minta, kamu gak berharap lebih sama pernikahan ini. Tunggu tiga bulan lagi, aku bakal bebasin kamu dari pernikahan ini."
Kalimat itulah yang terlontar dari bibir tipis Daffa pada malam pertamanya dengan Vania. Dia memang masih mencintai mantan istrinya, seorang wanita yang tak pernah ingin digantikan dengan siapa pun. Namun, ibunya justru menjodohkan Daffa dengan Vania, dan tak mampu untuk ditolak karena kondisi kesehatannya.
Akankah Vania bertahan dalam pernikahan tanpa cinta? Atau, dia justru rela diceraikan ketika pernikahan sudah berusia tiga bulan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pak Johan?
Vania merenung sejenak atas tawaran dari papanya, hingga pria di dekatnya menegur pelan. "Nia?" tegurnya dan menyentak perhatian.
"Nia tau maksud papa baik, tapi Nia gak nuntut buat hal itu. Lagi pula, Nia udah nikah dan udah seharunya kalau tinggal sama suami kan, Pa? Nia janji, akan sering kunjungi papa sama mas Daffa nanti." Lembutnya.
"Bukankah kalian udah …," tak sampai hati Johan menyebut kata perpisahan, namun putrinya memahami dan tersenyum.
"Bukankah dalam setiap rumah tangga pasti ada masalah, Pa? Kami baik-baik saja sekarang," senyum Vania.
Johan mengamati wajah putrinya, apa didengar bukanlah hal yang sederhana dan bisa membuatnya tetap tersenyum. Keduanya masih berbincang, dengan Jogan yang tak ingin memaksakan kemauan, walau sungguh ia berharap besar untuk Vania dapat tinggal bersama.
Sebuah mobil berhenti di halaman depan teras tempat mereka bercengkerama, Vania berdiri tatkala mengetahui siapa yang datang. Berpamitan untuk sekedar menyambut suaminya, perempuan masih lekat diamati oleh sang papa itu berdiri di samping pintu mobil, dan mencium tangan lelaki baru saja keluar.
Tatapan Daffa hanya sekilas pada istrinya, lebih sering ia memperhatikan wajah tak asing semenjak dari kendaraan tadi. Vania melihat ke mana arah mata itu tertuju, menggandeng lengan sang suami dan mengajaknya mendekat.
"Pak Johan?" langsung Daffa menegur, tanpa menunggu diperkenalkan olehnya yang menatap langsung.
"Mas udah kenal?" tanya Vania.
"Ya, pak Johan ini salah satu rekan bisnis papa. Beliau juga orang yang membantu perusahaan, saat ada Malasah dan hampir gulung tikar." Terangnya.
Vania terkejut, dia menatap papanya yang mulai berdiri mengulurkan tangan. "Haruskah kita berkenalan sekali lagi?" santainya namun berwibawa.
"Ya?" tak paham Daffa memiringkan sedikit kepala. "Maaf, maksud saya bukan seperti itu, tapi …," imbuhnya. Johan mengulas senyum simpul, menatap lelaki kebingungan di depannya.
"Kamu sudah mengenal saya sebagai pebisnis. Tapi, sekarang saya harus memperkenalkan diri sebagai mertua!" katanya, membola mata Daffa sangat besar. "Saya ayah kandung Vania!" timpalnya tanpa keraguan.
Masih dengan ekspresi sama, Daffa menoleh pada istrinya. Tanya diberikan melalui mata yang menyipit, juga alis mengkerut namun kening tertarik.
"Aku tadi mau kenalin mas sama papa, tapi ternyata udah kenal duluan. Aku juga baru tau akhir-akhir ini kok, Mas." Vania berucap, takut jika dirinya dianggap telah menipu.
"Ta-tapi, bagaimana mungkin? Kamu anak kandung dari …," tatapan Daffa berganti pada Johan, dia masih tak bisa percaya.
"Apa yang tidak mungkin? Kamu butuh tes DNA kami?" santai Johan.
"Ti-tidak, bu-bukan … mm," kebingungan Daffa.
Melihat kebingungan suaminya juga ucapan gagap tak bisa untuk ditangkap, Vania meminta untuk Daffa duduk lebih dulu. "Aku buatin minum dulu, Mas." Pamitnya.
"Ni-," ingin Daffa mencegah, tapi pada akhirnya menganggukkan kepala. "Makasih."
"Enggak perlu terima kasih, Mas." Vania tersenyum.
Pergi meninggalkan teras, berpapasan dengan kepala panti yang membawakan camilan juga minuman hangat, untuk Johan juga seseorang yang datang bersamanya.
Tidak mwmbawakan untuk Daffa, karena tak tahu jika lelaki itu akan datang lebih awal. Bu Rina meletakkan makanan juga minuman di atas meja, lalu menegur suami dari Vania yang masih tercengang dan tak menjawab sapaan.
Seakan hanya ada raganya saja di sana, pikiran Daffa sudah melayang sangat jauh dengan tanya yang bergelayut, hingga telinga tak mampu mendengar teguran dari wanita yang duduk setelah diambilkan kursi.
"Nak Daffa?" sapa kembali bu Rina memegang pundak lembut, berhasil mengejutkan hingga terperanjat.
"Ya?!" berdiri Daffa segera, tatapan aneh juga terkejut diberikan oleh semua yang ada bersamanya. Menatap sekeliling, menyadari jika tengah diperhatikan, Daffa duduk perlahan menutup rasa malu. "Maaf," lirihnya.
"Nak Daffa melamun? Ada apa?" tanya bu Rina, hanya gelengan kepala didapat.
"Saya baru mengatakan kalau Nia putri saya, mungkin itu masih mengejutkannya, Bu." Johan berucap.
"Pak?" mengkerut alis bu Rina.
"Tidaka da yang harus saya tutupi lagi, karena memang Vania putri saya. Semua harus mengetahui hal itu, agar tidak ada yang berbuat sesuka hati lagi." Johan berucap, lelaki di dekqtnya merasa sangat tertampar.
"Ma-maksudnya?" gagap Daffa bertanya.
"Saya tidak perlu menjelaskan, karena kamu tahu apa maksud saya sebenarnya. Jangan berpikir, kalau saya tidak mengetahui apa pun tentang putri saya. Banyak mata dan telinga yang menyampaikan," kata Johan.
Daffa mematung, hanya manik mata yang berkeliaran kebingungan, bercampur dengan ketakutan. Saliva menerobos tenggorokannya serat, hingga melotot kedua mata saking sulitnya.
"Sa-saya," semakin gagap lelaki hanya berbalut kemeja tergulung lengan sampai siku itu.
"Saya tidak berniat mencampuri urusan rumah tangga Nia. Tapi, saya juga tidak akan diam, ketika ada yang berani main tangan. Dia memang tidak dibesarkan oleh orang tua, tapi bukan berarti dia tidak memiliki dan keluar dari batu begitu saja. Kamu mengerti perkataan saya?" Serius Johan.
Beberapa detik Daffa terdiam, ia tahu apa maksud dari perkataan yang terdengar.
"Maafkan saya untuk hal itu, semua bukan atas keinginan saya. Memang itu tidak dibenarkan dengan alasan apa pun, tapi saya benar-benar menyesalinya. Saya ingin memperbaiki semuanya, tolong beri saya kesempatan." Pinta Daffa tulus, meski mata menyuguhkan ketakutan besar.
"Apa kamu yakin itu tidak akan terulang? Apa kamu bisa mencintainya dan menjadikannya satu-satunya?" datar dan dingin tnada suara Johan.
"Saya tidak akan berjanji apa pun, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga dan membahagiakan Vania." Daffa berucap penuh keyakinan, terangkat ujung bibir kiri Johan dan berpaling menatap lurus ke depan.
"Kamu tau? Kecemburuan paling menyiksa adalah dengan orang yang sudah tiada. Ingin marah, memprotes, atau melakukan apa pun demi meluapkan rasa sakit hati, tidak mungkin bisa dilakukan pada seseorang yang sudah tiada." Johan berkata tanpa menatap, menyandarkan kepala belakang pada dinding.
"Tidak ada yang meminta untukmu melupakan, tapi sebagai ayah tentu saya akan meminta, agar kamu tidak perlu menunjukkan dan menyakiti hati putri saya. Entah seberapa besar cinta yang kamu rasakan pada mendiang istrimu, tetap kamu harus menerima kenyataan dan menjalani kehidupan, bukan menyakiti banyak orang dengan kenangan yang kamu hidupkan." Sambungnya.
"Seorang anak adalah harta terbesar orang tua, tidak ada satu pun orang tua yang akan rela jika anaknya disakiti. Meski terkadang memang dia bersalah, tetap orang tua tidak pernah bersedia untuk anaknya disentuh orang lain. Nasihati kalau memang dia bersalah, bimbing dia dan luruskan dengan cara baik, bukan dengan bentakan atau kekerasan. Kamu mengerti?!" menoleh pada Daffa tajam.
Lelaki itu membisu, tertunduk perlahan tatapan. Perkataan Johan yang begitu tenang namun menyiratkan keseriusan serta ancaman, membekukan bibir Daffa untuk sekedar terbuka dan berucap kata "A".
kasian yang namanya Arif jadi sasaran hehehe