Judul : Fighter System/I Can Fight Better than You
Author : Miku
****
Budi yang telah lelah dirundung oleh teman-temannya, mulai berani unjuk gigi. Ia menantang preman di sekolahnya untuk bertarung. Semua tertawa saat mendengarnya, tentu saja, mana bisa Budi menang dengan tubuh krempeng seperti itu.
Ding!
[Apa Anda ingin menjadi lebih kuat?]
Sebuah panel transparan tiba-tiba muncul di depan Budi saat dia merasa putus asa. Tulisan dengan font futuristik ini memberikan dua pilihan kepadanya. Ya atau Tidak!
Ya!
Siapa sangka, sejak hari itu kehidupan Budi mulai berubah.
Balas dendam kepada para pembully untuk menaikkan status di sekolah! Memukul dan menendang demi menyelesaikan misi yang ada! Bertambah kuat setiap harinya demi memperoleh kepercayaan!
Persetan dengan Taekwondo, Muaythai, Tinju, atau apalah itu!
Budi bertekad menjadi master pertarungan jalanan yang disegani semua orang!
Fighter System.
Kategori Urban - Tag 3 : Sistem
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 23 : Pertemuan Antar Pemimpin SMA Taran
...*****...
Keesokan paginya. Budi dan Arin terlihat sedang berjalan berdampingan menuju kelas masing-masing seraya bersenda gurau bersama. Mereka berdua tertawa lepas tanpa ada satupun beban yang dipikul di pundak mereka berdua.
Mungkin tidak.
Seorang laki-laki yang berpostur sedikit gemuk tiba-tiba menghampirinya. Bersama beberapa siswa lainnya yang juga mengikuti anak itu dari belakang.
"Eh? Itu bukannya geng tarantim, ya?" bisik seorang siswi.
"Iya, tuh. Mereka orang-orang bodoh yang selalu diperintah sama Reza. Tapi, apa alasannya mereka nyamperin Budi, ya?" balas siswi lain.
Mereka berdua saling bertatapan. "Jangan-jangan ...."
"Benar. Mereka pasti memiliki satu tujuan," sahut seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di samping mereka. "Kalian tahu, kan? Alvaro dari SMA Taran Barat. Mungkin, kalian bakal ngira kalo pertarungan kita dengan mereka udah berakhir sampai di sini. Tapi, kenyataannya belum."
"Hah? Kamu ngomong apa, sih?"
Laki-laki itu menghela napas. "Geng Tarantim pasti datang karena suatu alasan. Dan alasan itu adalah ... Pertemuan antar pemimpin SMA Taran!"
"Hah?"
"Pertemuan antar pemimpin SMA Taran?" Budi terkejut saat mendengar istilah aneh itu. Lagi-lagi, Bagus datang dengan berita anehnya. "Sebentar, coba jelasin dulu. Apa itu pertemuan antar pemimpin SMA Taran? Dan, apa maksudnya aku disuruh pergi ke sana? Aku nggak ada kaitan sama yang begituan!"
Bagus menatap manik mata Budi sembari membuang napas berat. "Kau jelas terlibat sangat dalam pada masalah ini," ucap Bagus lalu melanjutkan, "karena kekalahan Gerry saat itu, Alvaro langsung bertindak. Ia meminta seluruh pemimpin SMA Taran untuk mengadakan pertemuan antar pemimpin. Jadi, oleh karena itu, aku ingin memintamu untuk pergi ke sana saat jam istirahat nanti."
Mendengar hal itu, amarah Budi perlahan mulai meninggi. Ia sangat marah saat mendengar Bagus yang berbicara seolah bahwa Budi harus memenuhi apa yang dia katakan.
Jelas, siapapun yang merasakan hal seperti itu, mereka akan langsung marah. "Maaf, aku nggak bisa. Karena aku bukan pemimpin SMA ini. Dan juga, jangan pernah menyebut tentang apapun itu yang berkaitan dengan tawuran dan bertarung." Budi mulai berjalan. "Karena aku benci itu," ucapnya dalam posisi memunggungi Bagus dan kawan-kawannya.
Budi tiba-tiba teringat kembali akan satu hal yang mengganggunya selama ini. Tentang serangkaian kejadian yang mulai dialaminya satu per satu. Mulai dari bertarung melawan preman, lalu nyaris babak belur saat membalas dendam kepada Reza, menyelamatkan adik Kirana yang berujung pahit, dan yang terakhir saat pertarungannya melawan Gerry.
Lambat laun, ia mulai merasa muak dengan istilah pertarungan. Meski Budi telah menerima sebuah sistem bertarung yang dapat menuntunnya menjadi lebih kuat.
Namun, tujuan hidupnya saat ini bukanlah untuk bertarung. Ia hanya ingin menjalani kehidupan tenang layaknya pelajar pada umumnya.
Dia ingin membahagiakan ibu dan adiknya, itu saja.
Setelah mendengar jawaban Budi yang memilih untuk menolak, Bagus pun tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya mengucap lirih, "Begitu, ya .... Yah, kalau itu memang pilihanmu, aku bisa apa?" Bagus menoleh ke arah Budi yang sedang berjalan. "Terima kasih untuk jasamu selama ini, Bud." Ia tersenyum.
Budi tidak ingin berbalik. Ia tak ingin menatap orang di belakangnya. Sebab, jika ia melakukan itu, mungkin saja tekadnya akan goyah. Sikap simpati yang telah mendarah daging memang tak bisa dapat dipungkiri olehnya.
Bagus berjalan ke arah berlawanan dengan para anggota Geng Tarantim lainnya, sedangkan Budi berjalan lurus dengan langkah penuh rasa ragu. Arin langsung berjalan menghampiri kakaknya sesaat setelah perbincangan singkat mereka telah berakhir.
Gadis itu menepuk bahu Budi sembari memperingatkan, "Hei, tunggu dulu!" ucapnya. Ia mencengkram kakaknya kuat-kuat, memaksa laki-laki itu untuk berhenti sejenak. "Bud, bukannya aku ngedukung kamu buat berantem lagi. Tapi, ayolah! Kamu ini gimana, sih? Padahal kamu yang mulai semua ini, tapi kenapa kamu malah keliatan kaya mau kabur gitu? Kasian Bagus sama yang lainnya!"
Budi telah menutup mulutnya rapat-rapat, mengakibatkan dirinya tak bisa menjawab pernyataan Arin. Benar, Arin mengatakan tentang sesuatu yang benar.
"Nggak." Budi menggelengkan kepala. "Aku emang pecundang, jadi aku nggak mau lagi berantem buat sesuatu yang nggak penting. Maaf, Rin."
"Hei! Ini bukan Budi yang aku kenal selama ini!" teriak Arin. "Bud!"
Untuk saat itu, mendadak suasana berubah menjadi canggung. Tidak terdengar senda gurau lagi dari Budi dan Arin. Keduanya berjalan ke arah yang berbeda.
Budi masuk ke kelasnya dengan perasaan bersalah yang amat mendalam. Ia baru menyadari suatu hal, tentang bagaimana sikapnya yang mulai berubah. Ia sangat frustasi sekarang ini.
Apa yang harus kulakukan? pikirnya sembari meremas kepalanya.
Kali ini, ia berada dalam posisi sulit. Ia akan merasa sangat bersalah apabila gagal membantu SMA Taran Timur. Karena bagaimanapun juga, sesuai perkataan Arin, segala konflik rumit ini bermula karena dirinya.
Meskipun dirinya tidak berniat untuk berbuat jahat, tapi apa daya. Memang seperti ini jadinya.
Seraya merenung dengan kepala yang ditaruh di atas meja. Ia mulai berpikir tentang sesuatu.
"Baiklah!"
~Bersambung~
Maaf, author baru up soalnya ya karena kondisi aku sendiri lagi kurang enak badan hehe~
Aku batuk pilek selama 3 hari ini, jadi nulisnya nggak bisa maksimal. Tapi, nggak papa kok, aku udah mendingan. Jadi, untuk hari-hari selanjutnya, aku pasti bisa up!
Twimakasih buat readers yang udah baca~ Sankyuu desu! Gomawoo yo~
One-Way
Hanazawa Ryuki, seorang berandal yang kini menjadi murid di salah satu SMA bergengsi demi menepati janjinya di masa lalu. Akan tetapi, satu kejadian membawanya ke kejadian lainnya, perlahan menarik Ryuki ke dalam sisi gelap dimana setiap pilihan tidak memiliki jalan kembali. Ini adalah perjalanan satu arah. Apakah Ryuki dapat menemukan ending yang tepat di ujung jalan satu arah ini?
Semangat Thor....💪💪💪💪💪
Alvaro